Berdakwah di Pasar-pasar Jahiliyah

Berdakwah

Bangsa Arab pernah memiliki tradisi hari pasar yang sangat terkenal. Mereka menyebutnya pasar Ukadz. Pasar ini laksana magnet yang menarik para pedagang dan pembesar dari seluruh penjuru Jazirah Arab. Selain untuk berdagang, mereka datang untuk menjalin persekutuan, menuntaskan perselisihan, beradu syair hingga mencari jodoh. Rasulullah juga selalu datang ke Ukadz. Momen berharga tersebut beliau gunakan untuk berdakwah menyeru manusia mengucap kalimat tauhid.

Sulit dipastikan kapan pertama kali pasar ukadz diadakan. Namun para ahli sejarah sepakat bahwa pasar ini sudah ada jauh sebelum Rasulullah diutus sebagai nabi. Hari pasar tersebut berlangsung lebih dari satu bulan dan diselenggarakan di tiga tempat. Dimulai dengan pasar Ukadz, dilanjutkan dengan pasar Majinnah dan diakhiri dengan pasar Dzil Majaz.

Dari ketiga hari pasar tersebut, Ukadz menjadi festival dagang yang paling besar. Pasar Ukadz diselenggarakan tiap tahun di lembah milik Bani Hawazin. Lokasinya sejauh sehari perjalanan dari Thaif dan dua hari perjalanan dari Makkah. Seiring hilal tanggal satu Dzul Hijjah muncul, pasar Ukadz dimulai. Pasar ini baru ditutup pada tanggal 20 Dzul Qa’dah.

Setelah itu, para pedagang pergi ke Majinnah, tanah milik bani Kinanah, untuk menyelenggarakan kegiatan serupa. Pasar Majinnah ini ditutup pada akhir bulan Dzul Qa’dah. Kemudian pada tanggal 1 Dzul Hijjah, mereka melanjutkan kegiatan dagang di Dzil Majaz dan menutupnya dengan melaksanakan ibadah haji. Lokasi Dzil Majaz sangat dengat dengan padang Arafah dan dilindungi oleh Bani Hudzail.

Pasar-pasar tersebut sengaja digelar di bulan haram agar para pedagang mendapat jaminan keamanan. Mereka pun tidak dihantui rasa was-was jika sewaktu-waktu dicegat perampok di tengah jalan. Sebab, bangsa Arab memiliki tradisi yang tak tertulis tentang larangan berperang dan berkonflik di bulan-bulan haram. Yaitu, bulan Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab.

Pasar-pasar tersebut sangat penting dan sakral bagi masyarakat Arab di masa jahiliyah. Bahkan dianggap sebagai bagian dari haji. Mereka mengatakan, “jangan datang ke pasar Ukadz, Majinnah dan Dzil Majaz kecuali dalam keadaan berihram untuk menunaikan haji.” Dengan demikian, orang Arab dapat menggabungkan dua tujuan dalam satu waktu; antara berhaji dan berdagang.

Hampir semua barang diperdagangkan di pasar Ukadz. Mulai dari hasil bumi, kain, budak, hingga khamer. Bahkan konon, raja-raja di luar Jazirah Arab mengirim kafilah dagang guna meramaikan Ukadz.

Di pasar Ukadz inilah perwakilan dari segenap kabilah Arab datang. Karena itu, kegiatan yang berlangsung tidak selalu terkait urusan bisnis. Ketika sebuah kabilah ingin mengumumkan persekutuan atau mengobarkan permusuhan mereka menunggu hari Ukadz. Di pasar itu juga banyak orang menuntaskan perselisihan atau pertikaan. Mereka mengangkat Muhammad bin Sufyan bin Mujasyi’ dari bani Tamim sebagai qadhi. Keputusan-keputusan yang dikeluarkannya dipatuhi kedua belah pihak. Muhammad bin Sufyan mewarisi kedudukan tersebut secara turun temurun. Pada masa sebelumnya,  ayah dan kakeknya juga menjadi qadhi di pasar Ukadz.

Di pasar Ukadz banyak orang yang meminta bantuan dan dukungan. Seperti cerita yang dikisahkan Al-Ashfanani, tentang sorang laki-laki dari kabilah hawazin yang diculik satu kabilah. Saudara korban meminta bantuan kabilahnya, namun mereka menolak. Karena itu, ia pun pergi ke Ukadz dan mencari bantuan hinggga akhirnya kabilah Madhaj bersedia mengulurkan bantuan.

Di Ukadz ini pula banyak lelaki menemukan jodoh. Contohnya yaitu pernikahan Yazid bin Abdul Maddan dengan Ummu Kilab yang menjadi cerita lintas generasi. Kala itu, Yazid, sastrawan kondang dari Najran bertemu dengan Amir bin Thufail, penyair dan penunggang kuda ulung dari Hawazin. Keduanya lalu dikejutkan dengan kedatangan Umayyah bin Askar.

Konon, Umayyah memiliki putri yang sangat rupawan. Semua pemuda menyebutnya sebagai wanita Arab paling cantik di masa itu. Kedua pujangga hebat itu lantas berebut hati putri Umayyah yang bernama Ummu Kilab tersebut. Mereka beradu syair dan membanggakan kehebatannya masing-masing. Yazid lebih pandai memikat Umayyah hingga ia memilihnya sebagai menantu. Meski jodoh untuk ummu kilab sudah terpilih, Yazid dan Amir bin Thufail tak berhenti beradu syair.

Dari seluruh kegiatan di Ukadz, majelis syairlah yang menjadi puncak acara. Semua kabilah mengajukan pujangga  paling hebat untuk menunjukkan keunggulan mereka. Kalah dalam adu syair ini menjadi semacam penghinaan yang harus dibalas pada tahun berikutnya.

Dakwah di pasar Ukadz

Rasulullah melihat pasar Ukadz, Majinnah dan Dzil Majaz sebagai pelung untuk berdakwah. Karena itu, setelah tiga tahun mengembangkan Islam secara sembunyi-sembunyi, beliau lanjutkan dakwah secara terang-terangan . Tiap tahun beliau datang ke Ukadz, Majinnah dan Dzil Majaz untuk ‘menjual’ Islam dan menyeru orang mengikrarkan kalimat tauhid. “Wahai manusia, ucapkanlah la ilaha illallah, kalian akan selamat, kalian akan beruntung,” ajak beliau.

Beberapa kali beliau mengajak Al-Abbas bin Abdul Muthallib, paman beliau, sebagai pemandu. Karena pendatang yang hadir di pasar begitu banyak. Selain itu, tiap kabilah menempati lokasi-lokasi yang telah ditentukan. Sedangkan Al-Abbas mengenali semua kabilah dan di mana mereka mendirikan tenda. Pertimbangan lainnya, ayah shahabat Abdullah bin Abbas itu menjabat sebagai pelayan para jemaah haji. Karanenya, semua kabilah Arab menaruh hormat kepadanya.

Rasulullah mendatangi setiap kabilah, beliau ajarkan kalimat tauhid, mengajak mereka masuk Islam dan meminta mereka bersedia melindungi dakwahnya. Jawaban yang mereka sampaikan kompak, “tidak”. Meski tidak ada satupun kabilah yang menyambut dakwahnya, beliau tidak putus asa. Tiap tahun beliau ulangi walau beberapa orang yang bosan menghardik, “sampai kapan kamu berhenti mendakwahi kami?”

Perlawanan paling keras justru datang dari Quraisy. Shahabat nabi bernama Thariq bin Abdullah Al-Muharibi   pernah melihat nabi di pasar Dzil Majaz. Ketika nabi berceramah, seorang pria berwajah cerah menyala muncul dari belakang. Ia melempari betis nabi hingga berdarah-darah. “Wahai hadirin, orang ini adalah penipu. Orang ini pendusta. Jangan percaya omongannya,” katanya membubarkan massa.

Lelaki kasar tersebut tiada lain adalah Abu Lahab, paman Rasulullah. Kebenciannya terhadap Islam membuatnya tak bisa tenang. Di mana nabi menyampaikan ajakan tauhid, di situ Abu Lahab muncul meredam seruan mulia Rasulullah tersebut. []

%d bloggers like this: