Sungkan yang Membuyarkan Fokus dan Tujuan

Sungkan yang Membuyarkan Fokus dan Tujuan

Ibnul Mubarok  pernah ditanya oleh kawannya, mengapa beliau jarang ikut ngumpul-ngumpul sembari ngobrol santai setelah shalat. Beliau menolak lantaran dalam pandangan beliau tema obrolan kawan-kawan ba’da shalat itu kurang bermanfaat. Beliau memilih pulang dan melanjutkan agendanya yang lebih penting, membaca sirah (sejarah) shahabat dan buku-buku yang bermanfat.  Beliau fokus dengan apa yang telah beliau rencanakan, dan apa yang telah dibiasakan.

Karena satu di antara kunci sukses adalah fokus pada tujuan,  dan berusaha setia dan komitmen terhadap apa yang telah direncanakan. Kecuali jika ada hal lain yang secara pasti lebih bermanfaat atau bersifat darurat. Hanya saja, konsisten dengan sikap seperti ini tidaklah mudah. Saat rencana mulai merangkak diwujudkan, ada saja gangguan datang merintangi jalan. Dari yang ringan hingga level berat dan dilematis. Kekurangpiawaian menaklukkan berbagai bentuk rintangan akan membuat rencana bergeser dan bahkan berantakan. Dan salah satu sampel ketidakpiawaian itu adalah keliru dalam menempatkan  rasa sungkan, baik dalam hal porsi maupun posisi.

Ambil sampel; tiga hari lagi ada presentasi tugas yang menentukan bagi karir atau pendidikan kita. Sesuai rencana, presentasi bisa tuntas jika tiga malam ke depan full digunakan untuk menyusun dan berlatih presentasi. Sementara siangnya, kita harus bekerja seperti biasa, misalnya. Godaan menerpa pada malam pertama. Seorang kawan mengajak pergi keluar menemaninya ngobrol melepas penat. Karena sungkan, ajakan pun dituruti. Satu jam ngobrol, ketemu kawan lain yang baru datang, obrolan pun dilanjutkan hingga larut. Sepertiga waktu yang tersedia pun akhirnya musnah, berganti dengan agenda lain yang sebenarnya bisa ditunda lain kali.

Rasa sungkan atau tidak enak hati sebenarnya merupakan rasa yang netral. Tergantung sungkan dalam hal apa, kepada siapa dan kapan. Sungkan bisa dianggap baik, bisa pula sebaliknya, tergantung kepiawaian seseorang menempatkan rasa itu. Sisi positifnya, rasa sungkan dapat menjaga citra seseorang. Mengarahkan sikap dengan mencoba melihat dari sudut pandang dan perasaan orang lain. Dalam konteks yang tepat, rasa ini akan melahirkan sikap yang sangat mulia yaitu pengertian.

Namun, dalam porsi yang berlebihan atau tidak tepat,  rasa ini akan berdampak buruk. Orang yang tidak mampu menempatkan rasa sungkan dan selalu menuruti kesungkanannya, akan mendapat hambatan besar dalam setiap langkahnya. Dia pun menjadi “Yesmen”alias orang yang sulit mengatakan “tidak” untuk setiap kali ajakan yang melibatkan rasa sungkan. Menurut persepsinya menolak berarti menyakiti orang lain. Dalam stadium parah, orang type ini sering melakukan perbuatan yang tujuannya hanya untuk menyenangkan orang lain, meskipun harus mengorbankan kepentingannya sendiri. Rencananya mudah berubah dan bahkan rusak karena menuruti rasa sungkan yang  membelokkan arah.  Frame pembahasan di sini bukan tentang rela berkorban; rela mengorbankan kepentingan diri demi orang lain, tapi lebih pada kekurangcakapan dalam menata prioritas. Dan ini tidak baik. Kalau dibandingkan, pengorbanan yang kita berikan terlalu besar melebihi tuntutan yang ada. Sisa-sisa pengorbanan itu akan sia-sia.

Pada tataran konsep kesuksesan diri, sikap ini dapat menjadi penghalang. Seseorang menjadi tidak disiplin terhadap rencana dan target waktu. Hasilnya adalah kekacauan dan ketidaksempurnaan hasil capaian. Padahal, belum tentu usaha menyenangkan orang lain benar-benar berbuntut menyenangkan baginya, apalagi bagi diri sendiri.

Dalam kasus di atas misalnya, tetap mengiyakan ajakan kawan untuk sekadar jalan-jalan padahal ada agenda mendesak yang harus dikerjakan boleh jadi akan membuat dua tujuan itu gagal atau tidak maksimal. Waktu pengerjaan tugas berkurang tapi acara ngobrol juga harus digelayuti bayangan presentasi yang belum dikerjakan.  Akhirnya, semuanya berjalan dengan kualitas setengah-setengah.

Padahal, jika dia berani menolak, belum tentu hal itu akan berakhir dengan tidak menyenangkan. Sedang jika tidak menolak, hasil presentasi kemungkinan besar berkurang 30 persen dari nilai “menyenangkan” karena berkurangnya waktu persiapan. Asalkan disampaikan dengan bahasa yang halus dan alasan logis, tentunya penolakan akan bisa dimengerti. Kalaupun tidak, efek paling buruk kemungkinan hanya sedikit kekecewaan teman yang bisa diobati dengan hal lain,di lain waktu. Hanya saja, kekhawatiran yang menyulut rasa sungkan itu kadang-kadang berlebihan.

Menjadi mr. Sungkan dan selalu berusaha menyenangkan orang lain dengan mengorbankan diri sendiri juga belum tentu menjadikan diri kita benar-benar menyenangkan. Jika sudah menjadi trade mark, kita akan dicap sebagai pribadi yang labil dan tidak memiliki komitmen. Ibnul Mubarak sendiri, meski tidak suka kongkow-kongkow bareng kawan-kawannya, tidak lantas membuat teman beliau menjauh. Berkat kebaikan beliau, pengertian beliau dalam hal kebutuhan hidup teman-teman dan orang-orang di sekitarnya dengan banyak membantu, berkat komitmen beliau untuk selalu berusaha melakukan yang prioritas dan utama, beliau tetap menjadi pribadi yang menyenangkan di mata mereka.

Sekali lagi, ini bukan brain washing agar kita menjadi pribadi yang eksklusif, egois, kaku dan tidak cair. Konteks pembasahan ini adalah sikap komitmen untuk berusaha menempatkan masalah sesuai prioritas dan menyelesaikan masalah tanpa masalah. Dengan begitu, kita berharap bisa menjadi pribadi yang menyenangkan bagi diri sendiri dan orang lain.  Wallahua’lam bish shawab. (Abu Rozin)

 

%d bloggers like this: