Agar Nabi Mendoakanmu

Siapa yang tak ingin didoakan secara langsung oleh rasulullah ﷺ!? Tentunya semua orang beriman ingin dan sangat berharap bisa didoakan Nabi ﷺ. Namun kiranya hal itu tidak bisa terjadi karena rasulullah telah meninggalkan kita jauh-jauh hari. Meski demikian, dalam banyak sabdanya, beliau mendoakan umatnya; dengan rahmat, ampunan ataupun keberkahan kepada orang-orang yang mengamalkan ibadah-ibadah berikut:

Nabi ﷺ memohonkan ampunan, rahmat atau keberkahan untuk orang-orang yang berbuat amal shalih berikut.

Beberapa amalan tersebut adalah:

  1. Shalat Qabliyah Asar 4 Rekaat

رحِم اللهُ امرأً صلَّى قبْلَ العصرِ أربعًا). رواه الترمذي (430) وأبو داود (1271)

“Semoga Allah merahmati orang yang shalat sebelum ashar empat rekaat”  (HR. Tirmidzi, Abu Dawud)

 

  1. Imam dan Muadzin

(الْإِمَامُ ضَامِنٌ ، وَالْمُؤَذِّنُ مُؤْتَمَنٌ ، اللَّهُمَّ أَرْشِدْ الْأَئِمَّةَ ، وَاغْفِرْ لِلْمُؤَذِّنِينَ). رواه أبو داود

“Imam adalah penjamin, dan muadzin adalah orang yang dipercaya, Ya Allah berilah petunjuk bagi imam dan berikan ampunan bagi muadzin” (HR. Abu Dawud)

 

  1. Berhaji

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْحَاجِّ وَلِمَنِ اسْتَغْفَرَ لَهُ الْحَاجُّ .

“Ya Allah ampunilah orang yang berhaji dan orang yang dimohonkan ampunan olehnya” (HR. Thabrani)

 

  1. Pasutri yang Saling Membangunkan untuk Shalat Malam

رحمَ اللَّهُ رجلًا قامَ منَ اللَّيلِ فصلَّى، ثمَّ أيقظَ امرأتَهُ فصلَّت، فإن أبَت نضحَ في وجهِها الماءَ، ورحمَ اللَّهُ امرأةً قامَت منَ اللَّيلِ فصلَّت ، ثمَّ أيقَظَت زوجَها فصلَّى، فإن أبى نضحَت في وجهِهِ الماءَ). رواه أبو داود

“Semoga Allah merahmati seorang lelaki yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan istrinya lalu si istri mengerjakan shalat. Bila istrinya enggan untuk bangun, ia percikkan air di wajah istrinya. Semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan suami lalu si suami mengerjakan shalat. Bila suaminya enggan untuk bangun, ia percikkan air di wajah suaminya.” (HR. Abu Dawud)

 

  1. Bermudah dalam Menjual, Membeli dan Menuntut Hak

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا سَمْحًا إذا باعَ، وإذا اشْتَرَى، وإذا اقْتَضَى).رواه البخاري

“Allah merahmati orang yg memudahkan ketika menjual & ketika membeli & juga orang yg meminta haknya.” (HR. Bukhari)

 

  1. Orang yang Berkata Baik atau Diam Menahan untuk Tidak Berkata yang Buruk

رحمَ اللهُ عبدًا قال خيرًا فغَنِمَ أو سكَتَ عن سوءٍ فسلِمَ

“Semoga Allah merahmati seorang hamba, yang telah berkata baik ia pun beruntung atau diam dari keburukan maka ia akan selamat.” (HR. Ibnu Mubarak, Az-Zuhdi)

 

  1. Pemimpin yang Lemah Lembut Kepada Rakyatnya

اللَّهُمُّ مَنْ وَلِي مَنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشِقَّ عَلَيْهُمْ فَاِشْقَقْ عَلَيْهِ، وَمِنْ وَلِي مَنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرِفْقَ بِهُمْ فَاِرْفَقْ بِهِ). رواه مسلم

“Ya Allah, barangsiapa mengurusi sesuatu dari urusan umatku, lalu dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia, dan barangsiapa mengurusi sesuatu dari urusan umatku, lalu dia bersikap lembut kepada mereka, maka bersikaplah lembut kepadanya”. (HR. Muslim, no.182)

 

  1. Orang yang Menggunakan Waktu Awal Paginya untuk Kebaikan

اللهمَّ بارِكْ لِأُمَّتِي في بُكورِها). رواه الترمذي

“Ya Allah berkahilah umatku di waktu pagi mereka.” (HR. Tirmidzi)

 

  1. Mengembalikan Hak Orang yang Dizhalimi dan Meminta Kehalalannya

رَحِمَ اللهُ عبدًا كانت لِأَخِيهِ عنده مَظْلِمَةٌ في عِرْضٍ أو مالٍ فجاءه فاسْتَحَلَّهُ قبلَ أن يُؤْخَذَ وليس ثَمَّ دينارٌ ولا دِرْهَمٌ ، فإن كانت له حسناتٌ أُخِذَ من حسناتِه ، وإن لم تكن لهُ حسناتٌ حَمَّلُوا عليهِ سَيئاتِهم). رواه الترمذي

“Allah merahmati orang yang pernah berbuat aniaya (zhalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun lalu ia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, maka (nanti pada hari kiamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kezholimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan saudaranya yang dizhaliminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya” (HR. Tirmidzi)

   10. Orang yang Menghafal dan Menyampaikan Hadits Nabi

(رَحِمُ اللهُ امرأً سَمِعَ مَنِّيُّ حَديثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبْلِغَهُ غيرَه.. الحديث). صححه الألباني

“Allah merahmati seseorang yang telah mendengar dariku sebuah hadits lalu ia menghafalnya  kemudian ia sampaikan kepada orang lain.”

 

Oleh: Redaksi/Fadhilah Amal

 

Abdullah bin Ummi Maktum, Mujahid buta Pemegang Bendera Islam

Saat itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tengah berhadapan dan berdialog dengan para pembesar Quraisy. Beliau sangat berharap para tokoh tersebut bisa mendapat hidayah Islam, sehingga bisa mengajak kaumnya untuk turut masuk Islam.

Saat pembicaraan menghangat, tiba-tiba muncullah seorang buta dan menyeru, “Muhammad, Muhammad, ajarkanlah padaku apa yang telah Allah ajarkan kepadamu.”

Ada rona ketidaksukaan pada wajah beliau. Beliau pun berpaling dari lelaki buta tersebut. Ya, kesempatan emas mendakwahi para pentolan Quraisy ini jangan sampai terganggu. Beliau pun terus berbicara dengan para tokoh tersebut.

Setelah selesai berbicara dengan para tokoh tersebut, beliau hendak untuk pulang ke rumah. Tetapi tiba-tiba ada sesuatu yang memberatkan kepala beliau. Ternyata turunlah enam belas ayat dari surat ‘Abasa.

Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya…”. (QS. ‘Abasa [80]: 16).

Siapakah lelaki buta yang karenanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam langsung mendapat teguran dari langit? Ia tidak lain adalah Abdullah bin Qais, yang masih sepupu Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid. Ibunya, Atikah binti Abdullah lebih dikenal dengan sebutan Ummi Maktum, karena telah melahirkan anak yang buta sejak lahir. Maka Abdullah bin Qais lebih dikenal dengan sebutan Abdullah bin Ummi Maktum.

Kebutaan matanya ternyata tidak menghalanginya untuk menerima hidayah Islam. Bahkan hatinya melihat kebenaran dan bersemangat meraihnya, sehingga beliau mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mendapat pengajaran Al Qur’an. Sedangkan pentolan-pentolan Quraiys yang diharapkan masuk Islam ternyata telah buta hatinya tidak bisa melihat kebenaran Islam. Makanya Allah memperingatkan Nabi-Nya untuk mengutamakan para pencari kebenaran meskipun dari kalangan orang biasa, daripada tokoh-tokoh  kaum yang tidak peduli dengan Islam.

Sejak peristiwa itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam semakin memuliakan Abdullah bin Ummi Maktum, mendekatkan tempat duduknya dengan beliau, menanyakan tentang kebutuhannya dan memenuhinya.

Ketika penindasan Quraisy kepada kaum muslimin di Makkah semakin menjadi-jadi, Allah mengijinkan kaum muslimin untuk hijrah ke Madinah. Dan orang yang paling dahulu meninggalkan tanah airnya menuju bumi hijrah adalah Mush’ab bin Umair dan Abdullah bin Ummi Maktum. Sesampainya di Madinah, mereka berdua berpencar dan mulai mengajarkan Al-Qur’an kepada penduduk Madinah.

Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, Abdullah bin Ummi Maktum mendapat kehormatan bersama Bilal bin Rabbah untuk mengumandangkan panggilan shalat menyeru manusia menuju keberuntungan selama lima kali sehari semalam. Kebutaan matanya tidak menghalangi beliau untuk selalu melazimi shalat berjama’ah yang diperintahkan Rasul untuk selalu menghadirinya.

Kehormatan lain dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Abdullah bin Ummi Maktum adalah pernah beberapa kali ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari Madinah untuk menyerang musuh, maka kepemimpinan kota Madinah diserahkan kepada Abdullah bin Ummi Maktum.

Suatu ketika selepas perang Badar, turunlah ayat yang memuji mujahidin. Firman-Nya:

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak terut berperang) dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah …”(QS. An-Nisa: 95)

Ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk menuliskannya. Abdullah bin Ummu Maktum lantas bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ya Rasulullah, lalu bagaimana halnya dengan orang yang tidak mampu berjihad?”

Tidak lama berselang dari pertanyaan tersebut, Rasulullah langsung mendapat wahyu yang melengkapi ayat tersebut, sehingga menjadi:

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak terut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. (QS. An-Nisa: 95)

Ayat tersebut menjadi hujjah bagi orang semisal Abdullah bin Ummi Maktum untuk tidak ikut berjihad karena udzur yang mereka miliki.

Namun jiwa yang besar tidak rela kecuali untuk meraih pahala yang besar. Meskipun sudah mendapat udzur dari Allah, tetapi Abdullah bin Ummi Maktum tidak tinggal diam. Justru sejak saat itu beliau bertekad untuk mengikuti pertempuran melawan musuh-musuh Allah. Beliau berkata: “Tempatkanlah saya diantara dua barisan pasukan, berikan bendera kepada saya, maka saya akan membawanya untuk kalian dan akan menjaganya…saya adalah lelaki buta yang tidak akan bisa lari dari medan tempur..” Sungguh, satu keberanian yang luar biasa. Tetapi memang begitulah para lelaki tempaan Rasulullah, yang hatinya terpaut dengan akhirat, sehingga tidak ada yang ditakutinya di dunia ini selain Allah dan siksa-Nya.

[bs-quote quote=”Abdullah bin Ummi Maktum berkata: “Tempatkanlah saya diantara dua barisan pasukan, berikan bendera kepada saya, maka saya akan membawanya untuk kalian dan akan menjaganya…saya adalah lelaki buta yang tidak akan bisa lari dari medan tempur..” ” style=”default” align=”center” color=”#2a79bf”][/bs-quote]

Sepeninggal Rasulullah, Abdullah bin Ummi Maktum tetap tegar dalam perjuangan Islam bersama kaum muslimin lainnya. Bahkan pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, beliau mengikuti ekspedisi jihad yang cukup menantang. Pergi ke tanah Persia dengan satu tekad, taklukkan negeri adidaya penyembah api tersebut.

Di bawah kepemimpinan panglima Sa’ad bin Abi Waqash, kaum muslimin pergi ke Qadisiyah untuk memberangus kekuatan durjana. Dan perang besar pun berkecamuk. Pertempuran antara pemegang panji tauhid dengan kaum musyrikin. Dan di tengah-tengah medan pertempuran, bendera kaum muslimin berkibar dengan teguh dipegang seorang lelaki yang tidak mungkin lari dari medan perang. Ya, tidak lain ialah Abdullah bin Ummi Maktum.

Setelah tiga hari pertempuran berjalan, akhirnya kemenangan diraih pasukan penegak tauhid. Salah satu negeri super power dunia pada masa itu, takluk kepada kaum muslimin setelah melalui perjuangan dan pertempuran dahsyat, serta melalui syahidnya ratusan mujahidin. Salah satunya adalah Abdullah bin Ummi Maktum, yang didapati tubuhnya bersimbah darah dengan tetap memeluk bendera kaum muslimin.

Wahai Abdullah bin Ummi Maktum, selamat atas prestasimu meraih puncak ketinggian Islam. Berjihad dan mati syahid, padahal seandainya engkau tidak ikut berjihad dan diam di rumah, tidak ada yang mencelamu. Namun bersihnya mata hatimu tak rela kecuali mendapat puncak ketinggian Islam. Semoga kami dapat meniti jejak kebaikanmu. Wallahu a’lam.

Oleh: Redaksi/Teladan Islam

Ibunda Rasulullah Didatangi Maryam Saat Mengandung?

Pertanyaan:

Apakah benar ketika ibunda Nabi Muhammad mengandung di datangi Maryam (ruhnya) dan Rasulullah ketika terlahir dalam keadaan sujud?

Jawaban:

Alhamdulillah wassholatu wassalamu’ala Rasulillah wa’ala aalihi wa shahbihi waman tabi’a hudah, wa ba’du

Disebutkan dalam beberapa kita ulama seperti dalail an nubuwah oleh Abu Nu’aim, khosois al kubra oleh as suyuthi, almawahib alladuniyah oleh al qostholani, dan al bidayah wan nihayah oleh Ibnu katsir, sebuah hadits mauquf (hadits yang disandarkan kepada salah satu sahabat, baik bersambung sanadnya kepada nabi atupun tidak bersambung sanadnya kepada Nabi), yang mengkisahkan bertemunya Ibunda Nabi dengan Asiyah istri Fir’aun dan Maryam bintu Imran dan perihal Nabi terlahir dalam keadaan sujud.

Sanad dari Abu Nu’aim :

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ أَحْمَدَ ثنا عَمْرُو بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الصَّبَّاحِ قَالَ: ثنا يَحْيَى بْنُ عَبْدِ اللَّهِ ثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي مَرْيَم عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَمْرٍو الْأَنْصَارِيِّ ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ

Berkata Abu Nu’aim, “telah berkata kepada kami Sulaiman ibnu Ahmad,” telah berkata kepada kami Amru bin muhammad ibnul shobbah, berkata kepada kami Yahya bin Abdillah, berkata kepada kami Abu bakar bin Abi Maryam dari Sa’iid bin Amru al Anshary dari bapaknya, berkata ibnu Abbas radhiallahu’anhuma, “termasuk tanda tanda yang menunjukkan Nabi sedang dikandung oleh ibunya adalah seluruh hewan ternak yang dimiliki qurays mempercakapkan pada malam tersebut..(hadisnya panjang), sampai aminah berkata tentang dirinya : kemudian aku melihat beberapa wanita yang tingginya seperti pohon kurma, sepertinya putri putri Abdu manaf, mereka memandangiku, ta’jublah aku dan aku berkata, waa ghiitsaah..dari mana kalian tahu keberadaanku, maka mereka berkata, “kami asiyah istri fir’aun dan maryam bintu imran, mereka ini adalah bidadari surga…(haditsnya panjang), “ketika keluar dari perutku, maka aku melihatnya dalam keadaan sujud dan mengangkat jarinya seperti berdoa..”

Hadits mauquf ini mendapat kritikan dari ulama hadits, perawi dalam sanad hadits ini lemah, misalnya Amru bn Muhammad ibnul shobbah tidak diketahui terjemahnya, Yahya bin Abdillah haditsnya lemah dilemahkan oleh Abu Zur’ah dan Abu Hatim, begitu pula Abu bakar bin Abi maryam lemah haditsnya. Orang tua Sa’iid bin Amru al anshari juga tidak diketahui terjemahnya. Ibnu katsir berkata : hadits ghoribun jiddan (sangat asing).

Sehingga meski disebutkan oleh para ulama dalam kitab kitab mereka tidak serta merta menjadi khabar yang shahih, akan tetapi perlu dilihat komentar mereka tentang apa yang mereka nukilkan dalam kitab mereka, sehingga bila ada yang ingin menyampaikan khabar ini hendaknya dilengkapi dengan derajat haditsnya, yaitu lemah (tidak valid penyandarannya dari Ibnu Abbas). Wallahua’alam bis shawab.

 

Diampu oleh: Taufik Al-Hakim, Lc 

 

Pertanyaan Lainnya: 

Anjing pun Tak Rela Nabi Dihina

Suatu kali sekelompok orang dari kalangan pembesar Nashrani menghadiri sebuah perayaan seorang pemimpin Mongol yang murtad dari agamanya (menjadi Nashrani). Maka ada waktu itu ada seorang pendeta yang menghina Nabi Muhammad, bertepatan disana ada seekor anjing pemburu yang diikat.

Pada saat pendeta yang dengki itu mulai mencela Nabi, anjing tersebut menyalak dengan keras, kemudian menerkam si pendeta itu dan mencakar wajahnya dengan sadis. Maka orang-orang pun berusaha menyelamatkannya. Sebagian orang yang hadir disitu berseloroh “itu pasti karena celaanmu tentang Muhammad” orang itu malah berkata, “Tidak! anjing ini hanya kaget, dia bereaksi saat melihat isyarat tanganku, disangkanya aku ingin memukulnya.

Lalu si Nashrani ini mengulang kembali celaannya terhadap Nabi Muhammad dengan kata-kata keji. Maka anjing tadi pun meronta dan berhasil lepas dari ikatannya dan langsung saja menerkam leher si Nashrani itu dan merobek hingga bagian dadanya bagian atas. Orang tersebut mati seketika. Karena kejadian ini ada sekitar 40.000 orang mongol masuk Islam. Wal Izzatulillahi.

Andai anjing tidak rela, bagaimana dengan kita sebagai seorang muslim yang melihat agama kita dihina dan dinista? Apa kita diam saja dan menunggu untuk dimangsa, atau kita melolong agar orang yang menghina gentar dan jera. Wallahu a’lam

Muhammad KW2

Meski kita sendiri, tidak mudah untuk menjalani kemiskinan di jaman yang serba materialistis seperti ini. Bagi yang sudah menikah, tentu akan terasa lebih sulit karena ada orang-orang yang menjadi tanggungan kita; anak dan istri. Mengkondisikan mereka untuk menerima dan menjalani kesempitan ini, jelas sangat tidak mudah. Seperti sms yang datang kepada saya tentang kesulitan beberapa suami dalam membuat istri ridha akan kemiskinan mereka, atau dari orangtua yang bingung menghadapi anak-anak yang menuntut fasilitas di luar kemampuan mereka.

Karena sebagai pemimpin, kita berkewajiban mengayomi, menjaga, dan mencukupi kebutuhan mereka secara wajar. Sehingga kesempitan hidup seringkali membuat kita bersedih dan merasa gagal. Apalagi pencapaian materi yang memadai, menjadi hal paling terlihat dari luar, paling sering mengundang penilaian, dan paling terlacak pandangan. Jadi, dalam logika materi, wajar saja jika banyak laki-laki yang pongah akan keberhasilan mereka mengumpulkan materi yang melimpah, dan sebaliknya, banyak yang merasa rendah ketika hanya mampu menghadirkan beberapa rupiah.

Di sisi lain, jika tidak hati-hati, kemiskinan bisa membuat kita menjual iman, seperti dalam hikmah yang termasyur itu; hampir-hampir kefakiran itu membuat kekafiran. Atau dalam bahasa hadits; pagi beriman sorenya sudah kafir, sorenya beriman paginya berubah kafir, karena menjual agama dengan dunia. Saya mendapat info bahwa seorang qori’ yang hebat di pulau Andalas sana, akhirnya murtad karena tidak tahan menjalani kemiskinan bersama empat putra putrinya. Dan kisah-kisah senada, tidak sedikit jumlahnya.

Sungguh, tanpa iman yang cukup, ini adalah keadaan yang sangat menakutkan. Bukankah al Qur’an menyebutkan tentang larangan pembunuhan anak oleh orangtuanya karena takut akan kemiskinan yang mendera? Bukankah manusia adalah pedamba kenikmatan yang bersifat tergesa? Dan bukankah, sabar menjadi sulit dijalani tanpa latihan yang cukup dan iman yang kuat? Sehingga banyak pemuda yang takut menuju jenjang pernikahan karena khawatir akan ketidakmampuan mereka secara materi.

Namun imanlah yang menyadarkan kita tentang kuasa Allah. Tentang kemungkinan atas segala kemustahilan dalam jangkauan akal manusia yang terbatas. Yang kita tahu, yakin dan percaya, bahwa tidak ada yang salah dengan kemiskinan yang ada, karena semua terjadi atas iradah Allah semata. Sebagaimana Rasulullah pernah bersumpah demi Allah, bahwa bukanlah kemiskinan yang beliau takutkan atas umat ini, namun justru terbentangnya dunia di hadapan mereka. Sehingga mereka saling berlomba serupa orang-orang terdahulu, untuk kemudian hancur sebagaimana mereka dahulu pun hancur.

Iman jugalah yang mengajari kita bahwa semua keadaan adalah baik bagi setiap hamba yang beriman. Di mana sabar menjadi pilihan terbaik bagi mereka yang dipilihkan kesempitan untuk meraih ridha Allah, karena semua pilihan aktivitas adalah ibadah kepada-Nya. Seperti juga pelajaran lain yang tidak kalah penting, bahwa Allah hanya menerima amal shalih ketika ia memenuhi syarat keikhlasan dan ittiba’ kepada Rasulullah. Dan ketika itu bisa difahami, diresapi, dan dijalani, insyaallah semua akan menjadi baik-baik saja.

Hal lain yang kita ketahui dan imani adalah bahwa Allah memilih para lelaki sebagai pemimpin keluarga. Dimana salah satu tugasnya adalah memberi nafkah keluarga. Sehingga sesulit apapun, para lelaki harus berusaha semaksimal mungkin menjalani kewajiban ini, terlepas dari apapun hasil yang ditakdirkan Allah natinya. Sebab bekerja keras adalah satu lembah, sedang berapa hasil yang diperoleh adalah lembah yang lain. Sehingga yang dituntut dari kita adalah kualitas kerja dalam bingkai ibadah, bukan semata-mata hasil. Sehingga saat hasil yang kita dapatkan sesuai harapan, sikap tawadhu’ menjadi pilihan. Dan saat hasil yang ada tidak sesuai keinginan, bukan sikap putus asa yang kita jalankan.

Maka, ketika yang kita peroleh setelah kerja keras dalam koridor syariat adalah kemiskinan, tidak akan membuat kita rendah dan terhina di hadapan orang lain. Allah akan memampukan kita untuk menjaga izzah dan bersabar, insyaallah. Hal yang berbeda jika ia adalah buah dari kemalasan dan sikap abai dari tanggung jawab, meski dengan dalih sibuk berdakwah atau beribadah. Ini soal kejujuran dan keikhlasan.

Jadi ketika ada sejumlah ikhwan yang sangat antusias saat mendengar adanya akhwat yang mandiri secara ekonomi, atau bahkan terang-terangan mensyaratkannya ketika data-data mereka akan diproses, kita hanya bisa mengelus dada seraya berdoa, semoga lurus niat mereka. Termasuk ketika lelaki yang ingin menikah lagi dengan seorang janda kaya karena ingin memperbaiki ekonomi, kita sempat mengernyitkan dahi juga. Alasannya selalu sama; ingin mencari Khadijah sebab mereka adalah Muhammad.

Bukankah Muhammad juga, minimal berpotensi, kaya saat menikah dengan Khadijah? Beliaulah yang dicari dan bukan mencari. Beliau juga yang ditemukan, bukan menemukan. Beliau tidak pernah mengumumkan dan menawarkan diri, sehingga beliau tidak pernah terjatuh dalam sikap rendah, meminta-minta dan bergantung kepada istri. Beliau tetap qawwam dan mampu mendidik istri dengan baik.

Tidak ada yang salah dengan pencarian Khadijah. Tapi menyamakan semua perempuan kaya dengan Khadijah, hanya karena berkerudung, tanpa melihat kualitas tarbiyah mereka, kesiapan mentaati suami dan menanggung risiko perjuangan, jelas ini sebuah sikap tergesa-gesa, gegabah dan cenderung merendahkan diri. Karena pernikahan bukan semata soal kecukupan materi, dan karena nafkah memang dibebankan di tangan para lelaki.

Kita hanya bisa berdoa agar niat kita lurus karena Allah, bersungguh-sungguh dalam iqamatudin, dan setia kepada tuntunan syariat. Hingga kita tidak tergesa merasa diri sebagai Muhammad sedang belum berbuat banyak. Kecuali kita adalah Muhammad KW2. Wallahu a’lam.