Muraqabah, Betah Ibadah, Dosa Tercegah

Muraqabah, Betah Ibadah, Dosa Tercegah

Imam Bukhari dan Muslim menyebutkan riwayat yang shahih dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bahwa beliau mengisahkan perihal tiga orang di zaman dahulu ada yang terjebak dalam goa karena batu yang menutupinya. Ketiganya tak bisa keluar kecuali setelah mereka berdoa dengan wasilah amal shalih yang menjadi unggulannya.

Tiga Amal Unggulan dan Rahasianya
Salah seorang diantara mereka berkata, “Ya Allah aku memiliki dua orangtua yang telah tua (dan aku juga memiliki anak-anak yang masih kecil). Saya biasa pergi untuk menggembalakambing lalu pulang untuk memerah. Kemudian aku membawanya untuk kedua orangtuakuhingga keduanya bisa minum.Setelah itu baru kemudian aku memberi minum anak-anakku, keluargaku, dan istriku. Pada suatu malam aku terlambat pulang dan ternyata mereka berdua telah tertidur. Maka akupun berdiri di dekat kepala keduany dan aku tidak ingin membangunkannya dan aku tidak ingin memberi minum anak-anakku sebelum keduanya. Aku tidak membangunkan keduanya padahal anak-anakku merengek-rengek di bawah kakiku. Dan aku tetap diamberdiri sambil membawa gelas di tanganku sambil menunggu mereka berdua bangun dari tidurnya. Dan ternyata keduanya bangun ketika terbit fajar. Ya Allah jika Engkau mengetahui bahwasanya aku melakukan hal itu karena mengharap wajah-Mu maka bukakanlah pintu goa ini hingga kami bisa melihat langit”, maka dibukakanlah bagi mereka sedikit celah akan tetapi mereka bertiga belum bisa keluar.
Orang kedua berkata, “Ya Allah aku memiliki seorang sepupu wanita yang sangat aku sukai. Akupun menghendaki dirinya, akan tetapi ia menolak diriku. Hingga suatu ketika ia menghadapi kesulitan dan mendatangiku, maka akupun memberinya 120 dinar dengan syarat agar ia menyerahkan dirinya kepadaku, dan ia pun setuju. Maka tatkala aku telah duduk di antara dua kakinya, tiba-tiba ia berkata, “Bertakwalah kepada Allah, dan janganlah engkau membuka keperawanan kecuali dengan haknya”. Maka akupun berpaling meninggalkannya padahal aku sangat menginginkannya, dan aku relakan emas yang telah aku berikan kepadanya. Ya Allah jika memang aku melakukan hal itu karena ikhlas mengharapkan wajahmu  maka hilangkanlah kesulitan yang kami alamii”. Maka terbukalah celah batu tersebut, hanya saja mereka belum bisa keluar darinya.
Orang ketiga berkata, “Ya Allah aku telah mempekerjakan para buruh dan aku telah memberikan gaji mereka seluruhnya, kecuali satu orang yang telah pergi dan meninggalkan gajinya. Maka akupun mengembangkan gajinya tadi sehingga membuahkan banyak harta. Lalu suatu kali buruh itu datang kepadaku dan berkata, “Wahai Abdullah, berikanlah gajiku kepadaku.” Maka aku berkata, “Seluruh yang engkau lihat ini adalah gajimu; onta, sapi, kambing, dan budak-budak.” Iapun berkata, “Wahai Abdullah, janganlah engkau mengejekku !”. Aku berkata, “Aku tidak sedang mengejekmu”. Maka iapun mengambil seluruhnya lalu menggiringnya dan tidak menyisakan sedikitpun. Ya Allah jika memang aku melakukan hal ini karena mengharapkan wajahmu maka bebaskanlah kesulitan yang sedang kami hadapi.” Maka bergeserlah batu itu hingga ketiganya bisa keluar dari goa.” (HR Bukhari dan Muslim)
Bertabur faedah dan hikmah dalam kisah ini. Banyak sudut pandang yang menarik untuk diambil pelajaran. Tiga orang itu memiliki unggulan amal yang berbeda-beda. Akan tetapi ada kesamaan dari sisi pendorong amal, bagaimana mereka bisa melakukan hal-hal yang bisa dibilang luar biasa. Baik dari sisi menjalani ketaatan, maupun menghindari kemaksiatan. Faktor pendorong dari semua itu adalah hadirnya perasaan bahwa mereka berada dalam pengawasan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Atau yang sering diistilahkan oleh para ulama dengan ‘muraqabah’ atau ‘muraqabatullah’, merasa diawasi oleh Allah.

Muraqabah, Ibadah Menjadi Betah
Pada kasus orang pertama, betapa tegarnya orang itu dalam berbakti kepada orangtua, berdiri dengan membawa segelas susu sambil menunggu keduanya bangun dari tidurnya. Dia tidak ingin mengusik kenyamanan tidur kedua orangtuanya, namun juga tak ingin terlambat memberikan minum kepada keduanya. Jika mau, bisa saja ia tidur dan memberikan susunya setelah bangun, toh kedua orangtuanya tidak tahu ia berdiri semalaman.
Muroqabah menyebabkan seseorang bersemangat dalam kebaikan, tegar dalam ketaatan. Karena ia tahu bahwa apa yang dilakukan tak luput dari penglihatan Allah dan tak luput pula dari penilaian Dzat yang menguasai Hari Pembalasan. Maka kita dapatkan, Allah banyak memotivasi orang-orang beriman untuk beramal shalih dengan cara meyakinkan bahwa Allah senantiasa memperhatikan dan menyaksikan kebaikan yang mereka lakukan. Bagaimana seorang mukmin tidak bersemangat untuk mengerjakan shalat sedangkan Allah berfirman,
“Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk shalat), dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. (QS asy-Syu’ara’ 218-219)
Tak ada yang rugi meski kebaikan kita tak disaksikan orang, tak pula ramai dengan pujian, karena hanya Allah yang kuasa membalas segala kebaikan. Alangkah indah kisah seorang tabi’in Rabi’ bin Khutsaim, ketika ia memberikan roti istimewa kepada seorang pengemis tua. Dari cara makannya, terlihat pengemis itu akalnya tidak begitu waras. Ketika anaknya berkata, “Semoga Allah merahmati Ayah, ibu telah bersusah payah untuk membuat roti itu untuk ayah, kami sangat berharap agar ayah sudi menyantapnya, namun tiba-tiba ayah berikan roti itu kepada orang linglung yang tidak tahu apa yang sedang dimakannya.” Dengan penuh keyakinan beliau menjawab, “Wahai puteraku, jika pengemis itu tidak tahu, maka sesungguhnya Allah Maha Tahu.”
Begitulah, kebaikan serasa mudah dilakukan ketika muraqabah dilakukan, yaki ketika menyadari dirinya dalam pengawasan dan bahwa Allah menyaksikan.

Muraqabah, Dosa tercegah
Adapun orang kedua yang terjebak dalam goa, adalah orang yang hampir saja terjerumus ke dalam zina. Ia telah membayarnya, tak ada satupun orang yang melihatnya. Hanya satu yang membuatnya berhenti melakukannya, yakni ketika diingatkan pengawasan Allah atasnya.
Begitu efektif sifat muraqabah untuk menghentikan laju syahwat yang ingin menerjang maksiat. Suatu kali Humaid ath-Thawil berkata kepada Sulaiman bin Ali rahimahumallah,” Tolong nasihati aku!” Lalu Sulaiman memberikan nasihat yang sangat indah,
“Jika kamu bermaksiat ketika seorang diri lalu padahal kamu tahu Allah melihatmu, maka telah melakukan kecerobohan besar, akan tetapi jika kamu tidak percaya bahwa Allah melihat perbuatanmu, maka kamu jatuh pada kekafiran.” (Mausu’atu Nadhratin Naim fii Akhlaaqir Rasuulil Kariem)
Maknanya, ketika seorang mukmin merasa diawasi oleh Allah meskipun dalam kesendirian, maka berat baginya untuk menuruti keinginan, dan sekali-kali dia tidak akan nyaman berada dalam zona kemaksiatan. Ia tidak ingin melakukan kecerobohan besar karena melakukan dosa terang-terangan di hadapan Allah, dan dia juga tidak mau terjerumus pada kekafiran karena menganggap bahwa Allah tidak melihat apa yang ia lakukan.
Andai saja seseorang senantiasa sadar atas pengawasan Allah, niscaya ia memilih untuk menjahui dosa daripada mendekatinya, dan mengurungkan niat buruknya daripada melaksanakannya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

قَالَتِ الْملَائِكَةُ: رَبِّ، ذَاكَ عَبْدُكَ يُرِيدُ أَنْ يَعْمَلَ سَيِّئَةً، وَهُوَ أَبْصَرُ بِهِ، فَقَالَ: ارْقُبُوهُ فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ بِمِثْلِهَا، وَإِنْ تَرَكَهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً، إِنَّمَا تَرَكَهَا مِنْ جَرَّايَ

“Malaikat berkata, “Wahai Rabbi, hamba-Mu itu ingin melakukan keburukan!” -padahal Allah lebih jeli melihatnya-, maka Allah berfirman, “Awasilah ia! Jika dia melakukan keburukan, maka catatlah satu dosa yang sepadan atasnya, namun jika dia mengurungkannya maka catatlah satu kebaikan baginya, karena ia mengurungkan niat buruknya karena-Ku.” (HR Muslim)
Muraqabah menyebabkan seorang mukmin berhati-hati dalam setiap tindakan dan gerak-geriknya. Seperti nasihat emas Hatim bin al-Asham rahimahullah, “Kendalikanlah nafsumu dengan tiga hal; Jika kamu hendak berbuat, sadarilah bahwa Allah melihat-Mu. Jika kamu hendak berucap, sadarilah bahwa Allah mendengarmu. Dan jika kamu dalam keadaan diam, sadarilah bahwa Allah mengetahui apa yang kamu pikirkan.”
Bagaimana seorang mukmin bisa ‘nyaman’ melakukan dosa, sementara Allah mengawasi dirinya dengan sangat detil dan jeli tak tertandingi. CCTV yang dibuat manusia hanya bisa menampilkan gambar yang lewat di depannya. Akan tetapi pengawasan Allah meliputi segala tempat, segala hal; gerak-gerik luar, suara yang keluar dan apa-apa yang tersembunyi dalam niatan. Allah berfirman,
“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati” (QS Al-Mukmin : 19)

Muraqabah Berbuah Amanah
Sungguh menakjubkan unggulan amal orang ketiga di antara tiga orang yang terjebak dalam goa itu. Ia memiliki sifat muraqabah tingkat tinggi. Tak hanya merasa gerak-gerik badannya yang diawasi oleh Allah, tapi juga gerak-gerik hatinya. Ia merasa niatnya diawasi oleh Allah. Sengaja ia mengembangkan gaji buruh yang belum diambilnya dengan niat menguntungkan sang buruh. Tidak ada yang mengetahui niatnya kecuali Allah. Hebatnya, niat itu tetap terjaga dan tidak berubah meskipun setelah ia melihat gaji tersebut telah berkembang dan menjadi sangat banyak. Jika seandainya ia hanya memberi kepada sang pekerja gajinya saja maka ia tidak bersalah, karena memang yang berhak dimiliki oleh sang pekerja hanyalah gaji pokoknya saja. Dan seandainya ia pura-pura tidak tahu bahwa ia telah menggunakan gaji buruhnya untuk mengembangan usahanya, tak ada juga orang yang tahu. Akan tetapi ia sadar, bahwa Allah mengetahui semua. Sungguh merupakan amanah tingkat tinggi, dan muraqabah yang luar biasa. Bahkan Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan tentang riwayat ini bahwa amalan yang paling bermanfaat di antara ketiga orang tersebut untuk menyelamatkan mereka bertiga adalah amalan orang yang ketiga yang sangat amanah, karena dengan doanyalah maka pintu goa akhirnya terbuka. (Fathul Baari, Ibnu Hajar al-Asqalani).
Hari ini, betapa langka sifat amanah, betapa subur pengkhianatan dan korupsi, tidak lain karena tipisnya mueaqabah kepada Allah. Mereka bisa saja bersembunyi dari manusia, akan tetapi sekali-kali mereka tidak bisa bersembunyi dari Allah, wallahul muwaffiq. (Abu Umar Abdillah)

%d bloggers like this: