Jangan ada Dusta!

Jangan ada Dusta!

Kejujuran, segetir apapun akan berbuah manis. Sedangan dusta dan kebohongan, meski kadang memberi solusi, sesungguhnya itu merupakan petaka yang diulur. Salah satu sahabat nabi bernama Kaab bin Malik mengajarkan kita nilai-nilai kejujuran tersebut. Beliau membuktikan bahwa jujur membawa nasib mujur.

Dikisahkan dalam Shahih Bukhari, bahwa beliau absen dari perang tabuk. Padahal waktu itu Rasulullah n memerintahkan seluruh pria dewasa yang ada di Madinah untuk berangkat berperang. Hanya orang yang lemah dan orang miskin yang tidak memiliki bekal boleh absen. Itupun setelah mendapat restu dari Rasulullah n.

Hingga rombongan terakhir meninggal-kan Madinah,  Kaab masih belum beranjak dari rumah. Padahal beliau tidak memiliki alasan yang bisa dipertimbangkan. Karena itu ia mulai memikirkan alasan palsu apa yang sekiranya bisa diterima oleh Rasulullah n.

Ketika Rasulullah n pulang dari berperang, orang-orang yang absen berperang datang satu persatu. Kaab bin Malik melihat bahwa orang yang meminta maaf dan udzur hanyalah orang munafik dan orang yang lemah. Rasulullah n mendengarkan dan menerima alasan mereka. Lalu memohonkan ampunan Alloh. Apa yang tampak beliau terima sedangkan apa yang sebenarnya terjadi dan disembunyikan dalam hati. Beliau pasrahkan kepada Dzat yang Maha Tahu.

Tiba giliran Kaab menemui sang Nabi. Ketika melihat Rasulullah n tersenyum sinis, hilanglah keinginannya berbohong. Beliau mengatakan, “Demi Allah n, seandainya  orang yang aku temui bukan Anda, tentunya saya dapat memadamkan kemarahan mereka dengan mengutarakan alasan-alasan. Karena saya adalah orang yang pandai bicara dan berdebat. Tapi, demi Alloh n saya sadar, andai saya mengatakan ucapan dusta yang membuat anda ridha kepadaku, akhirnya pasti Alloh menanamkan rasa tidak suka kepadaku. Aku akan bicara jujur meski anda menerimananya dengan berat hati. Aku berharap Alloh mengampuniku. Demi Alloh, aku tidak memiliki alasan atau udzur. Ketika aku tidak ikut rombongan perang, sesungguhnya saya dalam kondisi kuat dan ringan.”

Rasulullah n mengatakan kepada orang yang ada disekitarnya, “Orang ini benar-benar jujur.” Beliau melanjutkan, “Wahai Kaab, berdirilah dan tunggulah keputusan Alloh terhadapmu!”

Ringkas cerita, selanjutnya Kaab diboikot oleh kaum muslimin selama 50 hari. Orang lain tidak boleh mengajaknya bicara. Bahkan istrinya pun diperintahkan untuk meninggakannya selama masa hukuman tersebut. Karena itu, bagi beliau, Madinah ibarat penjara kota yang menyesakkan dada.  Setelah 50 hari terkucil, barulah Alloh menerima tobatnya. Bahkan nama beliau dan dua orang yang senasib dengannya disebut secara tidak langsung dalam ayat Al-Quran (QS. At-Taubah: 118). Sedangkan orang-orang munafik meskipun selamat dari sangsi duniawi, mereka tetap dalam kemurkaan Alloh.

Bergantung pada Akar Lapuk

Salah satu alasan seseorang berbohong karena ingin terhindar dari masalah. Sehingga akan berusaha memanipulasi opini agar kesalahannya tetap tertutupi. Untuk sementara, kebohongan tersebut memang memberi jalan keluar. Tapi, sepandai-pandai seseorang menutupi kebohongan tetap akan terbongkar juga. Karena kata-kata dusta tidak bisa menyelesaikan masalah tanpa masalah.

Oleh karena itu, agar terhindar dari sifat tercela tersebut seseorang harus betul-betul mengingat bahwa bohong adalah perbuatan yang dilarang oleh Alloh.  Bahkan termasuk salah satu dosa besar. Seseorang harus sadar bahwa manfaat bohong tidak sebanding dengan akibat buruknya baik di dunia maupun akhirat.

Dalam kitab shahih bukhari disebutkan bahwa Nabi n pernah diperlihatkan hukuman untuk orang yang menyebarkan omong kosong sebagai berikut:

وَأَمَّا الرَّجُلُ الَّذِي أَتَيْتَ عَلَيْهِ يُشَرْشِرُ شِدْقَهُ إِلَى قَفَاهُ وَمِنْخَرَهُ إِلَى قَفَاهُ وَعَيْنَهُ إِلَى قَفَاهُ فَإِنَّهُ الرَّجُلُ يَغْدُو مِنْ بَيْتِهِ فَيَكْذِبُ الْكِذْبَةَ تَبْلُغُ الآفَاقَ

“Adapun orang yang kaulihat sedang merobek/memotong mulutnya hingga ke tengkuknya, hidungnya hingga ke tengkuknya, kedua matanya hingga ke tengkuknya adalah orang yang berangkat di pagi hari dari rumahnya, lalu dia membuat kedustaan, sampai kedustaan itu mencapai seluruh penjuru.” (HR. Al-Bukhari)

Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim menjaga lisannya. Membuka pikirannya sebelum membuka mulutnya. Sehingga tiap tutur kata dan omongannya membawa manfaat dan maslahat bukan malah mendatangkan keburukan. Sebab, menjaga lisan merupakan tanda kesempurnaan iman. Rasululullah bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ

“Orang yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, hendaknya berkata yang baik atau diam.” (Muttafaq Alaih)

Jujur adalah bukti kesempurnaan iman, sedangkan kebohongan adalah ciri khas orang munafik. Rasululullah bersabda.

آيَةُ اْلمُنَافِقِ ثَلاَثٌ اِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَ اِذَا وَعَدَ اَخْلَفَ وَ اِذَا ائْتُمِنَ خَانَ

“Tanda kemunafiqan itu ada tiga hal, yaitu: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji menyelisihi dan apabila diberi amanat ia khianat”. (HR. Bukhari)

Tumbuhkan Rasa Malu

Agar kebiasaan bohong bisa terkikis habis, tumbuhkan sifat malu. Tanamkan dalam hati bahwa Alloh selalu mengawasi. Selain itu, bohong adalah sifat tercela yang dapat merusak kredibilitas. Oleh karenanya, para ulama hadits pada zaman dahulu sangat antipati terhadap para rawi yang kedapatan berbohong.

Syaikh Abdurrahman bin Shalih Al-Mahmud dalam satu artikelnya mengutip cerita tentang Imam  Bukhari yang telah menempuh perjalanan jauh untuk  berguru kepada seorang syaikh. Tujuan beliau untuk belajar hadits-hadits Nabi n. Sudah menjadi tradisi saat itu, sebelum belajar seorang murid akan mengamati kebiasaan dan kepribadian guru. Pada suatu hari Imam Bukhari melihat syaikh tersebut berjalan di depan seekor kuda. Agar kuda tersebut terus mengikutinya, ia mengangkat kain bajunya agar terlihat ia seperti membawa sesuatu. Kuda itu juga mengira bahwa orang yang didepannya sedang membawa makanan. Hingga kuda tersebut mengikuti kemana orang di depannya pergi.

Ketika sampai di rumah, syaikh menurunkan kainnya dan terlihat kosong. Syaikh tadi ternyata menipu seekor kuda. Kejadian tersebut bagi Imam Bukhari merupakan hal yang besar. Walhasil beliau pergi mencari syaikh lain dan menggagalkan rencana belajar kepada syaikh tersebut. Imam bukhari mengatakan, “Jika ada orang yang berbhong kepada hewan, aku takut ia juga berbohong atas nama rasulullah SAW.” Wallahu A’lam.

%d bloggers like this: