Berikan Hak-Hak Tetangga

Dalam kehidupan sosial, kita tak akan lepas dari peran dan fungsi tetangga. Ketika tertimpa musibah atau kesempitan, besar kemungkinan pertolongan pertama datang dari mereka. Karenanya, ada satu kaidah yang sering kita dengar ketika hendak membeli atau menyewa rumah, “Perhatikan tetangganya (lingkungannya) sebelum bangunan fisik rumahnya.” Tetangga sebagai komponen masyarakat terdekat juga memberikan pengaruh besar pada keluarga kita. Tetangga yang baik akan memberikan efek positif bagi keluarga kita demikian pula sebaliknya.

Seorang muslim meyakini tetangga mempunyai hak atas dirinya. Ada etika yang harus dilaksanakan seseorang terhadap tetangganya. Allah berfirman,

“Dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh.” (QS. An-Nisa: 36).

Rasulullah juga bersabda, “Jibril tidak henti-hentinya berwasiat kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga, hingga aku beranggapan bahwa ia akan mewarisi.” (Mutafaqun alaih).

Berikut hak-hak tetangga yang perlu diperhatikan,

 

1.Keamanan

Rasulullah bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْأَخِرِفَلَا يُؤْذِي جَارَهُ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir jangan menyakiti tetangganya.” (HR. Mutafaqun alaih).

Suatu ketika Rasulullah juga bersabda, “Demi Allah, tidak beriman.” Shahabat pun bertanya, “Siapakah orang yang tidak beriman ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

2.Pertolongan dan bantuan

Tetangga memiliki hak untuk mendapatkan pertolongan dan bantuan. Ketika tetangga sakit, kewajiban kita menjenguknya, mengantarkannya ke rumah sakit ketika diperlukan atau membantunya membelikan obat. Ketika tetangga kita tertimpa musibah, kewajiban kita untuk menghibur dan membantunya semampu kita. Tetangga yang baik hendaknya mengetahui kondisi tetangganya, sehingga ia akan membantu tanpa diminta. Sebab terkadang ada tetangga yang menjaga izahnya sehingga berat ketika meminta bantuan tetangganya.

Selain itu, tetangga harus peka terhadap segala sesuatu yang tidak menyenangkan tetangganya, baik perkataan maupun perbuatan.

 

3.Mendapat kebaikan

Rasulullah bersabda:

يَا نِسَاءِ الْمُسْلِمَاتِ لَا تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْفِرْسِنَ شَاةٍ

“Hai wanita-wanita muslimah, janganlah seorang tetangga meremehkan tetangganya yang lain kendati hanya dengan ujung kuku kambing.” (HR. Bukhari).

Rasulullah pernah berpesan kepada Abu Dzar, “Hai Abu Dzar, jika kamu memasak kuah, perbanyaklah airnya kemudian berikan kepada tetanggamu.” (HR. Bukhari).

Dalam mendapatkan kebaikan ini, tetangga terdekatlah yang semestinya didahulukan, sebagaimana jawaban Rasulullah ketika ditanya oleh ibunda Aisyah, istri beliau, “Aku mempunyai dua tetangga, manakah yang berhak aku berihadiah?”  Beliau menjawab, “kepada orang yang pintu rumahnya lebih dekat denganmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

4.Hormat

Tetangga memiliki hak untuk dihormati dan dihargai. Rasulullah bersabda,

“Janganlah salah seorang dari kalian melarang tetangganya meletakkan kayu di dinding rumahnya.” (Mutafaqun ‘alaih).

Tetangga cermin kita

Seorang muslim mengenal dirinya dari tetangganya. Abdullah bin Mas’ud pernah bertanya kepada Rasulullah, “Bagaimana saya dapat mengetahui bahwa saya telah berbuat baik atau buruk? Rasulullah bersabda, “Apabila engkau mendengar tetanggamu berkata bahwa engkau telah berbuat baik maka engkau memang telah berbuat baik. Jika engkau mendengar mereka berkata bahwa engkau berbuat salah maka engkau memang telah berbuat salah.” (HR. al-Hakim)

Tetangga yang baik adalah anugerah

Tetangga yang baik memberikan kesejukan pandangan, ketenangan dan keamanan.

“Di antara kebahagiaan seorang muslim di dunia adalah tetangga yang baik, rumah yang luas dan kendaraan yang menyenangkan.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim)

Dikisahkan bahwa tetangga Sa’id bin Al-‘Ash ditawar rumahnya dengan harga 100.000 dirham. Kemudian tetangga itu berucap kepada penawar, “Itu harga rumah, lalu berapa engkau akan membeli hidup bertetangga dengan Sa’id?” Ketika mengetahui peristiwa itu, Sa’id mengirim harga yang sama dan menyuruh tetap menempati rumahnya tersebut. Sungguh memiliki tetangga yang baik merupakan nikmat yang tidak ternilai harganya di dunia dan tidak dapat digantikan oleh apa pun.
Ketika tetangga buruk perangainya

Tetangga yang buruk adalah ujian. Seseorang datang kepada Rasulullah mengeluhkan sikap tetangganya kemudian beliau bersabda, “sabarlah.” Empat kali Rasulullah menasihatkan yang sama, hingga kemudian ia bersabda, “Buanglah barangmu di jalan.” Orang tersebut pun membuang barangnya di jalan. Akibatnya orang-orang berjalan melewatinya bertanya, “apa yang terjadi denganmu?” orang tersebut berkata, “Tetanggaku menyakitiku.” Orang-orang pun menyayangkan sikap tetangga yang dimaksud oleh orang tersebut. Kemudian tetangga yang dimaksud datang dan berkata, “Kembalikan barangmu ke rumah. Demi Allah aku tidak akan mengulangi perbuatanku.” (HR. Ahmad).

Selain itu, tetangga juga memiliki hak sebagaimana muslim kepada muslim yang lain. Rasulullah bersabda, “Hak seorang muslim atas muslim yang lain ada lima; menjawab salamnya, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, memenuhi undangan, dan mendoakan orang yang bersin.” (Mutafazun alaih). Tetangga juga lebih layak untuk kita nasihati dan ingatkan ketika mereka melakukan kemaksiatan. Wallahu a’lam.  

 

 

 

 

Memilih Tetangga Sebelum Membeli Rumah

Al jaar qobla ad daar

Allahumma inni a’udzubika min jaaris suu’

Memilih tetangga sebelum membeli rumah. Ungkapan arab ini bermakna agar kita memilih lingkungan yang baik sebelum kita memutuskan membeli sebuah rumah di lokasi tertentu. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pun telah memberikan arahan kepada kita dan keluarga kita, bila menghendaki kebahagiaan maka carilah tetangga yang baik.

Imam Ibnu Hibban dalam shahihnya meriwayatkan sebuah Hadits shahih, Rasul bersabda, “empat hal dari kehabagiaan..” salah satunya adalah tetangga yang shaleh, dan sebaliknya Rasul bersabda, “empat hal termasuk kesengsaraan.” Salah satunya adalah tetangga yang buruk.

Tak hanya berhenti dengan usaha secara dzahir saja yang diajarkan Nabi dalam memilih tetangga, bahkan secara maknawi, yaitu dengan berdoa kepada Allah supaya dihindarkan dari tetangga yang buruk.

Imam Nasai meriwayatkan hadits dengan sanadnya yang sampai kepada sahabat Abu Hurairah radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ جَارِ السَّوْءِ فِي دَارِ الْمُقَامِ فَإِنَّ جَارَ الْبَادِيَةِ يَتَحَوَّلُ عَنْكَ

“Berlindunglah kepada Allah dari tetangga jahat yang menetap, sebab tetangga yang nomaden (badui) akan menjauh darimu.” (HR. Nasai, hasan shahih, takhrij Al Albani)

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mengajarkan kepada kita lafadz doanya, beliau bersabda

اللَّهُمَّ إنِّي أّعُوذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوءِ، وَمِنْ زَوْجٍ تُشَيِّبُنِي قَبْلَ المَشِيبِ، وَمِنْ وَلَدٍ يَكُونُ عَليَّ رَبّاً، وَمِنْ مَالٍ يَكُونُ عَلَيَّ عَذَابَاً، وَمِنْ خَلِيْلٍ مَاكِرٍ عَيْنُهُ تَرَانِي، وَقَلْبُهُ يَرْعَانِي؛ إِنْ رَأَى حَسَنَةً دَفَنَهَا، وَإِذَا رَأَى سَيِّئَةً أَذَاعَهَا

Ya Allah, Aku memohon perlindungan kepaMu dari tetangga yang buruk, dari pasangan yang cepat menumbuhkan uban, dari keturunan yang menguasai dan dari harta yang menyebabkan adzab serta teman yang membuat makar, matanya selalu mengawasi dan hatinya (meneropong) penuh kebencian, jika ada kebaikan ditutupinya, jika melihat keburukan disebarnya.” (HR. Thabrani, di hasankan Al Albani)

Dilihat dari makna bahasa tetangga atau Jaarun, maknanya adalah almujawiru, berdamping dan berdekatan yang mendampingimu dan mendekatimu. Secara bahasa, berarti suami dan istri adalah tetangga yang tidak terpisahkan, karena suami dan istri saling mendekati dan menyertai, begitu juga dengan anak. Dan yang terpisah (dengan dinding bangunan rumah) diantaranya; kerabat, tentangga atau teman dekat.

Berbuat buruk tentunya tidak diperbolehkan kepada siapa saja, bahkan diharamkan dalam Islam. Terhadap hewan sembelihan saja kita dilarang untuk menyakitinya atau dilarang tidak membuatnya nyaman ketika hendak disembelih. Terlebih terhadap orang yang selalu mendampingi, menyertai dan dekat dengan kita, tentunya lebih tidak boleh kita menyakitinya dan berbuat buruk kepada mereka.

Doa dalam Hadits ini juga menganjurkan kepada kita untuk menjadi tetangga yang baik, karena menjadi tetangga yang baik adalah ciri mukmin yang sempurna imannya, dan sebaliknya menjadi tetangga yang buruk adalah muslim yang tidak sempurna imannya. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda lebih jelas akan hal ini dengan sabdanya :

وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ قَالُوا وَمَا ذَاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْجَارُ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا بَوَائِقُهُ قَالَ شَرُّهُ

“Demi Allah tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman, ” Para Sahabat bertanya; “Apa itu wahai Rasulullah?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Yaitu seseorang yang tetangganya tidak bisa aman dari bawa`iqnya”, mereka bertanya, “Wahai Rasulullah apa itu bawa`iqnya?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Kejelekannya.” (HR. Ahmad)

BACA JUGA:  Membangun Rumah di Jannah

Jika kita beriman kepada Allah dan Rasulnya maka yang harus kita lakukan adalah menghormati tetangga, diantaranya adalah dengan; berkata kata yang baik terhadap mereka dan tidak menyakitinya. Bila berkata yang baik saja tidak bisa maka lebih baik kita diam. Memberikan sebagian masakan yang kita masak, menghilangkan gangguan yang ada pada jalan tetangga kita, dan yang semisalnya. Termasuk perbuatan buruk yang harus kita hindari adalah; menipu dan mendzolimnya, serta mengambil haknya secara batil.

dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata; Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; Bagaimana aku mengetahui bahwa aku telah berbuat baik atau buruk? Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika engkau mendengar tetanggamu mengatakan engkau telah berbuat baik berarti engkau telah berbuat baik dan jika engkau mendengar mereka mengatakan engkau telah berbuat buruk berarti engkau telah berbuat buruk.” (HR. Ahmad)

Namun bagaimana bila kita sudah berusaha untuk menjadi tetangga yang baik namun kita mendapati tetangga kita berbuat buruk kepada kita, maka sabar dan mencoba untuk menasehatinya adalah langkah awal, kemudian kita berdoa dengan doa yang diajarkan Rasulullah supaya mendapat tetangga yang baik dan dijauhkan dari tetangga yang buruk, in syaallah dengan doa ini semoga bisa merubah para tetangga kita yang kurang baik, bahkan sebelumnya kita berusaha dan berdoa agar kita dijadikan oleh Allah sebagai orang yang memiliki perangai yang baik terhdap tetangga kita sehingga kita menjadi orang mukmin yang sempurna imannya.