Jendela Hati

Jendela Hati

Mengelola hubungan suami istri yang sehat adalah sebuah seni tingkat tinggi. Bukan sekadar membutuhkan kecukupan ilmu dengan tingkat aplikasi yang seringkali kondisional, namun juga kepekaan rasa karena melibatkan manusia yang masing-masingnya membawa keunikan sendiri-sendiri. Selain bahwa hubungan yang diharapkan bukan hanya adanya kontak fisik karena bertempat tinggal di alamat yang sama, namun lebih kepada terhubungnya jiwa-jiwa yang ada di dalamnya.

Sebab, keterhubungan emosional seperti inilah yang akan menyamankan jiwa. Memberi perasaan berarti, berharga, diterima, dan disayangi, hal-hal substansial yang memang seharusnya ada dalam setiap hubungan yang baik. Sedang ketersediaan materi, yang melimpah sekalipun, tidak akan bisa menghubungkan jiwa jika ia berdiri sendiri sebagai wasilah, bukan sebagai ekspresi kepedulian.

Dan kita seringkali tidak tahu bahwa ada hal-hal yang tampak sepele namun memberi efek luar biasa bagi upaya mencapai keterhubungan hati itu. Salah satunya adalah kontak mata. Bukankah salah satu ciri perempuan shalihah adalah dia yang jika kita memandangnya akan menyenangkan hati? Sebab kontak mata adalah salah satu penghubung nonverbal paling penting yang murah dan efektif yang kita miliki untuk berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain.

Dari semua cara kita berkomunikasi, kontak mata mungkin yang paling kuat. Ia adalah langkah pertama bagaimana kita membangun komunikasi dengan pihak lain, mempersempit kesenjangan fisik dan menciptakan keterlibatan pribadi dalam sebuah hubungan yang lebih intim, lebih dekat. Saat memandang istri, seolah kita berkata, “Aku peduli kepadamu, menghargaimu, mempercayaimu dan menyayangimu.”

Melakukan kontak mata adalah menghubungkan jiwa. Ia akan mengirimkan getaran positif dan memenuhi otak kita dengan hormon oksitosin yang, insyaallah, mengikatkan jiwa kita dengan istri. Membuat kita terhubung tanpa merasa khawatir akan kekurangan pasangan yang memang pasti ada.

Memandang juga bisa memicu munculnya senyuman sebagai penghargaan terhadap pengakuan pasangan. Padahal Rasulullah saw menganjurkan kepada kita untuk tidak meremehkan kebaikan meski hanya dengan wajah ceria saat berjumpa dengan saudara. Lalu bagaimana dengan istri yang tentu lebih layak untuk mendapatkannya? Maka, melakukan kontak mata yang sering dengan istri, atau malah menjadikannya sebagai kebiasaan jelas merupakan hal yang terpuji.

Saya sering menganjurkan kepada para istri untuk menyambut kedatangan suami tercinta dengan wajah yang menatap penuh, bukan punggung rapuh yang dibalut daster lusuh. Wajah yang sumringah seolah ingin menyatakan selamat datang, selamat kembali ke taman surga dunia yang penuh sukacita. Sedang kita sebagai suami, berbicara melalui mata seolah menyatakan penghargaan atas kerja keras mereka telah mengatur rumah, menjaga kemuliaannya, dan atas pendidikan mereka kepada anak-anak.

Juga saat berangkat ke tempat kerja, atau keperluan kebaikan yang lain. Kita ingin agar memandang wajah istri adalah hal terakhir yang kita lakukan, setelah mengucapkan salam dan mendaratkan kecupan. Seolah kita ingin menitipkan kehormatan keluarga beserta para penghuninya agar terjaga dengan baik. Sedang para istri melepas kepergian para suami seolah berkata, “Dinda percaya bahwa kakanda keluar rumah untuk kebaikan, dan pulang membawa rezeki yang halal. Sebab dinda lebih tahan lapar dan tidak tahan panasnya api neraka karena makanan yang haram.” Alangkah indahnya!

Karena mata adalah jendela jiwa. Ia melampaui kata-kata dalam mengungkapkan perasaan. Tanpa sepatah kata terucap pun, ia bisa melukiskan cinta, penerimaan, harapan, ketakutan, peringatan, kemarahan, dan banyak lagi.  Ralph Waldo Emerson pernah berkata, “Dari hal-hal yang paling indah di alam adalah kepolosan mata; itu melampaui berbicara; itu adalah simbol identitas tubuh.”

Sebaiknya kita tahu bahwa pribadi yang memiliki masalah kecemasan sosial mengalami kesulitan mempertahankan kontak mata seperti yang dilakukan pembohong. “Individu yang mengalami depresi cenderung menghindari kontak mata dalam situasi sosial dan dalam eksperimental. Sedangkan orang-orang yang bahagia secara aktif akan mencari kontak mata,” tutur Dr Peter Hills, dosen Psikologi di Anglia Ruskin University.

Menghindari kontak mata dapat meningkatkan depresi pada individu yang sedang tidak bahagia dan dapat memicu isolasi diri. Bagi orang yang bersedih, kontak mata akan mengganggu komunikasi sosialnya sehingga mereka mengasingkan diri dari situasi sosial tertentu. Hal yang mungkin bisa menurunkan kadar kecemasan yang disebabkan oleh situasi itu sendiri, namun hal itu justru dapat meningkatkan isolasi sosial dan memperdalam kesedihan hati mereka.
Rasulullah saw bersabda, “Jika seorang suami memandang istrinya dengan kasih sayang, dan istrinyapun memandang dengan kasih sayang, maka Allah memandang keduanya dengan pandangan kasih sayang. Dan bila suami memegang telapak tangan istrinya, maka dosa-dosa keduanya berguguran dari celah jari jemari tangan keduanyanya.”

Nah, siapa sekarang yang siap menjadikan kontak mata dengan istri sebagai sebuah kebiasaan?

%d bloggers like this: