Syi’ah Memang Beda Dengan Islam

Syi’ah Memang Beda Dengan Islam

Ada yang mengaku islam tapi ternyata punya hari ied yang berbeda, bukan karena perbedaan mathla’ sehingga hari ied nya berbeda sehari sebelum atau sesudahnya -kalau perbedaan ini sudah ada sejak zaman sahabat radhiallahu’anhum sepeninggal Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam-, tersebar di media media indonesia sebulan yang lalu, orang-orang syi’ah indonesia mengundang ulamanya dari luar negri untuk merayakan hari iednya, dan untuk menyebarkan kesesatannya mereka akan meluncurkan tv syia’h.

Syia’ah bukanlah madzhab dalam islam sebagaimana kita mengenal ada madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali. Ini buktinya, Tidak lama setelah kedatangan ulama syi’ah London ke indonesia untuk merayakan iednya, terjadilah perceraian tokoh syi’ah Indonesia Jalaludin Rahmat, pimpinan IJABI, salah satu anggota DPR dari PDIP  dengan istrinya yang juga terang terangan mendakwahkan kesesatan agamanya, ternyata salah satu sebab perceraiannya (sebagaimana dikonfirmasi oleh grup wa NU garis lurus langsung ke Kang jalal-nugarislurus) adalah karena beda marja’ yang laki laki ikut marja’ khamenei dan yang wanita ikut marja’ syirazi. Jelas kan bahwa agama syi’ah punya rujukan rujukan sendiri tidak sebagaimana yang sudah dikenal oleh kaum muslimin.

Meskipun beda marja’ tetap saja kesesatannya dan permusuhannya terhadap ahlussunah wal jama’ah tidak berubah.

Hari Rayanya Syi’ah

Rasulullah bersabda, menetapkan dua hari Rayanya kaum muslimin,dan tidak ada hari raya ghadir sebagaimana anggapan sy’iah, “Sesungguhnya Allah telah mengganti untuk kalian dua hari yang lebih baik dari dua hari raya itu; idul fithri dan idul adha.” (HR Ahmad).

Maka pemeluk agama syi’ah mempunyai hari tersendiri di pekan ke 3 bulan dzulhijjah, dalam riwayat riwayat syi’ah bahwa tanggal 18 dzulhijjah yang mereka sebut dengan  idul ghadir lebih agung kehormatannya dari pada idul fitri dan idul adha. Disebutkan dalam kitabnya Syi’ah Mafatih al Jinan, karya Abbas al Qummi, “Hari Raya Ghadir adalah hari raya milik Allah yang terbesar..dia lebih Agung dari semua hari raya. Allah tidak pernah mengutus seorang Nabi melainkan Nabi tersebut berhari raya (merayakan) hari ini…namanya di bumi adalah yaum al mitsaq..

Mereka menganjurkan untuk berpuasa pada hari ini, kemudian mengkufuri a jibt dan thaghut dan berhala yang empat, golongan mereka dan pengikut mereka dan semua orang yang setia dan cinta kepada mereka. Yang dimaksud dengan jibt adalah Abu Bakar, dan thoghut adalah Umar bin Khattab, dan berhala yang empat adalah, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Muawiyah radhiallahu’anhum.

Dibulan Muharram Ini Pun Mereka Menunjukkan Kesesatannya

Telah ma’ruf baik dikalangan jahiliyah maupun ahli Islam bahwa pada tanggal 10 Muharram Musa ‘alaihissalam diselamatkan Allah dari kejaran fir’aun dan bala tentaranya. Makanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam berpuasa pada hari tersebut, dan mempunyai keinginan saat itu, bila umurnya panjang untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram tahun depannya untuk menyelisihi kaum yahudi. Namun qadarullah, Allah mewafatkan Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam pada tahun tersebut dan tidak berkesempatan bertemu dengan bulan muharram berikutnya. Dan yang dilakukan Rasululah shallallahu’alaihi wasallam beserta sahabatnya termasuk Ali bin Abi Thalib adalah berpuasa.

Berbeda pula dengan Syi’ah dalam menyambut bulan Muharram. Mereka menjadikan hari Asyuro (10 Muharram) sebagai hari berkabung, bersedih, meratap dan menyakiti badan (ada yang sampai berdarah darah). Mereka melakukan hal itu untuk memperingati hari terbunuhnya Husain bin Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhuma. Pada hari tersebut mereka berkabung, bersedih, menangis dan meratap bersama disertai menampar-nampar pipi (atau menyakiti anggota badan lainnya), merobek-robek pakaian dan meneriakan ucapan-ucapan berlebih-lebihan kepada Husain bin Ali bin Abi Thalib Radhiallahu’anhuma.

Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, telah syahid sejumlah shahabat utama dan karenanya beliau bersedih, seperti Hamzah bin Abdul Muthalib, Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, Abdullah bin Rawahah, namun beliau (Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam) tidak melakukan sesuatu apapun seperti apa yang mereka lakukan. Seandainya perbuatan itu baik, niscaya beliau sudah mendahului kita melakukan kebaikan tersebut.

Bahkan sebaliknya, Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya telah memerintahkan untuk bersabar, mencari pahala dan mengembalikan diri (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala) dari setiap musibah yang menimpa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Innaa Lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun’. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rab mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” [Al-Baqarah: 155-157]

Rasulullah melarang perbuatan-perbuatan yang dilakukan syi’ah di hari asy syura dan yang semisalnya dalam sabdanya;

“Bukan golongan kami orang yang memukuli pipi, merobek pakaian, dan berdo’a dengan do’a jahiliyah.” [HR. Bukhari]. Dan lebih buruk pula, cerita kematian Husein pun telah mereka palsukan. Padahal mereka sendirilah yang membunuhnya. Hati-hati jangan tertipu..!!

Mengapa cucuran air mata atas terbunuhnya Husain itu tidak satu tetespun keluar untuk mengenang kematian Nabi shalallhu ‘alaihi wasallam dan Tragedi terbunuhnya Ali radiallahu’anhu ???

Jangan sampai seorang muslim mudah terbawa oleh budaya atau ritual agama lain dalam menjalankan ibadah. Ajaran yang dibawa Rasulullah telah jelas dan sempurna tidak layak bagi kita untuk menambah atau menguranginya. Karena sebaik-baik pedoman adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam. Adapun hal-hal baru dalam masalah agama adalah sesat sedangkan kesesatan itu akan menghantarkan ke neraka, wal’iyadzubillah.

%d bloggers like this: