Faktor Kuat-Lemah Iman

346

بِالْخَشْيَةِ وَالتُّقَى وَمُخَالَفَةِ الْهَوَى وَمُلاَزَمَةِ اْلأَوْلَى

(72) Iman itu satu. Dalam hal pangkal iman, orang-orang yang beriman itu sama. Perbedaan (keutamaan iman) di antara mereka disebabkan oleh perbedaan rasa takut kepada Allah, ketakwaan, (ketahanan) menyelisihi hawa nafsu, dan (kekuatan) menetapi perkara yang utama.

Pernyataan Abu Jakfar ath-Thahawi, “Iman itu satu,” termasuk pernyataan yang—lagi-lagi—diperbincangkan para ulama. Pasalnya, pernyataan ini dapat berkonsekuensi membenarkan pengakuan seseorang bahwa imannya sama dengan iman para nabi atau bahkan iman para malaikat. Tentu saja maksud ath-Thahawi tidak berlebihan atau ghuluw seperti itu.

Ath-Thahawi seperti halnya Imam Abu Hanifah mendefinsikan iman secara bahasa. Sedangkan para ulama yang lain mendefinisikannya secara istilah syar’i, bahwa iman meliputi pembenaran dan keyakinan hati, ucapan lisan, serta amal anggota badan. Ath-Thahawi memaksudkan iman yang satu itu adalah tashdiq, pembenaran/kepercayaan hati. Inilah yang selanjutnya beliau sebut dengan ashlul iman, pangkal iman. Dasar yang dipakai adalah firman Allah,

Related Posts

Oleh karena itulah Rasulullah SAW bersabda, “Ketika seseorang berzina, ia bukanlah seorang mukmin.” Maknanya, pembenarannya yang sejati terhadap keharaman zina sedang hilang; meskipun pangkal kebenaran ada pada dirinya. Setelah ia bertaubat dan beristighfar, pembenarannya pun kembali.

Orang-orang yang beriman, sebagaimana dinyatakan oleh Allah, “apabila ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS. al-A’raf: 201)

Mujahid berkata, “Ini tentang seseorang yang berhasrat untuk berdosa, lalu ia ingat Allah sehingga ia meninggalkannya. Syahwat dan kemurkaan adalah pangkal keburukan. Jika seseorang memandangnya dengan bashirah (mata hati), ia akan kembali.”

Faktor pembeda

Perbedaan tingkat keimanan orang-orang yang beriman disebabkan oleh ketidaksamaan derajat cahaya tauhid—ath-Thahawi mengungkapkannya dengan: rasa takut kepada Allah, ketakwaan, ketahanan menyelisihi hawa nafsu dan kekuatan menetapi perkara yang utama—yang ada di dalam hati mereka yang hanya diketahui oleh Allah. Ada yang cahaya tauhidnya seperti matahari, ada yang seperti cahaya bintang kejora, ada yang seperti obor besar dan ada pula yang seperti cahaya lilin yang redup. Semakin besar cahaya ini semakin mampu pula ia membakar berbagai fitnah syubhat dan syahwat. Seorang yang cahaya tauhidnya besar, langit hatinya dijaga oleh pelontar api dari kejahatan pencuri. Kelak pada hari Kiamat cahaya itu akan berkilau di kanan dan di depan mereka sekadar dengan keberadaannya di dalam hati saat mereka masih di dunia, sekadar dengan ilmu dan amal mereka.

Kita pun tahu bahwa Allah mengaitkan keberuntungan dan kemenangan sejati pada ucapan syahadat yang disertai dengan keikhlasan dan mengamalkan berbagai konsekuensinya.

Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ

Sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka orang yang mengucapkan, ‘Tidak ada ilah yang hak selain Allah,’ dengan hanya mengharapkan wajah Allah.” (Hadits shahih sebagaimana dinyatakan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 1793)

Sebagian ulama menyatakan bahwa hadits-hadits di atas mansukh. Ada pula yang menyatakan bahwa hadits-hadits itu berlaku ketika berbagai syariat belum ditetapkan, atau yang dimaksud dengan masuk surga adalah kelak orang yang mengucapkannya akan masuk surga juga, meskipun harus masuk neraka dulu. Padahal tidak demikian adanya. Rasulullah SAW tidak memaksudkan ucapan itu sebagai ucapan semata tanpa pembuktian. Ini adalah sesuatu yang jelas. Orang-orang munafik yang mengucapkannya dengan lisan mereka, tetapi mereka menjadi penghuni dasar neraka.

Rasulullah SAW juga bersabda,

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَة أعلاها قَوْلُ لاَ إِلَه إِلاَّ الله وَأَدْنَاهَا إِمَاطَة الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ

“Iman itu terdiri dari tujuhpuluh sekian cabang. Yang paling tinggi adalah ucapan ‘Tidak ada ilah yang hak selain Allah’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan rintangan dari jalan.” (Hadits shahih riwayat Muslim dan Ibnu Majah)

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah yang palilng baik akhlaknya.” (Hadits shahih riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban)

Lantaran iman meliputi pokok dan berbagai cabang, dan setiap cabang disebut iman, maka shalat  juga disebut iman, demikian pula zakat, shiyam, haji, dan berbagai amal batin seperti malu, tawakal, takut kepada Allah. Di antara cabang-cabang itu ada yang membuat iman hilang jika ia hilang—seperti cabang dua kalimat syahadat, dan ada pula yang tidak—seperti cabang membuang rintangan dari jalan. Wallahu a’lam.