Ada Doa Dalam Tutur Kata

Ada Doa Dalam Tutur Kata

 

Qul khoiran aw liyasmut, berkatalah yang baik atau diamlah, kalimat pendek yang terucap dari lisan mulia Rasulullah ini sangatlah beharga untuk selalu diingat oleh setiap muslim. Tak hanya menyelamatkan di dunia bahkan di akhiratpun ia bisa tertolong karena telah menjaga kalimat kalimat yang akan dikeluarkan dari lisannya ketika di dunia.

Bila telah terbiasa mengucapkan perkataan yang baik, maka disaat mendapat musibah ataupun marah keluarlah kata kata yang baik, sebaliknya bila terbiasa berkata kata yang buruk pada kesehariannya maka terlebih lagi di saat mendapat goncangan dan kebingungan maka sangat mudah sekali keburukan yang akan keluar dari lisannya.

Diriwayatkan dalam shahih Muslim, suatu hadits yang panjang dari sahabat Jabir radhiallahu’anhu, sesungguhnya ada seseorang yang berkata kepada untanya :

“..Kami pernah berjalan bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dalam peperangan Buwath, beliau mencari Al Majdi bin Amru al Juhadi. Unta yang diberi minum dijaga oleh lima, enam dan tujuh orang, kemudian salah seorang penunggu unta dari Anshar mengelilingi unta miliknya, setelah unta diderumkan kemudian ia naik. Ia menggusah untanya tapi tetap saja diam, lalu ia berkata pada untanya:

Hus, semoga Allah melaknatmu. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bertanya: “Siapa yang melaknat untanya itu?” ia menjawab: Saya ya Rasulullah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Turunlah, jangan menyertai sesuatu yang terlaknat.

Janganlah kalian mendoakan keburukan pada diri kalian, jangan mendoakan keburukan pada anak-anak kalian, jangan mendoakan keburukan pada harta-harta kalian, janganlah kalian menepati saat dikabulkannya doa dari Allah lalu Ia akan mengabulkan untuk kalian…” (HR. Muslim)

Perkataan yang terucap meski spontan merupakan doa, baik untuk diri kita atau siapa saja yang mendapat komentar dari lisan kita. kejadian yang tidak mengenakkan ditambah dengan kata kata buruk bisa memperburuk situasi, yang pada akhirnya maka apapun keadaannya kebaikanlah yang seharusnya terucap, mudah mudahan lebih meringankan kondisi yang sulit bahkan bisa jadi keadaannya terbalik menjadi mudah dan memudahkan yang lain.

Rasulullah biasa mendoakan kebaikan kepada para sahabatnya, tidak hanya yang tua dan muda. Yang masih kecil pun tidak tertinggal dari doanya. Bahkan ketika beliau sakit, tetap saja terucap doa kebaikan untuk orang lain.

Dari Muhammad bin Usamah bin Zaid dari ayahnya yaitu Usamah bin Zaid, ia berkata; “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sakit keras, aku bersama orang-orang pergi menuju Madinah, lalu aku menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau diam dan tidak berbicara, setelah itu beliau mengangkat kedua tangannya ke langit dan menunjuk kepadaku, aku tahu bahwasannya beliau mendoakanku.” (HR. Ahmad)

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mendoakan Anas bin Malik yang ketika itu masih kecil;

عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ دَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْنَا وَمَا هُوَ إِلَّا أَنَا وَأُمِّي وَأُمُّ حَرَامٍ خَالَتِي فَقَالَ قُومُوا فَلِأُصَلِّيَ بِكُمْ فِي غَيْرِ وَقْتِ صَلَاةٍ فَصَلَّى بِنَا فَقَالَ رَجُلٌ لِثَابِتٍ أَيْنَ جَعَلَ أَنَسًا مِنْهُ قَالَ جَعَلَهُ عَلَى يَمِينِهِ ثُمَّ دَعَا لَنَا أَهْلَ الْبَيْتِ بِكُلِّ خَيْرٍ مِنْ خَيْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَقَالَتْ أُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ خُوَيْدِمُكَ ادْعُ اللَّهَ لَهُ قَالَ فَدَعَا لِي بِكُلِّ خَيْرٍ وَكَانَ فِي آخِرِ مَا دَعَا لِي بِهِ أَنْ قَالَ اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَبَارِكْ لَهُ فِيهِ

Dari Tsabit dari Anas katanya; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menemui kami ketika tidak ada seorangpun selain aku, ibuku, dan Ummu Haram, bibiku. Lalu beliau bersabda: “Berdirilah kalian, aku akan shalat bersama kalian diluar waktu shalat.” Maka beliau shalat bersama kami.” Seseorang bertanya kepada Tsabit; “Dimanakah beliau meletakkan Anas?” Tsabit menjawab; “Beliau meletakkan Anas di sebelah kanannya, lantas beliau mendokan kebaikan untuk kami, ahli bait, dengan kebaikan dunia dan akhirat.” Kemudian ibuku berkata; “Wahai Rasulullah, pelayan kecilmu -maksudnya Anas- tolong do’akanlah kebaikan untuknya!” Beliau kemudian mendo’akan segala kebaikan untukku, terakhir kali doa beliau untukku adalah dengan bacaan ALLAAHUMMA AKTSIR MALAHU WAWALADAHU WABAARIK LAHU FIIHI (Ya Allah, perbanyaklah hartanya dan anaknya, dan berilah barakah padanya dan baginya).” (HR. Muslim)

Berdoa untuk mendapatkan dunia yang banyak bukanlah tanda ketamakan dan aib, hanya saja dunia yang dipintakan haruslah disertai dengan meminta keberkahannya. Sedikit tapi berkah itu menyelamatkan dan harta banyak yang berkah itu tidak membahayakan yang memilikinya bahkan menyelamatkannya di akhirat karena ia menunaikah haknya serta tidak dibuatnya lalai dalam urusan akhiratnya.

Dalam riwayat Muslim ini seolah olah hanya dunia saja yang dipintakan, padahal kalau dunia (harta dan anak) itu memberkahi pemiliknya, maka ia mengandung permintaan keselamatan di akhirat secara tidak langsung. anak anak yang berkah tentunya adalah anak yang shalehah yang menjadi investasi kebaikan yang terus mengalir meski orang tuanya sudah meninggalkan dunia. Harta yang berkah tentunya harta yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain serta harta yang membantu pemiliknya untuk beribadah mendekat kepada Allah Ar Razzaaq.

Dan ternyata dalam riwayat yang lain, disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari (4/229) bahwa para perawi hadits ini ada yang meriwayatkan dengan ringkas, dalam riwayat Muslim dari Al Ja’ad, Anas berkata, aku di doakan denga tiga doa, dan aku telah melihat dua doa terkabulkan di dunia dan aku berharap yang ketiga di kabulkan di akhirat. Yang ketiga ini dijelaskan dalam riwayat Sinan bin Rabi’ah yaitu, WAGHFIR DZAMBAHU (dan ampunilah dosa dosaya).

Doakanlah anak anak kita, dan anak anak kaum muslimin dengan doa Rasul kepada Anas bin Malik,

ALLAAHUMMA AKTSIR MALAHU WAWALADAHU WABAARIK LAHU FIIHI WAGHFIR DZAMBAHU.. Ya Allah, perbanyaklah hartanya, anaknya, dan berilah barakah padanya dan baginya serta ampunilah dosa dosaya)

%d bloggers like this: