Kisah-kisah Menggugah dalam Menjalankan Sunnah

Para salaf tak hanya antusias dalam mencari ilmu. Semangat mereka dalam mengamalkan ilmu setara dengan mujahadah mereka dalam mencarinya. Karena mereka paham bahwa maksud dicarinya ilmu adalah untuk diamalkan.

Tak hanya dalam hal yang wajib, perkara sunnah yang telah mereka ketahui tak sedikitpun mereka remehkan, Jika para sahabat bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang kebaikan, itu karena mereka ingin mengamalkan, bukan sekedar tambahan wacana atau bahan diskusi seperti yang umum terjadi hari ini. Dan jika mereka bertanya tentang keburukan, itu dalam rangka agar mereka terhindar darinya.

Tidak mengherankan, karena mereka adalah orang-orang yang sangat bersemangat kepada kebaikan. Hal ini pula yang telah memberi pengaruh kepada orang-orang yang datang setelah mereka dari kalangan salaf dan generasi utama. Sejarah telah mencatat untuk kita contoh-contoh yang menggugah jiwa untuk meniti jalan sunnah dari mereka yang mengikuti generasi sebelumnya dalam hal komitmen mereka terhadap sunnah.

Baca Juga: Sabar dan Shalat, Kunci dari Segala Maslahat

Imam Ahmad rahimahullah mendokumentasikan lebih dari 40.000 hadits dalam kitabnya ‘al Musnad’, Bukan sekedar dokumentasi, beiau juga mengamalkan apa yang beliau tulis di dalamnya. Beliau berkata, “Tidaklah aku menukil sebuah hadits melainkan aku telah mengamalkannya.” Tatkala beliau meriwayatkan hadits, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah dibekam dan memberi Abu Thibah (orang yang membekam Nabi) dengan upah satu dinar, Imam Ahmad berkata, “Aku dibekam, lalu aku beri orang yang telah membekamku dengan uang satu dinar.” Satu dinar sama dengan 4,25 gram emas. Beliau rela mengeluarkan satu dinar demi menjalankan apa yang dijalankan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam, meski kadar tersebut bujan merupakan satu keharusan.

Generasi terbaik di kalangan sahabat adalah teladan dalam hal ittiba’m mengikuti ilmu yang telah diketahui. Seperti Ummul Mukminin Ummu Habibah yang berkata, “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

 

مَنْ صَلَّى اثْنَتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِىَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ

Barangsiapa yang mengerjakan dua belas raka’at shalat sunnah rawatib sehari semalam, maka akan dibangunkan baginya suatu rumah di jannah.” (HR Muslim)

Imam Muslim juga meriwayatkan bahwa Ummu Habibah mengatakan: “aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku mendengar hadits ini dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam”. ‘Anbasah yang meriwayatkan hadits ini juga berkata, “Aku juga tidak pernah meninggalkannya sejak aku mendengar hadits ini dari Ummu Habibah.” Begitupun dengan An-Nu’man yang mendengar dari Anbasah, “Aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku mendengar hadits ini dari ‘Anbasah.”

Tak hanya di waktu aman dan longgar, para salaf komitmen mengamalkan ilmu yang diketahui dalam segala kondisi. Seperti yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu bahwa Fathimah radhiyallahu anha datang kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam untuk meminta seorang pembantu. Lalu Nabi bersabda:

 

 أَلاَ أُخْبِرُكِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكِ مِنْهُ, تُسَبِّحِينَ اللَّهَ عِنْدَ مَنَامِكِ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ وَتَحْمَدِينَ اللَّهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ وَتُكَبِّرِينَ اللَّهَ أَرْبَعًا وَثَلاَثِينَ

wahai Fathimah, maukah aku sampaikan kepadamu suatu hal yang lebih baik dari hal itu? Bertasbihlah ketika hendak tidur 33x, bertahmidlah 33x, bertakbirlah 34x”.

Ali bin Abi Thalib mengatakanm “Aku tidak pernah meninggalkan amalan ini semenjak aku mendengarnya.” Ketika ada yang bertanya, ”Bagaimana ketika hari-hari peristiwa Shiffin?” Beliau menjawab, “Begitupun juga di hari-hari peristiwa Shiffin, aku tidak meninggalkannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Mereka juga menyesal jiak meninggalkan keutamaan meski ilmunya baru diketahui belakangan. Seperti sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu pernah melakukan shalat jenazah lalu pergi dan tidak ikut mengantarkan ke kuburnya. Tatkala sampai kepada beliau riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, beliau menyesal karena telah melewatkan keutamaan.

Baca Juga: Tetap Takwa Saat Jodoh Tak Kunjung Tiba

Dari Amir bin Sa’ad bin Abi Waqqash, ia sedang duduk di sisi Abdullah bin Umar. Datanglah Khabbab dan berkata, “Wahai Abdullah bin Umar, tidakkah engkau mendengar perkataan Abu Hurairah? Ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menuju  jenazah dari rumahnya, kemudian menshalatkannya, lalu mengantarkannya sampai dikebumikan, maka pahala baginya adalah dua qirath, setiap qirath besarnya seperti gunung Uhud. Adapun orang yang menshalatkannya lalu pulang, maka ia hanya mendapat pahala seperti satu gunung Uhud.” Ibnu Umar mengutus Khabbab agar menemui Aisyah untuk bertanya kepadanya perihal perkataan Abu Hurairah tersebut, lalu ia kembali kepadanya membawa kabar dari Aisyah. Ibnu Umar mengambil satu genggam tanah masjid dan membolak-balikkannya di tangannya (seperti gelisah menunggu jawaban-pen), hingga datang Plah Khabab dan berkata, “Aisyah berkata, “Abu Hurairah benar.” Seketika itu Ibnu Umar membanting tanah yang ada di tangannya, lalu berkata, “Sungguh kita telah melewatkan banyak  qirath pahala.” (HR Bukhari)

Imam an-Nawawi rahimahullah  memberikan komentar dalam al-Minhaj, “Kisah ini menjadi gambaran semangat para sahabat dalam ketaatan saat mereka mengetahuinya, dan merasa menyesal jika mereka terlewat darinya, walaupun karena sebelumnya mereka tidak mengetahui besarnya keutamaan amal tersebut.

Semoga Allah tunjukkan kita ilmu yang benar dan taufik untuk mengamalkannya, aamiin.

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Motivasi

Taubatnya Si Lelaki Tua

Suatu kali, Umar keluar dari rumahnya bersama Abdullah bin Mas’ud. Tiba-tiba beliau melihat cahaya api. Beliau mendekati arah api itu hingga memasuki suatu kampung. Ternyata, cahaya itu bersumber dari sebuah rumah. Ia mendatangi tempat itu dan ia mendapati ada lelaki tua sedang minum khamer dan di sebelahnya ada wanita penyanyi. Ia tidak sadar sampai Umar menghardiknya. Umar berkata, “Aku tidak melihat malam hari ini pemandangan yang lebih buruk dari seorang lelaki tua yang sedang menunggu saat kematiannya.”

Lelaki tua itu mengangkat kepalanya dan berkata, “Wahai Aminul Mukminin, sesungguhnya apa yang engkau lakukan terhadapku lebih buruk lagi. Karena engkau melakukan tajassus (menyelidiki/memata-matai kesalahan orang lain), padahal tajassus itu dilarang. Dan engkau masuk ke dalam rumahku juga tanpa ijin. “Benar apa yang kau katakan, ” kata Umar.

Baca Juga: Janda empat Syuhada’

Kemudian Umar keluar sambil menangis dan mengusapnya dengan bajunya, lalu bergumam, “Wahai Umar, celakalah dirimu, jika Rabbmu tidak memberi ampun kepadamu.”

Lelaki tua itu tidak hadir di majelis Umar untuk sementara waktu. Sampai pada suatu kali, ketika Umar duduk di antara kawan-kawannya, ia melihat lelaki tua itu menyembunyikan dirinya di ujung majelis.

“Panggillah kemari lelaki tua itu,” kata Umar. Lelaki tua itu mendatangi Umar dengan perasaan takut karena mengira Umar akan menghukum karena telah melihatnya bersalah. Lelaki itu dipersilahkan mendekat di sisi Umar, kemudian Umar membisiki telinganya, “Demi Yang mengutus Muhammad dengan benar, aku tidak memberitahu kepada siapapun tentang perbuatanmu yang aku lihat, meskipun kepada Ibnu Mas’ud yang datang bersamaku pada waktu itu.”

Gantian lelaki tua mendekatkan mulutnya ke telinga Umar dan berbisik, “Wahai Amirul Mukminin, demi yang mengutus Muhammad dengan benar, sejak kedatanganmu kepadaku waktu itu, aku tidak mengulangi lagi kesalahanku.”

Maka Umar mengucapkan kalimat takbir dengan keras, sehingga membuat orang-orang yang berada di majelis itu terkejut, tetapi mereka tidak mengetahui apa yang menyebabkan Umat bertakbir. (Redaksi/Kisah/Salaf

 

Tema Terkait: Kisah Islami, Salafus Shalih, Umar RA

 

Yang Paling Durhaka dan Paling Berbakti

Al-Ashma’I berkata, “Ada seorang Arab dusun bercerita kepadaku, “Suatu kali saya keluar dari kampungku untuk mencari orang yang paling durhaka kepada orangtuanya dan orang yang paling berbakti kepada orangtuanya. Maka saya berkeliling dari kampung ke kampung. Hingga saya mendapatkan seorang yang sudah tua, di lehernya ada kalung tali yang digantungi ember besar berisi air sangat panas. Di belakang orang tua itu ada seorang pemuda yang tangannya mencambuk oorangtua itu. Punggung orangtua itu babak belur karena cambukannya.

Akupun berkata, “Tidakkah kamu takut kepada Allah dalam memperlakukan orangua yang lemah ini? Tidakkah cukup bagimu membebaninya dengan tali di lehernya, mengapa kamu masih pula mencambuknya? Dia berkata, “(biarkan Saja), meskipun ini ayahku sendiri.” Aku berkata, “Allah tidak akan membalasmu dengan kebaikan!.” Dia berkata, “Diam! Beginilah dia dahulu telah memperlakukan ayahnya, dan begini pula ayahnya dahulu memperlakukan kakeknya.” Saya berkata,”Inilah orang yang paling durhaka.”

Kemudian aku berkeliling lagi, hingga bertemu dengan seorang pemuda yang mengalungkan keranjang di lehernya. Di dalam keranjang itu ada orang yang sudah tua, keadaannya lemah seperti bayi. Pemuda itu menggendongnya dengan kedua tangannya setiap saat, dia juga mencebokinya seperti seorang menceboki anaknya. Lalu saya berkata, “Ada apa ini?” pemuda itu menjawab, “Ini adalah ayahku, beliau telah pikun, dan saya yang merawatnya.” Maka saya katakan, inilah orang yang paling berbakti.” Akupun kembali dan telah bertemu dengan orang yang paling durhaka dan kemudian orang yang paling berbakti.”

(Majalah ar-risalah edisi 104, 2010)