Memahamkan Istri

Nyaman Bersamaku

Pada ghalibnya, seorang pemimpin memiliki banyak peran dan ketrampilan yang harus dijalani. Sebagai pengayom, pengarah, pengambil keputusan, atau pengatur di satu sisi, juga merencara, menempatkan, memilih, memutuskan atau mengatur di sisi lain. Sulit dan rumit kesannya, juga sangat kompleks cakupannya, tapi bukankah memang begitu seharusnya seorang pemimpin itu? Sebuah kesesuaian dengan haknya untuk ditaati dan dilayani.

Suami sebagai pemimpin keluarga, dengan tambahan berbagai tugas di ranah publik, di mana para lelaki harus memerankan diri, tentu saja bukan tugas yang ringan. Sebab selain harus pintar menyusun prioritas agar tidak tumpang tindih, membagi waktu agar semua seimbang, sebagai pemimpin, kita juga harus cerdas meningkatkan kualitas pekerjaan agar maksimal hasilnya.

Pada level tertentu, alih-alih menciptakan keharmonisan, banyak di antara para suami yang terjebak kebingungan. Bagaimana menjalankan peran multi fungsi di atas dengan nyaman, sedang faktanya seolah semua saling bertabrakan menuntut pemenuhannya. Ada yang asyik dengan tugas-tugas keumatan dan abai keluarga, ada juga yang terlena dengan tugas keluarga sehingga nihil dari nilai-nilai perjuangan.

Sebagai hamba Allah yang memiliki tugas iqamatudiin, ada amanah dakwah yang tidak ringan bagi para suami. Apalagi di jaman seperti ini, di mana kebutuhan dakwah yang semakin tinggi, seringkali menuntut waktu dan tenaga yang cukup banyak pula. Kemudian menyisakan hanya sedikit waktu untuk pekerjaan utama sebagai pencari nafkah keluarga. Sedang dengan hasil yang sekedarnya, jelas bukan pekerjaan mudah untuk menyamankan keluarga menjalani hari-hari.

Di sisi lain, menyibukkan diri dengan ma’isyah keluarga namun menarik diri dari kerja dakwah juga bukan pilihan yang bijaksana. Selain terkesan cinta dunia, kenikmatan materi seringkali menjebak kita dalam candu tak berkesudahan. Alih-alih menjadi partisipan dakwah, bisa jadi kita malah memusuhi dakwah. Atau kita kehabisan waktu dan tenaga untuk terlibat dalam iqamatudiin karena kelelahan. Meski mungkin secara ragawi menikmati hidup, secara ruhani jelas kita akan mengalami kekeringan. Dan pada saatnya, ia menjadi bom waktu yang siap meledak.

Adalagi tugas sebagai anak yang harus berbakti kepada kedua orangtua, terutama ibu. Belum lagi jika kita adalah satu-satunya anak, atau satu-satunya yang memahami syariat di antara saudara-saudara yang lain. Bukankah kita dan harta kita adalah milik bapak kita? Tentu tidak mudah memadukan semua ini dengan tugas domestik rumah tangga kita jika tidak pintar-pintar mengelolanya.

Belum lagi jika ada di antara kita adalah pelaku poligami. Tentu ada istri atau keluarga lain yang keadilan harus kita tegakkan di antara mereka, baik dalam waktu gilir ataupun pemberian materi. Sebab tanpa keadilan, ancaman Allah menanti di hari akhir nanti. Rasulullah bersabda,  “Siapa saja yang memiliki dua istri lalu lebih cenderung kepada salah satunya, pada hari kiamat kelak ia akan datang dalam keadaan sebagian tubuhnya miring.” HR. Abu Dawud, an-Nasa’i dan  Tirmidzi.

Memadukan semua kewajiban dengan baik adalah tugas kita sebagai pemimpin. Diperlukan pemahaman tentang skala prioritas dan manajemen waktu yang baik agar tidak tumpang tindih dan berantakan. Di sisi lain, memahamkan istri bahwa kita bukan hanya milik keluarga secara terbatas adalah tugas lain yang tidak kalah penting. Sebab meski ketrampilan kita secanggih piranti smartphone, tanpa dukungan istri dan keluarga adalah sangat berat kita menjalaninya.

Bahwa kita tidak sama dengan laki-laki pada umumnya, yang hanya berfikir kerja untuk keluarga dan kembali ke rumah jika semuanya sudah usai. Kita adalah pejuang yang mencoba memperjuangkan kebenaran, kehormatan, dan tentu saja, keluarga. Yang setiap kepergian kita dari rumah bukan selalu untuk rumah. Yang kepulangannya belum tentu membawa buah tangan, apalagi nafkah, untuk keluarga. Meski pahit, inilah kenyataannya! Atau menjadi nikmat jika kita sukses mengelolanya, insyaallah.

Duh, sungguh bukan pekerjaan yang mudah! Namun inilah tugas laki-laki sejati. Yang mengerti untuk apa memimpin dan mengaktualisasikan diri dalam kehidupannya. Yang tidak hanya mengejar dunia, namun juga tidak meninggalkannya atas nama tanggung jawab kepada keluarga dan agama.

Dari tumpukan masalah inilah, para lelaki besar dan agung itu lahir. Laki-laki luhur dalam mengemban kehidupan suci dengan kompleksnya tugas dan beban hidup. Laki-laki yang bisa memilah dan memilih dengan baik, untuk kemudian bertanggung jawab sepenuhnya atas pilihan itu. Bukan menjadi pengecut sebab merasa benar dalam satu pilihan, namun ternyata kedodoran dalam pilihan yang lain.

Laki-laki yang bisa memilih pendamping yang tepat, membimbing mereka tanpa intimidasi, namun menyamankan jiwa mereka atas pilihan jalan hidupnya sebagai pejuang. Laki-laki yang membuat mereka merasa bangga sebab dipilih sebagai teman perjuangan. Lelaki yang bisa memahamkan istri seperti apa adanya dia harus dipahami. Lelaki yang qawwam!

%d bloggers like this: