Syarah Sullamul Wushul Abu Zufar Mujtaba

Biografi Syaikh Hafizh bin Ahmad al-Hakami
Penulis Matan Sullamul Wushul

Pengantar Redaksi:
Dengan izin Allah, mulai edisi ke-175 ini, kami akan menyajikan syarah kitab “Sullamul Wushul ila ‘Ilmil Ushul fit Tauhid”. Sebuah kitab kecil yang memuat matan akidah Ahlussunnah wal Jamaah, ditulis secara nazham oleh Syaikh Hafizh bin Ahmad al-Hakami (1342-1377 H). Syarah akan ditulis oleh Ustadz Abu Zufar Mujtaba yang biasanya menulis Syarah Akidah Thahawiyah dan sudah selesai pada edisi ke 165. Semoga Allah memudahkan kami semua untuk ini.

Syaikh Hafizh bin Ahmad al-Hakami dilahirkan pada tanggal 24 Ramadhan 1342 H di desa Salam, Jazan. Al-Hakami adalah nisbat kepada al-Hakam bin Sa’ad al-‘Asyirah, salah satu kabilah termasyhur dan terbesar di tanah Arab.
Syaikh Hafizh masih kanak-kanak saat ayahnya mengajaknya dan saudara-saudaranya bermigrasi ke desa Jadhi’ Bani Syubail. Di sinilah Hafizh kecil menghabiskan masa kanak-kanaknya. Pekerjaan sehari-harinya adalah menggembala kambing orang tuanya. Pekerjaan yang ditekuninya sampai ia dewasa.
Saat berumur 7 tahun ia dan kakaknya yang paling besar dimasukkan ke sekolah pengajaran al-Qur`an di desa itu. Hafizh menyimakkan 2 juz, yakni juz 30 dan 29 kepada guru ngajinya, dan setelah itu ia menyelesaikan seluruh al-Qur`an dengan menyimakkannya kepada sang kakak tertua, Muhammad bin Ahmad al-Hakami. Dia masih menggembala kambing sembari belajar sampai pemahamannya baik. Hafizh muda juga belajar menulis dan tulisannya indah. Dia tumbuh di tengah-tengah keluarga yang terkenal shalih dan baik. Dan tak lama kemudian ia sudah hapal al-Qur`an. Ia juga membaca buku-buku fikih, faraidh, tafsir, hadits, dan tauhid.

Kedatangan Syaikh al-Qar’awi
Saat Hafizh menginjak usia yang ke-16 yakni pada tahun 1358 datanglah Syaikh Abdullah bin Muhammad al-Qar’awi  ke wilayah selatan Arab Saudi, dekat tempat tinggal Hafizh muda. Syaikh Abdullah mendengar di wilayah selatan tidak ada juru dakwah yang menyeru kepada ajaran Islam yang benar. Oleh karena itu beliau bernadzar untuk berdakwah di sana, menyebarkan akidah yang benar, membenahi masyarakat dan membersihan bid’ah dan khurafat.
Kedatangan Syaikh al-Qar’awi menjadi keberkahan tersendiri bagi Hafizh muda. Hafizh muda mulai berkenalan dengan Syaikh al-Qar’awi. Semula Hafizh masih belajar sambil menggembala kambing. Jika karenanya ia ketinggalan pelajaran, ia bertanya kepada kawan-kawannya serta meminjam catatan mereka. Barulah pada tahun 1360 Hafizh memfokuskan diri untuk menuntut ilmu. Hapalannya luar biasa. Sering kali Syaikh al-Qar’awi dibuat kagum olehnya. Pernah suatu hari Syaikh Abdullah al-Qar’awiy mendiktekan kitab Tuhfatul Athfal. Majlis ilmu hari itu diakhiri dan didapati Hafizh telah menghapal kitab tersebeut. Sering kali pula Syaikh al-Qar’awi menyampaikan materi, setelah selesai ia meminta Hafizh untuk mengulangnya. Dia mengulangnya persis seperti yang Syaikh sampaikan. Seperti rekaman yang diputar ulang. Hapalannya benar-benar luar biasa.
Pada bulan Rajab tahun itu, ibu Hafizh wafat. Lalu pada bulan haji, ia menunaikan haji bersama ayah, dan sebagian saudaranya. Saat dalam perjalanan pulang ayahnya sakit dan wafat. Setelah itu ia fokus dalam menuntut ilmu siang dan malam. Hafizh muda rajin sekali belajar.  Hanya dalam waktu kurang dari 3 tahun, ia sudah unggul dalam banyak cabang ilmu syar’i. Banyak yang tidak percaya. Hanya orang-orang yang mengenalnya dan pernah hidup dengannya yang percaya.

Mulai Menulis
Di usia Hafizh yang ke-19 Syaikh al-Qar’awi memintanya untuk menyusun sebuah kitab berkenaan dengan tauhid—meliputi akidah as-Salafush Shalih. Hafizh diminta menyusunnya berupa nazham (semacam syair) agar mudah dihapal. Tulisan ini menjadi ujian bagi Hafizh setelah sekian lama belajar bermulazamaah kepada beliau. Penulisannya selesai pada tahun 1362. Sullamul Wushul ila ‘Ilmil Ushul fit Tauhid, demikian judul yang diberikan Hafizh untuk karya pertamanya.
Syaikh al-Qar’awi dan para ulama pada masa itu yang membaca Sullamul Wushul kagum terhadapnya. Setelah itu ia diminta untuk menulis beberapa buku lainnya dalam berbagai disiplin ilmu. Syaikh Hafizh benar-benar menjadi teladan bagi siapa saja yang ingin memiliki produktivitas ilmiah dan ilmu yang bermanfaat.
Syaikh al-Qar’awi mengakui kehebatan Hafizh dan berkata, “Hafizh tidak ada duanya dalam produkivitas ilmiah, penyusunan buku, pengajaran dan manajemen. Semua diuasainya dalam waktu singkat.”
Syaikh Hafizh tidak hanya menguasai ilmu akidah. Beliau juga pakar dalam hadits, musthalah hadits, fikih, ushulfikih, faraidh, tarikh, sirah, dan sastra arab.
Di antara karya beliau:
Sullamul Wushul ila ‘Ilmil Ushul fi Tauhidillah wa Ittiba’ir Rasul..
Ma’arijul Qabul Syarah Sullamul Wushul
Nailus Suul fi Tarikhil Umami wa Siratur Rasul
Wasilatul Hushul ila Muhimmatil Ushul (dalam Ushulfiqh)
As-Subulus Sawiyyah fi Fiqhis Sunan al-Marwiyah (dalam Ushulfiqh)
An-Nurul Faidh in Syamsil Wahyi (dalam ilmu Faraidh)
Dalilu Arbabil Falah fi Thqiqi fannil Ishthilah (Dalam Mushthalah hadits)
Al-Lu’lu al-Maknun fi Ahwalil Asanid wal Mutun (dalam Mushthalah hadts)
Al-Lamiyah fin Nasikh wal Mansukh (dalam Ushulfiqh)
Nashihatul Ikhwan ‘an Ta’athi al-Qaat wasy Syamah wad Dukhan.
Guru Syaikh Hafizh hanya hanya satu, Syaikh ‘Abdullah al-Qar’awi di kota Shamitha, dekat desa tempat tinggalnya bersama orang tuanya dulu. Syaikh Hafizh tidak pernah belajar ke kota lain—apalagi luar negeri. Hanya, ketika Syaikh ‘Abdullah memintanya untuk pergi ke Mekah dan menikahkannya dengan salah satu putri beliau pada tahun 1367, selama di Mekah beliau belajar ke Syaikh ‘Abdurrazzaq ‘Afifi di masjid al-Haram.

Komitmen dan Akhlak Syaikh Hafizh
Kakaknya yang paling besar, Muhammad bin Ahmad yang juga guru al-Qur`an Hafizh berkata, “Hampir seluruh waktunya dia habiskan untuk membaca al-Qur`an, menelaah buku-buku ilmiah, mengajar, menyusun buku dan mengulang-ulang pelajaran.”
“Dia juga rendah hati, senang berolah raga dan senang bercanda dengan kawan-kawannya dan mereka yang mengunjunginya. Inilah yang membuat banyak orang senang bermajlis dengannya dan mengambil faidah darinya,” sambungnya.
Setiap bulan Ramadhan, selepas shalat Zhuhur ia membaca al-Qur`an sebanyak 1 juz yang dijadikannya bacaan shalat Tarawih di masjid. Dia menjadi imam untuk para pelajar yang shalat di masjid al-Asyraf Harah ar-Rahah.
Syaikh Hafizh adalah seorang yang zuhud terhadap dunia. Hampir seluruh waktunya dihabiskannya untuk menuntut ilmu dan mengajarkannya kepada masyarakat dan penuntut ilmu. Beliau sama sekali tidak tertarik dengan dunia ataupun harta dan kemewahan. Saat beliau ditunjuk menjadi salah satu pengurus di Ma’had, beliau mendapat gaji 150 riyal Saudi (sekitar 500.000 rupiah). Uang yang beliau terima beliau habiskan untuk diberikan kepada para pelajar. Pun ketika ditunjuk sebagai mudir, gaji beliau beliau habiskan untuk memenuhi keperluan keluarga, para pelajar, dan orang-orang fakir.

BACA JUGA : Tauhid Rububiyah

Pendek Usia Panjang Berkahnya
Pada tahun 1373 Syaikh Hafizh menunaikan ibadah haji bersama Syaikh ‘Abdullah al-Qar’awi dan beberapa orang. Di perjalanan Syaikh Hafizh sakit, dan akhirnya meninggalkan alam fana ini untuk selama-lamanya pada tanggal 18 Dzulhijjah setelah menunaikan seluruh rangkaian manasik haji. Usianya baru 35 tahun.
Beliau wafat meninggalkan 4 anak laki-laki dan 3 anak perempuan. Putra-putra beliau adalah Ahmad bin Hafizh Ahmad al-Hakami, ‘Abdullah bin Hafizh Ahmad al-Hakami, Muhammad bin Hafizh Ahmad al-Hakami, dan ‘Abdurrahman bin Hafizh Ahmad a-Hakami.
Syaikh Hafizh adalah satu dari banyak orang yang mendapatkan keberkahan pemberian nama yang baik. Ayahnya memberinya nama Hafizh dan ia pun benar-benar menjadi hafizh. Mari memberi nama yang baik untuk anak-anak kita.

Wajib Berjamaah Haram Berfirqah

 

وَنَرَى الْجَمَاعَةَ حَقَّا وَصَوَاباً وَالْفِرْقَةَ زَيْغاً وَعَذَاباً

Kita meyakini, jamaah itu haq (benar) dan shawab (tepat) sementara firqah itu salah dan adzab

Salah satu prinsip Ahlussunnah adalah menuju jamaah atau persatuan umat dan menjauhi perpecahan dan segala hal yang mengakibatkan perpecahan. Ini adalah adab dan akhlak yang mesti dipahami dan diwujudkan oleh siapa pun yang mengaku sebagai bagian dari Ahlussunnah. Setiap orang haruslah berupaya dan mentarbiyah diri masing-masing untuk itu, sebab untuk itu memang diperlukan usaha dan tarbiyah.
Sayangnya, banyak orang lebih siap untuk berpecah-belah. Mestinya semua tahu bahwa karakter dasar banyak orang adalah egois, mengikuti hawa nafsunya, ingin dimengerti tetapi tidak mau mengerti. Oleh karena itulah para Salaf menyebut mereka yang keluar dari prinsip Ahlussunnah wal Jamaah sebagai ahlul ahwa` (orang-orang yang mengikuti hawa nafsu).

Makna Jamaah

Yang dimaksud dengan jamaah di sini adalah bersatunya umat Islam dalam menapaki jejak kenabian, menjadikan petunjuk Nabi sebagai panduan. Berjamaah maknanya berkumpul di atas kebenaran. Inilah rahmat. Berfirqah atau berpecah-belah adalah kebalikannya. Dan ia berakibat adzab dan kesengsaraan.

Allah berfirman,

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ‏

“Berpegang teguhlah dengan tali Allah kalian semua serta janganlah berpecah belah.” (Ali ‘Imran: 103)
Para mufassir menjelaskan, tali Allah adalah al-Qur`an dan Islam. Maka makna berkumpul atau berjamaah adalah berkumpul dan berjamaah di atas al-Qur`an dan as-Sunnah. Dan sebagai penegas perintah untuk berjamaah, Allah melarang berfirqah, berpecah belah. Berkumpul harus di atas al-Qur`an dan Islam, tidak boleh di atas asas yang lain, sebab itu mengakibatkan perpecahan. Jamaah yang benar tidak akan terwujud kecuali dengan berdasar pada al-Qur`an.

Meskipun kaum muslimin berada di tempat yang berjauhan, mereka harus bersatu di atas kebenaran. Hati mereka harus menyatu. Sebagian mereka harus mencintai sebagian yang lain. Mereka mesti bekerja sama dan bahu membahu dalam mengejawantahkan seluruh perintah Allah. Jika ada di antara mereka yang sakit, yang lain pun akan turut merasakannya.

Adapun orang-orang yang memperjuangkan kebatilan dalam hidupnya, meskipun mereka berada di tempat yang sama, hati mereka berpecah belah. Mereka bersaing untuk mencari kepuasan masing-masing.

وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَاخْتَلَفُواْ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلَـئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ‏‏

“Janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih setelah datangnya keterangan kepada mereka. Mereka itu akan mendapatkan siksa yang besar.” (Ali ‘Imran: 105)

Kaum muslimin haruslah bersatu dalam akidah, ibadah, dan ketaatan kepada ulil amri di antara mereka. Saat mereka mewujudkan petunjuk Nabi inilah saat mereka menjadi rahmat bagi mereka sendiri dan masyarakat sekitar mereka. Darah mereka terjaga, hati mereka bersatu, masyarakat mereka aman. Kehidupan yang sejahtera aman sentausa pun hadir menjelma.

Dua Sisi Jamaah
Kata jamaah disebut oleh Rasulullah saw dalam beberapa hadits shahih, di antaranya adalah hadits iftiraqul ummah berikut.

إِنَّ الْيَهُوْدَ افْتَرَقَتْ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَإِنَّ النَّصَارَى افْتَرَقَتْ عَلَى اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَإِنَّ هَذِهِ الأُمَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةٌ قَالُوْا مَنْ هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ هِيَ الْجَمَاعَةُ وَفِي رِوَايَةٍ قَالَ هِيَ مَا كَانَ عَلَى مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ

“Sesungguhnya Yahudi terpecah belah menjadi tujupuluh satu firqah, Nasrani terpecah belah menjadi tujupuluh dua firqah, sedangkan umat ini akan terpecah belah menjadi tujupuluh tiga firqah; semuanya di neraka kecuali satu.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” “Mereka adalah Jamaah,” Jawab Rasulullah. Dalam riwayat lain beliau bersabda, “Mereka adalah (yang berpegang teguh kepada) apa yang aku dan sahabat-sahabatku memeganginya.” (Hadits shahih riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidziy)

BACA JUGA: Makmum Sujud Tilawah Sendiri Setelah Selesai Dari Shalat Jamaah

Memperhatikan kehidupan Rasulullah dan para sahabat para ulama menyimpulkan bahwa berjamaah itu memiliki dua sisi. Seperti dua sisi mata uang, dua-duanya harus ada. Kedua sisi itu adalah: pertama, sisi ilmu, manhaj, atau konstitusi yang melandasi persatuan mereka. Kedua, sisi praktik, fisik, atau institusi hal mana Rasulullah memimpin para sahabat dalam hal ini, dalam membumikan semua perintah yang datang dari langit, dan para sahabat taat kepada beliau dalam hal itu.

Jika ada ulama salaf yang menafsirkan dengan dien saja atau dengan fisik saja, harus dipahami sebagai tafsiran sesuatu dengan sebagiannya. Hal itu biasa dilakukan oleh para salaf.
Sisi ilmu, manhaj, atau konstitusi jamaah adalah asas terbesar. Allah menurunkan kitab-Nya dan mengutus rasul-Nya untuk menegakkan jamaah secara sisi ini. Allah hendak mengumpulkan manusia dalam dien-Nya. Sisi atau makna ini terkandung dalam firman Allah,

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّيْنِ مَا وَصَّى بِهِ نًوْحاً وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيْمَ وَمُوْسَى وَعِيْسَى أَنْ أَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَلاَ تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِ

“Allah telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa; yaitu, ‘Tegakkanlah dien dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya!’.” (Asy-Syura: 13)

Sisi jamaah berkumpul secara fisik, yakni taat kepada ulil amri dalam selain kemaksiatan kepada Allah adalah sarana menuju yang pertama. Ada hubungan yang erat antara yang pertama dan yang kedua. Pelanggaran atau kekurangsungguhgan dalam melaksanakan yang pertama berakibat munculnya kerusakan pada yang kedua. Begitu pun sebaliknya, pelanggaran atau kekurangsungguhan dalam melaksanakan yang kedua akan berakibat munculnya kerusakan pada yang pertama.

Dalam kedua sisi, eksistensi jamaah diperlukan. Berjamaah dalam pengertian yang pertama yakni dalam dien adalah kebenaran dan ketepatan. Mengadakan sesuatu yang baru dalam hal ini adalah bentuk kebatilan, kesalahan, dan kesesatan. Demikian pula halnya dengan berkumpul secara fisik. Ia adalah kebenaran dan ketepatan. Menyelisihinya adalah bentuk perpecahan, kebatilan, dan kesesatan.

Salaf Menjaga Keseimbangan
Menjaga keseimbangan antara sisi pertama dan kedua jamaah adalah jalan yang telah ditempuh oleh para sahabat, para tabi’in, para tabi’ut tabi’in, dan para ahli ilmu. Mereka berusaha menjaga diri, keluarga dan orang-orang Islam yang ada di sekitar mereka agar menjaga keseimbangan kedua sisi jamaah ini. Mereka mengerti bahwa tidak menjaga keseimbangan dalam hal ini adalah bentuk tidak menjaga amanat dan tidak meneladani jalan hidup para pendahulu mereka yang shalih.

Sejarah mencatat, sehubungan dengan menjaga keseimbangan kedua sisi jamaah ini kaum muslimin terkelompokkan menjadi tiga:

Pertama, mereka yang lebih mendahulukan sisi ilmu, manhaj, atau konstitusi. Mereka kurang mengindahkan sisi berkumpul secara fisik. Melihat kesalahan atau kemungkaran membuat mereka meninggalkan orang-orang yang melakukannya. Belakangan para ulama mengidentifikasi mereka sebagai orang-orang Khawarij dan Mu’tazilah. Atas nama berpihak kepada kebenaran kedua firqah ini memerangi pemerintahan yang sah secara syar’i, padahal—jika mereka tahu—secara ilmu dan manhaj pun Rasulullah sudah menjelaskan sikap yang benar dalam hal itu. Yakni tetap taat pada perkara yang bukan berupa kemaksiatan kepada Allah.

Kedua, mereka yang lebih menjaga sisi fisik sehingga mereka meninggalkan amar makruf nahyi mungkar, bahkan terhadap kemusyrikan dan kebid’ahan yang menafikan esensi dua kalimat syahadat.

Ketiga, mereka yang memadukan keduanya dengan sekali waktu menarik-mengulur demi menjaga keseimbangan di dalamnya. Mereka mengajak bersatu berjamaah dalam komitmen kepada dien, dan dalam waktu bersamaan mereka mengajak untuk bersatu berjamaah secara fisik. Semua itu dilakukan dengan menyebarkan ilmu, dakwah, nasihat, dan amar makruf nahyi mungkar, dan berbagai metode syar’i lainnya. Dengan penuh hikmah mereka menjalaninya. Mereka mempertimbangkan situasi kondisi dan perkara-perkara yang memang semestinya dipertimbangkan. Mereka adalah Ahlussunnah wal Jamaah.

Manusia Paling Utama

وَلاَ نُفَضِّلُ أَحَداً مِنَ اْلأَوْلِيَاءِ عَلَى أَحَدٍ مِنَ اْلأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ، وَنَقُوْلُ‏ نَبِيٌّ وَاحِدٌ أَفْضَلُ مِنْ جَمِيْعِ اْلأَوْلِيَاءِ‏

(108) Kami pun tidak menganggap ada wali yang lebih utama daripada nabi—semoga salam senantiasa tercurah kepada para nabi. Sebaliknya kami katakan, “Seorang nabi lebih baik daripada seluruh wali.”

Ahlussunnah wal Jama’ah sepakat, para nabi adalah manusia yang paling utama. Di antara para nabi, para rasul adalah yang paling utama. Di antara para rasul, ulul azmi yang lima: Nuh, Ibrahim, Musa, ‘Isa, dan Muhammad, adalah yang paling utama. Di antara lima rasul ulul azmi, Ibrahim dan Muhammad adalah yang paling utama. Di antara mereka berdua, Nabi Muhammad adalah yang paling utama.

Adapun yang meyakini bahwa ada wali yang lebih utama daripada nabi adalah sebagian kaum Sufi dan orang-orang Syi’ah Imamiyah.
Kaum Sufi ini juga mengklaim bahwa dengan olah jiwa dan kesungguhan dalam beribadah kepada Allah, banyak puasa, menyendiri dari masyarakat, menjauhi makanan dan minuman tertentu, jarang tidur dan lain sebagainya, mereka bisa sampai ke derajat para nabi meskipun tidak menapaki jalan para nabi.

Ada pula yang mengklaim, dengan olah jiwa itu mereka bisa menjadi orang yang lebih utama daripada para nabi. Sebab ia telah menjadi wali dan derajat para wali lebih utama daripada derajat para nabi. Di antara yang menyatakan demikian adalah Ibnu ‘Arabiy. Dia berkata, “Para wali lebih utama daripada para nabi.”

Dia juga berkata, “Kenabian ditutup dengan diutusnya Muhammad. Tetapi kewalian belum tertutup dengannya.”
Dia pun mengklaim diri sebagai penutup para wali dan berkata, “Penutup para wali lebih utama daripada penutup para nabi.”
Juga, “Para nabi mengambil ilmu dari penutup para wali—yakni dirinya sendiri—mereka mengambilnya dari lauh mahfuzh sementara para wali mengambilnya langsung dari Allah.”

Ibnu ‘Arabi yang dimaksud di sini adalah Ibnu ‘Arabi penulis buku Fushushul Hikam, al-Futuhat al-Makkiyah, dan Kitab al-Huw al-Huw al-Huw.
Kaum Syi’ah Imamiyah diwakili oleh Khomeini yang menegaskan kalimat kufurnya dalam bukunya: Hukumah Islamiyyah. Khomeini berkata, “Sesungguhnya termasuk ketetapan madzhab kami, bahwasannya imam-imam kami memiliki derajat yang tidak dicapai oleh malaikat dan tidak pula dicapai oleh nabi.”
Maknanya, Syi’ah Imamiyah meyakini bahwa imam-imam mereka lebih mulia daripada para malaikat dan para nabi.

Memutar Balik Syariat
Keyakinan bahwa kewalian lebih mulia daripada kenabian adalah pemutarbalikan syariat. Kewalian telah ditetapkan oleh Allah sebagai sifat umum orang-orang yang beriman dan bertakwa. Allah berfirman,

أَلَا إِن أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

“Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran atas diri mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka adalah orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa (kepada Allah). Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. (QS. Yunus: 62-63)

Kenabian lebih khusus daripada kewalian. Kerasulan lebih khusus daripada kenabian. Kerasulan adalah derajat yang paling tinggi, kemudian kenabian, dan lalu kewalian.

Pelajaran dari Hadits Wali
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah berfirman,

مَنْ عَادَى لِيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِيْ لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِيْ لَأُعِيْذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِيْ عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مُسَاءَتَهُ

‘Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku maka sungguh Aku telah mengumumkan peperangan kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amal yang lebih Aku cintai dari pada amal-amal yang Aku wajibkan kepadanya. hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal tambahan (sunnah) sehingga Aku-pun mencintainya. Lalu jika Aku telah mencintainya, maka ia akan selalu mendengar dengan bimbingan-Ku, melihat dengan bimbingan-Ku, berbuat dengan bimbingan-Ku, dan melangkah dengan bimbingan-Ku. Jika dia memohon kepada-Ku maka Aku akan penuhi permohonannya, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku maka Aku akan berikan perlindungan kepadanya. Tidaklah Aku ragu melakukan sesuatu yang mesti aku lakukan seperti keraguan untuk (mencabut) nyawa seorang yang beriman (kepada-Ku), dia tidak menyukai kematian dan Aku tidak ingin menyakitinya.’.”

Hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari sahabat Abu Hurayrah ini memang menunjukkan besarnya keutamaan orang yang menjadi wali Allah. Tetapi ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa para wali Allah lebih mulia daripada para nabi Allah.
Dari hadits qudsi di atas dapat diambil beberapa pelajaran; di antaranya bahwa wali Allah adalah orang yang selalu mendekatkan diri kepada-Nya dengan mengamalkan ketaatan, mengerjakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan memperbanyak amal-amal sunnah.

Oleh karena itu, jika ada seseorang yang mengaku sebagai wali Allah padahal dia tidak memahami dan mengamalkan amal-amal shalih yang bersumber dari petunjuk al-Qur-an dan sunnah Rasulullah, dapat dipastikan dia bukanlah wali Allah. Dia adalah wali setan.
Hadits di atas juga mengisyaratkan bahwa setiap orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah adalah wali Allah. Hanya saja, derajat atau tingkat kewalian mereka berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya.

Salah Paham terhadap Hadits Wajah Cahaya

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah ada manusia yang mereka bukan nabi bukan pula syuhada namun para nabi dan syuhada iri—dalam makna yang positif, bermakna pula memuji dan kagum—dengan mereka pada hari kiamat karena kedudukan mereka di sisi Allah.” Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah kabarkanlah kepada kami, siapa mereka?” Rasul menjawab, “Mereka adalah kaum yang saling mencintai karena Allah, sementara tidak ada hubungan darah di antara mereka dan itu bukan pula karena harta yang mereka harapkan. Demi Allah! Wajah-wajah mereka adalah cahaya dan mereka di atas cahaya. Mereka tidak takut di saat manusia takut, dan tidak bersedih di kala manusia bersedih.” Kemudian Rasulullah membaca firman Allah, “Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran atas diri mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (QS. Yunus: 62).
Hadits di atas diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abu Hurayrah ra dan ‘Umar bin Al-Khaththab ra.

Seakan-akan hadits ini menyiratkan keutamaan para wali Allah daripada para nabi dan para syuhada. Sebab para nabi dan para syuhada iri kepada mereka lantaran keutamaan yang Allah berikan kepada mereka. Ini adalah kesalahpahaman.
Yang benar, derajat wali tidak mungkin diperoleh seseorang kecuali dengan mengikuti jalan nabi. Dan oleh karenanya, semua kebaikan dan keutamaan yang diperoleh oleh seorang wali juga diberikan kepada nabi. Sebab, orang yang menunjukkan kepada jalan kebaikan akan mendapatkan pahala orang-orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi pahala mereka yang mengerjakannya.

Adapun keirian para nabi dan para syuhada adalah seperti irinya seorang alim yang memiliki murid yang sangat pandai. Tidak diragukan bahwa sang alim bertambah mulia dan pahalanya terus bertambah dengan sebab muridnya, namun suatu kewajaran jika ia iri—dalam makna yang positif—kepada muridnya.

Pelajaran dari Hadits Wajah Cahaya
Hadits yang diriwayatkan Abu Dawud di atas menerangkan keutamaan wali-wali Allah yang saling mencintai karena Allah; bukan karena harta, bukan pula karena keluarga. Dalam hadits lain disebutkan bahwa mereka adalah salah satu golongan dari tujuh golongan yang mendapatkan naungan pada hari tiada naungan kecuali naungan Allah. Pada hari Kiamat.
Wallahu a’lam.

Kedudukan Para Ulama

 

وَعُلَمَاءُ السَّلَفِ مِنَ السَّابِقِينَ وَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنَ التَّابِعِينَ أَهْلُ الْخَيْرِ وَالْأَثَرِ وَأَهْلُ الْفِقْهِ وَالنَّظَرِ لَا يُذْكَرُونَ إِلَّا بِالْجَمِيلِ وَمَنْ ذَكَرَهُمْ بِسُوءٍ فَهُوَ عَلَى غَيْرِ السَّبِيلِ

(107) Para ulama salaf dari kalangan as-Sabiqin (sahabat) dan yang sesudah mereka yakni para tabi’in adalah ahli kebaikan dan atsar serta ahli fiqh dan nazhar (analisis). Mereka tidak boleh disebut kecuali dengan kebaikan. Barang siapa yang menyebut mereka dengan kejelekan, maka ia berada di atas selain jalan yang benar.

Matan ini menerangkan manhaj Ahlussunnah wal Jamaah dalam berinteraksi dengan para ulama. Para ulama—yakni para ulama hadits dan ulama fiqh—tidak disebut kecuali kebaikan mereka. Mereka adalah “jembatan” syariah. Mereka tempat bertanya untuk berbagai permasalahan syar’i. Mereka pula yang menjelaskan makna firman Allah dan mensyarah hadits-hadits Nabi saat didapati ada yang belum jelas dalam keduanya. Merekalah yang membela agama Allah dari berbagai syubhat yang dilancarkan oleh orang-orang yang tidak suka dengan agama Allah. Mereka yang menjaga kemurnian akidah Ahlussunnah wal Jamaah. Mereka pula yang menjaga hadits-hadits Nabi dari kabar-kabar palsu yang dinisbatkan kepada beliau saw.

Mereka adalah para pembela syariah—pembelaan ilmiyah—dan oleh karena itu mereka disebut waratsatul anbiya` (para pewaris nabi-nabi). Para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirhan. Mereka mewariskan ilmu.
Manhaj Ahlussunnah wal Jamaah berkenaan dengan mereka adalah menyebut kebaikan mereka. Hanya kebaikan saja. Kita tidak boleh mencela ahlihadits maupun ahlifiqh. Mereka semua tidak menginginkan kecuali menolong syariat dan menjaga ilmu dan fiqh. Jika ada di antara mereka yang berpendapat dan pendapatnya keliru, maka itu adalah kekeliruan lantaran mereka adalah para mujtahid. Kekeliruan yang dimaafkan oleh Allah; meskipun jika kita mengetahuinya, kita tetap tidak boleh mengikutinya. Para ulama Ahlussunnah wal Jamaah telah meneliti dan membuktikan berdasarkan informasi dari al-Kitab, as-Sunnah, dan petunjuk para sahabat, bahwa mereka adalah orang-orang yang muhsin—hendak berbuat baik.

Benar, mereka memang beragam kompetensinya dan bertingkat-tingkat pula kapabilitas ilmiyahnya. Namun mereka semua tidak boleh disebut keburukannya.

Manifestasi Dua Perintah
Hanya menyebut kebaikan para ulama dan tidak menyebut keburukan mereka adalah manifestasi dua perkara, yaitu:
Pertama, firman Allah, “Orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan itu sebagian mereka adalah wali sebagian yang lain.” [at-Taubah: 71]

“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu di antara kalian beberapa derajat.” [al-Mujadalah: 11]

“Sekiranya mereka mengembalikannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, niscaya orang-orang yang mengambil kesimpulan dari mereka akan mengerti.” [an-Nisa`: 83]

Allah menerangkan kedudukan ahli ilmu, keutamaan ilmu, keutamaan orang yang berilmu. Allah menegaskan bahwa derajat mereka diangkat dibandingkan orang-orang yang beriman lainnya. Yang demikian itu karena mereka memiliki ilmu tentang Allah.
Allah menerangkan bahwa orang yang beriman memberikan loyalitas kepada sesama orang yang beriman. Makna loyalitas di sini adalah kecintaan dan pertolongan. Menurut Ahlussunnah, kecintaan dan pertolongan ini diberikan sebanding lurus dengan keimanan. Orang yang beriman memberikan kecintaan dan pertolongan kepada sesama mukmin melebihi kepada yang lain, jika keimanan mereka mendekati sempurna.

Sudah maklum bahwa para ulama telah dipuji oleh Allah dan Rasulullah maka mereka adalah orang-orang yang terutama untuk berhak mendapatkan loyalitas. Wajib memberikan loyalitas kepada mereka berdasarkan ayat-ayat di atas. Dan mencintai serta menolong mereka dibuktikan dengan tidak menyebut mereka kecuali kebaikan mereka.
Kedua, menganggap cacat seorang ahli ilmu terkait dengan kekeliruan mereka pada hakikatnya menganggap cacat semua ahli ilmu. Semua pembawa syariat. Selanjutnya akan muncul ketidaksukaan terhadap syariat dan kecintaan kepada syariat pun melemah. Sebab para ulama tidak mendapatkan tempat yang tinggi di hati. Lantas akan hadir keraguan terhadap apa-apa yang dibawa oleh para ulama. Dan jika sudah begitu, hawa nafsu dan pendapat pribadi yang akan maju atau diajukan. Akhirnya simpul-simpul iman pun terurai, keyakinan kepada Islam pun goyah.

Oleh karena itulah, menyebut keburukan para ulama merupakan cabang dari menyebut keburukan sahabat. Inilah kiranya yang melandasi ath-Thahawi menyebut pembahasan ulama setelah membahas para sahabat. Menganggap cacat sahabat dan para ulama berangkat dari titik yang sama dan bermuara pada akhir yang sama. Menganggap cacat sahabat sama dengan mencela agama. Mencela para ulama terkait dengan hasil ijtihad mereka sama dengan mencela agama. Ini adalah pintu yang sama.
Umat Islam dilarang mencela para ulama di satu sisi. Peran dan jasa para ulama amat-sangat besar dalam menjaga eksistensi Islam. Umat Islam juga dilarang bertaklid buta atau bersikap fanatik kepada para ulama, sebab kebenaran harus lebih dicintai daripada mereka semua.

Ulama Bukan Nabi
Terbebas dari kesalahan bukan merupakan syarat menjadi ahli ilmu. Ahli hadits dan ahli fiqh, terkadang keliru. Mereka tidak maksum. Dan sejatinya kekeliruan mereka ini adalah nikmat dari Allah.
Ketika ada seorang ulama ditanya, “Bagaimana bisa para ulama boleh salah? Bagaimana bisa mereka menyelisihi sunnah—dengan tidak sengaja? Bagaimana mereka bisa pernah bermaksiat? Dan bagaimana mereka terkadang alpa dan tidak teliti?”
Ulama yang ditanya itu menjawab, “Karena para ulama tidak sama dengan para nabi.”

Para ulama berijtihad, berusaha memahami maksud pesan nabi; sedangkan para nabi hanya berbicara dengan wahyu atau wahyu itu sendiri. Nabi selalu tepat saat menjelaskan tentang urusan syar’i. Semua yang dibawa oleh Nabi wajib diikuti.
Seorang ulama adalah orang yang sering benar dalam berijtihad dan kadang-kadang saja keliru di dalamnya. Fenomena ini sejatinya akan mendorong umat untuk terus mengkaji al-Qur`an dan as-Sunnah, disamping mereka tidak akan mengkultuskan sang ulama.

Ulama Salaf
Ketika disebut ulama Salaf, maka maksudnya adalah para ulama yang hidup sebelum orang yang menyebutnya. Ini secara bahasa. Adapun secara istilah, ulama Salaf adalah para ulama dari kalangan tiga generasi pertama Islam, yakni sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in.

Tiga generasi pertama inilah yang mendapatkan rekomendasi dari Rasulullah dalam sabda beliau:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian sesudah mereka, dan kemudian sesudah mereka.” (HR. al-Bukhari)

Klasfikasi Ulama
Pada matan ini ath-Thahawi mengklasifikasikan ulama menjadi dua: ulama atsar atau ahli hadits; dan ulama fiqh para analis. Ulama atsar atau ahli hadits adalah mereka yang concern pada pemastian benar-salahnya penisbatan suatu hadits kepada Rasulullah. Mereka juga memiliki concern dalam fiqh hadits, tetapi tidak seperti ulama fiqh.

Ulama fiqh para analis adalah mereka yang concern pada fiqh hadits dan penyimpulan hukum dari nash-nash syar’i yang ada. Juga, penyimpulan hadits untuk berkara-perkara yang tidak disebut di dalam nash syar’i. Bukannya mereka tidak memiliki perhatian terhadap pembuktian shahih-tidaknya penisbatan suatu hadits kepada Rasulullah, tetapi perhatian mereka tidak seperti para ulama atsar atau ahli hadits.

Ketika ath-Thahawiy menyebut, “Ahli kebaikan dan atsar serta ahli fiqh dan nazhar (analisis),” maka para imam yang empat adalah orang-orang yang utama untuk masuk ke dalam yang beliau sebut. Imam Abu Hanifah adalah ahli fiqh dan nazhar, bukan ahli hadits dan atsar. Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad adalah ahli hadits sebagaimana mereka juga ahli fiqh. Di antara mereka ada perbedaan pendapat dalam madzhab masing-masing. Tak hanya dalam satu masalah mereka berbeda pendapat menjadi empat pendapat. Sudah barang tentu di antara pendapat itu hanya ada satu pendapat yang benar dan yang lain keliru.

Seorang alim meneliti, menganalisis, dan berhati-hati berusaha mencari yang paling benar. Meskipun demikian terkadang pendapat mereka diketahui sebagai pendapat yang marjuh, tidak kuat atau bahkan keliru—menyelisihi sunnah tanpa mereka sengaja.
Dalam pada ini orang-orang yang beriman wajib memberikan loyalitas kepada mereka semua dan para ulama lainnya. Hanya boleh menyebut kebaikan mereka dan menolerir kekeliruan ijtihad mereka. Orang-orang yang beriman wajib berprasangka baik kepada mereka, bahwa mereka tidak bermaksud menyelisihi kebenaran.
Wallahu a’lam.

Hak Ahlulbait

وَمَنْ أَحْسَنَ الْقَوْلَ فِيْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَزْوَاجِهِ الطَّاهِرَاتِ مِنْ كُلِّ دَنَسٍ وَذُرِّيَّاتِهِ الْمُقَدَّسِيْنَ مِنْ كُلِّ رِجْسٍ فَقَدْ بَرِئَ مِنَ النِّفَاقِ

(107) Barangsiapa yang berkata-kata dengan baik tentang para sahabat Rasulullah saw, istri-istri beliau yang suci dari perbuatan nista, dan keturunan beliau yang disucikan dari segala najis (ruhani), maka ia telah terbebas dari kemunafikan.

Setelah membahas kewajiban terhadap para sahabat Nabi secara umum dan beberapa orang sahabat secara khusus, tiba giliran pembahasan yang lebih khusus lagi, yakni tentang kewajiban terhadap Ahlulbait Nabi. Sebagai golongan yang berusaha untuk senantiasa berkomitmen tinggi kepada pesan-pesan Nabi, Ahlussunnah wal Jamaah mencintai Ahlulbait Nabi dan menghormati mereka. Cinta dan penghormatan yang proporsional. Tidak berlebih-lebihan, pun tidak asal-asalan.
Pondasi cinta dan penghormatan Ahlussunnah kepada Ahlulbait adalah hadits Zaid bin Arqam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, juga hadits-hadits lain. Zaid bin Arqam ra mengabarkan bahwa dalam perjalanan dari Mekah sepulang dari haji Wada’ menuju ke Madinah, Nabi saw singgah di suatu tempat yang bernama Khum. Di daerah itu terdapat ghadir (daerah bermata air dan banyak ditumbuhi pepohonan). Beliau dan para sahabat bermukim di situ selama sehari atau beberapa hari. Di sana Rasulullah saw berkhutbah dan berwasiat. Beliau menyebut tentang sudah dekatnya ajal beliau. Kemudian beliau berpesan agar kaum muslimin berpegang teguh kepada Kitab Allah dan menjaga hak-hak Ahlulbait, menghormati mereka, dan mengikuti nasihat-nasihat mereka.

Cinta Palsu Syi’ah
Orang-orang Syi’ah Rafidhah selalu berkata, “Kami mencintai Ahlulbait. Apakah kalian—wahai Ahlussunnah—membenci kami karena kami mencintai mereka? Kenapa mencintai dan memberikan loyalitas kepada Ahlulbait menjadi suatu dosa?”
Pernyataan dan pertanyaan Syi’ah Rafidhah di atas berselubung kedustaan dan kepalsuan. Syi’ah Rafidhah berdusta. Ahlulbait Rasulullah saw bukan hanya ‘Ali bin Abu Thalib, Fathimah az-Zahra`, Hasan, dan Husein serta keturunan Hasan dan Husein saja. Istri-istri Rasulullah saw termasuk Ahlulbait. Termasuk juga, paman beliau ‘Abbas dan anak-cucu beliau. Juga, semua kerabat Rasulullah saw yakni Bani Hasyim. Bahkan termasuk semua anak-cucu Abu Lahab dan Abu Thalib—meskipun keduanya kafir, tetapi anak-cucu mereka yang beriman adalah Ahlulbait.

Lebih dari itu, Syi’ah Rafidhah tidak mengakui putri-putri Rasulullah saw yang lain sebagai Ahlulbait. Zainab putri Nabi yang diperistri oleh Abul ‘Ash adalah Ahlulbait. Demikian pula halnya dengan Ruqayyah dan Ummu Kultsum—kedua kakak beradik putri Rasulullah saw ini dipersunting ‘Utsman bin ‘Affan setelah sang kakak menghadap ke haribaan Allah terlebih dahulu.
Bagi Ahlussunnah, hak sahabat, hak Ummahatul Mukminin (istri-istri Nabi), dan seluruh Ahlulbait Rasulullah saw adalah wajib diridhai, dicintai, diakui hak-hak mereka, dan diakui keutamaan mereka.

Syi’ah Rafidhah mengajarkan cinta palsu. Cinta yang tidak murni. Cinta yang bersyarat—hal mana syarat itu mereka ada-adakan. Syi’ah Rafidhah menjadikan cacian dan kebencian kepada sebagian Ahlulbait dan hampir seluruh sahabat sebagai syarat sah cinta kepada Ahlulbait versi mereka. Padahal, Nabi saw sendiri tidak pernah mensyaratkan yang seperti itu. Berbeda dengan Ahlussunnah. Mereka mencintai Rasulullah saw, mencintai Ahlulbait—seluruhnya sebagaimana diperintahkan oleh Allah dan Rasulullah saw, serta mencintai para sahabat.

Kepada ‘Abdullah bin Hasan bin Husein—cucu Husein bin Ali—‘Umar bin ‘Abdul’aziz berkata, “Jika engkau ada kebutuhan, maka tulislah surat kepadaku. Sungguh, aku malu kepada Allah bila Dia melihatmu berdiri di depan pintu rumahku. Tidak ada di muka bumi ini keluarga yang lebih aku cintai daripada kalian. Sungguh, kalian lebih aku cintai daripada keluargaku sendiri.”
Muhammad bin al-Husein bin ‘Abdullah al-Baghdadiy al-Ajurriy (419 H) berkata, “Diwajibkan atas setiap mukmin laki-laki dan orang mukmin perempuan mencintai Ahlulbait Rasulullah saw; yaitu Bani Hasyim, Ali bin Abu Thalib beserta anak-cucunya, Fathimah beserta anak-cucunya, Hasan dan Husein beserta anak-cucu keduanya, Ja’far ath-Thayyar beserta anak-cucunya, Hamzah beserta anak-cucunya, dan ‘Abbas beserta anak-cucunya. Diwajibkan atas orang-orang muslim mencintai dan memuliakan mereka.
Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah berkata, “Di antara pokok-pokok aqidah Ahlussunnah bahwa sesungguhnya mereka mencintai Ahlulbait Rasulullah saw dan berwala` kepada mereka serta menjaga benar wasiat Rasulullah saw ketika ia bersabda pada hari Ghadir Khum, ‘Aku ingatkan kalian pada Allah tentang hak-hak Ahlulbaitku.’.”

Ahlulbait Rasulullah
Ahlulbait Rasulullah saw adalah mereka yang diharamkan menerima sedekah/zakat. Hal ini dikabarkan sendiri oleh Rasulullah saw dalam sabda beliau, “Sesungguhnya sedekah/zakat itu adalah kotoran manusia dan sesungguhnya ia tidak halal bagi Muhammad dan tidak halal pula bagi keluarga Muhammad.” (HR. Muslim)

Berdasarkan hadits di atas dan dalil-dalil yang lain, para ulama Ahlussunnah menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Ahlulbait Rasulullah saw adalah para istri dan keturunan beliau serta siapa saja yang beriman dari kalangan Bani Hasyim dan Bani Muththallib. Imam Muslim, perawi hadits di atas, mencantumkan hadits tersebut pada bab: Haramnya Zakat untuk Rasulullah saw dan Keluarga Beliau yakni Bani Hasyim dan Bani Muththalib, Tidak Diharamkan kepada Selain Mereka.

Dalil masuknya istri-istri Rasulullah saw sebagai bagian dari Ahlulbait adalah firman Allah,
“Hai istri-istri Nabi! Kalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kalian bertakwa. Maka janganlah kalian tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik. Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (al-Ahzab: 32-33)

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa konteks ayat tersebut secara tegas memasukkan istri-istri Nabi ke dalam bagian Ahlulbait. Merekalah yang menjadi sebab turunnya ayat tersebut. Dan penyebab turunnya suatu ayat sudah pasti termasuk dalam kandungan ayat, menurut kesepakatan ulama. Apalagi sesudahnya Allah berfirman, “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah kalian dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (al-Ahzab: 34)

Makna dari ayat di atas adalah, hendaklah kalian, wahai istri-istri Nabi, mengamalkan apa yang diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah saw di rumah kalian yaitu ayat-ayat al-Qur`an dan Sunnah beliau. Para istri Nabi adalah penghuni rumah Nabi. Ahlulbait Nabi.

Menafsirkan firman Allah yang tertera pada surat Hud: 73, Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakr al-Anshari al-Qurthubiy (w. 671 H) berkata, “Ayat ini memberi penjelasan bahwa istri seseorang termasuk bagian dari Ahlulbaitnya. Hal ini menunjukkan bahwa istri para Nabi adalah bagian dari keluarganya. Maka, ‘Aisyah dan lainnya termasuk Ahlulbait Nabi, yakni termasuk mereka yang disebutkan Allah dalam firman-Nya, ‘Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.’.”

Cinta Pembebas dari Kemunafikan
Di akhir matan ini Abu Ja’far ath-Thahawiy menyatakan, “maka ia telah terbebas dari kemunafikan.”
Para pensyarah matan akidah beliau menjelaskan bahwa siapa yang di hatinya ada kecintaan kepada para sahabat, ummahatul mukminin, dan Ahlulbait, maka ia telah terbebas dari kemunafikan. Yang demikian itu dikarenakan kelompok Syi’ah Rafidhah yang membenci para sahabat, ummahatul mukminin, dan sebagian Ahlulbait diidekan oleh seorang munafik zindiq yang ingin merusak Islam. Orang itu adalah ‘Abdullah bin Saba`. Apa yang dilakukan oleh ‘Abdullah bin Saba` seperti yang dilakukan oleh Paulus terhadap agama Kristen.

‘Abdullah bin Saba` berpura-pura masuk Islam. Lalu ia menampakkan amar makruf nahyi mungkar, sampai akhirnya ia melancarkan aksinya saat ia berusaha untuk memfitnah dan membunuh ‘Utsman. Dan pada saat ‘Ali bin Abu Thalib masuk ke Kufah, Abdullah bin Saba` menampakkan sikap ghuluwnya terhadap ‘Ali.
Semoga kita dijaga oleh Allah dari fitnah ‘Abdullah bin Saba` dan orang-orang yang semacamnya.

Khilafah Rasyidah Mahdiyah

وَهُمُ الْخُلَفَاءُ الرَّاشِدُونَ وَالْأَئِمَّةُ الْمَهْدِيُّونَ

(105) Merekalah para khalifah yang bijaksana dan para imam yang mendapatkan petunjuk.

Para ulama Ahlussunnah wal Jamaah sepakat bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq, ‘Umar bin Khattab, ‘Utsman bin ‘Affan, dan ‘Ali bin Abu Thalib yang para khalifah yang bijaksana dan mendapatkan petunjuk dari Allah. Al-Khulafa` ar-rasyidun al-mahdiyyun. Kesepakatan ini berdasarkan sabda Nabi saw,

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِيْ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ

“Hendaklah kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah para khalifah rasyidin mahdiyin sesudahku! Gigitlah ia dengan gigi gerahammu dan hindarilah mengada-adakan perkara baru (bid’ah)!” (Hadits riwayat Ahmad, at-Tirmidzi, dan Abu Dawud)

تَكُوْنُ النُّبُوَّةُ فِيْكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا

“Kenabian berada di tengah-tengah kalian selama dikehendaki oleh Allah, lalu diangkat oleh Allah saat Dia mengendakinya. Kemudian berlangsung khilafah ‘ala minhajin nubuwah selama dikehendaki oleh Allah, lalu diangkat oleh Allah saat Dia menghendakinya.” (Hadits riwayat Ahmad dan al-Bazzar, dinyatakan hasan oleh al-Albaniy)

خِلاَفَةُ النُّبُوَّةِ ثَلاَثُوْنَ سَنَةً ثُمَّ يُؤْتِي اللهُ مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ

“Khilafah nubuwah berlangsung 30 tahun, kemudian Allah memberikan kekuasannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (Hadits riwayat Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Para ahli sejarah mencatat, masa kekhilafahan Abu Bakar adalah 2,5 tahun, masa kekhilafahan ‘Umar al-Faruq adalah 10,5 tahun, masa kekhilafahan ‘Utsman Dzunnurain adalah 12 tahun, dan masa kekhalifahan ‘Ali bin Abu Thalib adalah 4 tahun 9 bulan. Secara keseluruhan, masa kekhalifahan khalifah yang empat ini terhitung sejak wafatnya Rasulullah saw pada tanggal 12 Rabi’ul Awal 11 H sampai syahidnya ‘Ali bin Abu Thalib pada tanggal 17 Ramadhan 40 H adalah 29 tahun 6 bulan 5 hari atau hampir 30 tahun. Ini sesuai dengan kabar nubuwah.

Selain meyakini keabsahan kekhalifahan mereka berempat, Ahlussunnah juga meyakini urutan keutamaan mereka: Abu Bakar, lalu ‘Umar, lalu ‘Utsman, lalu ‘Ali bin Abu Thalib. Ayyub as-Sikhtiyani mengatakan, “Barangsiapa tidak mengutamakan ‘Utsman di atas ‘Ali, sungguh ia telah melecehkan para sahabat Muhajirin dan Anshar.”
Yang demikian itu karena sahabat Muhajirin dan Anshar telah sepakat untuk mengangkat ‘Utsman sebagai khalifah sebelum ‘Ali.

Khilafah Rasyidah Mahdiyah
Rasulullah saw menyifati kekhalifah empat sahabat utama ini sebagai khilafah rasyidah mahdiyah. Para Ahli sejarah membuktikan kebenaran sabda Nabi tersebut. Rasyidah bermakna istiqamah yang sempurna di atas manhaj Nabi saw. Sedangkan mahdiyah bermakna mendapatkan petunjuk dari Allah.
Kekhalifahan atau khilafah empat khalifah in tercatat memiliki beberapa keistimewaan berikut:

Kesamaan Mashdar Talaqqi

Empat khalifah Rasulullah saw menjadikan al-Qur`an dan as-Sunnah sebagai sumber ilmu dan sumber kebijakan. Ini perkara yang penting sekali. Sebab, perselisihan dan perpecahan hanya terjadi saat umat Islam meninggalkan al-Qur`an dan as-Sunnah, baik secara keseluruhan ataupun sebagian, dan menggantikannya dengan sumber lain produk setan dan manusia.
Khalifah yang empat ini bertalaqqi dan lalu membuat aturan, menentukan kebijakan politik, dan menetapkan semua keputusan mereka dengan merujuk kepada al-Qur`an dan as-Sunnah. Hal ini bukan karena mereka tidak memiliki pengetahuan tentang bagaimana mengatur pemerintah dengan sistem lain. Mereka mengerti ada sistem kekaisaran di Romawi dan kekhusrauan di Persia. Namun secara sadar mereka mencukupkan diri dengan al-Qur`an dan as-Sunnah karena mereka yakin bahwa hanya dengan melakukan hal itu mereka akan mendapatkan kesuksesan di dunia dan di akhirat. Mereka mengerti benar bahwa itulah sunnah Allah yang harus mereka jalani. Mereka membaca ayat:

“Maka hadapkanlah wajahmu kepada dien yang lurus, yaitu fitrah Allah yang manusia diciptakan berada di atas fitrah itu. Tidak ada pengganti bagi ciptaan Allah. Inilah dien yang mulia. Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
(Ar-Rum: 30)

Menjaga Aspek Aqidah
Syariat datang bukan hanya mengharamkan kemusyrikan, tetapi ia juga datang untuk menutup pintu-pintu menuju ke sana. Kita pun dapat menyaksikan khalifah yang empat ini menjalankan fungsi datangnya syariat ini.
Meskipun semula banyak sahabat yang tidak setuju—termasuk ‘Umar bin Khaththab, Abu Bakar tetap teguh pada sikapnya untuk memerangi orang-orang enggan membayar zakat. Abu Bakar berkata, “Demi Allah, aku akan tetap memerangi mereka selama pedang masih di tanganku, walaupun tidak ada lagi yang tersisa selain diriku!”

Belakangan para ulama sepakat bahwa perkara zakat adalah perkara yang besar. Salah satu rukun Islam!
Ketika Shabigh bin ‘Asl at-Tamimiy melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang meragukan eksistensi Allah, ‘Umar memukulnya dengan pelepah kurma sampai Shabigh menyatakan taubatnya. ‘Umar pun mengasingkan Shabigh ke Basrah dan memerintahkan Abu Musa al-Asy’ari untuk memastikan Shabigh tidak bergaul dengan masyarakat sampai aqidahnya benar-benar lurus.

Dari Armenia Hudzaifah datang dan menghadap khalifah ‘Utsman bin ‘Affan. Dia mengabarkan bahwa perbedaan qiroah dalam membaca al-Qur`an berpotensi memecah belah umat Islam. Gara-gara itu, kaum muslimin di sana hampir berbunuhan. ‘Utsman pun memutuskan untuk menyatukan bacaan al-Qur`an dengan menulis ulang al-Qur`an ke dalam satu bahasa Arab saja: bahasa Arab Quraisy. Semua tulisan al-Qur`an yang menggunakan selain bahasa Arab Quraisy dibakar atas perintah ‘Utsman. Melihat adanya orang-orang Syi’ah yang mengkultuskan dan menuhankannya, ‘Ali bin Abu Thalib murka. Setelah menasihati mereka, namun mereka tetap bertahan dengan kebid’ahan mereka, ‘Ali memerintahkan pasukannya untuk membakar mereka.

Supremasi Keadilan dan Persamaan

Yang dimaksud dengan keadilan dan persamaan di sini adalah keadilan dan persamaan dalam perspektif Islam. Islam mengajarkan bahwa pada dasarnya semua manusia itu sama. Faktor pembedanya adalah takwa mereka. Di depan syariat, tak peduli ia orang Arab maupun non Arab, pemimpin atau yang dipimpin, adalah sama.

Suatu hari ‘Umar bin Khaththab yang saat itu menjabat sebagai khalifah mengalami kesalahpahaman dengan Ubay bin Ka’ab. Keduanya sepakat untuk mendatangi Zaid bin Tsabit yang saat itu sedang menjadi qadhi atau hakim Madinah. Begitu mereka berdua datang Zaid berkata, “Kenapa engkau tidak memanggilku, wahai Amirul Mukminin?”
“Qadhi didatangi untuk didengar kan keputusannya (bukan dipanggil)!” kata ‘Umar.
Ketika Zaid hendak memuliakannya dengan mendekatkan tempat duduknya dengan tempat duduknya sendiri, ‘Umar menolak dan berkata, “Ini adalah awal kesewenanganmu, wahai Zaid!”
Dan setelah mendengar suara kedua belah pihak, Zaid memutuskan agar ‘Umar melakukan sumpah. Kemudian buru-buru Zaid meminta Ubay untuk memaafkan ‘Umar dan tidak usah memintanya untuk bersumpah. Namun demikian, ‘Umar tetap ingin bersumpah sebagaimana keputusan Zaid. Setelah ‘Umar berhak atas harta yang diperselisihkan itu, dia menyerahkannya kepada Ubay bin Ka’ab.

Syura Pondasi Interaksi Rakyat Penguasa
Prinsip syura amat penting dalam perjalanan suatu pemerintahan. Syura menjamin penguasa mendengar suara orang-orang yang ada di sekitarnya setelah suara wahyu. Bagaimanapun, suara jamaah lebih baik daripada suara personal.
Imam al-Bukhari mencatat, “Para imam sepeninggal Nabi saw bermusyawarah dengan orang-orang yang terpercaya dari kalangan ahli ilmu untuk menyelesaikan perkara-perkara yang mubah. Jika hal itu ternyata telah dijelaskan di dalam al-Qur`an dan as-Sunnah, mereka tidak berpaling kepada selainnya.” (Shahih al-Bukhari, kitab al-I’tisham bil Kitab was Sunnah, bak ke-28)

Hubungan Internasional yang Syar’i
Hubungan antar negara yang dibangun oleh khalifah yang empat adalah hubungan yang sesuai dengan syariat. Mereka mengasaskan hubungan internasional itu dengan cara pandang Islam terhadap suatu wilayah. Islam membagi wilayah menjadi dua: wilayah Islam (Darul Islam) dan wilayah kekafiran (Darul Kufri). Selanjutnya, mereka menyikapi para penduduk masing-masing dengan apa yang telah diajarkan oleh Islam. Menjelaskannya secara detail, bukan di sini tempatnya. Yang pasti, mereka tidak meninggalkan rambu-rambu yang diwariskan oleh Rasulullah saw.
Wallahu a’lam bish shawab.

Kekhalifahan dan Keutamaan Abul Hasan

ثُمَّ لِعَلِيٍّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

(104) Kemudian (kekhalifahan itu kami tetapkan) untuk ‘Ali bin Abu Thalib—semoga Allah meridhainya.

Setelah ‘Utsman bin ‘Affan terbunuh sebagai syahid, para sahabat mendatangi ‘Ali bin Abu Thalib. Hari itu, umumnya para sahabat yakin bahwa tidak ada yang lebih berhak menjadi khalifah daripada ‘Ali. ‘Ali sendiri sedang duduk di rumahnya dirundung kesedihan yang mendalam lantaran ditinggalkan salah seorang sahabatnya yang juga sahabat kekasihnya. ‘Ali bergumam, “Ya Allah, aku berlepas diri dari segala yang terjadi pada diri ‘Utsman.”

Para sahabat Muhajirin dan Anshar mendatanginya bermaksud untuk membaiatnya. ‘Ali menolaknya seraya berkata, “Tinggalkanlah aku! Menjadi menteri lebih baik bagiku daripada menjadi amir.”
“Demi Allah, kami tidak mendapati seseorang yang lebih berhak menjabatnya daripadamu,” jawab para sahabat. Mereka terus membujuk dan meyakinkan ‘Ali hingga akhirnya ‘Ali menerimanya. Yang pertama membaiat ‘Ali adalah mereka yang tersisa dari para sahabat yang ambil bagian dalam perang Badar. Saat dibaiat, ‘Ali mencari-cari sosok dua sahabatnya: Thalhah bin ‘Ubaydillah dan Zubair bin ‘Awwam. Keduanya adalah sahabat yang paling menonjol dari kalangan ahli Badar. Lalu keduanya datang. Zubair berkata, “Orang-orang telah bertanya kepada kami sebelum engkau bertanya tentang kami. Kemudian kami katakan kepada mereka, ‘Kami tidak akan memilih pengganti ‘Ali.’ Maka ‘Ali berkata, ‘Jika demikian, urusan ini hanya layak dilaksanakan di masjid.’
Ibnu ‘Abbas tidak sependapat dengan ‘Ali. Ibnu ‘Abbas khawatir, masjid akan terkotori karena pembaiatan kali ini berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Kemungkinan terjadi kegaduhan dan fitnah tidak kecil. ‘Ali bersikukuh. Pembaiatan pun dilakukan di masjid.

Lebih Dekat dengan ‘Ali
‘Ali bin Abu Thalib berperawakan sedang, tidak tinggi pun tidak pendek. Wajahnya bundar bercahaya laksana purnama. Orang-orang mengatakan, siapa yang melihat wajah ‘Ali seakan-akan ia melihat Rasulullah saw. Kepala ‘Ali botak, bulu dada dan kedua bahunya lebat. Kedua tangannya kuat dan berotot.
‘Ali bin Abu Thalib diasuh oleh Rasulullah saw sejak berusia 5 tahun. Saat Nabi saw diutus, usianya 10 tahun dan ia pun masuk Islam. Dia berhijrah ke Madinah ketika berusia 23 tahun, membawa bendera kaum Muhajirin dalam perang Badar saat berusia 25 tahun. Lima tahun kemudian, ‘Ali membewa bendera kaum muslimin pada perang Khaibar dan mengusir Yahudi. Saat Nabi saw wafat, ‘Ali berumur 33 tahun. Dia diangkat sebagai khalifah di usianya yang ke-58, dan terbunuh sebagai syahid di usia 63 tahun setelah menjadi khalifah selama 4 tahun 9 bulan.

Keutamaan ‘Ali
Sa’ad bin Abu Waqqash, salah seorang sahabat yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah saw, berkata, “Ada tiga hal yang telah diberikan kepada Ali bin Abu Thalib, sekiranya aku diberi salah satu saja, maka aku merasa telah memiliki dunia seisinya. Ketiga hal itu adalah: Rasulullah saw menikahkannya dengan putri beliau, beliau memberinya bendera pada perang Khaibar dan Allah memenangkannya, serta Rasulullah saw pernah bersabda kepadanya, ‘Tidakkah engkau ridha bila kedudukanmu di sisiku sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa.’.”
Menuruti anjuran seorang budak perempuan yang telah menyulut api keberaniannya, ‘Ali menemui Rasulullah saw. Di hadapan beliau, ‘Ali berkata, “Demi Allah, aku tidak mampu mengatakannya karena merasa takut.” Lalu ‘Ali membisu.
Rasulullah saw memandangnya seraya tersenyum dan berkata, “Kiranya, kedatanganmu ke sini untuk melamar Fathimah.”
“Benar, wahai Rasulullah,” jawab ‘Ali.
Nabi saw lalu bertanya, “Apakah engkau memiliki sesuatu yang akan engkau berikan sebagai maharnya?”
“Tidak. Demi Allah, wahai Rasulullah,” jawabnya.
Beliau lalu berkata, “Bukankah engkau memiliki sebuah baju besi?”
“Benar. Tetapi harganya tidak lebih dari 400 dirham,” jawab ‘Ali.
Rasulullah saw pun bersabda, “Baik. Tidak mengapa. Aku akan menikahkanmu dengan mahar baju besi itu, wahai ‘Ali.”
‘Ali pun bersyukur kepada Allah. Apa yang ada di benaknya dan menjadi harapannya terkabul tanpa diduga-duga sebelumnya.

Bendera Khaibar
Dalam perang Khaibar jumlah pasukan Islam sebanyak 1400 mujahid, sedangkan keseluruhan jumlah pasukan Yahudi mencapai 10.000 personal. Mereka semua lihai dalam memainkan pedang. Mereka bersembunyi di dalam benteng-benteng yang kokoh menjulang di atas bukit yang tak mungkin dikepung, kecuali dengan susah payah dan memakan biaya yang tidak sedikit. Jadilah perang ini perang tersulit yang dihadapi oleh kaum muslimin pada masa itu.
Nabi saw memimpin pengepungan benteng Khaibar selama 13 hari. Kemudian beliau tertimpa penyakit pusing separuh (semacam migrain). Beliau mengutus Abu Bakar untuk membawa bendera, tapi Abu Bakar tidak berhasil mengalahkan Yahudi. Pada hari berikutnya beliau mengutus ‘Umar, tetapi juga tidak berhasil.
Mental dan semangat juang kaum muslimin mulai turun. Oleh karena itu beliau bersabda, “Sungguh! Besok akan aku serahkan bendera ini kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya!”
Maka para sahabat pun berharap bendera akan diserahkan kepadanya.
Keesokan harinya, sesudah shalat Shubuh, Nabi saw bertanya tentang ‘Ali bin Abu Thalib. Salah seorang sahabat menjawab, “Dia sedang sakit mata, wahai Rasulullah.”

Beliau pun menemui ‘Ali dan mengusap kedua matanya sehingga kedua mata ‘Ali pun sembuh dari penyakitnya. Setelah itu Rasulullah saw menyerahkan bendera perang kepada ‘Ali seraya bersabda, “Ambillah bendera ini! Taklukkanlah Khaibar dan janganlah kamu berpaling!”
Dengan gagah perkasa ‘Ali melesat membawa bendera perang dan menancapkannya di benteng terkuat milik orang-orang Yahudi Khaibar. Benteng Na’im, namanya. Saat itulah seorang pendeta Yahudi keluar dan bertanya, “Siapakah kamu?”
“’Ali, putra Abu Thalib,” jawab ‘Ali.
“Demi apa yang diturunkan kepada Musa! Kalian akan menang,” kata pendeta itu. Telah tertulis di dalam kitab mereka bahwa pembuka benteng mereka adalah lelaki bernama ‘Ali, putra Abu Thalib.

Bagai Harun di Sisi Musa
Menjelang perang Tabuk, Rasulullah saw meminta ‘Ali untuk menggantikan kedudukan beliau di Madinah. ‘Ali berkata, “Wahai Rasulullah, engkau meninggalkanku bersama para wanita dan anak-anak?”
‘Ali merasa sedih karena tidak diizinkan bergabung dengan pasukan perang. Nabi saw pun bersabda, “Sesungguhnya aku meninggalkanmu di Madinah karena keluargaku dan keluargamu.”
Pasukan mulai bergerak maju, sedangkan yang ada di Madinah hanyalah kaum wanita, anak-anak, dan orang-orang munafik. Orang-orang munafik itu menyebarluaskan berita bahwa Nabi saw meninggalkan ‘Ali di Madinah lantaran ‘Ali enggan berjihad.
Saat kabar burung itu sampai ke telinga ‘Ali, ia bergegas mengambil pedangnya menemui Rasulullah saw. ‘Ali menangis. ‘Ali mengadukan kabar burung itu kepada Rasulullah saw. Maka Rasulullah saw bersabda, “Mereka telah berdusta, wahai ‘Ali. Tidakkah kamu ridha jika kedudukanmu di sisiku sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa? Hanya saja, sudah tidak ada nabi sesudahku.”
‘Ali pun kembali ke Madinah dengan hati ridha.

Terbunuh sebagai Syahid
Diriwayatkan, pada tgl 17 Ramadhan 40 H. orang-orang Khawarij bersepakat untuk memberangkatkan tiga orang jahat untuk membunuh tiga sahabat. Tiga sahabat itu adalah Ali bin Abu Thalib, Mu’awiyah bin Abu Sufyan, dan ‘Amru bin ‘Ash. ‘Abdurrahman bin Muljam kebagian tugas membunuh ‘Ali dan ia melaksanakan tugasnya. ‘Ali bin Abu Thalib ditikamnya saat keluar rumah untuk menjalankan shalat Shubuh beberapa kali.
‘Ali bin Abu Thalib terluka parah. Jenggotnya berlumuran darah. Setelah bertahan sekitar dua hari, Allah berkenan merahmati-Nya dengan mencabut nyawanya. Dan berakhirlah masa al-Khulafa` ar-Rasyidun.
Semoga Allah meridhai ‘Ali bin Abu Thalib dan meridhai semua sahabat Nabi.

Kekhalifahan dan Keutamaan Dzun Nurain

ثُمَّ لِعُثْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

(103) Kemudian (kekhalifahan itu kami tetapkan) untuk Utsman (bin ‘Affan)—semoga Allah meridhainya.

Pada masa-masa akhir kekhalifahan al-Faruq, orang-orang dekat beliau berkata, “Wahai Amirul mukminin, berikanlah wasiat, kepada siapa kekhalifahan harus diberikan?” ‘Umar menjawab, “Aku tidak dapati orang yang berhak untuk mengembannya selain mereka yang mendapat keridhaan dari Rasulullah hingga beliau wafat.”
Kemudian al-Faruq menyebut nama-nama mereka yang dikabarkan oleh Rasulullah akan mendapatkan surga. Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaydillah, Sa’ad bin Abu Waqqash, dan Abdurrahman bin Auf—semoga Allah meridhai mereka semua. Menyebut nama-nama mereka bermakna al-Faruq mengakui bahwa siapa pun di antara mereka yang terpilih, dia adalah orang yang kapabel dan mampu memimpin umat. Umar lalu berkata, “Abdullah, putraku menjadi saksi atas kalian tapi dia tidak boleh menjadi kandidat. Jika kekhalifahan ini dilimpahkan kepada Sa’ad maka harus dilaksanakan, jika tidak maka kalian harus berusaha siapa di antara kalian yang patut mengemban perkara ini. Aku memecat Sa’ad bukan karena ia seorang yang lemah atau karena ia berkhianat.”

Proses Terpilihnya Utsman
Pasca syahidnya al-Faruq dan setelah jenazahnya dimakamkan, nama-nama yang telah disebut oleh Umar berkumpul. Abdurrahman bin Auf berkata, “Pilihlah di antara kalian tiga orang calon!”
Zubair berkata, “Aku Memilih Ali.”
“Aku memilih Utsman,” kata Thalhah.
“Aku memilih Abdurrahman bin Auf,” ujar Sa’ad bin Abu Waqqash.
Abdurrahman bin Auf berkata, “Siapa di antara kalian berdua yang mau mengundurkan diri dari pencalonan maka aku akan menjadikan urusan ini untuknya dan Allah yang akan mengawasinya dan Islam. Hendaklah masing-masing melihat siapa yang paling utama di antara kalian?”
Ali dan Utsman berdiam. Abdurrahman berkata, “Apakah kalian menyerahkan perkara pemilihan ini kepadaku untuk memilih siapa yang terbaik di antara kalian berdua?”
Keduanya menjawab, “Ya!”
Maka Abdurrahman memegang tangan Ali seraya berkata kepadanya, “Engkau adalah kerabat dekat Rasulullah dan termasuk yang pertama-tama masuk Islam dan hal itu sudah engkau ketahui. Demi Allah, jika engkau yang diangkat maka berlaku adillah dan jika Utsman yang diangkat maka dengar dan taatilah dia!”
Kemudian Abdurrahman mendekati Utsman dan mengucapkan kalimat yang sama dengan yang diucapkannya kepada Ali.
Setelah mereka berdua berjanji, Abdurrahman berkata, “Ulurkan tanganmu, wahai Utsman!”
Utsman mengulurkan tangannya, dan Abdurrahman bin Auf pun membai’atnya, kemudian disusul oleh Ali dan diikuti oleh semua penduduk.
Diriwayatkan bahwa sebelum menjatuhkan pilihan kepada Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf sudah berkeliling Madinah untuk mendengar pendapat penduduk, siapa di antara Utsman dan Ali yang lebih mereka pilih. Kebanyakan penduduk Madinah—baik Muhajirin maupun Anshar—lebih mengutamakan Utsman bin Affan.
Ibnu Abdil Barr berkata, “Utsman dibai’at sebagai khalifah pada Sabtu, 1 Muharram 24 H, tiga hari setelah pemakaman Umar bin Al-Khattab.”

Sosok Utsman bin Affan
Utsman bin Affan adalah sahabat yang Rasulullah sendiri menggambarkannya sebagai pribadi yang paling jujur dan rendah hati di antara kaum muslimin. Dia berprofesi sebagai pedagang. Dia kaya raya, ekonom yang handal, dan sangat dermawan. Banyak bantuan ekonomi yang diberikannya kepada umat Islam di awal dakwah Islam.
Utsman mendapat julukan Dzun Nurain yang berarti yang memiliki dua cahaya. Julukan ini didapat karena Rasulullah menikahkan Utsman dengan Ruqayyah, putri beliau dan setelah Ruqayyah meninggal, beliau menikahkannya dengan Ummu Kultsum, juga putri beliau. Dua putri Rasulullah yang bercahaya. Utsman memiliki dua cahaya itu.
Pada saat Rasullullah menyerukan hijrah ke Habbasyah karena meningkatnya tekanan kaum Quraisy terhadap umat Islam, Utsman bersama istri dan kaum muslimin lainnya memenuhi seruan tersebut dan hijrah ke Habbasyah hingga tekanan dari kaum Quraisy reda. Mereka pun kembali ke Mekah. Tak lama tinggal di Mekah, Utsman mengikuti Nabi Muhammad Saw untuk hijrah ke Yatsrib yang selanjutnya lebih dikenal dengan Madinah.

Derma Utsman
Menjelang perang Tabuk, Rasulullah menggesah para shahabat untuk berinfak di jalan jihad fi Sabilillah. Utsman menjawab seruan itu dengan berinfak sebanyak 1.000 ekor unta, 70 ekor kuda, dan uang 1.000 dirham. Nilai infak Utsman ini sama dengan sepertiga biaya perang tersebut.
Utsman bin Affan juga menunjukkan kedermawanannya tatkala membeli sumur yang jernih airnya dari seorang Yahudi seharga 200.000 dirham yang kira-kira sama dengan 2,5 kg emas pada waktu itu. Sumur itu beliau wakafkan untuk kepentingan rakyat umum.
Kedermawanan Utsman tidak hanya pada zaman Nabi. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Utsman juga pernah memberikan gandum yang diangkut dengan 1.000 unta untuk membantu kaum miskin yang menderita di musim paceklik.
Salah satu kebiasaan Utsman bin Affan yang juga menunjukkan kedermawanan, kelemahlembutan, dan kasih sayang Utsman adalah ia biasa memerdekakan budak setiap hari Jumat.

Masa Kekhalifahan Utsman
Masa kekhalifan Utsman merupakan masa yang paling makmur dan sejahtera. Beliau memerintahkan umat Islam pada waktu itu untuk menghidupkan kembali tanah-tanah yang kosong untuk kepentingan pertanian. Masyarakat mampu menunaikan haji berkali-kali. Jika seorang budak hendak menebus dan memerdekakan dirinya, harganya tidak mahal sehingga hal itu terasa ringan baginya. Harganya sama dengan berat badannya.
Utsman bin Affan adalah khalifah yang pertama kali melakukan perluasan masjid al-Haram (Mekah) karena semakin ramai umat Islam yang menjalankan rukun Islam kelima. Utsman juga mencetuskan ide polisi keamanan bagi rakyatnya, membuat bangunan khusus untuk menyelesaikan berbagai sengketa di antara rakyatnya. Hal ini belum pernah dilakukan oleh khalifah sebelumnya. Abu Bakar dan Umar bin Khaththab biasa mengadili suatu perkara di masjid.
Pada masa Utsman, kekuatan Islam mempunyai armada laut untuk pertama kalinya. Armada laut yang tangguh. Mu’awiyah bin Abu Sufyan yang diangkat Utsman sebagai gubernur Syria membentuk armada laut itu. Sekitar 1.700 kapal dipakai untuk mengembangkan wilayah ke pulau-pulau di Laut Tengah.
Selain penaklukan Syria, penaklukan Afrika Utara, daerah Arjan dan Persia, serta daerah Khurasan dan Naysabur terjadi pada masa pemerintahan Utsman.
Utsman juga berjasa besar mencegah perpecahan umat Islam dengan memerintahkan penulisan kembali mushaf al-Qur`an dengan bahasa Arab Quraisy—bahasa yang al-Qur`an diturunkan dengannya. Zaid bin Tsabit yang pernah menjadi ketua panitia penulisan al-Qur`an pada masa Abu Bakar ditunjuk sekali lagi sebagai ketua panitia. Setelah al-Qur`an selesai ditulis urut dan persis sebagaimana yang dulu diperintahkan oleh Rasulullah, Utsman memerintahkan semua orang yang memiliki tulisan al-Qur`an untuk mengumpulkannya. Utsman membakar semua tulisan yang terkumpul itu demi menjaga persatuan umat. Hari itu kaum muslimin hanya memiliki satu mushaf. Mushaf Imam. Setelah itu Utsman memerintahkan para penulis untuk membuat lima salinan mushaf dan mengirimnya ke berbagai wilayah Islam.

Akhir Hayat Utsman
Dzun Nurain menjadi khalifah selama hampir 12 tahun. Selama itu ia banyak mengganti gubernur wilayah yang menurutnya kurang cakap dan menggantikannya dengan orang-orang yang lebih kredibel. Hal ini banyak membuat sakit hati pejabat yang diturunkan sehingga mereka bersekongkol untuk membunuh khalifah. Beliau dikepung selama puluhan hari hingga akhirnya beliau terbunuh sebagai syahid pada tanggal 17 Dzulhijah 35 H. Pada saat itu Utsman sedang membaca al-Qur`an. Hal ini persis seperti apa yang disampaikan Rasullullah perihal kematian Utsman yang syahid nantinya. Dzun Nurain dimakamkan di pekuburan Baqi’ di sebelah kiri masjid Nabawi, Madinah.
Semoga Allah meridhainya dan mempertemukan kita dengannya.

Haji dan Jihad sampai Kiamat

وَالْحَجُّ وَالْجِهَادُ مَاضِيَانِ مَعَ أُولِي اْلأَمْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ بَرِّهِمْ وَفَاجِرِهِمْ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ لاَ يُبْطِلُهُمَا شَيْءٌ وَلاَ يَنْقُضُهُمَا

(83) Haji dan jihad dilaksanakan bersama pemimpin kaum muslimin, baik yang shalih maupun yang fajir, sampai hari Kiamat. Tidak ada sesuatu pun yang membatalkan atau menggugurkan keduanya.

Seperti matan sebelumnya, matan ke-83 ini membahas perkara fikih yang menjadi ciri khas Ahlussunnah wal Jamaah. Perkara itu adalah haji dan jihad. Menurut Ahlussunnah, keduanya wajib dilaksanakan di bawah kepemimpinan seorang muslim, baik ia orang yang shalih dan adil maupun seorang yang fajir dan zhalim. Jika yang memimpin adalah imam yang yang fajir (durhaka), kewajiban keduanya diingkari oleh firqah Syi’ah Rafidhah dan Khawarij.

Dalih Rafidhah-Khawarij

Pengingkaran Rafidhah dan Khawarij ini bermula dari akidah mereka tentang imamah. Kepemimpinan.

Rafidhah meyakini, haji dan jihad tidak sah kecuali diimami oleh imam mereka yang sah. Imam yang sah itu―imam ke-12―sekarang sedang “digaibkan” setelah masuk ke dalam gua Samarra` saat berumur 5 tahun bersama ibunya. Gua itu terletak di daerah Ray, Iran. Muhammad bin Hasan al-’Askariy nama imam yang mereka klaim sampai sekarang masih hidup dan akan keluar menjelang akhir zaman. Meskipun sudah ribuan tahun, sampai hari ini orang-orang Rafidhah masih menunggu kedatangan imam mereka ini. Setiap menjelang Maghrib mereka berkerumun di depan gua dan memanggil-manggil nama sang imam.

Berbeda dengan Rafidhah yang mengingkari haji dan jihad secara umum, Khawarij hanya menolak haji dan jihad apabila imam yang memimpin adalah imam fajir. Menurut mereka, seorang yang fajir―pelaku dosa besar―telah kafir, sehingga tidak berhak memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin. Oleh sebab itu, haji dan jihad pun tidak sah dilakukan di bawah kepemimpinannya. Menurut mereka, pelaksanaan haji dan jihad harus di bawah kepemimpinan seorang yang adil dan shalih.

Dalil Ahlussunnah

Rafidhah dan Khawarij menyelisihi akidah Ahlussunnah wal Jamaah. Dalam menetapkan akidah berlakunya syariat haji dan jihad sampai akhir zaman di bawah kepemimpinan imam, baik yang shalih maupun yang fajir, Ahlussunnah berpedoman kepada banyak dalil dan atsar Salaf. Di antaranya:

Firman Alloh, “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Alloh, taatlah kepada Rasul, dan pemimpin di antara kalian!” (QS. An-Nisa`: 59)

Pada ayat di atas, Alloh memerintahkan orang-orang yang beriman untuk mentaati pemimpin di antara mereka secara umum, baik yang shalih maupun yang fajir. Rasulullah n menegaskan dengan bersab-da, “Akan ada sepeninggalku nanti para pemimpin yang tidak berpegang kepada petunjukku dan tidak mengikuti sunnahku. Dan akan ada di antara para penguasa itu orang-orang yang berhati setan namun berbadan manusia.” Hudzaifah bertanya, “Apa yang harus saya perbuat jika mendapatinya?” Beliau menjawab, “Hendaklah kamu mendengar dan taat, meskipun punggungmu dipukul dan hartamu dirampas. Dengar dan taatlah!” (HR. Muslim)

Ketaatan kepada penguasa yang fajir tidaklah mutlak. Ia adalah ketaatan dalam perkara yang makruf/kebaikan saja. Rasulullah n bersabda, “Wajib atas seorang muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa muslim) pada apa-apa yang ia sukai dan ia benci, kecuali apabila penguasa itu menyuruh untuk berbuat kemaksiatan. Apabila ia menyuruh untuk berbuat maksiat, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat” (HR. Al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Imam al-Bukhari menulis satu bab khusus dalam al-Jami’ush Shahih dengan judul: Jihad tetap berlangsung bersama pemimpin yang baik maupun yang jahat. Kemudian, beliau menyitir hadits ‘Urwah al Bariqiy a. bahwa Rasulullah n bersabda, “Di ubun-ubun kuda itu senantiasa terikat kebaikan sampai hari Kiamat, yaitu pahala dan ghanimah”

Mensyarah hadits di atas, al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani menulis, “Ini tidak dibatasi hanya pada pemimpin yang baik saja. Hadits ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan dalam hal mendapatkan keutamaan tersebut antara peperangan bersama penguasa yang adil atau bersama penguasa yang jahil”

Imam Ahmad bin Hambal dalam kitab beliau, Ushulus Sunnah menulis, “Perang di bawah kepemimpinan para amir terus berlangsung hingga hari Kiamat, terlepas apakah dia seorang penguasa yang baik atau yang jahat.”

Ali Ibnu al-Madini berkata, “Perang di bawah kepemimpinan para amir terus berlangsung hingga hari Kiamat, baik dia seorang penguasa yang baik ataupun jahat.”

Imam ash-Shabuni dalam kitab beliau, ‘Aqidatus Salaf Ashhabil Hadits menulis, “Ashhabul hadits berpandangan disyariatkannya shalat Jumat, shalat ‘Id dan shalat-shalat yang lainnya bersama penguasa kaum muslimin, yang baik atau pun yang fajir. Mereka juga berpandangan disyariatkannya jihad melawan orang-orang kafir bersama penguasa walaupun mereka adalah orang-orang yang kejam dan jahat.”

Imam al-Barbahari dalam  Syarhus Sunnah menulis, “Haji dan perang di bawah kepemimpinan amir (kaum muslimin) akan tetap terus berlangsung.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam ‘Aqidah Wasithiyyah menulis, “(Ahlus Sunnah wal Jama’ah) meyakini (disyari’atkannya) pelaksanaan ibadah haji, jihad dan shalat Jumat bersama para penguasa yang baik dan yang jahat.”

Ibnu Qudamah menyatakan, “Perkara jihad diserahkan kepada imam dan ijtihadnya. Wajib  atas seluruh rakyat untuk mentaati kebijakan-kebijakan yang ditentukannya.”

Pada tataran praktik, sejarah mencatat para sahabat telah dan tetap melaksanakan haji dan jihad di bawah kepemimpinan raja-raja Bani Umayah. Padahal, tak ada yang meragukan kezhaliman yang dilakukan oleh para raja dan penguasa dari kalangan Bani Umayah.

Adalah Ibnu ‘Umar h yang melaksanakan haji di bawah kepemimpinan Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi. Pada hari ‘Arafah selepas matahari tergelincir, Ibnu ‘Umar memberi isyarat kepada Hajjaj untuk mengimami shalat Zhuhur dan ‘Ashar secara jamak-qashar.  Hajjaj pun maju dan Ibnu ‘Umar menjadi makmum. Bersama Ibnu ‘Umar ada banyak sahabat dan tokoh-tokoh tabi’in.

Rela tapi tak rela

Akidah Ahlussunnah bahwa pemimpin―sekalipun–fajir harus ditaati bukan berarti Ahlussunnah rela dengan kefajiran dan kemungkaran yang dilakukannya. Kemungkaran tetaplah kemungkaran. Hanya, selama kemungkaran itu belum mencapai derajat kekafiran yang nyata, seorang pemimpin tidak kehilangan haknya untuk ditaati pada perkara-perkara yang makruf.

‘Ubadah bin Shamit a menyatakan, “Rasulullah n telah mengajak kami dan kami membaiat beliau. Di antara isi baiat kami, hendaklah kami senantiasa patuh dan taat (kepada pemimpin), baik dalam keadaan senang maupun susah, dalam kesulitan maupun kemudahan, dan kami mendahulukannya atas kepentingan kami. Kami juga tidak boleh menentang orang yang telah terpilih dalam urusan kepemimpinan ini. Rasulullah n bersabda, ‘Kecuali jika kalian melihat kekafiran yang nyata yang kalian memiliki bukti dari Allah di dalamnya.’.”  (HR. al-Bukhari)

Kemungkaran yang dilakukan oleh pemimpin lebih berat daripada kemungkaran yang dilakukan oleh orang lain. Setidaknya kemungkaran pemimpin membawa dua dampak buruk. Karena melihatnya, orang-orang akan menirunya dan menganggap kemungkaran itu sebagai sesuatu yang sepele. Karena ia seorang pemimpin, kemungkinan ia akan meninggalkan dan bertaubat darinya jadi kecil. Orang yang hendak mengingkari atau menegurnya berpikir lebih dari sekali sebelumnya.

Sampai Kiamat

Yang dimaksud dengan haji dan jihad akan dilaksanakan sampai hari Kiamat pada matan di atas bukanlah sampai benar-benar ditiupnya sangkakala saat Kiamat terjadi. Tetapi, hanya sampai ketika sudah tidak ada lagi orang-orang yang beriman dengan selemah-lemah iman. Sampai datangnya suatu masa bumi hanya berisikan orang-orang kafir seperti yang dinyatakan oleh Rasulullah n. Wallahu a’lam.

Mendahulukan Wahyu, Mengikuti Sunnah

وَنَرَى الْمَسْحَ عَلَى الْخُفَّيْنِ فِي السَّفَرِ وَالْحَضَرِ كَمَا جَاءَ فِي اْلأَثَرِ

(83) Menurut kami, boleh mengusap kedua khuff ketika bepergian maupun mukim, sebagaimana tersebut dalam atsar.

Khuff adalah sejenis sepatu yang terbuat dari kulit dan menutupi seluruh bagian kaki yang wajib dibasuh saat wudhu (menutupi mata kaki). Sedangkan yang dimaksud dengan “mengusap” adalah menyentuh sesuatu dengan tangan yang basah dan menggerakkannya.

Sebenarnya pembahasan mengusap khuf termasuk pembahasan fiqh. Namun, karena firqah Syi’ah dan Khawarij menolaknya maka Abu Ja’far ath-Thahawi menjadikannya sebagai salah satu bagian dari matan aqidah beliau. Para ulama Ahlussunnah yang lain pun sependapat dengan beliau dan menjadikan ihwal mengusap khuff pengganti membasuh kaki ketika wudhu sebagai salah satu syi’ar Ahlussunnah.

Dalil yang menjelaskan keabsahan mengusap khuff adalah hadits mutawatir yang diriwayatkan dari sekira 80 orang sahabat—di antara mereka adalah 10 sahabat yang dijamin masuk surga.

Abdullah bin Mubarak menyatakan, “Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan sahabat mengenai bolehnya mengusap khuff. Setiap ada riwayat dari sebagian mereka yang menunjukkan pengingkaran mereka terhadap masalah ini, selalu didapati riwayat lain dari mereka juga yang menunjukkan kebalikannya: boleh mengusap khuff.”

Penolakan yang didengungkan oleh Syi’ah dan Khawarij—juga siapa saja yang sependapat dengan mereka—umumnya bermula dari kesalahan mereka dalam memosisikan akal di hadapan wahyu. Mereka yang mendahulukan akal, tidak dapat menerima mengusap bagian atas khuff dengan tanpa menggusap bagian bawahnya, padahal yang terkena kotoran adalah bagian bawah.

Sedangkan Ahlussunnah berpedoman: jika sudah terbukti shahih dan datang dari Rasulullah saw, maka amal atau apa pun harus diterima dan tidak boleh ditentang dengan akal, logika, dan lain sebagainya. Ahlussunnah mengikuti sunnah mendahulukan wahyu.

Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib ra berkata,

لَوْ كَانَ الدِّيْنُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهُ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ

“Sekiranya agama itu dengan akal semata, niscaya bagian bawah khuff lebih layak untuk diusap daripada bagian atasnya. Namun, sungguh aku pernah melihat Rasulullah saw mengusap bagian atas khuff beliau.”

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menyatakan, ‘Mungkin ada yang berkata, ‘Sepintas mengusap bagian bawah khuff lebih utama, karena bagian inilah yang langsung mengenai tanah atau kotoran. Namun, jika diperhatikan dengan seksama, kita dapatkan bahwa mengusap bagian atas khuff adalah lebih utama dan sesuai dengan logika. Sebab, tujuan mengusap khuff bukan untuk membersihkannya, akan tetapi bertujuan ibadah.”

Di antara hikmah dibolehkannya mengusap khuf adalah untuk mendatangkan kemudahan dan keringanan bagi setiap muslim. Dalam kondisi tertentu, seseorang akan mendapati kesulitan untuk melepas khuff dan membasuh kedua kaki pada saat berwudhu. Misalnya pada saat musim dingin atau ketika menghadapi cuaca yang amat dingin. Kesulitan bisa jadi ditemui seseorang saat ia bepergian, karena pada saat itu biasanya seseorang ingin serba cepat sehingga tidak punya waktu untuk melepas khuffnya.

Tata Cara Mengusap Khuff

Para ulama sepakat, apabila seseorang berada dalam keadaan suci dari hadats kecil maupun besar, lalu ia memakai khuff, maka jika batal wudhunya, ia tidak harus melepas khuffnya ketika bewudhu. Dia boleh tetap memakainya dan ketika sampai pada rukun membasuh kaki, ia cukup mengusap khuffnya.

Caranya, kedua tangan dibasahi air, lalu diletakkan pada ujung khuff bagian depan (yang menutupi jari-jemari kaki), jari-jemari tangan direnggangkan, tangan kanan pada kaki kanan, tangan kiri pada kaki kiri, lalu keduanya digerakkan bersamaan ke arah dalam (punggung telapak kaki) sampai pada khuff yang menutupi bagian betis depan paling bawah. Jika membasuh kaki disunnahkan sampai tiga kali, tidak demikian halnya dengan mengusap khuff ini. Cukup sekali, sebagaimana dikabarkan oleh sahabat Mughirah bin Syu’bah ra.

Bagian samping dan belakang khuff tidak perlu diusap, karena tidak ada satu riwayat shahih pun yang menjelaskan pengusapan keduanya.

 

Masa Berlaku Mengusap Khuff

Para fuqaha Ahlussunnah sepakat, saat seseorang tidak bepergian, ia boleh mengganti membasuh kaki dengan mengusap khuff dalam rentang waktu sehari-semalam atau 24 jam. Jika misalnya seseorang mengambil air wudhu untuk mengerjakan shalat Zhuhur, lalu ia mengenakan khuff, kemudian pada waktu ‘Ashar ia berwudhu lagi dengan mengusap khuffnya, maka selama 24 jam berikutnya ia boleh mengusap khuff setiap kali berwudhu.

Syaratnya, dalam 24 jam itu ia tidak berhadats besar/junub. Maknanya, jika ia junub, otomatis ia wajib mandi dan harus melepas khuffnya. Syarat berikutnya, ia tidak boleh melepas khuffnya ketika berhadats kecil. Sebab, dengan begitu ia akan memasukkan khuffnya dalam keadaan dirinya tidak suci dari hadats. Lain halnya jika untuk suatu urusan ia harus melepas khuffnya, dan ia melepasnya dalam keadaan suci dari hadats. Asalkan sebelum berhadats ia telah memakai khuffnya lagi, masa boleh mengusap khuffnya masih berlaku. Inilah pendapat Imam al-Awza’i, Imam Ahmad, dan Ibnul Mundzir.

Imam al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan bahwa Mughirah bin Syu’bah bertutur, “Suatu malam dalam sebuah perjalanan, aku bersama Nabi saw. Kutuangkan air dari timba ke atas tangan beliau, lalu beliau membasuh wajah sampai mengusap kepala. Kemudian aku berjongkok hendak melepaskan kedua khuff beliau. Ketika itulah beliau bersabda, ‘Biarkan keduanya! Sesungguhnya aku memakainya dalam keadaan suci.’ Kemudian beliau mengusap kedua khuff itu.”

Masa berlaku rukhshah boleh mengusap khuff bagi musafir lebih lama lagi. Tiga hari tiga malam dengan cara menghitung dan syarat spt tersebut di atas. Dasarnya adalah penuturan Ali bin Abu Thalib bahwa Rasulullah saw telah menetapkan tiga hari tiga malam bagi musafir dan sehari semalam bagi orang yang mukim. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim)

Dalam Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi menyatakan, “Para ulama terkemuka telah sepakat atas bolehnya mengusap kedua khuf, baik ketika safar ataupun ketika mukim, baik karena ada hajat ataupun tidak. Diperbolehkan juga bagi perempuan yang selalu berdiam diri di rumahnya atau orang-orang yang menderita sakit kronis yang tidak bisa berjalan untuk mengusap bagian atas khufnya. Hanya golongan Syi’ah dan Khawarij sajalah yang bersikeras menentang masalah ini.”

 

Urgensi Kajian Historis

Dalam menentang kebolehan mengusap khuff ini, ada yang menyatakan bahwa semua hadits tentangnya, hukumnya telah dinasakh oleh firman Allah yang menjelaskan tata cara wudhu.

Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai siku-siku, dan usaplah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. Al-Maidah: 6)

Ayat di atas memang termasuk dalam surat al-Maidah yang diturunkan menjelang akhir nubuwah. Meskipun demikian, ada satu hadits shahih—diriwayatkan oleh Imam Muslim—dari sahabat Jabir bin ‘Abdullah ra yang isinya, ia pernah menyaksikan Rasulullah saw mengusap khuff saat berwudhu.

Sekilas, tidak ada yang istimewa dari hadits Jabir ini jika dikomparasikan dengan hadits-hadits mengusap khuff yang diriwayatkan dari sahabat lain. Namun, jika memperhatikan realita sejarah keislaman Jabir, hadits ini istimewa. Jabir bin ‘Abdullah masuk Islam setelah diturunannya surat al-Maidah. Dengan demikian, tak terbantahkan lagi bahwa ayat tentang wudhu tidak menasakh hadits-hadits tentang mengusap khuff. Demikianlah pernyataan penulis Tuhfatul Ahwadzi dan Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim.

Wallahu a’lam.

Tahu Diri Tidak Tahu

وَنَقُوْلُ اللهُ أَعْلَمُ فِيْمَا اشْتَبَهَ عَلَيْـنَا عِلْمُهُ

 (82) Kami katakan, “Allah lebih tahu,” untuk berbagai hal yang kami tidak benar-benar mengetahuinya.

Menurut Ahlussunnah wal Jamaah, seorang mukmin tak boleh mengatakan apa yang tidak diketahuinya. Jika ia mengetahui sesuatu, ia boleh mengatakannya. Jika tidak, ia harus diam dan menjaga lisannya. Seorang mukmin tidak boleh berkata-kata dalam urusan agama dan ibadah tanpa ilmu. Dia harus berhenti dan berkata, “Allahu A’lam, Allah lebih tahu.”

Imam Malik bin Anas, imam Darul Hijrah, suatu hari didatangi oleh seseorang yang mengajukan 40 pertanyaan. Hanya empat pertanyaan beliau jawab, sedangkan sisanya beliau katakan, “Saya tidak tahu.” Orang itu pun berkata, “Aku datang dari tempat yang jauh dengan mengendarai onta, namun Anda hanya memberikan jawaban, ‘Saya tidak tahu?!’.” Imam Malik pun berkata, “Kendarailah ontamu dan pulanglah ke negerimu, lalu katakan kepada orang, ‘Aku telah bertanya kepada Malik, namun dia menjawab, ‘Aku tak tahu.’!”

Apabila Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam ditanya tentang sesuatu yang wahyu belum turun berkenaan dengannya, beliau menunggu sampai turunnya wahyu. Begitu pun para sahabat, saat mereka ditanya oleh Rasulullah saw tentang sesuatu yang tidak mereka ketahui, mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”

Pada beberapa edisi yang lalu telah dijelaskan bahwa agama seseorang hanya tegak di atas pondasi kepasrahan kepada Allah dan Rasulullah saw serta mengembalikan ilmu berbagai hal kepada yang berhak.

Bahkan Allah telah memerintahkan Nabinya untuk mengembalikan apa yang tidak diketahuinya kepada Yang Mahatahu (Allah).

Katakanlah, ‘Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua).’!” (QS. Al-Kahf: 26)

Katakanlah, ‘Rabb-ku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit.’!” (QS. Al-Kahf: 22)

Dan ketika Rasulullah saw ditanya tentang nasib anak-anak orang-orang musyrik di akhirat kelak, beliau menjawab, “Allah Mahatahu apa yang mereka kerjakan (sekiranya mereka diberi umur sampai dewasa).”

 

Jawaban Haram

Ketika seseorang ditanya tentang suatu urusan agama, lalu ia menjawabnya, maka sesungguhnya ia sedang menyandarkan ucapannya kepada Allah. Islam ini agama Allah. Dan Allah mengharamkan mengatakan sesuatu lalu menyandarkannya kepada-Nya. Allah berfirman,

Katakanlah, “Rabb-ku hanya meng-haramkan perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak orang lain tanpa alasan yang benar, menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan menyandarkan kepada Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-A’raf: 33)

Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya!” (QS. Al-Isra`: 36)

Barangsiapa yang berbicara tanpa ilmu, sesungguhnya ia sedang dan telah mengikuti hawa nafsunya dan setan.  Allah berfirman,

Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun.” (QS. Al-Qashash: 50)

Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap setan yang jahat,” (QS. Al-Hajj: 3)

Termasuk bab berkata tanpa ilmu adalah menafsirkan al-Qur`an dengan pendapat pribadi. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang menafsirkan al-Qur`an dengan pendapatnya, hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya dari api neraka.”

(HR. Muslim)

 

Bukan Aib atau Cela

Mengatakan “saya tidak tahu” atau “Allah lebih tahu” bukanlah aib, cacat, atau cela bagi para ulama. Apalagi bagi para pencari ilmu. Sebaliknya, ia adalah kesempurnaan, bukti wara’ dan cerminan takwa. Orang-orang justru akan merasa tenang dan aman karena mereka yakin bahwa orang yang mereka tanya adalah orang yang jujur dan tidak akan menjerumuskan mereka ke dalam kesesatan. Mereka pasti mengatakan tidak tahu saat mereka tidak tahu.

Seseorang tidak perlu malu untuk mengatakan “Saya tidak tahu, Allah lebih tahu.” Mengapa mesti malu, sedangkan para malaikat pun tidak malu untuk mengatakan “Kami tidak tahu” saat mereka tidak tahu. Allah berfirman,

Dan (Allah) mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman, ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!’ Mereka (para malaikat) menjawab, ‘Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. al-Baqarah 2:32)

Nabi juga memberi teladan dalam menjawab pertanyaan dengan jawaban tidak tahu. Ibnu Umar menyatakan bahwa ada seorang yang bertanya kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam, “Tempat apakah yang paling buruk?” Beliau menjawab, “Aku tidak tahu. Kutanyakan dulu kepada Jibril.” Setelah ditanyakan kepada Jibril,  Jibril menjawab,  “Aku juga tidak tahu. Kutanyakan dulu kepada Mikail.” Akhirnya (setelah mendapatkan jawaban), Jibril datang dan berkata, “Tempat yang paling baik adalah masjid. Sedangkan tempat yang paling buruk adalah pasar.”  (HR Ibnu Hibban dinyatakan hasan oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth)

 

Jejak Salaf

Menahan lisan tidak berucap untuk sesuatu yang tidak diketahui serta secara tegas mengatakan ‘Saya tidak tahu’ dan ‘Allah lebih tahu’ sudah menjadi kebiasaan  para Salaf. Inilah sebagian dari atsar mereka.

Abu Bakar ash-Shiddiq ra berkata, “Bumi mana yang akan kupijak, langit mana yang akan kujadikan naungan, jika aku mengatakan sesuatu tentang ayat dalam Kitabullah dengan pendapatku sendiri atau dengan sesuatu yang tidak aku ketahui?”

Umar bin Khattab berkata, “Berprasangka buruklah kepada pendapatmu sendiri dalam urusan agama. Jika kalian menyaksikanku pada hari Abu Jandal (perjanjian Hudaybiyah), sungguh pada saat itu aku telah menolak perintah Rasulullah saw dengan pendapatku. Aku memang  berijtihad, tetapi aku tidak berpaling. Hari itu adalah hari Abu Jandal, saat perjanjian itu hendak ditulis, beliau bersabda, ‘Tulislah: Bismillahirrahmanirrahim!’ Orang Quraisy berkata, ‘Tulis saja: Dengan nama-Mu, ya Allah!’ Rasulullah saw setuju dengan permintaannya. Orang itu menulis, namun aku enggan menulisnya. Rasulullah saw bersabda,’“Wahai Umar, kau telah menyaksikan aku rela, tetapi kenapa kamu enggan?’

Ibnu Sirin bertutur, “Tidak ada yang lebih khawatir berkata tentang yang tidak diketahuinya seperti Abu Bakar. Setelah Abu Bakar, yang paling khawatir adalah ‘Umar. Sungguh, saat dihadapkan pada suatu masalah, sedangkan tidak didapati pokoknya dalam al-Qur`an atau as-Sunnah, lalu ia berijtihad, ia berkata, ‘Ini pendapatku. Jika benar, maka ia datang dari Allah, dan jika salah, maka ia datang dari diriku sendiri, dan aku memohon ampunan kepada Allah.”

Ali bin Abi Thalib ra pernah ditanya tentang suatu permasalahan, beliau menjawab “Saya tidak tahu.” Kemudian beliau berkata lagi, “Alangkah sejuknya hati ini,” sebanyak tiga kali. Orang-orang bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, apa maksud perkataanmu itu?” Beliau menjawab, “Apabila seseorang ditanya tentang sesuatu yang tidak diketahuinya ia menjawab, “Allah lebih tahu.”

Ibnu Mas’ud berkata, “Barangsiapa mengetahui sesuatu hendaklah ia berkata dengan pengetahuannya itu, sedangkan yang tidak mengetahui hendaklah ia mengucapkan “Allahu A’lam (Allah lebih mengetahui)”.

Humaid bin ‘Abdirrahmaan berkata, “Menjawab dengan jawaban tidak tahu lebih aku sukai daripada harus memaksakan diri menjawab sesuatu yang tidak aku ketahui”

Qatadah berkata, “Jangan kamu katakan bahwa kamu melihat sementara kamu tidak melihat, mendengar sementara kamu tidak mendengar, mengetahui sementara kamu tidak mengetahui karena Allah akan bertanya kepadamu tentang itu semua.”

Muhammad bin Sirin berkata, “Bagiku sama saja, ditanya tentang sesuatu yang aku ketahui atau yang tidak aku ketahui. Jika aku ditanya tentang sesuatu yang aku ketahui, maka akan aku katakan apa-apa yang aku ketahui. Namun jika aku ditanya tentang sesuatu yang tidak aku ketahui, maka akan aku katakan, ‘Aku tidak tahu.’.”

Sa’id bin Jubair pernah ditanya tentang satu permasalahan, lalu ia menjawab, “Aku tidak tahu.” Kemudian ia melanjutkan, “Sungguh celaka orang yang mengatakan sesuatu yang tidak ia ketahui, ‘Aku mengetahuinya.’.”

Asy-Sya’bi pernah ditanya tentang sesuatu, dan menjawab, “Saya tidak tahu.” Tapi beliau malah ditanya lagi, “Apakah engkau tidak malu mengucapkan tidak tahu, sedangkan engkau seorang ahli fiqih di Iraq?” Asy-Sya’bi menjawab, “(Kenapa mesti malu, sedangkan) Malaikat pun tidak malu untuk berkata ‘Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang engkau ajarkan kepada kami.’.“

Sufyan ats-Tsauriy berkata, “Ibadah yang pertama kali adalah diam, kemudian menuntut ilmu, (lalu) mengamalkannya, menghafalnya dan menyampaikannya.”

Wallahu a’lam.

Muslim Terpidana Mati

وَلَا نَرَى الْقَتْلَ عَلَى أَحَدٍ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا مَنْ وَجَبَ عَلَيْهِ السَّيْفُ

(78) Kami tidak berpandangan: boleh membunuh salah seorang dari umat Muhammad saw, kecuali terhadap orang yang wajib dibunuh.

Pada asalnya, darah seseorang yang telah mengikrarkan dua kalimat syahadat haramditumpahkan. Darah, harta, dan kehormatan setiap muslim haram untuk ditumpahkan, dirampas, dan dinodai atau dilecehkan. Rasulullah saw bersabda,

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, dan membayar zakat. Jika mereka melakukannya, darah dan harta mereka pun terlindungi dariku, kecuali dengan hak Islam. Hisab (batin) mereka menjadi urusan Allah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Beliau juga bersabda,

“Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan sesama kalian adalah haram (ditumpahkan, dirampas, dan dinodai) seharam hari kalian ini (hari ‘Arafah), di bulan kalian ini (Dzulhijjah), di negeri kalian ini (Mekah)…” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Allah pun sudah berfiman,

“Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannnya ialah Jahannam, ia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. An-Nisa`:93)

“Janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (untuk dibunuh) melainkan dengan suatu (sebab) yang benar”. (QS. Al-An’am:151)

Beberapa hadits dan ayat di atas secara tegas menyebut bahwa penumpahan darah seorang muslim adalah sesuatu yang diharamkan. Bahkan dalam suatu kesempatan Rasulullah saw bersabda,

لَزَوَالُالدُّنْيَاأَهْوَنُعِنْدَاللهِمِنْقَتْلِرَجُلٍمُسْلِمٍ

“Luluh-lantaknya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim.” (HR. an-Nasa`i dan at-Tirmidzi, shahih)

Tiga Penghalal

Namun, ada tiga perbuatan yang apabila seorang muslim melakukannya, darahnya tak lagi terlindungi. Rasulullah saw bersabda,

لَايَحِلُّدَمُامْرِئٍمُسْلِمٍيَشْهَدُأَنْلَاإِلَهإِلَّااللهوَأَنِّيرَسُولُالله،إِلَّابإحدىثَلَاثٍ : الثَّيِّبُالزَّانِي،وَالنَّفْسُبِالنَّفْسِ،وَالتَّارِكُلِدِينِهالْمُفَارِقُلِلْجَمَاعَة

“Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada ilah yang hak selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah kecuali karena tiga perkara: sudah menikah lalu berzina, membunuh sesama (muslim), dan meninggalkan agama—memisahkan diri dari al-Jamaah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah saw pernah merajam sampai mati Ma’iz, sahabat yang berzina dan seorang perempuan dari suku Ghamidi.

Mengenai tetapnya hukum rajam ini, para ulama telah berijmak atasnya. Ibnu ‘Abbas ra berkata, “Barang siapa tidak mempercayai hukum rajam, dia kafir terhadap Al-Qur`an tanpa dia sadari.”

Tentang wajibnya memberlakukan qishash: pembunuhan dibalas dengan pembunuhan pun para ulama telah berijmak atasnya. Jika seorang muslim mukallaf membunuh muslim lainnya dengan sengaja dan tanpa alasan yang benar, ia wajib dibunuh karenanya.

Allah berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman!Diwajibkan atas kamu (melaksanakan) qishash berkenaan dengan orang yang dibunuh. “(QS. al-Baqarah:178)

Orang yang meninggalkan Islam atau murtad juga dibunuh. Selain hadits di atas, Rasulullah saw bersabda,

“Barang siapa mengganti agamanya (murtad dari Islam), bunuhlah dia” (HR. al-Bukhari, Ahmad, Abu Dawud , at-Tirmidzi, an-Nasa`i, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)

Termasuk perbuatan meninggalkan Islam: apabila seseorang menolak salah satu rukun Islam, rukun iman, atau salah satu dari kewajiban Islam. Juga, meninggalkan shalat, menurut kebanyakan ulama.

Dus, ulama sepakat: berzina setelah menikah, membunuh muslim lain, dan murtad adalah perbuatan yang menjadikan darah seorang muslim halal: boleh ditumpahkan. Hanya, pemberlakuannya mesti dibawah kontrol penguasa muslim agar tidak terjadi kekacauan.

Penghalal yang Diperselisihkan

Selain tiga perbuatan di atas, ada beberapa perbuatan lain yang membuat seorang muslim halal darahnya. Perbuatan-perbuatan itu adalah:

a.       Meninggalkan shalat. Menurut madzhab Syafi’i, orang yang meninggalkan shalat karena malas tidak dihukumi keluar dari Islam (menurut madzhab yang lain, dihukumi keluar dari Islam). Namun, hukumanhad-nya dibunuh .

b.      Liwath, yaitu laki-laki menggauli laki-laki lain pada duburnya.  Rasulullah saw bersabda, “Apabila kalian mendapati orang yang melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah pelaku dan objeknya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Mâjah, Ibnul-Jarud, dan al-Hakim)

c.       Menikahi mahram. Sejumlah ulama memfatwakan: laki-laki yang menikahi mahramnya wajib dibunuh. Sebab, dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan an-Nasa`i dari Bara` bin ‘Azib disebutkan bahwa Nabi telah membunuh seorang laki-laki yang menikahi bekas istri ayahnya.

d.      Sihir. Ini berdasarkan sabda Nabi saw, “Hadbagi tukang sihir adalah pukulan dengan pedang (dibunuh).” (HR. at-Tirmidzi, al-Hakim, dan ad-Daruquthni)

Para ulama yang memfatwakan hukuman mati bagi penyihir di antaranya: ‘Umar bin ‘Abdul’aziz, Imam Malik, Imam Ahmad, dan Ishaq bin Rahawaih. Mereka menyatakan, “Penyihir menjadi kafir karena perbuatannya; hukumnya pun sama dengan hukum orang yang murtad.”

e.      Menggauli binatang. Sejumlah ulama memfatwakan hukuman mati bagi orang yang menggauli binatang berdasarkan sabda Nabi saw, “Barangsiapa menggauli binatang, bunuhlah ia dan binatang yang digaulinya itu.” (Hadits shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Bayhaqi, dan al-Hakim)

f.        Mencandu arak setelah dicambuk tiga kali. Ada beberapa riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi saw pernah memerintahkan untuk membunuh pencandu khamr/arak. Hanya, kebanyakan ulama berpendapat bahwa hukum ini sudah mansukh (dihapus). Di antara para ulama yang menyatakan bahwa hukum ini tidak mansukh mengatakan, “Hukuman bunuh ini termasuk ta’zir, sehingga urusannya diserahkan kepada ulil amri (penguasa muslim).”

g.       Meminta baiat dari kaum muslimin untuk diangkat sebagai amirul mukminin, padahal mereka sudah membaiat orang lain. Hal ini didasarkan pada hadits Nabi saw, “Apabila dua khalifah dibaiat, maka bunuhlah khalifah yang kedua.” (HR. Muslim)

Beliau juga bersabda, “Barangsiapa datang kepada kalian, sedang ketika itu urusan kalian ada pada satu orang, kemudian ia ingin membelah tongkat kalian atau memecah-belah jamaah kalian, maka bunuhlah ia.”

h.      Memata-matai kaum muslimin untuk kepentingan orang kafir. Sebagian ulama madzhab Maliki membolehkan membunuh seorang muslim yang memata-matai kaum musliminuntuk kepentingan orang kafir. Mereka berhujjah dengan hadits tentang Hathib bin Abu Balta’ah yang menulis surat untuk penduduk Mekah. Dalam suratnya, Hathib bin Abu Balta’ah memberitahukan kepada penduduk Mekah tentang kesiapan keberangkatan Rasulullah ke Mekah dan menyuruh mereka siap siaga. Oleh karena itu ‘Umar bin Kahthab meminta izin kepada Rasulullah untuk membunuh Hathib. Namun, Nabi bersabda, “Sesungguhnya ia mengikuti perang Badar”.

Dalam hadits di atas Nabi tidak bersabda, “Hathib bin Abi Balta’ah tidak patut dibunuh karena perbuatannya,” namun beliau menyatakan bahwa alasan yang membuatnya tidak boleh dibunuh adalah keikutsertaannya pada perang Badar dan ampunan Allah ta’ala bagi seluruh sahabat yang ikut serta dalam perang Badar. Alasan ini hanya ada pada Hathib bin Abi Balta’ah, tidak pada yang lain.

i.        Menghina Nabi. Para ulama berijmak mengenai wajib dibunuhnya orang yang menghina atau mencela Nabi. Untuk menjelaskan hal ini secara gamblang, Ibnu Taymiyah menulis satu kitab yang diberi judul: ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimir Rasul (Pedang Terhunus bagi Pencela Nabi).

Wallahu a’lam.

Iman kepada Para Rasul

وَنَحْنُ مُؤْمِنُوْنَ بِذَلِكَ كُلِّهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَنُصَدِّقُهُمْ كُلَّهُمْ عَلَى مَا جَاءُوْا بِهِ

(75) Kami beriman kepada semua (rukun iman) itu. Kami tidak membedakan antara para Rasul-Nya. Kami membenarkan mereka semua, membenarkan ajaran mereka semua.

Matan ini diawali dengan penegasan bahwa pilar iman atau rukun iman yang enam menurut Ahlussunnah wal Jamaah adalah iman kepada Allah, iman kepada para malaikat, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada para rasul, iman kepada hari akhir, dan iman kepada takdir. Kemudian Abu Ja’far ath-Thahawi melanjutkannya dengan pembahasan iman kepada para rasul.

Hubungan iman kepada Allah dengan iman kepada rasul

Orang yang mengaku beriman kepada Allah namun tidak beriman kepada para rasul, sejatinya tidak mengagungkan dan menghormati Allah sebagaimana mestinya. Siapa yang mengklaim beriman kepada Allah tetapi tidak beriman kepada para rasul, sejatinya dia telah kafir kepada Allah.

Mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya. Yakni saat mereka berkata, ‘Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia.’.” (QS. Al-An’am: 91)

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan para rasul-Nya, serta bermaksud membedakan antara (keimanan kepada) Allah dan para rasul-Nya dengan mengatakan, ‘Kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir kepada yang sebagian (yang lain),’ serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” (QS. An-Nisa`: 150-151)

Tentang dua ayat an-Nisa` ini al-Qurthubi berkata, “Allah menegaskan bahwa membedakan antara Allah dan para rasul-Nya adalah kekafiran. Yang demikian itu karena Allah memfardhukan atas manusia untuk beribadah kepada-Nya dengan syariat-Nya yang disampaikan oleh para rasul. Jika manusia menolak para rasul berarti mereka juga menolak syariat yang mereka bawa, tidak menerimanya. Dengan begitu, mereka pun menolak untuk tunduk kepada ubudiyah yang diperintahkan oleh Allah. Oleh karena itulah, mereka dianggap melakukan penolakan terhadap Yang Maha Mencipta. Mengingkari Yang Maha Mencipta sama dengan kafir karena di dalamnya ada bentuk meninggalkan komitmen kepada ketaatan dan ubudiyah kepada Allah. Maka demikian pula halnya dengan membedakan antara Allah dan para rasul-Nya.”

Kafir kepada satu sama dengan kafir kepada semua

Allah telah menegaskan bahwa kafir kepada seorang rasul sama dengan kafir kepada seluruh rasul. Allah berfirman,

Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.”(QS. asy-Syu’ara`: 105)

Kaum ‘Ad telah mendustakan para rasul.” (QS. asy-Syu’ara`: 123)

Kaum Tsamud telah mendustakan para rasul.” (QS. asy-Syu’ara`: 141)

Kaum Luth telah mendustakan para rasul.” (QS. asy-Syu’ara`: 160)

Sudah dimaklumi oleh semua muslim bahwa kaum-kaum yang disebut dalam ayat-ayat di atas hanya kafir kepada seorang rasul. Rasul yang diutus oleh Allah kepada masing-masing mereka. Namun, Allah menyebut mereka sebagai orang-orang yang kafir kepada semua rasul. Yang demikian itu karena ajaran yang dibawa oleh semua rasul itu sama, yang mengutus mereka pun sama.

Selain secara tegas menyebut bahwa orang yang kafir kepada seorang rasul sebagai orang yang kafir kepada semua rasul, sebenarnya Allah telah memerintahkan kita untuk beriman kepada para rasul dan tidak membeda-bedakan antara mereka.

Katakanlah (hai orang-orang yang beriman), ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Ruhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.’ Maka jika mereka beriman kepada apa yang telah kamu imani, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dia-lah yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 136-137)

Allah juga memuji dan menyediakan pahala bagi orang-orang yang beriman kepada semua rasul, tidak kafir kepada yang sebagian.

Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya dan tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (an-Nisa`: 152)

Makna larangan Nabi

Demikianlah, yang dimaksud dengan ungkapan tidak membedakan antara para rasul adalah hanya beriman kepada sebagian rasul. Oleh karena itulah orang-orang Yahudi yang beriman kepada Nabi Musa AS dan orang-orang Nasrani yang beriman kepada Nabi ‘Isa AS menjadi kafir lantaran tidak beriman kepada Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah saw pernah bersabda yang artinya, “Janganlah kalian mengutamakanku di atas para nabi!” (HR. al-Bukhari)

Apabila hadits di atas dipahami secara tekstual, akan hadirlah makna yang salah. Sebab dalam banyak ayat Allah telah mengutamakan beliau—dan beberapa nabi—di atas para nabi yang lain. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani telah mensyarah hadits di atas sebagai berikut:

“Mengenai larangan beliau untuk membeda-bedakan keutamaan para nabi, para ulama berkata, ‘Larangan itu berlaku untuk yang mengatakannya dengan pendapat pribadi, tidak berlandaskan dalil. Atau untuk orang yang mengatakannya sehingga menimbulkan penistaan terhadap yang dibandingkan, atau apabila pembedaan itu mengakibatkan percekcokan danperselisihan, atau maksudnya adalah, ‘Jangan kalian mengutamakan dengan segala keutamaan sehingga tidak ada lagi keutamaan yang dimiliki oleh yang dibandingkan!’.” (Fathul Bari: 2/446)

Ragam keutamaan para Rasul

Pembedaan antara para rasul telah dilakukan oleh Allah. Maksud pembedaan di sini adalah bahwa Allah membedakan keutamaan di antara mereka.

Sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain).” (QS. Al-Isra`: 55)

Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat ia dengan Ruhul Qudus.” (QS. al-Baqarah: 253)

Termasuk pengutamaan juga, Allah menyebut beberapa rasul sebagai rasul ulul azmi, mengistimewakan Nuh AS sebagai rasul pertama dan menggelarinya dengan sebutan ‘abdan syakura (hamba yang amat bersyukur), mengistimewakan Ibrahim AS sebagai khalil-Nya (kekasih sejati-Nya) dan menyebutnya sebagai imam, serta mengistimewakan ‘Isa AS dengan kelahirannya yang tanpa ayah dan ia adalah kalimat yang ditetapkan Allah kepada ibunya, Maryam.

Ribuan nabi ratusan rasul satu ajaran

Ulama Ahlussunnah sepakat bahwa jumlah Nabi dan Rasul tidak hanya 25. Ada ratusan rasul dan ribuan nabi. Abu Dzar RA pernah bertanya kepada Nabi SAW, “Berapakah jumlah para nabi?” Beliau menjawab, “124.000 orang; di antara mereka ada 315 rasul, jumlah yang banyak.” (HR. Ahmad, sanadnya shahih, menurut al-Albani)

Ajaran semua nabi dan rasul adalah Islam. Islam bukan nama ajaran satu nabi tertentu, tetapi ia adalah nama yang sama-sama dimiliki oleh ajaran semua nabi dan rasul.

Ibrahim berkata, “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam!” (QS. al-Baqarah: 132)

Musa berkata, “Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah hanya kepada-Nya, jika kamu benar-benar orang Islam.” (QS. Yunus: 84)

Tentang Hawariyun, Allah berfirman, “Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail), ia berkata, ‘Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?’ Para Hawariyin (sahabat-sahabat setianya) menjawab, ‘Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang Islam.”(QS. Ali ‘Imran: 52)

Wallahu a’lam.