Antara Ada dan Tiada

Antara Ada dan Tiada

Bagaimana rasanya menjadi sesuatu yang ada tapi dianggap tidak ada? Atau keberadaannya sama saja dengan ketiadaannya? Kalau kita mengerti, tentu hal ini sangat menyakitkan, juga menakutkan. Sebuah pelecehan, penghinaan, atau bahkan kezhaliman atas makhluk Allah paling sempurna; manusia!

Faktanya, banyak manusia yang ada dan tiadanya sama saja. Gagal menjalankan fungsi-fungsi standar yang seharusnya mereka kerjakan; mengamati bukti-bukti keesaan Allah, merenungi rahasia berbagai perintah beserta laranganNya, dan hanya menjalani kehidupan seperti air mengalir tanpa sikap kritis karena iman yang sedang krisis. Serupa ternak yang hanya ingin enak, hidup layak, dan meraih dunia banyak-banyak.

Bagi mereka, syariat hanyalah pajangan mainan yang bisa dipilih sesuka hati. Bermain-main dengannya jika bersesuaian dengan keinginan untuk bersenang-senang, dan tanpa merasa bersalah mencampakkan selainnya karena berseberangan dengan nafsu dan kepentingan dunia mereka. Seolah-olah, merekalah sang Penguasa yang menentukan segalanya. Tanpa melihat dari mana syariat itu berasal dan hikmah apa yang tersimpan dalam penyampaiannya melalui lisan para utusan.

Bukankah mereka yang membuat syariat yang ada itu menjadi seakan-akan tiada? Sebab jikapun mereka melakukannya, itu murni karena kepentingan dunia. Yang saat terasa berat, tanpa ragu mereka babat, agar bisa melengang tanpa rasa berdosa sebagai pengkhianat.

Bagi mereka, prinsip hasil duniawi menjadi ukuran kebenaran. Bahkan jika ia harus menghalalkan berbagai jalan, siapa yang peduli? Karena dunia yang manis dan hijau, ditambah nafsu yang mendamba pemuasan segera, juga iman yang ala kadarnya, bersatu padu melencengkan akal dan menyempitkan pandangan. Hingga ayat-ayat dan syariat terlihat berat, dan jalan alam kekal berselimut kabut tebal.

Akhirnya, saat berbagai kegagalan dan kerugian duniawi mereka temui, hampa akal mereka untuk memaknai, apalagi menemukan akar masalahnya. Padahal berbagai dosa besar mereka gelar, pembatal iman mereka rutinkan, dalam kawalan ulama palsu penjaja fatwa, penawar dahaga dengan fatamorgana agama ala pemesannya.

Mereka mulai menyalahkan Allah atas musibah yang dirasakan dalam tumpukan dosa yang telah dibudayakan. Berteriak tanpa malu, berlagak suci sedang kebenaran telah mereka ingkari, dalam tumpukan dosa terang benderang yang pernah membuat bumi berguncang.
Mereka pikun dan lupa bahwa Allah maha Adil yang tidak mungkin menzhalimi hamba-hambaNya. Dan atas keadilanNyalah, semua kejadian berjalan menuruti hukum sebab akibat. Bahwa hak Allah itu ada, dan peniadaannya pastinya akan membawa sengsara.
Tapi bukankah sia-sia saja berbicara dengan mereka?

%d bloggers like this: