DABBAH Binatang Yang Berbicara

Tanda Dekat Hari Kiamat 4

وَنُؤْمِنُ بِأَشْرَاطِ السَّاعَةِ: مِنْ خُرُوجِ الدَّجَّال، ونُزُولِ عِيسَى ابنِ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلامُ مِنَ السَّماءِ، وَنُؤْمِنُ بِطُلُوعِ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَخُرُوجِ دَابَّةِ الأرْضِ مِنْ مَوْضِعِهَا

(110) Kami beriman kepada tanda-tanda hari Kiamat; seperti keluarnya Dajjal, turunnya ‘Isa putra Maryam ‘alayhissalam dari langit, terbitnya matahari dari arah tenggelamnya, dan keluarnya dabbah (binatang) bumi dari tempatnya.

Tanda besar keempat dari dekatnya hari Kiamat yang disebut oleh Abu Ja’far ath-Thahawiy adalah keluarnya dabbah dari tempatnya. Dalil yang menerangkan keluarnya binatang ini adalah firman Allah dan hadits-hadits Nabi yang shahih.
Allah berfirman,

وَإِذَا وَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ أَخْرَجْنَا لَهُمْ دَابَّةً مِنَ الْأَرْضِ تُكَلِّمُهُمْ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا بِآيَاتِنَا لَا يُوقِنُونَ

Apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan seekor dabbah (binatang) dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.” (An-Naml: 82)

Mengenai maksud “perkataan telah jatuh atas mereka,” para ulama menjelaskan, telah pasti ancaman atas mereka lantaran perbuatan mereka yang terus-menerus melakukan kemaksiatan, kefasikan, pembangkangan, berpaling dari ayat-ayat Allah, tidak mentadabburinya, tidak mengamalkan hukumnya, juga tidak berhenti melakukan kemaksiatan, dan sehingga nasihat tidak lagi bermanfaat, dan tidak dapat diingatkan lagi dari kedurhakaan.

Jika keadaan mereka telah demikian, maka Allah akan mengeluarkan dabbah dari dalam bumi yang dapat berbicara dengan mereka. Binatang itu dapat memahami dan berbicara dengan manusia.

Rasulullah saw bersabda,

ثَلاَثٌ إِذَا خَـرَجْنَ لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا إِيْمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِـي إِيْمَانِهَا خَيْرًا طُلُوْعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَالدَّجَّالُ وَدَابَّةُ اْلأَرْضِ

“Ada tiga perkara yang jika keluar maka tidak akan berguna lagi keimanan orang yang belum beriman sebelumnya; atau belum mengusahakan kebaikan yang dilakukan dalam keimannya. Ketiga perkara itu adalah: terbitnya matahari dari barat, Dajjal dan binatang bumi.” (HR. Muslim)

Beliau juga bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ اْلآيَاتِ خُرُوْجًا طُلُوْعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَخُرُوْجُ الدَّابَّةِ عَلَـى النَّاسِ ضُحًى فَأَيُّهُمَا مَا كَانَتْ قَبْلَ صَاحِبَتِهَا فَاْلأُخْرَى عَلَى إِثْرِهَا قَرِيْبًا

“Sesungguhnya tanda-tanda (Kiamat) yang pertama kali muncul adalah terbitnya matahari dari barat dan keluarnya binatang kepada manusia pada waktu Dhuha. Mana saja yang lebih dahulu muncul, maka yang satunya akan terjadi setelahnya dalam waktu yang dekat.” (HR. Muslim)

Beliau pun bersabda,

بَادِرُوا بِاْلأَعْمَالِ سِتًّا… (وَذَكَرَ مِنْهَا) دَابَّةَ اْلأَرْضِ

“Bersegeralah kalian beramal (sebelum datangnya) enam perkara… (beliau menyebutkan di antaranya) dabbah.” (HR. Muslim)

Bagi siapa pun yang mengaku sebagai Ahlussunnah wal Jamaah tentu tidak ragu dan segan sedikit pun untuk meyakini hal ini. Tidak ada alasan baginya menolak sesuatu yang dijelaskan dalam al-Qur`an dan as-Sunnah yang shahih.

Ikhtilaf tentang hakikat dabbah
Para ulama berbeda pendapat mengenai hakikat dabbah. Secara bahasa, dabbah berarti binatang yang berjalan di muka bumi. Di antara pendapat tentang hakikat dabbah ini adalah sebagai berikut:
Pertama, dabbah adalah anak unta yang disapih dari unta Nabi Shalih. Pendapat ini dinyatakan oleh al-Qurthubi.

Pendapat ini diperkuat dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud ath-Thayalisi dari Hudzaifah bin Asid al-Ghifari, bahwa Rasulullah saw menyebut tentang dabbah, (lalu beliau menuturkan hadits, di dalamnya ada ungkapan)

لَمْ يَرْعِهِمْ إِلاَّ وَهِيَ تَرْغَوْ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ

Mereka tidak menggembalakannya, melainkan ia hanya bersuara di antara rukun dan maqam (rukun Yamani dan Maqam Ibrahim).”

Yang menjadi dalil adalah ungkapan sabda Nabi saw (تَرْغَـوْ) sementara (اَلرَّغَاءُ) adalah suara yang hanya ditujukan untuk unta.

Pendapat al-Qurthubi ini perlu dikaji lebih lanjut. Sebab, hadits yang dijadikan landasan oleh beliau terdapat perawi yang matruk (haditsnya ditinggalkan) dalam sanadnya.
Selain itu, dijelaskan pada sebagian kitab hadits lafazh (تَدْنَوْ) dan (تَرْبَوْ) sebagai pengganti dari lafazh (تَرْغَوْ), sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Mustadrak, karya al-Hakim.

Kedua, dabbah adalah al-Jassasah yang disebutkan dalam hadits Tamim ad-Dari pada kisah Dajjal. Pendapat ini dinisbatkan kepada Abdullah bin Amru bin ‘Ash.
Pendapat ini tidak kuat lantaran sifat-sifat dan apa yang dilakukan oleh si dabbah tidak cocok dengan gambaran al-Jassasah dalam hadits Tamim ad-Dari.

Ketiga, dabbah adalah ular yang mengawasi dinding Ka’bah, yang disambar oleh elang ketika orang-orang Quraisy hendak membangun Ka’bah. Pendapat ini dinisbatkan oleh al-Qurthubi kepada Ibnu ‘Abbas ra. Hanya, beliau tidak menyebutkan sumbernya.

Keempat, dabbah adalah manusia yang berbicara, mendebat dan membantah orang-orang yang gemar melakukan bid’ah dan kekufuran agar mereka berhenti. Agar jika mereka binasa, mereka binasa dengan keterangan (hujjah) yang nyata.
Kelemahan pendapat ini adalah, jika dabbah yang mendebat para ahli bid’ah adalah manusia, maka ia bukanlah tanda kekuasan Allah yang luar biasa.

Kelima, dabbah adalah bakteri yang berbahaya yang akan membuat manusia menderita. Bakteri tersebut melukai bahkan bisa membunuhnya. Ketika melukai seseorang ia membawa pesan berupa nasihat kepada manusia seandainya mereka memiliki hati yang bisa berpikir, sehingga mereka sadar untuk kembali kepada Allah, kepada agamanya dan menekan mereka untuk menerima hujjah. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh Abu ‘Ubayyah dalam komentarnya terhadap kitab an-Nihayah/ al-Fitan wal Malahim, karya Ibnu Katsir.

Pendapat ini jauh dari kebenaran—sebagaimana dinyatakan oleh DR. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, penulis kita Asyrathhus Sa’ah. Dalam salah satu hadits yang shahih, Rasulullah saw menyebut dabbah kelak membawa cincin Nabi Sulaiman dan tongkat Nabi Musa. Mana mungkin bakteri akan melakukannya. Apalagi berbicara dengan manusia. Mustahil.
Bagi kita, yang penting kita percaya di batas kabar Nabi Muhammad saw. Selebihnya, kita serahkan kepada Allah yang Mahatahu atas segala yang telah dan akan terjadi.

Tempat keluarnya dabbah
Para ulama juga berbeda pendapat mengenai tempat keluarnya dabbah. Di antara sekian banyak pendapat, yang paling kuat adalah bahwa dabbah akan keluar dari Mekah, dari masjid yang paling mulia. Pendapat ini diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan dalam Majma’uz Zawaid VIII/ 7-8, dari Hudzaifah bin Asid secara marfu’.
Hadits itu berbunyi, “Dabbah akan keluar dari masjid yang paling besar, tatkala mereka (sedang duduk-duduk tiba-tiba bumi bergetar) ketika mereka sedang demikian tiba-tiba bumi terbelah.”

Aktivitas dabbah
Setelah dabbah keluar, dia berbicara dengan manusia. Selain itu, ia akan memberikan tanda kepada orang-orang yang beriman dan orang-orang yang kafir. Untuk orang-orang yang beriman, dabbah akan memberikan tanda pada wajah mereka, sehingga menjadi bersinar. Itu adalah tanda keimanannya. Sedangkan untuk orang-orang kafir, dabbah akan memberikan tanda di hidungnya sebagai tanda kekufurannya. Inilah aktivitas yang akan dilakukan oleh si dabbah sebagaimana disebut oleh Allah dalam al-Qur`an dan oleh Rasulullah saw dalam hadits yang shahih. Wallahu a’lam.

Puasa, Obesitas dan Tanda Kiamat

Ramadhan kembali hadir menjumpai kita. Selain merupakan moment tepat untuk memperbaiki ruhani, Ramadhan juga menjadi bengkel bagi jasmani. Ungkapan   “Shumuu tashihhu” memang berasal dari hadits dhaif atau lemah.  Namun, testimoni para ahli kesehatan meyakinkan bahwa shaum Ramadhan berpengaruh besar bagi perbaikan jasmani, jika dilaksanakan dengan baik dan benar.

Salah satu fenomena yang paling sering kita jumpai pasca melaksanakan shaum Ramadhan adalah turunnya berat badan. Kalau ada yang berat badannya justru bertambah setelah shaum, ya, semoga saja itu memamg salah satu bentuk berkah shaum, bukan karena meningkatnya porsi makan akibat dendam setelah seharian ditahan.

Bagi beberapa orang, berat badan yang susut dapat berdampak baik bagi kesehatan. Berkurangnya berat badan berarti menyusutnya timbunan lemak dalam tubuh. Dan seperti diketahui, tumpukan lemak berpotensi besar memicu munculnya berbagai macam gangguan kesehatan. Lebih-lebih bagi yang mengalami obesitas atau berat badan terlalu berlebih. Menurunnya timbangan badan boleh jadi menjadi anugerah istimewa baginya.

Obesitas tidak bisa lagi disebut tanda kemakmuran dan kesejahteraan. Sebaliknya, obesitas justru menjadi sinyal bahaya bagi si empunya. Timbunan lemak memberi tekanan pada pembuluh darah dan organ dalam. Kerja organ vital seperti jantung, ginjal dan lainnya  pun bertambah berat. Seakan-akan organ-organ ini dipaksa kerja rodi karena harus bekerja ekstra. Dalam kurun waktu lama, organ akan “kelelahan” dan  rentan mengalami gangguan akibat penurunan fungsi. Penyakit-penyakit berat pun mengincar, gangguan jantung, diabetes karena fungsi pankreas menurun, gangguan ginjal dan lainnnya.

Dari aspek psikis, obestitas cenderung memicu rasa malas. Tumpukan lemak membuat organ gerak menjadi berat untuk melakukan aktivitas. Jangankan lari, berjalan beberapa puluh meter saja sudah bisa bikin ngos-ngosan dan peluh bercucuran. Olahraga pun menjadi aktivitas yang menyiksa dan tidak menyenangkan. Setelah olahraga ditinggalkan, aktivitas harian yang dipilih pun kebanyakan bukan aktivitas yang menuntut banyak gerak. Bagi yang kurang peduli akan pentingnya waktu; menonton TV, bermain game dan komputer sembari ngemil dan tidur menjadi menu aktivitas favorit. Aktivitas-aktivitas yang sama sekali tidak menjanjikan masa depan yang baik bagi pelakunya.

Karenanya, bagi yang terkena obesitas, hendaknya menggunakan moment Ramadhan ini untuk memaksimalkan usaha guna mengurangi lemak di badan. Setelah terbantu dengan shaum pada siang hari, tugas yang harus diemban adalah mendisiplinkan diri untuk menjaga pola makan pada malam hari. Kuncinya benar-benar ada pada diri sendiri. Jika tidak disiplin dan sabar,  yang terjadi justru bisa sebaliknya, bukannya turun malah bertambah “endut” saja. Pasalnya, sajian buka dan sahur seringnya justru lebih wah dari hari biasa. Tidak sedikit yang biasanya jarang menyediakan lauk daging, saat Ramadhan daging jadi sering nagkring di piring. “yah..Sekali-kali, biar nggak kekurangan gizi” alasannya. Nah, kalau tidak hati-hati, sajian-sajian ini bisa menjadi “petaka’ bagi penderita obesitas.

Agar lebih semangat, kiranya hadits Nabi berikut ini layak direnungkan, Rasulullah bersabda,

إِنَّ بَعْدَكُمْ قَوْمًا يَخُونُونَ وَلاَ يُؤْتَمَنُونَ ، وَيَشْهَدُونَ ، وَلاَ يُسْتَشْهَدُونَ وَيَنْذِرُونَ وَلاَ يَفُونَ ، وَيَظْهَرُ فِيهِمُ السِّمَنُ

“ Sungguh, setelah kalian akan ada orang-orang yang suka berkhianat dan tidak bisa dipercaya, suka memberi saksi padahal tidak diminta bersaksi, bernadzar tapi tidak menepati, serta bermunculannya orang-orang gendut.” (HR. Bukhari Muslim)

Ulama menjelaskan, fenomena munculnya manusia-manusia gendut (as siman) disebutkan bersama fenomena-fenomena buruk. Ini menandakan, ada yang tidak baik dalam hal ini. Di dalam Fathul Bari, Imam Ibnu Hajar menjelaskan as siman adalah orang-orang yang suka berlebihan dalam makan dan minum yang merupakan penyebab dari kegemukan. Beliau juga menukil penjelasan Ibnu at Tien bahwa hadits ini mencela rasa suka terhadap makan dan minum yang menyebabkan gemuk, bukan semata mencela orang-orang berbadan gendut. Imam ibnu Bathal mengatakan di dalam syarh-nya bahwa itu hanyalah kinayah atau sindiran atas kesukaan mereka terhadap dunia dan jauhnya mereka dari akhirat, mereka makan di dunia seperti ternak dan tidak mencontoh para salaf yang tidak mengambil dari dunia melainkan sedikit dan menahan hasrat hingga bisa dilampiaskan di akhirat.

Kesimpulannya, hadits ini sebenarnya lebih mencela sifat daripada wujud. Yakni sifat orang-orang yang malas, suka makan dan minum berlebihan dan terlalu menuruti keinginan. Bukan semata mencela orang-orang yang gendut, karena obesitas itu kadangkala juga bisa diakibatkan oleh faktor genetis atau turunan.Namun begitu, sebagian lain tidak menampik bahwa makna “bermunculannya as siman” memang hadir dalam bentuk munculnya manusia-manusia dengan berat badan terlalu berlebih. Pasalnya, kegemukan juga cenderung memunculkan kemalasan. Kesimpulannya, as siman menjadi tercela karena malasnya, bukan murni karena berta badannya.

Nah, bagi para penderita obesitas, tidak perlu merasa takut secara berlebihan terhadap celaan dalam hadits ini. Meskipun berat badan berlebih tapi ibadahnya jauh lebih rajin dari yang berbadan biasa, berdiri tahajudnya lebih lama dari yang badannya ideal, qanaahnya lebih kuat dan lebih mampu menata waktu untuk hal-hal yang bermanfaat, tentu tidak ada yang patut dicela darinya. Tapi jika ternyata benar bahwa tumpukan lemak yang ada bukan lain adalah anugerah dari kemalasan yang selama ini secara konsisten dijalani, atau tumpukan itu makin membuat ibadah sebagai aktivitas yang membebani, maka hadits ini patut untuk direnungi kembali.

Semoga, Ramadhan kali ini menjadi momen perubahan bagi kita semua. Dari yang buruk menjadi baik, atau dari yang baik menjadi yang lebih baik. Amin.

 

(Taufik Anwar)

Tanda Kiamat, Pengkhianat diberi Amanat

Suatu ketika, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda dan didengar oleh Abdullah bin Amru, kata beliau:

“Kiamat tidak akan terjadi sampai merajalelanya omongan kasar dan saling umpat, pemutusan tali rahim serta buruknya hubungan antar tetangga, dan sampai pengkhianat diberi amanat sedang yang terpercaya di anggap pengkhianat.”  (HR. Ahmad)

Prediksi Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam akan senantiasa terbukti.  Kalau para shahabat dahulu hanya bisa merasakan kekhawatiran akan munculnya tanda-tanda kiamat, saat ini kita ditakdirkan menjadi generasi umat ini yang menyaksikannya. Omongan kasar dan umpatan, pemutusan silaturahmi dan buruknya hubungan dengan tetangga, gambaran nyatanya dapat kita saksikan setiap hari. Omongan kasar  danmesummenjadi bumbu di setiap obrolan, anak bersengketa dengan bapaknya bahkan tega membunuhnya, ibu-ibu membunuh atau membuang bayinya, individualisme yang semakin parah serta hubungan tetangga yang buruk. Tetangga yang semestinya menjadi ‘saudara dekat’, tak jarang malah jadi rival abadi. Tak pernah rukun meski satu Rukun Tetangga (RT). Kini, fenomena-fenomena buruk semacam itu laksana kawah lumpur yang menyemburkan kotoran ke muka bumi, saban hari.

Ditambah tanda yang terakhir, lumpur-lumpur yang menyembur pun kian pekat warnanya dan makin menusuk baunya. Dari semua fenomena akhir zaman yang disebutkan dalam hadits di atas, sepertinya tanda yang terakhir memiliki dampak paling merugikan, tidak hanya bagi yang melakukan, yang tidak tahu apa-apa pun akan merasakan akibatnya.

“Pengkhianat justru diberi amanat”, kalau yang dimaksud sekadar amanat berupa barang titipan, lalu yang dititipi kabur membawa titipan itu, dampak buruknya tidaklah seberapa. Tapi jika amanat yang dimaksud adalah amanat kepemimpinan dan jabatan, apalagi jabatan dalam skup negara tentu akan lain urusannya. Dampak buruknya akan jauh lebih besar dan mengenai banyak orang. Kalau pejabat tidak amanat dan suka korupsi, rakyat yang tidaktahu apa-apa akan merasakan dampaknya berupa terpuruknya perekonomian.

Imam al Qurthubi dalam kitabnya “at Tadzkirah” menjelaskan:

“Apa yang Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam beritakan kepada kita dalam bab ini(hadits ini) dan yang lainnya, dari apa yang telah terjadi dan yang akan datang, kebanyakan di antaranya sudah muncul dan merajalela di tengah manusia. Jabatan diembankan kepada orang yang bukan ahlinya hingga jadilah orang-orang yang memimpin justru manusia-manusia rendahan, orang-orang kelas budak dan manusia-manusia bodoh. Mereka menguasai negeri dan kepemerintahan, dengan itu mereka menumpuk harta dan meninggikan gedung-gedung, sebagaimana yang bisa kita saksikan pada zaman ini. Mereka tidak mau mendengarkan nasihat dan tidak pernah istirahat dari maksiat. Mereka adalah manusia-manusia bisu, tuli dan buta.” (I/726)

Jika pada zaman Imam al Qurthubi saja fenomena ini bisa dirasakan, di zaman ini tentunya jauh lebih nyata wujudnya. Sekarang ini orang begitu mengagungkan demokrasi. Semua orang berhak dan merasa berhak menjadi pemimpin dan pejabat. Kompetensi diri, skill manajemen dan leadership bukanlah syarat penentu terpilihnya seseorang. Lebih-lebih soal apakah mereka adalah orang yang amanah atau tidak, lebih tidak menjadi bahan pertimbangan. Uang dan pengaruhlah yang menjadi juri penentu kemenangan.Yang lebih mampu mencetak banyak pamflet, spanduk, banner, bendera partai, menggelar acara-acara kepartaian dan memberikan sokongan dana, dialah yang berpeluang mendapat kursi jabatan. Atau kalaupun yang menjabat adalah orang yang benar-benar mampu dan bukan yang menyokong dana, kebijakan-kebijakannya pun tidak akan jauh-jauh dari pesanan “orang tua asuh”-nya yang telah mendanai.

Karenanya tidak mengherankan jika setelah menjabat, fokus utamanya bukanlah menunaikan amanah tapi lebih kepada usaha mengembalikan modal yang harus keluar dimasa perjuangan merebut suara. Sekarang, pagelaran drama dengan tema “mengembalikan modal dengan cepat” itu tersaji dalam potongan-potongan berita korupsi, suap dan permainan hukum. Sekian puluh pejabat yang ditangkap karena suap, mata rantai mafia hukum yang menyeret pejabat satu demi satu, korupsi yang dilakukan secara berjamaah dan sistemik membuktikan bahwa mereka adalah “al kha`inun al mu`tamanun” para pengkhianat yang diberi kepercayaan. Selain itu, seperti dikatakan imam al Qurthubi di atas, banyak kegiatan-kegiatan yang tidak penting semisal pembangunan gedung tinggi nan mewah menjadikanpengkhianatan itu kian jelas terpampang diatas lukisan kemiskinan rakyat.

Sebaliknya, “yukhawanul amin” orang-orang yang terpercaya dianggap sebagai pengkhianat. Orang-orang yang jujur dan berusaha amanah, adalah ‘parasit’ dalam sistem yang korup. Perangkap demi perangkap pun akan dipasang guna menjatuhkan mereka dari jabatannya. Apalagi yang berani gembar-gembor menghapus korupsi dan mengambil langkah nyata untuk itu, ancamannya akan lebih besar.

Wallahul musta’an. Inilah realita yang harus kita hadapi. Cukup sulit menjelaskan bagaimana solusi untuk keluar dari masalah ini. Masalah pengkhianatan dalam jabatan bukan problem ringan. Ditambah dengan munculnya berbagai keburukan akhir zaman yang lain, persoalan jadi kian runyam. Ada banyak hal yang harus kita hindari serta waspadai sekaligus menjadi PR bagi kita, dan begitu sedikitnya teman yang bisa menguatkan. Barangkali hanya semangat dan keyakinan untuk tetap menjaga iman serta usaha perbaikan sesuai kemampuanlah yang bisa kita lakukan. Harapannya, kita bisa selamat sampai di penghujung periode hidup yang kita tempuh.Wallahua’lam. (anwar)