Tercium semerbak aroma Ramadhan dari kejauhan. Terbayang indahnya ketaatan dan syahdunya munajat di dalamnya. Ya, umumnya kita sudah menghitung hari, tinggal berapa hari lagi Ramadhan tiba. Utamanya, ketika telah memasuki Bulan Rajab. Ramadhan seumpama kebun yang dipenuhi tanaman yang berbuah, sedangkan Rajab seumpama halaman sebelum memasuki dan memanennya.

Bahwa Bulan Rajab sendiri memiliki keistimewaan sebagai bagian dari bulan haram. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Setahun ada 12 bulan, di antaranya ada empat bulan Haram, tiga bulan berurutan; Dzulqa’dah, Dzulhijah dan Muharam, serta Rajab Mudhor, antara Jumadal (Tsani) dan Sya’ban.” (HR Bukhari dan Muslim)

Disebut sebagai bulan haram atau bulan suci mengandung konsekuensi larangan keras menodai bulan tersebut dengan maksiat dan dosa. Syeikh Abdurrahman as-Sa’di dalam tafsirnya terhadap ayat,

“Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)

Beliau mengatakan, “Bisa dimaknai sebagai larangan yang bersifat lebih khusus agar jangan melakukan kezaliman di dalamnya dengan tetap melarang tindakan kezaliman pada setiap waktu. Hanya saja pelanggaran di bulan ini lebih berat dibandingkan dengan bulan lainnya dan melakukan kezaliman di dalamnya lebih berat dibandingkan dengan bulan-bulan yang lainnya.”

Selain keistimewaan sebagai bulan haram, bulan Rajab juga dinarasikan oleh para ulama sebagai bulan persiapan menyambut Ramadhan. Yakni bulan yang paling besar keutamaannya dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Hanya saja kesuksesan dalam memanen buah kebaikan di bulan Ramadhan, tergantung apa yang dipersiapkan benihnya sejak bulan-bulan sebelumnya, terutama di bulan Rajab.

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Sesungguhnya bulan Rajab adalah bulan menyemai benih, karena itulah mereka para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mempersiapkan diri untuk menyambut Ramadhan beberapa bulan sebelumnya, lebih khusus lagi di bulan Rajab.”

Banyak pula ungkapan-ungkapan serupa yang disampaikan oleh para ulama yang mengaitkan antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan. Abu Bakar al-Waraq al-Balkhi rahimahullah berkata, “Bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban adalah bulan menyiram, dan bulan Ramadhan adalah bulan memetik buahnya.”

Dzun Nun al-Misry rahimahullah misalnya mengatakan, “Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban adalah bulan menyiram sementara Ramadan adalah bulan memanen. Semua akan memanen apa yang dia tanam dan mendapatkan balasan dari apa yang dilakukan. Siapa yang menyia-nyiakan kesempatan menanam, maka dia akan menyesal di waktu panen, hasilnya di luar harapan dan ujungnya adalah keburukan.”

Seperti hikmah dijadikannya Rajab sebagai bulan haram, di mana dosa-dosa sangat dijauhi, maka bulan Rajab juga bulan untuk menyiapkan lahan untuk menanam bibit kebaikan. Sebagaimana sudah dimengerti, para petani ketika hendak bercocok tanam dan menanam benih, mereka terlebih dahulu membersihkan lahan tempat bercocok tanam, terutama dari gulma dan hama. Baru kemudian mereka menyemai benih, berikutnya menyiraminya, lalu setelah itu mereka menunggu hasilnya. Maka, jika tidak menanam benih, atau salah dalan menebar benih di bulan Rajab, niscaya pada bulan Sya’ban tidak akan tumbuh benih-benih yang baik itu, dan pada bulan Ramadhan nantinya tidak turut memanen buah yang diharapkan.

Dzun Nun rahimahullah memberikan ungkapan yang bagus, “Bulan Rajab adalah bulan untuk meninggalkan kesalahan-kesalahan. Sya’ban adalah bulan untuk mempergunakan ketaatan-ketaatan. Dan Ramadhan adalah bulan menyongsong kemuliaan. Siapa yang tidak meninggalkan kesalahan, tidak mempergunakannya dengan ketaatan-ketaatan, dan tidak memperoleh kemuliaan, maka dia termasuk orang yang tersesat.”

Keburukan dan dosa yang dilakukan di bulan Rajab, di samping kecamannya lebih besar, ia juga seperti menanam benih keburukan. Dan keburukan hanya akan menumbuhkan keburukan pula. Sebagaimana kaidah “Balasan bagi keburukan adalah keburukan setelahnya.” Di samping itu, kemaksiatan menjadi sebab lemahnya iradah (kemauan) untuk melakukan kebaikan.

Betapa banyak seseorang terhalang melakukan ketaatan dikarenakan maksiat yang dilakukan sebelumnya. Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, “Jika engkau tidak mampu menunaikan shalat di waktu malam dan puasa di siang hari, maka ketahuilah bahwa engkau sebenarnya sedang tertawan oleh dosa-dosamu.”

Adapun Ibrahim bin Adham rahimahullah, beliau pernah didatangi oleh seseorang untuk meminta nasehat agar ia bisa mengerjakan shalat malam. Beliau kemudian berkata kepadanya, “Janganlah engkau bermaksiat kepada Allah Azza Wajála di siang hari, niscaya Allah akan membangunkanmu untuk bermunajat dihadapan-Nya malam hari. Sebab munajatmu di hadapan-Nya di malam hari merupakan kemuliaan yang paling besar, sedangkan orang yang bermaksiat tidak berhak mendapatkan kemuliaan itu.”

Hal serupa dikatakan oleh Hasan al-Bashri, “Tidaklah seseorang itu meninggalkan shalat malam kecuali karena dosa yang dilakukannya. Oleh karena itu, periksalah diri kalian setiap memasuki malam, saat matahari terbenam, kemudian bertaubatlah kepada Rabb kalian, agar kalian bisa menjalankan shalat malam.”

Maka barangsiapa yang ingin menjadikan Ramadhannya bertabur kebaikan dan ringan menjalankan ketaatan hingga merasakan kelezatannya, maka hendaknya meninggalkan maksiat di waktu-waktu sebelumnya.

Selain kita bersihkan Rajab dari kemaksiatan, seperti petani yang membersihkan hama dan gulma di lahan yang akan ditabur benih, maka selayaknay kita memastikan bahwa benih yang kita tanam adalah benih kebaikan. Kita hanya akan memanen apa yang sebelumnya kita tanam. Jika kita mengharapkan bisa memanen buah-buah yang manis, maka tanamlah benih dari buah yang manis dari sekarang, Jika kita ingin memanen kebaikan yang melimpah di bulan Ramadhan, maka tanamlah bibit-bibit kebaikan dari sekarang. 

Belajar dari pengalaman, di antara sebab melemahnya ketaatan di bulan Ramadhan setelah beberapa hari berjalan, itu dikarenakan kurangnya persiapan. Yang tadinya bersantai dan berleha-leha, tetiba langsung menjalani ibadah-ibadah dan amal-amalan yang sejatinya membutuhkan persiapan dan banyak latihan sebelumnya. Puasa, shalat malam dan membaca al-Qur’an akan biasa bagi yang sudah terbiasa, namun bagi yang jarang latihan, tentu akan terasa memberatkan.

Maka jika seseorang merasa berat menjalani jenis ketaatan, bisa jadi karena ia belum menanamnya sebelumnya. Ia seperti orang yang menanam di hari itu, menyirami di hari yang sama dan mengharap langsung tumbuh dan menghasilkan buah-buahan yang dikehendakinya. Orang bijak dahulu mengatakan, “Barangsiapa yang tidak ikut serta menanam benih di hari menyemai benih, maka dia akan menyesal saat musim panen tiba.”

Maka persiapkan lebih dini untuk menyambut Ramadhan, agar terlatih dan ringan menjalani ketaatan saat nanti Ramadhan tiba. Karena inilah tabiat semua jenis ketaatan. Seperti orang yang menjalankan shalat dengan persiapan lebih awal, dia pun akan semakin khusyuk menjalankannya. Berbeda dengan orang yang datang saat iqamah terdengar, ia berlari terengah-engah untuk mendapatkan shaf,  maka situasi hatinya tidak akan tenang. Di samping ia juga kehilangan banyak keutamaan. Maka kuncinya adalah persiapan.

Begitupun Ramadhan, untuk bisa memanen kebaikan di dalamnya juga ada kuncinya, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Rajab al-Hambali, “Bulan Rajab adalah kunci bagi keberhasilan bulan kebaikan dan keberkahan (yakni bulan Ramadhan).”

Semoga Allah mempertemukan kita dengan Bulan Ramadhan dan memberkahi waktu kita dengan amal-amal ketaatan aamiin.

(Redaksi/Majalah risalah hati edisi 7)

By REDAKSI