Sahabat yang Hijrah dari Fitnah

Sahabat yang Hijrah dari Fitnah

“Aku menemui beliau n seraya mengucapkan salam. Akulah orang yang pertama kali mengucapkan salam kepada beliau dengan perkataan; assalaamu ‘alaika ya Rasulullah.’ Beliau menjawab: ‘Wa ‘alaikas salam, siapakah kamu? (HR.Muslim)

Dialah Abu Dzar Al Ghiffaary, Jundub bin Junadah z, sahabat mulia meriwayatkan sebanyak 128 hadits, yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berkata tentangnya :

مَا أَظَلَّتِ الْخَضْرَاءُ، وَلاَ أَقَلَّتِ الْغَبْرَاءُ، أَصْدَقَ مِنْ أَبِى ذَرٍّ

Tidak ada seorang lelaki yang berada di hamparan bumi ini dan di bawah naungan langit ini yang lebih jujur daripada Abu Dzar z.” (HR. Ahmad)

Dia adalah orang yang tegas, pemberani, dan sangat kuat berpegang teguh dengan ajaran Nabi Muhammad n disamping kebenciannya kepada segala bentuk bid’ah dan penyimpangan dari ajaran Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam . Dia adalah orang yang penyayang terhadap orang-orang lemah dari kalangan faqir dan miskin. Yang pada hari ini kita sangat butuh kepada orang-orang yang beruswah kepada Abu Dzar z, dengan kejujurannya, zuhudnya, penyayang terhadap faqir miskin, tidak mau menjilat/dekat dengan penguasa dan tidak takut dengan celaan orang yang mencela dalam mendakwahkan al haq.

Abu Dzar zsangat memegang teguh wasiat Nabi berikut ini:

“Telah berwasiat kepadaku orang yang amat aku cintai yakni Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dengan tujuh perkara : Beliau memerintahkan aku untuk mencintai orang-orang miskin dan mendekati mereka, dan beliau memerintahkan aku untuk selalu melihat keadaan orang yang lebih menderita dariku. Beliau memerintahkan kepadaku untuk tetap menyambung silaturrahim walaupun karib kerabatku itu memboikot aku, dan aku diperintahkan untuk tidak meminta kepada seseorangpun untuk memenuhi keperluanku. Demikian pula aku diperintahkan untuk mengucapkan kebenaran walaupun serasa pahit untuk diucapkan, dan aku tidak boleh takut cercaan siapapun dalam menjalankan kebenaran. Aku dibimbing olehnya untuk selalu mengucapkan la haula wala quwwata illa billah (tidak ada daya upaya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan bantuan Allah), karena kalimat ini adalah simpanan perbendaharaan yang diletakkan di bawah Arsy Allah”. (HR. Ahmad)

Duhai, betapa berat untuk istiqamah di atas kebenaran. Di zaman pemerintahan Utsman bin Affan yang penuh limpahan barokah dan ilmu Al Qur’an dan As Sunnah serta masyarakat yang diliputi oleh kejujuran dan ketaqwaan, sempat ada orang (yakni Abu Dzar) memilih hidup menyendiri sampai dijemput mati. Apalagi di zaman ini, masyarakat diliputi oleh kejahilan tentang ilmu. Masyarakat yang jauh dari ketaqwaan, sehingga para pendustanya amat dipercaya dan diikuti, sedangkan orang-orang yang jujur justru dianggap pendusta dan dijauhi. Kalaulah tidak karena pertolongan, petunjuk dan bimbingan Allah, niscaya kita semua di zaman ini akan binasa dengan kesesatan, kedustaan dan pengkhianatan serta fitnah yang mendominasi hidup ini. Tapi ampunan dan rahmat Allah jualah yang kita harapkan untuk mengantarkan kita kepada keridha’an-Nya.

Dalam Musnad Imam Ahmad diriwayatkan, Ketika Maut hendak menjemput, Abu Dzar menasehati istrinya : “Jangan engkau menangis, karena aku telah pernah mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda di suatu hari dan aku ada di samping beliau bersama sekelompok orang yang lainnya. Beliau bersabda: “Sungguh salah seorang dari kalian akan meninggal dunia di padang pasir yang akan disaksikan oleh sekelompok kaum Mu’minin”.

Kemudian Abu Dzar melanjutkan nasehatnya kepada istrinya: “Ketahuilah olehmu, semua orang yang hadir bersama aku waktu itu di hadapan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, telah mati semua di kampung dan desanya. Dan tidak tertinggal di dunia ini dari yang hadir itu kecuali aku. Maka sudah pasti yang akan mati di padang pasir seperti yang dikabarkan oleh beliau itu adalah aku. Oleh karena itu sekarang engkau lihatlah ke jalan. Engkau pasti nanti akan melihat apa yang aku katakan. Aku tidaklah berdusta dan aku tidak didustai dengan berita ini”.

Istrinya menyatakan kepadanya: “Bagaimana mungkin akan ada orang yang engkau katakan, sedang musim haji telah lewat ?!”.

Abu Dzar tetap meyakinkan istrinya untuk melihat ke arah jalan: “Lihatlah jalan!”. benarlah perkataan Abu Dzar. rombongan itupun berhenti didepannya kemudian bertanya : Mengapa engkau ada di sini ? Maka perempuan itupun menyatakan kepada mereka: “Di sini ada seorang pria Muslim yang hendak mati, hendaknya kalian mengkafaninya, semoga Allah membalas kalian dengan pahalaNya”. Maka merekapun menanyainya: “Siapakah dia ?” Perempuan itu menjawab: “Dia adalah Abu Dzar”. Mendengar jawaban itu mereka berlarian turun dari kendaraannya masing-masing menuju gubuknya Abu Dzar. Dan ketika mereka sampai di gubuk itu, mereka mendapati Abu Dzar sedang terkulai lemas di atas tempat tidurnya. Tapi masih sempat juga Abu Dzar memberi tahu mereka : “Bergembiralah kalian, karena kalianlah yang diberitakan Nabi sebagai sekelompok kaum Mu’minin yang menyaksikan saat kematian Abu Dzar”. Kemudian Abu Dzar menyatakan kepada mereka : “Kalian menyaksikan bagaimana keadaanku hari ini. Seandainya jubbahku mencukupi sebagai kafanku, niscaya aku tidak dikafani kecuali dengannya. Aku memohon kepada kalian dengan nama Allah, hendaklah janganlah ada yang mengkafani jenazahku nanti seorangpun dari kalian, orang yang pernah menjabat sebagai pejabat pemerintah, atau tokoh masyarakat, atau utusan pemerintah untuk satu urusan”.

Dengan penuh kegembiraan, Abu Dzar menghembuskan nafas terakhirnya, selamat jalan wahai Abu Dzar untuk menemui Allah dan Rasul-Nya yang amat engkau rindukan. Beristirahatlah engkau di sana. Jenazah Abu Dzar dirawat oleh pemuda Anshar pilihan Abu Dzar, dan segera dishalati serta dikuburkan oleh kafilah tersebut di Rabadzah.

(Disarikan dari : Suwar Min Hayati Shahabah, hal. 140-148. Zaujati Shahabah, hal. 40-53, kutubul hadits, Maktabah syamilah,)

%d bloggers like this: