Jiwa Terlatih Raga Tak Letih

Jiwa Terlatih Raga Tak Letih

Disebutkan dalam Tarikh Baghdadi, bahwa suatu kali Imam Bukhari diundang untuk datang ke kebun salah seorang sahabatnya. Tatkala tiba waktu Dhuhur, beliau memimpin mereka untuk shalat dan beliau memanjangkan berdirinya. Setelah selesai shalat, beliau mengangkat ujung jubahnya, ternyata sebanyak enam belas bekas gigitan kumbang berbisa memenuhi kaki beliau. Hingga tampak sekali bengkak. Teman-temannya berkata, “Mengapa Anda tidak membatalkan saja shalat Anda ketika kali pertama Anda merasakan gigitannya?” Beliau menjawab, “Karena ketika itu saya sedang membaca satu surat dalam al-Qur’an dan saya ingin sekali menyelesaikannya.”

Subhanallah, rasa sakit yang menimpa jasad terasa sirna saat meneguk nikmatnya shalat. Inilah kekuatan jiwa, yang membuat jasad mampu bertahan dalam ketaatan.

Jiwa yang Telah Letih

Seperti yang dialami oleh ulama tabi’in, Rabi’ bin Khutsaim r.a yang lemah tubuhnya karena usia tua dan sakit. Namun semangat jiwanya menggelora untuk memenuhi panggilan Allah dalam shalat. Abu Hayyan menceritakan bahwa  Rabi’ bin Khutsaim r.a dipapah untuk menunaikan shalat di masjid. Lalu seseorang berkata kepada beliau, “Sejatinya Anda mendapatkan keringanan untuk shalat di rumah.” Beliau menjawab, “Memang benar katamu, hanya saja saya mendengar seruan ‘hayya ‘alashshalah’, marilah menuju shalat, maka saya datang meskipun dengan merangkak.”

Sejarah juga senantiasa diisi oleh para ksatria Islam yang memiliki jiwa yang kuat menanggung beban perjuangan, meski sebagian mereka secara fisik memiliki cacat dan kelemahan. Di zaman sahabat ada Abdullah bin Ummi Maktum radhiyallahuanhu yang tuna netra, Amru bin Jamuh radhiyallahu anhu yang cacat sebelah kakinya, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu yang kecil perawakannya, namun sumbangsih mereka bagi Islam sulit ditandingi oleh orang-orang setelah mereka, meski memiliki kekuatan jasad yang lebih sempurna.

Di zaman kita, pernah pula Allah munculkan sosok yang luar biasa. Namanya menjelma menjadi simbol jihad bagi rakyat Palestina dalam melawan penjajahan Zionis. Dialah Syeikh Ahmad Yasin (semoga Allah memasukkannya ke dalam golongan syuhada’). Prof. Dr. Taufiq Yusuf al-Wa’i, dalam karyanya, “Qaadat al-Jihaad al-Filisthiini fii al-Ashr al-Hadiits” menggambarkan kehebatan sosok laki-laki lumpuh yang tak mampu berdiri ini; yang kedua tangannya pun lumpuh tidak mampu membawa sesuatu; yang kurus dan lemah; tubuh yang terserang oleh berbagai penyakit; penglihatan yang telah kabur kecuali hanya seberkas sinar dari satu mata; serta penderitaan dan sakit yang tak kunjung reda. Namun di masa hidupnya menjadi figur yang paling ditakuti para zionis. Berkali-kali mereka mengincar beliau, hingga untuk membunuh beliau, mereka gunakan serangan rudal dari pesawat heli tempur Apache buatan Amerika, selepas shalat subuh di masjid kota Gaza, Senin 22 maret 2004 lalu.

Begitulah efek kekuatan jiwa yang menggelora, tak terhalangi oleh kelemahan raga dan jasadnya.

 

Sisi Lemah Manusia, Tapi Bukan Harga Mati

Kekuatan jiwa tidaklah muncul begitu saja. Sebagaimana tubuh, untuk mampu menyangga beban berat, ia  butuh latihan. Untuk menaiki ketinggian gunung yang terjal, kaki juga butuh latihan. Tidak serta merta mampu menapaki jalan yang berat.

Begitu pula dengan jiwa manusia. Perlu banyak latihan untuk menjadi kuat dan mampu menyangga beban yang dipikulnya. Bahkan melatih jiwa lebih dibutuhkan, karena kekuatan jiwa berpengaruh besar terhadap kekuatan fisik dan raga.

Orang yang mampu meniti jalan menuju Allah, dan menuntaskan tugasnya hingga finish, hanyalah mereka yang memiliki jiwa yang kuat, tangguh dan tahan banting. Sementara, karakter manusia itu umumnya lemah secara jiwa dan raga. Sedangkan jalan menuju Allah itu perlu nafas panjang, berat dan melelahkan bagi jiwa-jiwa yang lemah.

Allah menyebutkan beberapa karakter manusia yang menunjukkan sisi kelemahan manusia. Seperti firman-Nya,

“Dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. an-Nisa’: 28).

Ibnu Katsir  menafsirkan ayat tersebut, lidha’fihi fi nafsihi wa dha’fi ‘azmihi wa himmatihi, yakni lemah jiwanya, lemah tekad, dan semangatnya.

Manusia juga cenderung gegabah, tergesa-gesa dan susah menahan diri, seperti firman-Nya:

“Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (QS. al-Isra’: 11).

Tergesa-gesa untuk mengambil keputusan, melihat hasil, dan juga gampang berputus asa. Sulit bagi manusia yang lemah jiwanya untuk menahan diri dari sesuatu yang tidak disukai. Tatkala terpancing amarahnya, ia pun tak mampu mengendalikan diri.

Kelemahan jiwa manusia juga tercermin pada sifat ‘haluu’a’, suka berkeluh kesah. Lemah jiwanya saat menghadapi musibah dan kekurangan, lemah juga jiwanya saat menghadapi nikmat dan kekayaan. Allah berfirman:

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.” (QS. al-Ma’arij: 19-21).

Ibnu Katsir radhiyallahuanhu menyebutkan, yakni ketika manusia ditimpa suatu kemadharatan, ia terkejut, susah dan hatinya kosong karena takutnya. Ia juga berputus asa dari kebaikan setelah musibah menimpanya. Dan tatkala nikmat Allah menghampirinya, ia bakhil untuk berbagi dengan orang lain, dan enggan menunaikan hak Allah di dalamnya.

Dan masih banyak lagi sisi kelemahan manusia yang disebutkan Allah dan kitab-Nya, dan kitapun bisa menyaksikan realitanya dalam kehidupan manusia pada umumnya.

Apa yang Allah sebutkan tersebut bukanlah harga mati yang berlaku bagi setiap orang. Karena Allah telah mengecualikan adanya orang-orang yang melepaskan diri dari sifat-sifat lemah tersebut. Misalnya ketika Allah menyebut karakter manusia yang suka berkeluh kesah, maka Allah melanjutkan dengan firman-Nya:

“Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya…” (QS. al-Ma’arij: 22-23).

Allah juga telah menyediakan sarana dan fasilitas yang dengannya manusia mampu menguatkan jiwanya. Allah juga telah mengukur beban syariat dengan ukuran yang tepat, sehingga jiwa-jiwa yang terlatih akan mampu menanggungnya. Maka wajib bagi manusia melakukan proses penguatan jiwa dan melatihnya. Selebihnya, Allah tidak akan  membebani jiwa kecuali sesuai dengan kemampuannya.

 

Berlatih, Agar tak Gampang Letih

Proses melatih jiwa ini adalah salah satu fase yang harus ditempuh oleh orang yang menempuh perjalanan menuju Allah. Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam Madaarijus Saalikin menyebut fase ini dengan fase ‘Riyadhah’. Yakni melatih jiwa untuk menerima kebenaran baik secara lisan, perbuatan, maupun kehendak. Dengan kata lain, ‘riyadhah’ adalah aktivitas diri untuk menyiapkan jiwa agar mampu menunaikan tugas-tugas yang telah Allah gariskan kepada manusia selaku hamba-Nya. Orang-orang yang mengharap prestasi tinggi dalam hal ‘ubudiyah kepada Allah tentu akan gigih melatih jiwa, hingga kekuatan raga akan menyesuaikannya.

Ada kalanya seseorang membaca atau mendengar kisah tentang gigihnya para salaf dalam mencari ilmu dan beribadah, iapun langsung menggebu-nggebu untuk menirunya. Seperti orang yang hendak bertanding dalam kejuaraan olah raga berat yang tak diawali dengan pemanasan, hingga berakibat cidera dan gagallah pertandingan.

Semangat menggebu memang perlu, tekad membaja memang harus ada, akan tetapi stamina harus dijaga, di samping harus senantiasa waspada. Bisa jadi setan membisikkan agar manusia memikul beban yang banyak dan berat, dan lupa bahwa tenaga belum sepadan dengan beban, perbekalan juga belum seimbang dengan jauhnya perjalanan. Sehingga ia akan menghentikan langkah dan menyerah sebelum menyelesaikan perjalanannya. Hingga iapun harus kembali ke titik awal di mana ia memulai perjalanan.

Betapa sering hal ini terjadi, seseorang yang gigih menyempurnakan shalat malamnya dengan rakaat yang panjang, hingga terkadang shalat Subuh berjamaah menjadi korban. Atau rasa bosan segera menghinggapi sebelum ia menjadikannya sebagai kebiasaan.

Maka, alangkah pentingnya ‘mudaawamah’ (kontinuitas) dalam proses latihan. Menjaga rutinitas amal semestinya lebih diprioritaskan dari memperbanyak dan memperberat amal. Imam Abu Hasan al-Mawardi dalam kitabnya ‘Adabud Dunya wad Dien’ menyebutkan sisi lemah orang yang cenderung memperbanyak amal dan memperberat beban. Pertama, bisa jadi disebabkan terlalu banyak mengerjakan yang sunnah lalu terhalang untuk mengerjakan yang wajib. Sehingga hakikatnya justru terjadi pengurangan nilai. Kedua, orang yang mengamalkan banyak hal dalam waktu yang singkat biasanya tak akan bertahan lama. Ia mengerjakan di satu waktu lalu meninggalkannya dalam waktu yang lain. Dan tatkala ia tidak mengerjakannya, seringkali waktu diisi dengan hal-hal yang sia-sia.

Maka amal yang dikerjakan secara rutin meskipun dimulai dari yang ringan dan sedikit akan lebih baik karena lebih mampu menjaga ruh dan ingatan. Ini pula yang dianjurkan oleh Rasulullah dalam sabdanya:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا، وَإِنْ قَلَّ

“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara rutin meskipun sedikit.” (HR Muslim)

Dan terhadap orang yang menyelisihi cara ini, beliau memberikan peringatan, “Wahai Abdullah, janganlah kamu seperti si Fulan, dahulunya bersemangat Shalat Malam, kemudian ia meinggalkannya.” (HR. Bukhari).

Kita berlindung kepada Allah dari sifat malas dan kelemahan jiwa. (Abu Umar Abdillah).

 

%d bloggers like this: