Hijrah Adalah Tuntutan Taubat

34

Ketika Allah bukakan pintu insaf dan kesadaran, maka sungguh Allah telah karuniakan anugerah yang sangat berharga. Kewajiban manusia selanjutnya adalah merawat kesadaran dan menjadikannya sebagai titik tolak perubahan dari kegelapan kepada cahaya.

Cara paling mujarab untuk menjaga kesadaran sekaligus meneguhkan taubat adalah dengan hijrah. Yakni, berpindah dari satu keadaan yang buruk kepada keadaan lain yang lebih baik.

 

Hijrah adalah Tuntutan Taubat

Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Ada seorang laki-laki sebelum kalian (dari kalangan bani Israil) yang telah membunuh 99 jiwa. Kemudian dia bertanya tentang orang yang paling pandai di muka bumi. Ditunjukkanlah kepadanya seorang ahli ibadah. Dia pun mendatanginya dan bercerita  bahwa dia telah membunuh 99 jiwa, masihkah ada peluang untuk bertaubat? Ahli ibadah itu menjawab, “Tidak.” Kemudian lelaki tadi membunuhnya hingga genaplah menjadi 100 jiwa yang dibunuhnya. Dia bertanya lagi tentang orang yang paling alim di muka bumi ini. Lalu ditunjukkanlah ia kepada seorang yang alim. Dia bertanya kepadanya, bahwa dia telah membunuh 100 jiwa, masihkah ada peluang untuk bertaubat? Orang alim itu berkata, “Ya, Amasih. apa yang menjadi penghalang untuk bertaubat?  Pergilah ke daerah itu, di dalamnya ada banyak orang yang beribadah kepada Allah Ta’ala, maka beribadahlah kepada Allah Ta’ala bersama mereka. Dan jangan kembali ke daerahmu, karena ia tempat yang dipenuhi dengan keburukan. Lelaki itu kemudian meninggalkannya dan menuju ke daerah yang disarankan. Ketika di pertengahan jalan Malaikat Maut mencabut nyawanya. Malaikat pembawa rahmah dan malaikat pembawa adzab berselisih tentangnya. Malaikat rahmat berkata, “Dia telah datang dengan bertaubat kepada Allah Ta’ala.” Malaikat adzab barkata, “Dia belum pernah melakukan kebaikan sedikit pun.” Lalu datanglah seorang malaikat dalam wujud manusia sebagai penengah di antara keduanya. Dia berkata, “Ukurlah jarak antara kedua tempat tersebut, mana yang lebih dekat dengan tempat wafatnya, maka itu adalah bagiannya’. Keduanyapun melakukan itu, dan mendapati bahwa jaraknya lebih dekat kepada tempat yang dituju. Kemudian Malaikat Rahmat membawanya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Di antara pesan sangat penting dalam kisah ini adalah nasihat orang alim dalam hadits di atas kepada pembunuh 100 orang agar berhijrah ke tempat baru yang dihuni oleh orang-orang shalih sekaligus meninggalkan lingkungan lamanya dengan cara ini, taubat akan terjaga, dan lebih mudah menghindar dari godaan-godaan, terutama di saat taubat masih seumur jagung. Berapa banyak orang yang telah diberi hidayah kesadaran, insaf dan taubat, namun keimanannya laksana kuncup bunga yang layu sebelum berkembang. Atau seperti nyala lilin yang mati sebelum sempat menerangi dengan cahayanya.

Baca Juga: 
Tangisan yang Menyelamatkan

Taubat memang tidak bisa lepas dari hijrah. Karena itulah Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Hijrah itu tidak akan terputus hingga ditutupnya pintu taubat, dan taubat itu tidak pernah tertutup sampai terbitnya matahari dari barat” (HR. Abu Dawud).

Dalam hadits ini kata hijrah dikaitkan dengan taubat, karena taubat yang paripurna itu membutuhkan hijrah, maka hijrah tetap ada selagi peluang taubat itu masih terbuka.

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa hijrah itu ada dua; pertama hijrah secara fisik dari suatu negeri ke negeri yang lain. Sedangkan yang kedua adalah hijrah dengan hati menuju Allah dan Rasul-Nya. Inilah hijrah hakiki dan merupakan akar pondasi semua amalan yang terkait dengan hijrah. Hijrah fisik hendaknya dilandasi dengan hijrahnya hati. Maka Muhajir adalah orang yang berhijrah dari kecintaannya kepada selain Allah menuju kecintaan kepada-Nya, dari ketergantungan kepada selain-Nya menuju kepada-Nya, dari berharap kepada selain-Nya menuju kepada-Nya.”

Semisal dengan itu, Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan, “Hijrah itu dua jenis; lahiriyah dan batiniyah. Hijrah batin adalah meninggalkan seruan nafsu dan kehendak jahat, sedangkan hijrah lahir adalah meninggalkan fitnah untuk menjaga agama.” Inilah hijrah yang disebutkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

“Seorang Muslim itu adalah ketika kaum muslimin selamat dari gangguan lidah dan tangannya. Sedangkan muhajir (orang yang berhijrah) itu adalah orang yang meninggalkan segala larangan Allah.” (HR. Bukhari)

 

Tinggalkan Kawan dan Kebiasaan Lama

Hijrah menuntut keberanian seseorang untuk meninggalkan kebiasaan buruk dan pemicunya. Dan yang paling mendesak adalah meninggalkan teman-teman buruknya, lalu mencari teman atau komunitas baru yang lebih diridhai oleh Allah. Karena teman adalah penentu. Seseorang itu tergantung temannya, maka sulit untuk istiqamah di jalan hidayah dengan tetap berada dalam komunitas maksiat. Tanpa dukungan teman yang baik, sulit bagi orang yang bertaubat untuk berubah dan istiqamah di jalan hijrah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

Nabi memberikan perumpamaan indah tentang pengaruh teman dekat. Beliau bersabda,

“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jahat adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak diberi minyak misk oleh pemiliknya, engkau bisa membeli darinya atau minimal bisa menikmati aroma harumnya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau merasakan bau yang tidak sedap.” (HR. Bukhari)

Terkait dengan hadits ini, Imam an-Nawawi memberikan nasihat kepada orang-orang yang menapaki jalan taubat, ”Hendaklah orang yang bertaubat mengganti temannya dengan teman-teman yang baik, shalih, berilmu, ahli ibadah, wara’(mennjaga diri dari dosa dan pencetusnya) dan orang-orang yang meneladani mereka. Hendaklah ia mengambil manfaat ketika bersahabat dengan mereka.”

Jika sebelumnya terbiasa nongkrong di pinggir jalan tak jelas tujuannya, atau bahkan turut meramaikan hiburan-hiburan yang menyuguhkan menu dosa, hendaknya mengganti dengan majlis-majlis ilmu yang bermanfaat. Juga menyibukkan diri dengan ketaatan setelah  tadinya menghabiskan waktu untuk maksiat atau hal-hal yang tidak bermanfaat.

Baca Juga:
Kawan tapi Lawan

Hijrah juga menuntut seseorang berubah sikapnya berkaitan dengan maisyah (mata pencaharian) dan apa yang dikonsumsi sehari-hari. Karena mengkonsumsi yang haram hanya akan menghasil kan ‘out put’ berupa ucapan dan perilaku  yang haram pula.

Harus berani meninggalkan transaksi riba atau jual beli barang haram atau dengan cara yang haram. Karena hal ini menjadi biang penghalang taat sekaligus pemicu maksiat.

Jangan takut kesepian dengan meningggalkan teman lama, karena ia akan menemukan teman, sahabat dan saudara dalam ketaatan yang lebih menenteramkan dan membahagiakan. Tak perlu pula galau dan takut meninggalkan harta yang haram, karena Allah janjikan kelapangan rejeki bagi hamba-hamba-Nya yang hijrah untuk menyempurnakan taubat ataupun memenuhi tuntutan perintah Allah. Firman Allah Ta’ala,

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak.(QS. an-Nisa’: 100)

Allah tidak akan menelantarkan hamba-Nya yang telah berkurban demi mendapat keridhaan-Nya. Jika hamba itu meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah pasti akan gantikan untuknya dengan ganti yang lebih baik.

Memang tak mudah meninggalkan kebiasaan yang telah mengakar dan juga kawan lama yang sudah akrab dan dekat. Akan tetapi, itu lebih mudah bagi orang yang bertaubat dalam menjaga imannya daripada ia tetap bersama dengan kebiasaan dan kawan lama.

Menghentikan kebiasaan buruk, artinya menghapus salah satu bagian dari pola hidup kita. Jika kita memotong begitu saja kebiasaan tersebut, ada kekosongan yang terjadi dalam keseharian kita. Maka harus ada pengganti yang lebih baik, karena nafsu itu ketika tidak disibukkan dengan ketaatan, maka ia akan menyibukkan dengan kemaksiatan.

Memperbaiki kualitas shalat juga mempercepat proses transisi dari maksiat kepada taat dan dari kebiasaan buruk kepada kebiasaan baik. Karena shalat bisa mencegah perbuatan keji dan munkar. Semoga Allah karuniakan kita istiqamah dan keteguhan di atas ketaatan, aamiin. 

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Telaah