Derajat Tinggi dengan Ilmu Syar’i

Derajat Tinggi Dengan Ilmu Syar’i

Ibnu baththal dalam Syarh Shahih Bukhari menyebutkan suatu riwayat, bahwa ada seorang lelaki menemui Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu. Lelaki itu berkata, “Wahai Abu Abdirrahman, amal apakah yang paling utama?”Beliau menjawab, “Ilmu.” Kemudian dia bertanya lagi, “Amal apakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Ilmu.” Lantas lelaki itu berkata, “Saya bertanya kepada Anda tentang amal yang paling utama, tapi kenapa Anda menjawab “ilmu?!” Beliau menjawab, “Duhai malangnya dirimu, sungguh ilmu tentang Allah (ilmu syar’i) merupakan sebab bermanfaatnya amalmu yang sedikit maupun yang banyak. Dan kebodohan tentang Allah menyebabkan amal yang sedikit maupun yang banyak tidak bermanfaat bagimu.”

Jalan Menuju Jannah

Begitulah Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menggambarkan pentingnya ilmu. Dan apa yang beliau utarakan itu sejalan dengan perkataan Imam Bukhari yang sangat terkenal, “al-ilmu qablal qauli wal ‘amal, ilmu sebelum perkataan dan perbuatan.” Ketika menjelaskan ungkapan ini, Ibnul Munayyir rahimahullah berkata, “Beliau bermaksud untuk menjelaskan bahwa ilmu merupakan syarat benarnya ucapan dan amalan. Sehingga keduanya tidaklah dianggap tanpa adanya ilmu. Maka ilmu itu lebih didahulukan daripada keduanya, sebab ilmu menjadi motivasi untuk meluruskan niat, sedangkan lurusnya niat itulah yang menjadi pelurus amal. Beliau ingin menggarisbawahi hal itu supaya tidak muncul ungkapan ‘ilmu tidak ada gunanya tanpa amalan’ yang justru menimbulkan sikap meremehkan ilmu dan bermalas-malasan dalam mempelajarinya.”

Amal shalih yang diharapkan menjadi perantara menuju jannah tidaklah berfaedah tanpa diiringi dengan ilmu. Maka siapapun yang ingin mendapatkan jannah, ia harus mengetahui jalannya. Makin detil pengetahuan seseorang tentang rute perjalanan, maka jika dia mau menempuh jalannya akan lebih mudah dan lebih cepat sampai ke tempat tujuan. Karena itulah Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah mudahkan baginya untuk masuk jannah.” (HR Tirmidzi, beliau mengatakan, “hadits hasan”)

Adalah janggal ketik seseorang mengklaim berambisi untuk mendapatkan jannah, sementara berlaku ‘zuhud’ terhadap ilmu. Yang tidak tertarik untuk mengetahui detil-detil kebaikan dan cara menempuhnya, begitupun dengan detil keburukan berikut cara menghindarinya. Bahkan sering kita dapati orang-orang yang merasa cukup dengan pengetahuan yang global. Saking globalnya, hingga nyaris tak ada faedahnya. Perumpamaannya seperti orang yang mengerti bahwa lampu merah (traffic light) adalah rambu-rambu lalu lintas, tapi tidak mau memahami arti dari isyarat lampu tersebut. Apa maksud lampu merah, kuning maupun hijau. Maka dipastikan, pengetahuannya yang terlalu global tidak berfaedah sama sekali. Begitulah perumpamaan orang yang mengerti bahwa syirik kepada ALlah itu dosa besar, namun tak paham perbuatan apa saja yang masuk dalam kategori syirik. Mereka mengetahui bahwa amal kebaikan bisa mendatangkan ridha ALlah dan mengantarkan manusia masuk ke dalam jannah, namun tak tahu pasti apa saja yang masuk dalam kriteria kebaikan dan bagaimana cara mengerjakannya.

Derajat Tinggi dengan Ilmu Syar’i

Ilmu syar’i tak hanya hanya mengantarkan manusia menuju jannah, tapi juga meninggikan derajat pemiliknya. Semakin tinggi ilmunya, semakin tinggi pula derajatnya di jannah selagi ia konsisten dengan ilmunya. Allah Ta’ala berfirman,

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجاَتٍ

“Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberikan ilmu ke beberapa derajat.” (Al-Mujadalah: 11)

Tatkala menjelaskan ayat tersebut, Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata, “Kedudukan ulama berada di atas orang-orang yang beriman dengan selisih 700 derajat, jarak masing-masing derajat dengan yang lain sejauh 500 tahun perjalanan.”

Jika di total, jarak antara keduanya adalah 350.000 tahun perjalanan. Sebagai gambaran, perkirakan saja berapa kilometer jarak yang ditempuh oleh orang yang melakukan perjalanan selama 350.000 tahun. Sungguh merupakan jarak yang sangat jauh.

Nabi juga memberikan perumpamaan yang fantastis, perbandingan antara ulama dengan ahli ibadah dengan sabdanya,

وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ

“Keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah seperti perumpamaan bulan purnama dibandingkan dengan bintang-bintang yang ada.” (HR ABu Dawud)

BACA JUGA: Berkah Ilmu Karena Menghormati Guru

Maka bandingkan, terangnya bulan di saat purnama, niscaya akan didapatkan bahwa sejuta bintang tidak bisa mengalahkan terangnya satu bulan di saat purnama. Mengapa? Karena ibadah yang dilakukan oleh seorang ahli ibadah hanya bernilai satu ibadah saja, sedangkan nilai ibadah orang berilmu nilainya sebanyak ibadah yang dilakukan oleh orang-orang yang diterangi oleh cahaya ilmunya. Karena orang yang berilmu lalu mengajarkan ilmunya kepada orang lain, dia mendapatkan pahala setiap kali ada orang yang beramal shalih lantaran motivasi dan bimbingan darinya.

Alangkah indah penuturan Imam Ahmad bin Hambal pada saat membuka tulisan beliau dalam karyanya yang berjudul ar-Radd ‘ala al-Jahmiyah. Beliau berkata, “Segala puji bagi Allah, yang telah mengisi setiap masa kekosongan para rasul dengan hadirnya para ahli ilmu [ulama]. Mereka yang menyeru manusia menuju hidayah. Mereka bersabar dalam menghadapi gangguan yang merintangi jalannya. Mereka menghidupkan jiwa-jiwa yang mati dengan mengajarkan Kitabullah. Mereka berikan pencerahan kepada orang-orang yang buta dengan cahaya Allah. Betapa banyak korban yang telah dibinasakan Iblis lalu mereka hidupkan kembali jiwanya. Betapa banyak orang yang tersesat jalan dan bingun lantas mereka berikan bimbingan. Betapa indah ajakan mereka pada manusia, namun betapa buruk tanggapan manusia atas mereka.”

Bahkan mereka tidak hanya menerangi umat yang satu generasi dengannya, tapi juga generasi-generasi berikutnya, baik melalui karyanya, maupun melalui nukilan-nukilan ilmu yang tersebar dari generasi ke generasi yang tsiqqh (bisa dipercaya).

Yang Dimualiakan karena Ilmu

Begitu mulianya menjadi ulama, dan begitu tinggi derajatnya kelak di jannah, hingga banyak generasi pilihan yang menjadikan ilmu syar’i sebagai sarana meraih derajat yang tinggi. Dan begitu berharganya ilmu syar’i dalam pandangan generasi yang mengetahui arti dan nilai sebuah ilmu.

Adz-Dzahabi dalam Siyaru A’lam an-Nubala’ mengisahkan dari Asy’ats bin Syu’bah Al-Misshishi, “ Suatu hari khalifah Harun Ar-Rasyid pergi ke Raqqah, ketika itu melewati rombongan orang-orang yang berlarian menyambut Abdullah ibnul Mubarak, hingga terputuslah sandal-sandal, debu-debu bertebaran. Lalu salah seorang budak wanita Amirul Mukminin melihatnya dengan heran dan bertanya, “Siapa orang itu?” Mereka menjawab,“Seorang alim dari Khurasan telah datang.” Lalu diapun bergumam, “Demi Allah, inilah raja yang sebenarnya, tak sebagaimana Khalifah Harun yang mengumpulkan manusia dengan tentara dan para pembantunya.”

Disebutkan pula dalam Shahih Muslim dari Amir bin Watsilah, bahwa Nafi’ bin Abdil Harits bertemu Umar di Usfan. Ketika itu Umar mengangkatnya sebagai gubernur di Makkah. Kemudian Umar bertanya, “Siapa yang kalian angkat sebagai wali kota di lembah Wadi?” Dia menjawab, “Ibnu Abza.” Umar bertanya, “Siapa Ibnu Abza?” Dia menjawab, “Dia adalah salah satu bekas budak kami.” Umar bertanya, “Mengapa kalian jadikan pemimpin seorang maula (bekas budak)?” Dia menjawab, “Karena dia mempunyai ilmu tentang kitab Allah dan alim dalam hal fara’idh.” Kemudian Umar berkata, “Benarlah apa yang disabdakan oleh Nabi kalian, “Sesungguhnya Allah mengangkat (derajat) sebagian kaum dengan kitab ini (Al Qur’an), dan dengannya Allah merendahkan yang lainnya.” (HR Muslim)

Di kalangan sahabat, ada juga Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu yang sangat perhatian sekali terhadap ilmu. Beliau termasuk satu di antara empat orang yang telah hafal al-Qur’an pada saat wafatnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau juga sangat detil memahami perbedaan antara yang halal dan yang haram. Hingga Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

وَ أَعْلَمُهُمْ بِاْلحَلاَلِ وَ اْلحَرَامِ مُعَاذٍ

“Ummatku yang paling paham tentang halal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal.” (HR Abu Dawud, an-Nasa’i, Shahiihul Jaami’)

Adapun tetang kedudukan beliau di akhirat, Nabi shallallahu alaihi wasallam memberikan kabar gembira perihal beliau,

مُعَاذُ بن جَبَلٍ أَمَامَ الْعُلَمَاءِ بِرَتْوَةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Muadz bin Jabal berada satu langkah di depan para ulama pada hari Kiamat.” (HR Thabrani, al-Albani menyatakan shahih di Shahih al-Jami’)

Bahkan di antara ulama menjelaskan makna biratwah yakni sejauh lemparana anak panah, ada pula yang mengatakan sejauh mata memandang. Intinya, bahwa beliau adalah pemimpin para ulama pada hari Kiamat.

Maka barangsiapa ingin mulia di dunia, tinggi derajatnya di akhirat, hendaknya melazimi ilmu syar’i. Semoga Allah menjadikan kita sebagai ulama amilun, ahli ilmu yang mengamalkan ilmunya, aamiin. (Abu Umar Abdillah)

%d bloggers like this: