Sungkan, Penghalang Banyak Kebaikan

18

Keinginan untuk mengaplikasikan ilmu syar’i yang telah kita pelajari, seringkali  terganjal dengan situasi masyarakat yang mengitari. Terlebih jika kita tinggal di daerah yang masih kental nuansa adat daerah, atau masih minim dari sentuhan dakwah Islam yang ‘serius’.

Gambaran kesulitan selalu terbayang, karena konsekuensinya adalah harus berani tampil beda, siap dianggap nyleneh dan menjadi sorotan atau pusat perhatian. Belum lagi jika harus menolak undangan acara yang tidak ‘nyar’i‘, tradisi bid’ah atau terkadang berbau syirik. Tuduhan kurang bermasyarakat, dicurigai aliran sesat dan aneka kekhawatiran lain tergambar kuat di benak kita.

 

Sungkan, Menghalangi Banyak Kebaikan

Rasa sungkan memang menghalangi banyak kebaikan. Baik sungkan dalam pengertian malu untuk berbuat baik, maupun takut orang lain tidak berkenan dengan perbuatan baik yang dilakukan.

Dari permulaan, menuntut ilmu yang merupakan gerbang seluruh kebaikan kerap terganjal karena sungkan. Mungkin karena umur telah lanjut, malu memulai dari awal, harus berguru kepada yang lebih muda, tak enak bergabung dengan majlis-majlis ta’lim dan berbagai alasan lain yang intinya adalah sungkan. Padahal, menuntut ilmu bukanlah cela, karenanya tak ada alasan untuk malu. Kalaupun harus menahan rasa malu, itu jauh lebih baik dan lebih ringan akibatnya daripada seumur hidup menelan pahitnya kebodohan. Adalah suatu keutamaan jika seseorang tidak terhalangi rasa malu atau sungkan dalam menuntut ilmu. Inilah kelebihan wanita Anshar yang dipuji oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha,

نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ الْأَنْصَارِ لَمْ يَكُنْ يَمْنَعُهُنَّ الْحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِي الدِّين

“Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, rasa malu tidak menghalangi mereka untuk menuntut ilmu agama.” (HR. Muslim)

Rasa sungkan juga menghalangi seseorang untuk tampil sesuai dengan tuntutan syar’iat. Apa kata orang nanti? Pertanyaan ini seakan menjadi tembok besar yang menghalangi seseorang untuk ‘hijrah’ dari maksiat menuju ketaatan.

Rasa sungkan juga menghalangi seseorang untuk tampil sesuai dengan tuntutan syar’iat. Apa kata orang nanti? Pertanyaan ini seakan menjadi tembok besar yang menghalangi seseorang untuk ‘hijrah’ dari maksiat menuju ketaatan.

Sekedar sampel, seorang muslimah merasa sungkan berjilbab di sekolah atau di kampungnya karena belum ada yang mendahului, tidak enak kalau harus melakukan seorang diri.

Untuk menghidupkan sunnah pun seringkali terganjal oleh rasa sungkan kepada orang lain. Mungkin karena belum ada yang menjalankan, atau khawatir dianggap aneh, takut dikatakan pamer atau riya’. Padahal, cukuplah seseorang dianggap riya’, jika ia meninggalkan amal karena manusia. Fudhail bin Iyadh berkata,

تَرْكُ اْلعَمَلِ لِأَجْلِ الناَّسِ هُوَ الرِّياَءُ، وَاْلعَمَلُ لِأَجْلِ الناَّسِ هُوَ الشِّرْكُ

Meninggalkan amal karena manusia, itulah riya, dan beramal karena manusia, itulah yang disebut syirik.

Justru, ketika belum ada orang lain yang memulai menghidupkan suatu sunnah atau kebaikan, mestinya lebih termotivasi untuk menjalankan. Karena orang yang mempelopori suatu kebaikan, akan mendapatkan pahala orang-orang yang mengikuti jejaknya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ

“Barangsiapa yang mempelopori suatu sunnah yang baik dalam Islam, makanya dia mendapatkan pahalanya, dan pahala orang yang mengamalkan setelahnya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.” (HR Muslim)

Alangkah sayangnya bila keutamaan itu luput dari kita hanya karena rasa sungkan.

Bantuk kebaikan yang paling sering terhalang untuk dilakukan karena sungkan adalah kewajiban amar ma’ruf dan nahi munkar. Takut menyinggung perasaan orang, tak enak mencampuri urusan orang atau khawatir dianggap sok suci. Apalagi jika kemungkaran atau kesalahan itu dilakukan oleh orang yang lebih pintar, lebih senior, atau orang yang disegani. Sikap seperti ini, sesungguhnya merupakan bentuk menghinakan dirinya sendiri. Ibnu Katsier rahimahullah ketika menafsirkan firman Allah,

“Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan Munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya Amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. al-Maidah: 79)

Beliau menampilkan sebuah hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

لَا يَحْقِرْ أَحَدُكُمْ نَفْسَهُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يَحْقِرُ أَحَدُنَا نَفْسَهُ قَالَ يَرَى أَمْرًا لِلَّهِ عَلَيْهِ فِيهِ مَقَالٌ ثُمَّ لَا يَقُولُ فِيهِ فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَقُولَ فِي كَذَا وَكَذَا فَيَقُولُ خَشْيَةُ النَّاسِ فَيَقُولُ فَإِيَّايَ كُنْتَ أَحَقَّ أَنْ تَخْشَى

“Janganlah sekali-kali salah seorang di anatara kalian menghinakan dirinya sendiri.” Para sahabat bertanya, “Bagaiamana maksud salah seorang di antara kami menghinakan diri sendiri?” Beliau bersabda, “Ketika ia melihat suatu urusan yang mestinya ia berbicara karena Allah, namun ia tidak menyampaikannya, lalu Allah Azza wa Jalla akan berkata kepadanya pada Hari Kiamat, “Apa yang menghalangimu untuk menyampaikan ini dan itu?” Ia menjawab, “Takut kepada manusia.” Maka Allah berfirman, “Semestinya Aku lebih berhak untuk ditakuti.” (HR Ibnu Majah dan al-Baihaqi). Al-Bushiri dalam az-Zawa’id mengatakan, “ini isnadnya shahih.”

Adapun Imam Ahmad, memberikan penjelasan terhadap hadits tersebut, “Ini berlaku bagi orang yang tidak mau menyampaikan kebenaran karena takut celaan orang, padahal sebenarnya dia mampu untuk menyampaikan.”

Cobalah kita renungkan, betapa banyak kemungkaran merajalela, lantaran banyak orang-orang yang sungkan atau takut untuk mencegahnya. Padahal, Allah memuji suatu kaum yang memiliki karakter, “walaa yakhaafuuna lau mata laa’im”, dan tidak takut celaan dari orang yang suka mencela.

 

Sungkan, Sebab Banyaknya Pelanggaran

Rasa sungkan bukan saja menghalangi banyak kebaikan, tapi juga menjadi sebab terjadinya banyak pelanggaran. Banyak orang yang secara ilmu sudah paham haramnya sesuatu, tapi belum bisa meninggalkannya karena sungkan, takut menyinggung perasaan orang, atau khawatir penghargaan orang kepadanya menjadi berkurang.

Menghadiri pesta yang menggelar kemungkaran, berpartisipasi dalam tradisi kesyirikan, berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram dan masih banyak kasus lain yang hampir kita jumpai setiap hari. Sebagian orang melakukannya bukan karena tidak tahu, tapi karena rasa sungkan untuk mengatakan “tidak!” terhadap kemaksiatan. Beralasan ‘menjaga perasaan orang’ tidaklah tepat dalam konteks ini. Karena resiko yang dihadapi terlalu besar dari sekedar menjaga perasaan orang. Adalah suatu kebodohan, jika seseorang mencari ridha manusia dengan cara mengundang murka ar-Rahman. Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab menyebutkan dalam Kitab Tauhid, sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha,

 مَنْ اِلْتَمَسَ رِضَى اللهِ بِسُخْطِ الناَّسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَرْضَى الناَّسَ عَنْهُ وَمَنْ اِلْتَمَسَ رِضاَ الناَّسِ بِسُخْطِ اللهِ سَخَطَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ الناَّسَ

“Barangsiapa yang berupaya meraih ridha Allah hingga membuat manusia marah, maka Allah akan meridhainya, dan akan membuat manusia ridha terhadapnya. Dan barangsiapa yang ingin mendapatkan ridha manusia dengan mengundang kemurkaan Allah, maka Allah akan murka kepadanya, dan akan membuat orang-orang marah kepadanya.” (HR Ibnu Hibban dalam Shahihnya dengan sanad hasan).

Begitu banyak kebaikan yang hilang karena sungkan, demikian banyak pula pelanggaran dialukan karena sungkan. Karenanya, sudah saatnya kita enyahkan rasa sungkan dalam melakukan kebaikan dan menjauhi kemaksiatan. Wallahul muwaffiq.

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdilllah/Telaah