Berdoa Setelah Dahaga Sirna

Mana Yang Lebih Utama, Sibuk Menjawab Adzan Atau Menyegerakan Berbuka (Puasa)?

Berbuka kemudian berkata

ذَهَبَ الظَّمَـأُ، وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ

“Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah, dan telah tetap pahala, insya Allah.”

 

Puasa merupakan ibadah mulia yang berlipat pahalanya, tak sama dengan ibadah lain yang disebutkan kelipatan pahalanya; 10 lipat atau 700 kali lipat, akan tetapi Allah sendirilah yang akan melipatgandakan pahala puasa seseorang sekehendakNya.

Tak terbatas sebagaimana pahalanya orang yang bersabar, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10). Orang yang berpuasa, ia sedang bersabar untuk tidak makan dan minum di siang hari, bersabar untuk tidak melepaskan syahwat dan berbagai macam kelezatan, sehingga Rasulullah dalam sabdanya menyebut bulan Ramadhan dengan syahru ash shobri (dalam riwayat imam Abu Daud, Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad)

Kemulian puasa tampak ketika Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mengandengakan ibadah ini dengan ibadah lain, seperti jihad fi sabilillah. “Siapa yang berpuasa sehari di jalan Allah, maka Allah akan jadikan sebuah parit yang memisahkan antara dia dan neraka, sebagaimana jarak antara langit dan bumi.” (HR. Tirmudzi).

Tidak Tertolak Doanya

Ada kemulian yang lain yang bisa kita dapatkan di dunia hari ini (bila kita tidak sedang berjihad fisabilillah) , yaitu diberi doa yang mustajab -dan semoga kita dapatkan pula balasan yang ada di akhirat yaitu dengan mendapatkan jannahNya yang khusus, ar rayyan- Allahumma amin

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلَاثٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak: Pemimpin yang adil, orang yang berpuasa sampai dia berbuka, dan doa orang yang didzalimi.” (HR. Tirmidzi)

Hadits ini menunjukkan bahwa seseorang yang dalam keadaan puasa memiliki kesempatan yang sangat berharga, yaitu doanya tidak tertolak. Tentunya kita tidak ingin melewatkan menit menit puasa dengan tanpa berdoa kepadaNya, dengan memperbanyak doa akan menyebabkan kita dicintai Allah Ta’ala dan sebaliknya tidak berdoa kepadaNya akan mengakibatkan murkaNya.

Dalam hal ini, tidak ada doa khusus yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bagi seseorang yang sedang berpuasa, sehingga boleh boleh saja bagi seseorang untuk berdoa dengan lafadz yang umum, memanjatkan  berbagai macam permintaan untuk kebaikan dunia maupun akhiratnya, atau berdoa dengan lafadz doa mutlak yang ada dalam alqur’an atau dalam sunnah yang shahihah.

Berbuka kemudian berdoa

Adapun doa yang diajarkan oleh Nabi ketika seseorang berbuka, yaitu setelah membatalkan puasanya adalah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: ذَهَبَ الظَّمَـأُ، وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila beliau berbuka, beliau berkata: Dzahabazh Zhama’u, Wabtallatil ‘Uruuqu wa Tsabatal Ajru, In syaa Allah “Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah, dan telah diraih pahala, in syaallah.” (HR. Abu Daud, dihasankan Al Albani)

Ketika seharian menahan dahaga, badan semakin lemah, maka ketika sudah dibolehkan minum dan makan kembali, kalimat yang terucap adalah telah hilang dahaga dan terbasahi kerongkongan dan urat-urat, kemudian berharap tetapnya pahala puasa disisiNya, karenanya di akhir kalimat doa ini ditutup dengan ‘in syaallah.’ Allah lah yang berhak menetapkan pahala sebagaimana janjiNya, bila amalan puasa diterima maka Allah tidak akan ingkar dengan janjiNya, yaitu memberikan balasan yang tak terhingga.

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tidaklah shalat maghrib kecuali beliau telah berbuka (menyegerakan berbuka ketika sudah tiba waktunya) dengan beberapa kurma basah atau kurma kering, atau hanya beberapa teguk air.

BACA JUGA : Mengakui Dosa Dan Memohon Ampunan

Diantara ulama ada yang berpedapat bahwa kalimat “Dzahabazh Zhama’u, Wabtallatil ‘Uruuqu…” diucapkan setelah berbuka (syaikh Ibnu Utsaimin), meskipun ada juga yang berpendapat -seperti syaikh Abdul Muhsin Al Abbad- boleh mengucapkannya ketika mau berbuka atau setelah berbuka. Dan tentunya yang pasti adalah ketika memulai berbuka diawali dengan basmalah.

Doa Yang Masyhur Tapi Dho’if

Adapun doa yang mungkin sudah kita hafal sejak kecil yaitu ‘allahuma laka sumtu wa ‘ala rizkika afthortu’ ini merupakan lafadz doa berbuka puasa yang tidak shahih, tetapi dha’if (lemah), biasanya ada tambahan ditengahnya wa bika amantu, dan di akhirnya birahmatika yaa arhamarrahimin. Ini adalah tambahan yang tidak ada asalnya.

عَنْ مُعَاذِ بْنِ زُهْرَةَ، أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ كَانَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَ عَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

“Dari Mu’adz bin Zuhrah, sesungguhnya telah sampai riwayat kepadanya bahwa sesungguhnya jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka puasa, beliau membaca (doa), ‘Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthortu-ed’ (ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka).” (HR. Abu Daud)

Hadits ini dinilai dhaif (lemah) oleh Syekh al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud, diantara indikasi lemahnya hadits ini adalah bahwa Mua’dz bin Zuhrah adalah tabi’in yang majhul (tidak diketahui), sehingga hadits ini terkategori mursal. Dan hadits mursal adalah masuk ke dalam kategori hadits dho’if.

Wallahua’alam bis shawab.

%d bloggers like this: