Hutang, Dibenci tapi Dicari

Hutang, Dibenci tapi Dicari

اللَّهُمَّاكْفِنِىبِحَلاَلِكَعَنْحَرَامِكَوَأَغْنِنِىبِفَضْلِكَعَمَّنْسِوَاكَ

“Ya  “Ya Allah! Cukupilah aku dengan rezekiMu yang halal (hingga aku terhindar) dari yang haram. Perkayalah aku dengan karuniaMu (hingga aku tidak minta) kepada selainMu.”

Orang bilang, menghutang itu menggali lubang. Rasa-rasanya memang tepat jika dikatakan demikian. Hutang berpotensi menjebak seseorang pada kesusahan. Membebani pikiran sekaligus mendatangkan malu. Ada yang bilang, hutang itu kehinaan di siang hari, dan kesedihan di malam hari.Di dunia, hutang bisa menjadi sumber petaka. Penyebabnya bisa dua, yang berhutang tidak memenej keuangan dengan baik hingga hutangnya menumpuk, atau pemberi piutang bertipe keras dan minim toleransi. Lebih-lebih jika berhutang pada ‘pembudidaya’ riba alias rentenir, hutang bisabenar-benar menjadi sumber bencana.Di jaman ini, amat sulit mencari pinjaman uang tanpa disertai bibit bunga riba yang akarnya siap mencekik jika tak segera dipangkas. Sedang di akhirat, hutang tetaplah menjadi hutang. Ia akan berwujud hutang yang harus dibayar dengan cara apapun. Padahal di akhirat harta tidak lagi bernilai, apapun wujudnya. Hanya pahala kebaikan yang memiliki nilai. Nah, jika hutang tak terlunasi di dunia, kita bisa menebak sendiri, dengan apa harus membayarnya di akhirat nanti.

Namun begitu, tidak mudah menghindari hutang. Hutang menjadi sesuatu yang paling kita benci, tapi juga sangat kita butuhkan pada suatu saat. Tak jarang pula, hutang menjadi solusi yang mampu mengurai ruwetnya problem keuangan, meski untuk sementara. Desakan kebutuhan datang kapan saja tanpa menunggu rekening kita penuh dengan dana siap cair. Akibatnya, menggali lubang menjadi pilihan yang mau tidak mau harus diambil.Dengan hutang, tanggungan memang tidak hilang, tapi paling kita bisa bebas dari desakan.

Dibenci tapi dicari, dihindari tapi juga menjadi solusi. Itulah hutang. Nah, pada akhirnya yang terpenting adalah manajemen diri. Saat kita berniat mengali lubang, saat itu pula kita berpikir cara menutupnya dengan aman, sesegera mungkin. Caranya adalah dengan menempatkan pembayaran hutang sebagai pengeluaran prioritas dari tabel pengeluaran rutin kita. Ini penting karena karakter hutang itu, semakin bertambah hari makin bertambah pula bibit –bibit pembawa bencananya. Bisa berupa rasa malu, beban mental, atau penagihan kasar dari si peberi piutang.

Dan jangan lupa pula berdoa, memohon kepada Allah yang Mahakaya agar hutang kita segera lunas. Lafadz doanya sudah diajarkan Nabi seperti tertera di atas. Doa  tersebut terdapat dalam sebuah riwayat dari Imam at Tirmidzi sebagai berikut:

<h2>عَنْعَلِىٍّرضىاللهعنهأَنَّمُكَاتَبًاجَاءَهُفَقَالَإِنِّىقَدْعَجَزْتُعَنْكِتَابَتِىفَأَعِنِّى. قَالَأَلاَأُعَلِّمُكَكَلِمَاتٍعَلَّمَنِيهِنَّرَسُولُاللَّهِ -صلىاللهعليهوسلم- لَوْكَانَعَلَيْكَمِثْلُجَبَلِصِيرٍدَيْنًاأَدَّاهُاللَّهُعَنْكَقَالَقُلِاللَّهُمَّاكْفِنِىبِحَلاَلِكَعَنْحَرَامِكَوَأَغْنِنِىبِفَضْلِكَعَمَّنْسِوَاكَ</h2>

Dari Ali RA, ada seorang Mukatab yang datang padaku dan berkata, “Aku merasa sudah tidak mampu melunasi mukatabahku, tolonglah aku…” Lalu aku berkata, “Maukah kuajarkan doa yang Rasulullah ajarkan kepadaku, yang andaipun kau memiliki hutang sebesar gunung Shier, pasti Allah akan melunaskannya untukmu. Cuapkanlah “Allahumak fini bihalalika ‘an haramika, wa aghnini bifadhlika ‘amman siwak”. ([HR. At-Tirmidzi 5/560, dan lihat kitab Shahihut Tirmidzi 3/180]

Cukupkanlah diriku dengan rezeki-Mu yang halal.” Karena yang haram justru akan mengundang marabahaya yang jauh lebih besar daripada ancaman yang datang dari hutang. Ancaman atau intimadasi  dari pemberi hutang hingga penyitaan barang jaminan jauh lebih ringan dari bencana yang ditimbulkan oleh harta yang haram. Harta yang haram akan membahayakan dua kehidupan sekaligus, kehidupan dunia dan akhirat.

Beban pikiran karena desakan hutang tak jarang membuat orang frustasi hingga akhirnya memilih lajur kiri; mencuri, korupsi atau manipulasi. Padahal, meskipun ia dapat meloloskan diri dari beban hutangnya, beban hukuman dunia dan akhirat telah menanti. karenanya, rezeki yang halal adalah satu-satunya solusi untuk membebaskan diri.

Ataudapat pula dengan lafadz lain berikut ini:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ.

“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan, lemah dan malas, bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penindasan orang.” [HR. Al-Bukhari 7/158]

Doa ini adalah doa yang diajarkan nabi kepada Abu Umamah saat Abu Umamah mengeluhkan tanggungan hutangnya. Lalu beliaupun mengajarkan doa di atas.(HR Abu Dawud 4/353).

Imam al Kirmani menjelaskan, sumber kehinaan itu ada tiga; dari segi jiwa, badan dan faktor eksternal. Dari sisi kejiwaan dibagi menjadi tiga; aqliyah (pikiran), ghadhabiyah (ambisi dan amarah), syahwaniyah (hasrat syahwati). Sedih dan susah terkiat dengan pikiran, kepengecutan terkait dengan ghadhabiyah dan kebakhilan terkait dengan syahwat. Sedang malas dan lemah terkait dengan badaniyah. Disebut malas jika mampu secara fisik, dan disebut lemah jika terdapat kekurangan seara fisik. Adapun lilitan hutang dan penindasan orang merupakan faktor eksternal. Hutang terkait dengan kehinaan dari sisi harta, sedang penindasan adalah kehinaan dari sisi harga diri. Dan doa ini telah mencakup perlindungan dari semua itu.” (Fath al Bary, Ibnu Hajar, 18/147)

Kalau kita masih memiliki tanggungan hutang, mari doa ini kita lantunkan. Semoga Allah berkenan memberi kemudahan. Amin, Wallhua’lam.(T.anwar)

%d bloggers like this: