Islam Akan Menang, Bersama Atau Tanpa Kita

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ

وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Alhamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta Alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, keluarga, shahabat dan orang-orang yang mengikuti sunahnya sampai hari kiamat.

Marilah kita tingkatkan ketakwaan dan kesabaran kita dalam menjalankan perintah dan larangan Syariat. Karena takwa dan sabar adalah kunci kemenangan. Allah berfirman,

“Dan jika kalian bersabar dan bertakwa, makar jahat mereka tidak akan membahayakan kalian.”

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Kabar dari Nabi Ibrahim bahwa kelak agama tauhid akan meruntuhkan kekuasaan Firaun di bawah pimpinan seorang lelaki keturunan Bani Israel, membuat Firaun panik. Firaun pun bertambah represif terhadap Bani Israil. Kepanikan ini membuat Firaun membabi buta dan mengambil keputusan-keputusan liar. Jika agama tauhid akan bangkit di bawah lelaki dari Bani Israel, maka berarti anak lelaki bani Israelah yang harus ditumpas. Tidak pandang bulu, apakah anak tersebut terlihat punya potensi jadi pemimpin atau tidak, asalkan dia keturunan Bani Israel, berarti punya peluang menjadi pemimpin. Tak ayal, pembantian keturunan Bani Israel pun terjadi. Rezim panik Firaun pun memberangus semua yang berpotensi menumbangkan kekuasaannya.

Anak-anak perempuan Bani Israel dibiarkan hidup agar bisa diperbudak dan tidak lagi memiliki keturunan murni. Adapun orang-orang dewasa diperbudak sebagaimana sebelumnya. Pengawasan, penyusupan intelijen dan berbagai macam cara dilakukan demi mengantisipasi ramalan ini. Jangan sampai ada perempuan Bani Israel yang melahirkan diam-diam.

 

إِنَّ فِرۡعَوۡنَ عَلَا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَجَعَلَ أَهۡلَهَا شِيَعٗا يَسۡتَضۡعِفُ طَآئِفَةٗ مِّنۡهُمۡ يُذَبِّحُ أَبۡنَآءَهُمۡ وَيَسۡتَحۡيِۦ نِسَآءَهُمۡۚ إِنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ 

Sesungguhnya Fir´aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir´aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 4)

Firaun benar-benar serius menjalankan program pencegahan bangkitnya agama tauhid. Meski ramalan ini tidak menjelaskan kapan tepatnya, tapi Firaun jelas tidak bisa mengabaikan ramalan seorang Nabi. Dia harus bergerak cepat menangkalnya. Jika agama tauhid tegak, itu akan menjadi akhir bagi kekuasaannya. Bagi Firaun, kekuasaan bangsa Qibty atas Mesir adalah harga mati. Mesir bukanlah milik agama manapun selain agama yang menuhankan dirinya.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Sekeras apapun tekanan yang dilakukan Firaun, seketat apapun antisipasinya atas janji Nabi Ibrahim, Firaun hanyalah manusia yang jalur takdirnya ditentukan oleh Dzat Yang Maha Kuasa. Firaun fokus membantai anak-anak Bani Israel, tapi ternyata, bayi yang paling ditakutkan kehadirannya, justru Allah susupkan ke dalam istananya. Bayi itu justru tumbuh di bawah asuhan isterinya dan bahkan dirinya. Seorang bayi lelaki yang ditemukan di sungai dan diadopsi, yang ternyata adalah keturunan Bani Israel. Dialah Musa, anak angkat Firaun dan permaisurinya.

Nabi Musa adalah keturunan suku lawy dari Bani Israel yang hidup di pinggiran dan terkenal rajin beribadah. Mereka tidak diperbudak karena memang menolak untuk diperbudak. Dan karena kuatnya penghambaan mereka kepada Allah, Allah muliakan mereka dengan mengangkat beberapa keturunan mereka menjadi Nabi.

Saat ditemukan, entah karena kecintaan pada isterinya atau karena ketidaktahuan silsilah bayi tersebut, Firaun membiarkan bayi Musa diadopsi. Dan dari sinilah kehancurannya dimulai. Allah membuat Firuan merintis keruntuhan kuasanya dari rumahnya sendiri.

Lalu, terjadilah apa yang telah terjadi. Musa dewasa akhirnya diangkat menjadi Rasul dan berhasil menumbangkan kekuasaan Firaun. Mengislamkan para penyihirnya dan menenggelamkan kekuasaan, kesombongan dan kezhaliman Firaun, berkat pertolongan dari Allah Ta’ala.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Melihat betapa kerasnya tekanan dan penindasan Firaun atas Bani Israel, tak bisa dibayangkan seperti apa mental Bani Israel kala itu. Bani Israel saat itu seakan telah berputus asa untuk bisa menang dan keluar dari cengkeraman Firaun. Namun bagaimana pun, perkataan Nabi Ibrahim mampu memberikan harapan. Keberanian Musa dalam menghadapi Firaun secara langsung juga menyuntikkan semangat ke dada umat. Islamnya para penyihir Firaun yang kalah tanding melawan Musa menjadi tanda besar bagi kekalahan Firaun dan tentaranya.

Bantuan-bantuan Allah pun turun tak henti-henti guna meruntuhkan hegemoni Firaun. Wabah-wabah besar yang menimpa Firaun dan bala tentaranya, pada dasarnya adalah cara Allah untuk menunjukkan kesalahan Firaun dan kebenaran Nabi Musa. Dan pada akhirnya, kemenangan menjadi milik Bani Israel yang beriman kepada Musa dan mengikuti ajarannya.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Firaun yang dikisahkan dalam al Quran adalah sample dari sekian banyak Firaun lain yang pernah dan akan senantiasa ada di muka bumi. Pemimpin-pemimpin zhalim menuhankan dirinya dan mengesampingkan Allah, Rasul dan ajarannya. Menuhankan kekuasaan dan selalu berusaha menumbangkan Islam dengan beragam cara. Sensitiv pada hal-hal yang berbau Islam dan penegakkan Islam, tapi abai terhadap ancaman selain itu.

Fairaun-Firaun yang  sangat peka dengan embrio-embrio kebangkitan Islam dan berusaha memberangusnya, sebagaimana Firaun Mesir membunuhi bayi bani Israel. Dari arah manapun, dari jalur apapun yang akan ditempuh Islam untuk bangkit, Firaun tidak akan membiarkannya.

Namun, sebagaimana Musa akhirnya lahir dan menghancurkan Firaun, insyaallah, Islam pun pada akhirnya akan bangkit. Seperti apapun cara Firaun memberangus Bani Israel, tidak akan ada yang mampu mencegah kemenangan Islam jika Allah telah berkehendak. Maka, meski di bagian dunia lain Islam dizhalimi, umat Islam diusir bahkan dibunuhi, kita harus tetap percaya dan mendoakan, mereka akan mendapatkan pertolongan. Meski di bagian dunia yang lain lagi, Islam ditekan dan dikekang, kita pun jangan sampai putus asa, insyaallah Allah akan tetap memenangkan Islam pada akhirnya.

Hal yang perlu kita laukan adalah tetap berjuang demi Islam, tetap berdakwah dan membantu dakwah Islam agar terus berkembang. Memberikan kontribusi untuk Islam dengan ragam kemampuan yang kita miliki. Dan kita pastikan, kita berada di barisan para pejuang, meski mungkin tak sempat melihat Islam meraih kejayaan. Jangan sampai kita tertinggal atau bahkan lari karena kita sendiri yang akan rugi. Islam akan tetap menang, bersama atau tanpa kita, tapi kita pasti akan kalah dan binasa tanpa islam. Wallahul musta’an.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ اْلعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُهُ

يَغْفِرْلَكُمْ إِنَِّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

Khutbah Kedua

 

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْن، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا

عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِمَامُ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى

إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 

Oleh: Taufik Anwar

 

Khutbah Sebelumnya: 

Wasapadai Kemunafikan Saat Islam Menghadapi Tekanan

Kekuasaan, Penopang Kebenaran Atau Senjata Kejahatan

Agar Iman Tak Goyah Di Zaman Fitnah

Tanda Akhir Zaman, Aparat Berbuat Sewenang-wenang

Dalam pembahasan ini, dimulai dengan sebuah hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ وَأَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالاَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيَأْتِيَنَّ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءٌ يُقَرِّبُوْنَ شِرَارَ النَّاسِ  وَيُؤَخِّرُونَ الصَّلاَةَ عَنْ مَوَاقِيْتِهَا فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَلاَ يَكُوْنَنَّ عَرِيْفًاوَلاَ شُرْطِيًّا وَلاَ جَابِيًاوَلاَ خَازِناً

Dari Abu Said al Khudri dan Abu Hurairah berkata, “Rasulullah bersabda, “Sungguh akan datang suatu zaman di saat mana para penguasa menjadikan orang-orang jahat sebagai kaki-tangan dan menunda-nunda pelaksanaan shalat dari awal waktunya. Barangsiapa mendapati mereka maka janganlah ia menjadi penasehat, polisi, penarik pajak atau bendahara bagi mereka.” (HR. Ibnu Hibban dinilai shahih oleh Syaikh al Albani).

Hadits ini dikategorikan para ulama sebagai hadits yang memberitakan tanda kiamat shugra. Artinya, fenomena yang diceritakan dalam hadits terjadi sebelum tanda-tanda kiamat kubro muncul. Jadi, jika mengukur dari zaman Nabi SAW, hal mana wafatnya beliau juga merupakan awal mula tanda kiamat kecil, zaman kita masuk dalam rentang waktu kemunculan tanda ini. Dan terbukti, setelah runtuhnya Khilafah Islam, yang ada tinggal para penguasa yang zhalim.

Baca Juga: Negara Gagal

Zhalim dalam arti suka berbuat sewenang-wenang dan menzhalimi rakyat, atau zhalim dalam arti mengabaikan syariat Allah dan sunah Rasul-Nya. Boleh jadi mereka peduli kepada rakyat, menyejahterakan dan memajukan perekonomian rakyat. Namun disamping itu mereka juga melegalkan kemaksiatan; zina, homoseksual, minuman keras dan membuang jauh-jauh syariat Islam. Ini juga penguasa yang zhalim. Yang paling zhalim adalah penguasa yang tidak menegakkan syariat sekaligus menyengsarakan rakyat, korup, tidak amanah dan sewenang-wenang.

Nah, dalam hadits di atas, Nabi SAW menganjurkan agar manakala kita menjumpai penguasa seperti ini, jangan sampai kita menjadi kaki tangannya. Sebab, menjadi kaki-tangan penguasa zhalim berarti ta’awun alal itsmi wal ‘udwan, tolong menolong dalam dosa dan permusuhan. Nabi SAW melarang kita membantu penguasa zhalim, khususnya pada jabatan-jabatan yang Beliau sebutkan. Hanya saja, wallahua’lam, penyebutan ini bukan batasan. Posisi lain yang strategis untuk membantu kekuasaan pemimpin zhalim tentunya juga terlarang.

Barangkali ada yang bertanya, bagaimana jika maksudnya untuk berdakwah dan memperbaiki dari dalam?

Wallahua’lam. Dalam dakwah, strategi apapun asal tidak menyelisihi syar’i dapat digunakan untuk memperbaiki umat. Hanya saja, nilai efektifitas dan resiko perlu dipertimbangkan. Perlu diingat, kekuasaan merupakan sebuah sistem. Seperti sistem komputer, apabila ada ada program-program yang tak sesuai, pasti tak akan bisa dijalankan, salah-salah justru dianggap virus dan dimusnahkan . Kekuasaan zhalim pun demikian, jika ada personal-personal yang tidak sesuai dengan pola sistemnya, pasti akan didepak atau diformat agar sesuai dengan pola yang berlaku.

Kalau jalan itu yang akan dipilih, hendaknya seorang dai membekali dirinya dengan bekal yang cukup. Resikonya terlalu besar. Sudah terlalu banyak para da’i yang mencoba melakukan hal ini, namun pada akhirnya gagal. Ia justru hanyut dalam lingkaran ombak kekuasaan yang dipenuhi nafsu dunia. Pola pikirnya berubah dan tindakannya melenceng dari visi-misi semula. Pilihan yang lebih selamat adalah berusaha memperbaiki dari luar. Memang sulit, tapi bukan berarti tidak bisa. Jalan dakwah dan ishlah yang bersih dan sesuai syar’i memang biasanya tidak mudah.

Nah, kembali ke hadits di atas. Dari beberapa jabatan tersebut, ada satu jabatan yang perlu kita garis bawahi, yaitu jangan sampai menjadi tentara atau polisi mereka. Mengapa hal ini perlu ditekankan? Sebab, faktor utama yang bisa membuat penguasa berbuat zhalim dan sewenang-wenang adalah loyalitas tentaranya. Tanpa mereka, apalah artinya seorang penguasa? Mereka kuat karena tentaranya banyak dan bersenjata. Kalau murni kekuatan sendiri, boleh jadi seorang presiden tak akan menang berduel lawan tukang becak.

Menjadi tentara mereka, selain membantu mereka dalam dosa, kita juga akan terkena hadits berikut;

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ، يَقُولُ:”سَيَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ شَرَطَةٌ، يَغْدُونَ فِي غَضِبِ اللَّهِ، وَيَرُوحُونَ فِي سَخَطِ اللَّهِ، فَإِيَّاكَ أَنْ تَكُونَ مِنْ بِطَانَتِهِمْ”

Dari Abu Umamah berkata, Aku mendegar Rasulullah bersabda, “Akan datang di akhir zaman polisi-polisi yang berangkat pagi-pagi dalam keadaan dimurkai Allah dan pulang sore hari juga dimurkai oleh-Nya, maka janganlah kalian menjadi teman dekat mereka.” (HR. Thabrani dinilai shahih oleh Syaikh al Albani.)

Juga hadits berikut;

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ

 “Dua macam manusia dari ahli neraka yang aku belum melihatnya sekarang, yaitu: (salah satunya) kaum yang membawa cemeti-cemeti seperti ekor-ekor sapi, mereka memukul manusia dengannya; …” (HR Muslim, dan Ahmad dari Abi Hurairah, Shahih).

Di dalam kitab Faidhul Qadir dijelaskan, orang-orang tersebut bukan lain adalah para algojo dan polisi bawahan penguasa yang dikenal sebagai “Jalladin” alias tukang cambuk. Jika mereka disuruh memukul, mereka melakukannya secara berlebihan dari batasan hukuman yang diberlakukan syariat. Mereka juga sering terbawa nafsu saat menghukum. Ditambah sifat bawaan mereka yang zhalim, orang-orang yang terhukum pun sering celaka karena ulah mereka. Ada juga yang berkata bahwa mereka adalah para pengawal penguasa zhalim yang membawa cambuk untuk menghalau manusia. (Faidhul Qadir IV/275).

Baca Juga: Tanda Kiamat, Pengkhianat Diberi Amanat

Nah, itulah nasihat dari Rasulullah SAW. Kita berharap semoga kita bisa melaksanakannya. Dan kalau ada yang merasa sudah terlanjur melanggar pesan Rasulullah SAW di atas dengan menjadi pembantu para penguasa zhalim, lalu bertanya apakah saya harus berhenti? Tentunya pertanyaan itu tak ubahnya orang yang bajunya kena kotoran kemudian bertanya, apakah saya harus ganti baju? Wallahua’lam. (Taufik Anwar/Akhir Zaman)

 

Tema Terkait: Akhir Zaman, Kiamat, Aparat

 

Faktor-Faktor Runtuhnya Sebuah Peradaban

Abdur-Rahman bin Muhammad bin Khaldun al-Hadhramiy (1332-1406) yang lebih dikenal dengan Ibnu Khaldun, salah seorang ahli sejarah dan sosiologi muslim dari Tunisia mengatakan bahwa “Setiap peradaban itu bangkit dan musnah”. Selanjutnya dia memaparkan bahwa kebangkitannya dimulai dengan fanatisme dan semangat untuk menuntut ilmu, setiap peradaban akan sampai pada puncak kejayaannya dan yang menjatuhkannya adalah degradasi moral dan hilangnya semangat menuntut ilmu, sekalipun memiliki kekayaan berlimpah dan tentara yang kuat, akan jatuh juga. Senada dengan itu, Arnold Toynbe sejarawan Inggris (1889-1975) itu menyimpulkan tentang faktor-faktor yang menyebabkan punahnya suatu bangsa. Sebuah bangsa akan eksis ketika berhasil menghadapi tantangan alam dan iklim sehingga peradabannya akan tumbuh, sebaliknya akan punah ketika tantangan yang dihadapi lebih besar dibandingkan kemampuan untuk mengatasinya.

Baca Juga: Negara Gagal 

Dalam studi sejarahnya Toynbe mengkomparasikan berbagai bangsa dengan kemajuan peradabannya dari waktu ke waktu, mulai dari Yunani dan Romawi kuno, suku Maya, imperium-imperium di India dan China, termasuk dinasti- dinasti dalam Islam. Semua mengalami fase kebangkitan, kejayaan, surut dan hancur. Tidak ada yang selamat dari ‘hukum besi sejarah’ tersebut. Secara lebih terinci Ibnu Khaldun menggambarkan siklus tersebut : kelompok pertama adalah generasi yang membangun dinasti dengan penuh perjuangan demi memantapkan sendi-sendi peradabannya, kelompok kedua adalah generasi yang menikmati kestabilan dari pondasi yang diletakkan oleh generasi yang pertama, generasi ketiga adalah yang membawa peradaban dinasti itu mulai merosot dan runtuh, yakni yang mulai mengidap degradasi moral, memperturutkan kesenangan hawa nafsu, menindas rakyat dan mengesampingkan keadilan.

Jika telah mulai masuk fase yang ketiga, maka mau tidak mau, suka tidak suka, peradaban telah memasuki masa senja dan mendekati tenggelamnya. Indikator yang paling kuat dari  fase ‘decline’ (keruntuhan, kehancuran) sebuah peradaban adalah degradasi moral dan hilangnya keadilan. Dua hal tersebut merupakan faktor primer keruntuhan peradaban. Faktor-faktor sekunder seperti merosotnya semangat menuntut ilmu, bekunya kreativitas, cerderung konsumtif dan pudarnya produktivitas, merupakan faktor-faktor sekunder yang mempercepat proses keruntuhan itu.

Kedhaliman Menggantikan Keadilan

Telah kita ketahui bahwa keadilan merupakan poros keseimbangan dan harmoni dalam kehidupan. Selama keadilan tegak di bumi, maka keterbatasan sarana kehidupan yang dihadapi manusia tidak membahayakan, sebab keadilan itu akan mencegah sekelompok masyarakat ‘memakan’ sekelompok yang lain. Tetapi jika keadilan tidak tegak,… “la akala an-nas ba’dluhum ba’dlon (sekelompok manusia pasti akan memakan terhadap sebagian yang lain)”.  Efek kenetiknya akan merambat membentuk mata rantai penghancur peradaban itu ; orang-orang kaya semakin gemar menumpuk harta dengan cara yang dhalim dan tidak mau berbagi dengan orang miskin, orang yang miskin memandang orang kaya dan kekayaan dengan mata menyala disertai sikap iri, dengki dan doa yang buruk, para ahli agama menjadi rusak orientasinya sehingga ilmunya tidak menjadi suluh, akan tetapi menjadi alat untuk meraih harta, kedudukan dan kesenangan sementara.

Adalah merupakan ‘hukum kauniy’ bahwa ketika keadilan melemah pasti kedudukannya diganti dengan menguatnya kedhaliman, semakin surutnya keadilan adalah ‘mekar’-nya kedhaliman. Hingga ketika keadilan hilang, bertahta-lah kedhaliman. Penguasa adalah wasit yang harus adil. Ketidakadilan penguasa dan ketidakhadirannya membela yang didhalimi, sudah cukup membuat rusaknya harmoni dan keseimbangan. Apalagi ketika penguasa justru yang berbuat dhalim, keseimbangan dan harmoni itu akan runtuh. Terlebih ketika perbuatan dhalim itu obyeknya adalah rakyat, orang yang lemah yang tidak mempunyai pembela selain Allah. Nabi bersabda dalam sebuah hadits qudsiy:

قال النبي صلى الله عليه وسلم : يقول الله تعالى: اِشْتَدَّ غَضَبِيْ عَلَى مَنْ ظَلَمَ مَنْ لَا يَجِدْ لَهُ نَاصِراً غَيْرِيْ.

Nabi shallalLahu ‘alayhi wa sallam bersabda, Allah berfirman : “Sangat besar kemurkaan-Ku terhadap orang yang berbuat dhalim kepada pihak yang tidak memiliki penolong selain-Ku” [Imam Ath-Thabraniy].

Degradasi Moral dan Memperturutkan Syahwat

Faktor primer kedua yang membawa peradaban memasuki lembah kehancuran adalah ketika para pemegang kekuasaan sudah mengejar kesenangan hidup, bermoral rendah dan memperturutkan syahwat. Kerendahan tersebut tidak jarang diperagakan secara terang-terangan, diketahui oleh rakyat dan selalu menjadi bahan berita yang diburu awak media. Lebih buruk lagi jika pertunjukan kerendahan moral dari kelas penguasa tersebut disertai rasa bangga pada diri mereka. Akhlaq para pemimpin merupakan ‘model’ yang akan ditiru oleh rakyatnya, jika pemimpin berakhlaq baik maka rakyat mempunyai figur yang bisa dicontoh, namun jika mereka rusak, maka kerusakan itu akan ditiru dengan cepat oleh rakyatnya.

Baca Juga: Hilir Sekularisme Merusak Moral Bangsa 

Hari ini pertunjukan ketidakadilan, degradasi moral dan perburuan syahwat tersebut dilakukan tanpa rasa sungkan, diperparah dengan massif-nya pemberitaan yang jangkauannya mencapai tempat-tempat terpencil di muka bumi. Para awak media yang hidup dari mengorek dan mengulik segala sesuatu dari sumber berita telah dilatih untuk membahas sesuatu ‘in deep’ (secara mendalam), dari mulai gaya busana, kendaraan favorit, makanan hobi, destinasi wisata dan segala halnya tanpa ada yang tersisa dari sorotan. Pertunjukan perburuan kesenangan itu menjadi model dan obyek ‘imitasi’ (peniruan) dari mereka yang memiliki penopang untuk mengejarnya, sementara bagi yang tidak memiliki sarana pendukung untuk mengejar, menjadi simpanan keinginan, dan atau deposit dendam yang sewaktu-waktu bisa meledak. Simpanan dendam itu akan diperagakan orang-orang tertindas tersebut saat terjadi kerusuhan sosial, saat para penguasa itu terjungkal.

Allah telah memperingatkan dengan peringatan sangat keras agar tidak menjadi orang yang ‘dipinjam’ oleh-Nya untuk merealisasika ‘taqdir kauniy’-Nya :

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ.

Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang dhalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.[Ibrahim : 42].

Bukankah ‘awam al-fana’ al-hadloriy (faktor-faktor penyebab keruntuhan peradaban) yang dijelaskan tanda-tandanya oleh Ibnu Khaldun di atas telah di depan mata kita?? (Redaksi/Akhir Zaman/Peradaban

 

Tema Terkait: Pemikiran, Akhir Zaman, Peradaban 

Agar Iman Tak Goyah Di Zaman Fitnah

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Zaman ini adalah zaman fitnah. Zaman yang penuh ujian bagi hati dan pikiran. Ada beragam jenis fitnah siap mengombang-ambingkan manusia dalam kebingungan.

Apa itu fitnah? Fitnah dalam bahasa Arab memiliki makna bala’ dan ujian. Ujian bagi hati dan pikiran. Fitnah bagi hati, wujudnya adalah fenomena-fenomena yang menguji kekuatan iman dan ketakwaan. Saking banyaknya, serasa hampir mustahil bisa mempertahankan iman tetap utuh dari hari ke hari. Pasti akan ada hari di mana iman kita sedikit tergores, tergerus atau bahkan hampir terampas dari hati.

Ambil contoh, fitnah berupa makin mudahnya wanita dan lelaki yang mengumbar aurat. Ibarat memalingkan muka dari aurat di depan mata, mata kita akan tetap terbentur pada aurat lain saat menghadap ke belakang. Beberapa masa yang lalu, yang hidup di pedesaan masih bisa selamat dari hal ini. Tidak seperti orang kota yang menyaksikannya saban hari. Akan tetapi, lihatlah, hari ini orang desa sudah mengikuti orang kota, bukan pekerjaannya, tapi cara mengumbar auratnya.

Fitnah minuman keras. Mendapatkan minuman keras bukanlah hal sulit. Beberapa waktu lalu, minuman keras bahkan disediakan di swalayan-swalayan kecil. Tidak sulit pula mendapatkannya di diskotek, klub malam atau tempat-tempat hiburan lain. Parahnya lagi, tempat-tempat tersebut justru seringkali dilindungi oknum aparat. Akibatnya, saat ada sebagian kaum muslimin yang melakukan amar makruf nahi mungkar justru merekalah yang ditangkap sementara penjual miras dibiarkan bebas.

Belum lagi jika fitnah berupa makin merajalelanya homoseksual, lesbian dan penyakit-penyakit seksual lain yang hari ini justru minta diakui. Maraknya transaksi ribawi yang sangat menggiurkan, mudahnya melakukan penipuan dalam jual beli karena hari ini jual beli dilakukan secara online dan fitnah-fitnah penguji iman yang lain.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Fitnah yang tak kalah berbahaya adalah fitnah yang menguji pikiran. Menguji kecerdasan sekaligus kebijaksanaan kita sebagai muslim. Fitnah yang mengharuskan kita lebih jeli dan teliti sebelum bertindak. Mengapa? Karena jika kita salah dalam bertindak, bukan hanya kita yang bisa terkena akibatnya tapi juga saudara-saudara muslim kita.
Salah satu contoh fitnah ini adalah makin banyaknya penyebaran berita bohong. Orang jaman sekarang menyebutnya hoax. Hoax adalah berita dusta yang disebar melalui berbagai media; facebook atau whatsapp, situs internet dan juga televisi.

Sebagian besarnya adalah berita-berita bohong tapi heboh yang menarik untuk disebarkan dan sebagian lain adalah berita nyata tapi dibesar-besarkan. Hoax dan berita-berita tidak jujur semacam ini berseliweran setiap waktu di handphone, komputer dan media berita lainnya. Hoax berbahaya karena isinya mampu menyesatkan pikiran, memprovokasi tindakan negatif, adu domba atau menjatuhkan nama baik orang lain.

Berita-berita hoak semacam ini menjadikan kita sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kita juga sulit membedakan mana yang jujur dan mana yang dusta. Fenomena ini persis seperti yang disampaikan Nabi Muhammad ribuan tahun silam,

إِنَّهَا سَتَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Sesungguhnya akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya. Para pendusta dipercaya sedangkan orang jujur dianggap berdusta. Penghianat diberi amanah sedangkan orang yang amanat dituduh khianat. Dan pada saat itu, para Ruwaibidhah mulai angkat bicara. Ada yang bertanya, ‘Siapa itu Ruwaibidhah?’ Beliau menjawab, ‘Orang dungu yang berbicara tentang urusan orang banyak (umat).” (HR. Ahmad, Shahih)

Bayangkan, satu berita hoak bisa membuat kita memilih pemimpin yang salah, membenci orang yang baik, memusuhi seorang ulama, ikut-ikutan memfitnah dan membenci kaum muslimin, ikut memihak para penjahat dan membenci pembela kebenaran, merasa khawatir atau takut berlebihan dan lain sebagainya.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Untuk menangkal fitnah pertama yaitu fitnah hati dan iman, hendaknya kita memperbanyak istighfar dan berusaha meningkatkan ketakwaan. Godaan iman yang setiap hari menerjang sangat sulit dihindari. Kita tidak mencari, tapi fitnah itu datang sendiri. Tanpa istighfar dan melakukan amal penambah iman yang lain, iman kita akan seperti tanah di pinggiran sungai yang saban hari dihantam arus deras.

Adapun unutk menangkal fitnah kedua, hendaknya kita renungi nasihat dari Banu Mas’ud berikut:

إِنَّهَا سَتَكُوْنُ أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَات فَعَلَيْكُمْ بِالتُّؤَدَةِ ، فَإنَّكَ أَنْ تَكُوْنَ تَابِعًا فِي الْخَيْرِ، خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَكُوْنَ رَأْسًا فِي الشَّرِّ

“Sesungguhnya akan ada hal-hal syubhat (membuat ragu). Maka, wajib bagi kalian untuk berhati-hati dan tidak terburu-buru dalam bertindak. Sungguh, apabila engkau menjadi pengikut suatu kebaikan, itu lebih baik daripada engkau menjadi pemimpin suatu keburukan.”

Ya, benar. Berhati-hati. Jangan mudah percaya terhadap semua berita yang terlihat heboh. Jangan mudah tersulut oleh berita yang provokatif. Jangan pula mudah teprengaruh oleh berita yang menyudutkan Islam, mendeskreditkan ulama dan tokoh-tokoh umat juga berita-berita yang memojokkan Islam.

Jangan pula mudah menyebarkan berita tanpa mengecek sumbernya. Membagikan berita memang semudah menekan jempol pada handphone, tapi pertanggungjawabannya akan sangat sulit. Kita akan menjadi bagian dari mata rantai penyebaran hoak, dusta, fitnah dan provokasi. Jika ada saudara kita, ulama kita atau umat Islam yang terkena dampak buruk suatu hoak, kita akan turut dimintai pertanggungjawaban.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Oleh karenanya, kehati-hatian adalah jalan paling selamat. Fitnah yang bertebaran hari ini sudah menjadi ketentuan ilahi. Kita tidak bisa mengubahnya. Hal yang bisa kita lakukan adalah berhati-hati. Berhati-hati menjaga iman, berhati-hati menjaga sikap, berhati-hati menjaga lisan dan berhati-hati menjaga jemari. Semoga dengan begitu, kita bisa selamat dari fitnah.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ اْلعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُهُ يَغْفِرْلَكُمْ إِنَِّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْن، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِمَامُ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Masjid Akhir Zaman, Isi Tak Seindah Bangunan

Biasanya, pasca Ramadhan dan Iedul Fithri, masjid-masjid banyak yang panen donasi. Ramadhan dan Iedul Fithri merupakan stimulan kuat yang mendorong orang untuk bersedekah. Dan masjid menjadi pilihan yang mudah dan dekat sebagai tempat menyalurkan dana. Apalagi jika di sekeliling masjid tersebut banyak perantau yang mudik. Biasanya mereka tidak akan eman untuk menggelontorkan dana.

Lebih dari itu, tidak sedikit yang berpresepsi, sedekah untuk sesuatu yang awet seperti bangunan masjid lebih utama daripada untuk operasional yang sekali habis, semisal bantuan sembako fakir miskin. Nilainya lebih menjanjikan karena bersifat investasi atau amal jariyah (amal yang pahalanya selalu mengalir). Sedang sedekah untuk operasional, sifatnya sangat temporer karena sekali habis. Meskipun bisa jadi persepsi itu tak sepenuhnya benar, tapi untung tak dapat ditolak,  masjid pun kebanjiran dana.

 

Pengelolaan dana yang tidak inovatif

Semangat umat untuk mencurahkan dana seperti ini patut disyukuri dan perlu dilestarikan. Sayangnya, kadangkala semangat ini tidak diimbangi dengan pengelolaan yang baik oleh para takmir masjid. Ada sebuah fenomena yang patut disayangkan ketika takmir masjid seakan tak memiliki program lain terkait dana milik masjid selain untuk pembangunan.

Pada taraf wajar dimana masjid memang sedang butuh ‘perawatan tubuh’ karena konstruksi yang sudah rapuh, kamar mandi yang tak layak, atau kapasitas yang tidak lagi memadai dan kebutuhan mendasar lain, alokasi itu memang merupakan keharusan. Kenyamanan tempat ibadah dapat membantu meningkatkan kualitas ibadah para jamaah, juga kuantitasnya.

Namun, ada yang mengalokasikan dana tersebut hanya untuk mempercantik ‘penampakan’ masjid. Mengeramik dinding masjid hingga penuh, menambah lukisan-lukisan timbul nan mahal dari logam maupun ornamen dari seorang seniman terkenal, tentunya dengan biaya yang mahal pula. Atau menambah lampu-lampu kristal berharga jutaan, mimbar-mimbar megah, hingga menara-menara yang jumlahnya lebih dari satu. Padahal hanya satu menara yang benar-benar memiliki fungsi nyata, sebagai tempat dipasangnya pengeras suara. Akibatnya, setiap tahun masjid pasti direnovasi untuk dipercantik.

Fenomena semacam ini patut dikritisi. Pengalokasian dana untuk hal-hal seperti itu tidak berorientasi pada fungsi tapi hanya sekadar penambahan aksesoris. Persoalannya bukan masalah hukum boleh atau tidak boleh, tapi lebih pada optimaliasasi penggunaan dana umat agar diberdayakan untuk sesuatu yang benar-benar bermanfaat.

Jika memang masjid sudah memenuhi standar kelayakan dan kenyamanan sebagai tempat ibadah, tentunya yang dibutuhkan tinggal perawatan. Limpahan dana lain secara penuh dapat disokongkan untuk proyek-proyek yang bisa meningkatkan kualitas iman dan Islam jamaah masjid. Misalnya pendanaan kegiatan dakwah, perpustakaan masjid dengan pengelolaan maksimal, madrasah diniyah dan program kreatif lainnya. Bahkan kalau perlu, dana tersebut bisa juga digunakan untuk membantu masyarakat disekitar masjid. Jangan sampai masjidnya megah menjulang ke angkasa, tapi kaum muslimin di sekitarnya miskin dan hidup nelangsa. Bukankah saat umat berinfak di masjid, tidak semuanya meniatkan untuk pembangunan dan tidak boleh untuk yang lain?

Kualitas iman dan Islam masyarakat di sekitar masjid jauh lebih  penting untuk diberi perhatian ketimbang bangunan masjid. Jika dilupakan, yang akan terjadi adalah fenomena akhir zaman yang tercela; masjid megah tapi kosong karena muslim disekitarnya pada ogah shalat jamaah. Tiang dan menaranya menjulang angkuh, tapi satu shaf paling depan saja tidak penuh. Padahal aktivitas utama sebuah masjid adalah shalat jamaah. Jika shalat wajib sepi, masjid hanya akan difungsikan seminggu sekali, persis seperti orang gereja Nasrani.

Nabi saw bersabda,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَبَاهَى النَّاسُ فِى الْمَسَاجِدِ

 

“Hari Kiamat tidak akan terjadi sampai manusia bermegah-megahan dalam membangun masjid.” (HR. Abu Daud, an Nasa’I dan Ibnu Majah).

Dari Ibnu Abbas berkata, Rasulullah saw  bersabda,

 مَا أُمِرْتُ بِتَشْيِيدِ الْمَسَاجِدِ . قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لَتُزَخْرِفُنَّهَا كَمَا زَخْرَفَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى.

 

 

“Aku tidak diperintahkan untuk meninggikan bangunan masjid.” Ibnu Abbas berkata, “Sungguh kalian akan menghiasi masjid-masjid sebagaimana orang-orang Yahudi dan Nasrani menghiasai tempat ibadah mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Imam al Khattabi berkata, “ Orang-orang Yahudi dan Nashrani mulai memperindah gereja dan biaranya tatkala mereka telah mengubah dan mengganti kitab mereka. Maka mereka menyia-nyiakan agama dan berhenti hanya sebatas memperindah dan menghiasi tempat ibadah.” (Di Nukil oleh al Aini dalam Umdatul Qari Syarh Shahihil Bukhari VII/41).

 

Takmir adalah penyemarak

Lebih parah lagi, ada sebagian orang yang diamanahi menjadi takmir atau pemakmur dan pengelola masjid, tapi sering absen saat shalat jamaah. Datang ke masjid hanya untuk menjalankan tugas ketakmirannya saja; membersihkan masjid jika bagian kebersihan, merekap dana jika bendahara atau sekedar ikut rapat ketakmiran jika sebagai penanggungjawab misalnya. Memang benar, itu juga tugas mulia. Tapi tentunya tidak lebih mulia daripada shalat berjamaah lima waktu di masjidnya.

Satu lagi yang perlu dicatat. Apabila ada pemimpin negeri Arab atau negeri manapun yang bermegah-megahan dalam membangun masjid, hal itu tetap tidak bisa dijadikan pembenaran. Karena mereka bukanlah manusia yang dikecualikan dari peringatan Rasulullah di atas. Mereka juga umat akhir zaman, yang kedudukannya tak jauh beda dengan kita.

Oleh karenanya, marilah kita renungkan kembali semua ini. Cukuplah masjid kita memiliki fasilitas standar tanpa perlu ditaburi  kemewahan. Hal itu justru bisa membuat ibadah lebih khusyu’ karena tidak ada hiasan yang mencuri perhatian. Dana umat hendaknya dikelola dengan baik untuk mendorong peningkatan kualitas iman, bukan sekedar memperindah bangunan. Dengan begitu, semoga kita tidak termasuk yang dicela dalam hadits di atas hingga menjadi pertanda buruk akhir zaman. Wallahua’lam bish shawab. (T. anwar)