Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an,

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 110)

Al-Ghafur, Dzat Yang Maha Pengampun. Ada setidaknya tiga asmaul husna yang memiliki makna “mengampuni” yaitu al-ghafur, at-tawwab dan al-‘afuw. Setiap nama tersebut memiliki sisi makna yang spesifik dan sisi makna yang berkaitan satu dengan yang lain. Bahkan hampir seluruh makna dari 99 asmaul husna memiliki keterkaitan.

Bagaimana tidak? Penyandang nama-nama dan sifat-sifat tersebut hanyalah satu yaitu Allah Ta’ala. Misalnya, al-Khaliq yang artinya Maha Pencipta, nama dan sifat ini punya kaitan erat dan al-Mushawir (Maha Perupa), al-Bari’ (Maha Menjadikan). Bahkan ada pula keterkaitan makna dengan asmaul husna yang dari segi bahasa cukup jauh seperti al-Bashir (Maha melihat).

Al-Ghafur juga memilik makna yang erat kaitannya dengan at-Tawwab (Dzat Yang maha menerina taubat) dan al-‘Afuw (Maha Pemaaf) yaitu sama-sama memiliki arti mengampuni dan memaafkan kesalahan. Adapun perbedaannya, pengampunan dalam makna “al-Ghafur” memiliki arti as-sitr (menutupi) sedangkan at-Tawwab artinya Dzat Yang Maha Mengampuni orang yang bertaubat, dan al-Afuw adalah Dzat yang emaafkan dan menghapus kesalahan.

Poin utama dalam makna al-Ghafur adalah “menutupi kesalahan”. Makna ini terkandung secara bahasa, bisa dilihat dalam kamus semisal kamus al-Ma’any. Saat membahas makna al-Ghafur, para ulama akan menyebutkan makna ini. Dan ini adalah sisi yang luar biasa dari asmul husna ini.

Tidak ada satu hal pun yang paling diinginkan oleh orang yang bersalah selain diampuni dan ditutupi kesalahannya. Bayangkan saja, anda pernah melakukan salah, khilaf, memperlakukan seseorang dengan tidak baik, misalnya. Lalu anda minta maaf kepada orang tersebut. Orang tersebut bersedia memaafkan, mengampuni dan tidak menuntut balas. Namun demikian, lidahnya tak henti-hentinya menyebut, mengingat dan menceritakan kesalahan anda kepada siapapun yang ditemuinya. Jemarinya pun lincah mengetikkan kesalahan anda menjadi sebuah status di media sosial yang kemudian membuahkan hujatan bagi anda dan hujan simpati untuk dirinya. Apa yang anda rasakan? Bagaimana perasaan anda? Apa arti kata-katanya “Ya sudahlah, saya maafkan, namanya manusia pasti pernah salah”, bagi anda?

Itulah ampunan manusia, kadangkala terbatas di lidah itupun hanya di depan, saat di belakang lidahnya masih menununtut balas dengan cara lain. Atau lidahnya diam, tapi hatinya masih dongkol dan merasa senang jika pembuat salah, suatu ketika terkena musibah. Jauh berbeda dengan seluruh sifat ampunan dari Dzat Yang maha Pengampun. Saat memberi maghfirah (ampunan), Allah berikan dengan sempurna; diampuni salahnya, dihapuskan hukumannya dan ditutupi kesalahannya, di dunia dan akhirat!

Jadi, saat kita mengucapkan istighfar kepada Allah, meohon ampunan-Nya, berarti kita sudah meminta sepaket ampunan tersebut: diampuni, tidak dihukum dan ditutupi. Kalau kepada manusia, tiga hal itu ‘dijual’ terpisah. “Ya, saya maafkan, tapi hukum tetap harus ditegakkan!”. Anda dimaafkan, tapi tetap dipidana. Atau anda dimaafkan, sengketa berakhir damai, tapi hubungan tetap retak.

Allah tidak demikian. Saat Allah memberi ampunan, Allah akan berikan ampunan itu dengan segenap cinta dari-Nya. Luasnya rahmat dan kekuasaan-Nya membuat pengampunan bagi sesosok makhluk selemah dan sekecil manusia menjadi sangat mudah. Allah akan ampuni, Allah hilangkan ancaman hukumannya dan Alalh tutupi aib dan salahnya, di dunia dan khususnya di akhirat ketika semua tabir akan dibuka dan diperlihatkan.

Kesalahan yang telah Allah ampuni akan ditutupi, tapi bukan berarti kesalahan yang masih ditutupi pasti terampuni. Allah selalu memberi kesempatan, bahkan Allah selalu menutupi meski si pendosa belum mau memohon ampun dan kembali.

Lantas bagaimana jika kesalahan dan aib tersebut terlanjur terbuka atau bahkan pelakunya sendiri yang melakukan secara terang-terangan? Masih ada at Tawwab, Dzat yang Maha Menerima Taubat dari kesalahan-kesalahan yang manusia, apapun bentuk salahnya. Perlu diulangi sekali lagi: “APAPUN” kesalahannya. Asalkan manusia bertaubat dengan sepenuh hati, Allah telah berjanji akan menerima dan mengampuni.

وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ

“Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Asy-Syura: 25)

Tidak ada yang mampu melakukan pengampunan seperti ini selain Allah Subahanahu wa Ta’ala!

Oleh: Redaksi/Majalah risalah hati

By REDAKSI