Keterbatasan dan Peran Akal

Keterbatasan dan Peran Akal

(Perspektif Ahlussunnah wal Jamaah)

Dewasa ini banyak manusia yang memosisikan akal melebihi dari yang seharusnya. Apalagi setelah Allah memudahkan dan membukakan untuk mereka pintu ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan luar angkasa dan atom. Banyak dari mereka yang membuang agama dan menggantikannya dengan hawa nafsu mereka sendiri. Lantaran mereka sudah merasa pandai, mereka pun menetapkan syariat untuk diri mereka sendiri.

Dalam Islam, akal mendapatkan posisi yang istimewa. Tetapi ada batasnya. Manusia tidak boleh menuhankan dirinya sendiri. Bagaimana pun, akal memiliki kemampuan untuk mengetahui perkara-perkara yang baik dan yang buruk. Hanya, akal tidak benar-benar dapat menjawab tantangan dan problematika kehidupan tanpa tuntunan wahyu.

 

Keterbatasan Akal

Ada beberapa perkara yang tidak diketahui akal kecuali dengan bantuan wahyu. Perkara-perkara itu  adalah:

  1. Hakikat perkara ghaib yang disembunyikan oleh Allah dari makhluk-Nya, seperti mangetahui sifat-sifat Allah, mengetahui hakikat malaikat, jin, neraka, dan surga, serta apa-apa yang disediakan oleh Allah yang berupa pahala dan hukuman di akhirat kelak.
  2. Detail suatu kebaikan atau keburukan. Kemampuan akal bersifat global, tidak detail. Terkadang, akal mengetahui bahwa suatu perbuatan itu baik seperti keadilan atau buruk seperti kezaliman. Namun ia tidak mengetahui apakah suatu amal itu termasuk keadilan atau kezaliman. Riba adalah contoh untuk poin ini.
  3. Kebaikan perkara yang mengandung maslahat sekaligus mengandung mafsadat atau perkara yang tampak sebagai kerusakan, padahal sejatinya ada maslahatnya. Ibnu Taymiyah berkata, “Para Nabi datang dengan membawa perkara yang akal tidak mampu memahaminya, bukan membawa perkara yang akal mengetahui pasti kebatilannya. Para Nabi mengabarkan bagaimana akal mesti beraksi, bukan menjelaskan ruang lingkup akal.” (Majmu’ Fatawa, 2/312)

Peran Akal

Dalam pandangan Islam, peran akal adalah memikirkan makhluk-makhluk Allah, mengeluarkan perbendaharaan bumi dan segala kebaikan yang ada di dalamnya, serta mengkaji segala macam ilmu yang dapat dicapainya sehubungan alam raya ini. Perkara-perkara yang tidak dimampuinya, ia tidak perlu membahasnya. Seperti mengetahui apa yang ada di balik alam raya ini dan bagaimana cara memperbudak akal manusia yang lain.

Kewajibannya adalah tunduk kepada wahyu dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memahaminya dan mentadabburinya serta mengambil kesimpulan dari bagian yang belum dijelaskan secara sharih. Itupun harus disertai dengan sikap tawadhu’ dan pasrah kepada wahyu-Nya, serta tetap menerima apa-apa yang tidak dapat dijangkaunya,

 

Urgensi Risalah

Akal manusia butuh kepada risalah dari Allah untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Dalam hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari ‘Iyadh bin Himar dari Nabi saw bahwa beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah melihat penduduk bumi. Allah amat murka kepada mereka, baik yang Arab maupun non-Arab; kecuali beberapa gelintir Ahli Kitab.”

Meskipun Allah amat murka, namun Allah tidak mengazab mereka kecuali setelah mengutus Rasul.

Allah berfirman,

“Dan Kami tidak akan mengazab sebelum kami mengutus seorang rasul.” (Al-Isra`: 15)

“Dan sekiranya kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum al-Qur`an itu (diturunkan), tentulah mereka berkata, Wahai Rabb kami, mengapa tidak Engkau utus seorang Rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat-Mu sebelum kami menjadi hina dan rendah?’.” (Thaha: 134)

“Dan tidak adalah Rabb-mu membinasakan kota-kota, sebelum dia mengutus di ibukota itu seorang Rasul yang membacakan ayat-ayat kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.” (Al-Qashash: 59)

BACA JUGA : Keterbatasan dan Peran Akal

“Dan agar mereka tidak mengatakan ketika azab menimpa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan, ‘Wahai rabb kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang Rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat-Mu dan jadilah kami termasuk orang-orang yang beriman.’.” (Al-Qashash: 47)

“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu.” (An-Nisa`: 165)

Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa azab Allah ditimpakan setelah diutusnya para Rasul dan tegaknya hujjah dengan diutusnya mereka. Ini meskipun faktor turunnya azab ada, yakni kemurkaan Allah yang amat sangat kepada mereka dan Allah pun telah menjelaskan bahwa mereka berhak dan layak untuk diazab. Hanya saja Allah Maha Pengasih kepada hamba-hamba-Nya.

 

Daya Akal Mengenali Kebaikan

Kaum muslimin berbeda pendapat mengenai dapatkah akal mengetahui baik buruknya ucapan dan perbuatan dan apakah pengenalannya akan kebaikan dan keburukannya itu berakibat hukuman atau tidak. Ada banyak pendapat, tetapi ringkasnya ada tiga:

Pertama, mereka yang berpendapat, baik buruknya ucapan dan perbuatan hanya diketahui dengan syariat saja, akal tidak dapat melakukannya. Ini adalah pendapat Jahm bin Shafwan, Abul Hasan al-Asy’ariy, Abu Bakar bin ath-Thayyib, al-Qadhi Abu Ya’la, Abul Ma’ali al-Juwayniy, Abul Wafa` bin ‘Uqail, dan lain-lain.

Kedua, mereka yang menyatakan, akal dapat mengetahui baik buruknya ucapan dan perbuatan. Barangsiapa menyelesihi apa yang baik-buruknya ditunjukkan oleh akal akan mendapatkan azab di akhirat. Ini adalah pendapat Mu’tazilah, Hanafiyah, dan Abul Khattab Mahfuzh bin Ahmad.

Ketiga, mereka yang mengatakan, akal dapat mengetahui baik-buruknya ucapan dan perbuatan. Hanya, akal saja tidak dianggap cukup sebagai sarana tegaknya hujjah dan orang yang menyelisihinya tidak berhak dan layak mendapatkan azab kecuali setelah penegakan hujjah dengan diutusnya para Rasul. Mereka berkata, “Mereka tidak diazab sampai diutusnya rasul kepada mereka, sebagaimana ditunjukkan oleh al-Qur`an dan as-Sunnah. Hanya, perbuatan mereka dicela dan dimurkai oleh Allah. Mereka pun disifati dengan sifat kekafiran yang dicela dan dibenci oleh Allah. Meskipun Allah tidak mengazab mereka sehingga mengutus seorang Rasul kepada mereka.” Ini adalah pendapat jumhur Ahlussunnah wal Jamaah.

 

Fungsi Syariat

Datangnya syariat bukan untuk menjelaskan kepada manusia perkara-perkara yang bermanfaat dan berbahaya buat kehidupannya di dunia. Jika hanya untuk itu, binatang pun sudah bisa. Keledai dan kuda dapat membedakan antara tanah dan rumput sehingga keduanya hanya memakan rumput dan tidak memakan tanah. Datangnya syariat adalah untuk menjelaskan perkara-perkara yang bermanfaat dan berbahaya/bermudharat di kehidupan dunia dan akhirat. Hal ini hanya dapat diketahui dengan risalah. Jika bukan karena risalah, akal tidak akan mampu sampai kepada detail perkara yang bermanfaat dan bermudharat di dunia dan di akhirat. Maka, adalah nikmat Allah yang amat besar Dia mengutus rasul dan menurunkan kitab serta menjelaskan jalan yang lurus.

Sekiranya manusia diberi kebebasan, dipersilakan untuk menentukan syariat seperti apa yang hendak mereka jalani, niscaya mereka akan memilih dan memutuskan jalan yang sesuai dengan hawa nafsunya dan tidak terlepas dari kelemahan manusia, sempitnya ilmu dan pengetahuan mereka, di samping kemusyrikan yang telah mendarah daging dengan mereka. Oleh karena itu semua, sepantasnyalah memilih syariat yang datang dari atas langit. Dari Dzat yang Maha Mengetahui segala yang terbaik bagi umat manusia sepanjang masa.

“Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?” (Al-Mulk: 22)

Wallahu al-Muwaffiq.

%d bloggers like this: