Syarah Sullamul Wushul Abu Zufar Mujtaba

Allah Yang Pertama dan Yang Terakhir

Biografi Syaikh Hafizh bin Ahmad al-Hakami
Penulis Matan Sullamul Wushul

Pengantar Redaksi:
Dengan izin Allah, mulai edisi ke-175 ini, kami akan menyajikan syarah kitab “Sullamul Wushul ila ‘Ilmil Ushul fit Tauhid”. Sebuah kitab kecil yang memuat matan akidah Ahlussunnah wal Jamaah, ditulis secara nazham oleh Syaikh Hafizh bin Ahmad al-Hakami (1342-1377 H). Syarah akan ditulis oleh Ustadz Abu Zufar Mujtaba yang biasanya menulis Syarah Akidah Thahawiyah dan sudah selesai pada edisi ke 165. Semoga Allah memudahkan kami semua untuk ini.

Syaikh Hafizh bin Ahmad al-Hakami dilahirkan pada tanggal 24 Ramadhan 1342 H di desa Salam, Jazan. Al-Hakami adalah nisbat kepada al-Hakam bin Sa’ad al-‘Asyirah, salah satu kabilah termasyhur dan terbesar di tanah Arab.
Syaikh Hafizh masih kanak-kanak saat ayahnya mengajaknya dan saudara-saudaranya bermigrasi ke desa Jadhi’ Bani Syubail. Di sinilah Hafizh kecil menghabiskan masa kanak-kanaknya. Pekerjaan sehari-harinya adalah menggembala kambing orang tuanya. Pekerjaan yang ditekuninya sampai ia dewasa.
Saat berumur 7 tahun ia dan kakaknya yang paling besar dimasukkan ke sekolah pengajaran al-Qur`an di desa itu. Hafizh menyimakkan 2 juz, yakni juz 30 dan 29 kepada guru ngajinya, dan setelah itu ia menyelesaikan seluruh al-Qur`an dengan menyimakkannya kepada sang kakak tertua, Muhammad bin Ahmad al-Hakami. Dia masih menggembala kambing sembari belajar sampai pemahamannya baik. Hafizh muda juga belajar menulis dan tulisannya indah. Dia tumbuh di tengah-tengah keluarga yang terkenal shalih dan baik. Dan tak lama kemudian ia sudah hapal al-Qur`an. Ia juga membaca buku-buku fikih, faraidh, tafsir, hadits, dan tauhid.

Kedatangan Syaikh al-Qar’awi
Saat Hafizh menginjak usia yang ke-16 yakni pada tahun 1358 datanglah Syaikh Abdullah bin Muhammad al-Qar’awi  ke wilayah selatan Arab Saudi, dekat tempat tinggal Hafizh muda. Syaikh Abdullah mendengar di wilayah selatan tidak ada juru dakwah yang menyeru kepada ajaran Islam yang benar. Oleh karena itu beliau bernadzar untuk berdakwah di sana, menyebarkan akidah yang benar, membenahi masyarakat dan membersihan bid’ah dan khurafat.
Kedatangan Syaikh al-Qar’awi menjadi keberkahan tersendiri bagi Hafizh muda. Hafizh muda mulai berkenalan dengan Syaikh al-Qar’awi. Semula Hafizh masih belajar sambil menggembala kambing. Jika karenanya ia ketinggalan pelajaran, ia bertanya kepada kawan-kawannya serta meminjam catatan mereka. Barulah pada tahun 1360 Hafizh memfokuskan diri untuk menuntut ilmu. Hapalannya luar biasa. Sering kali Syaikh al-Qar’awi dibuat kagum olehnya. Pernah suatu hari Syaikh Abdullah al-Qar’awiy mendiktekan kitab Tuhfatul Athfal. Majlis ilmu hari itu diakhiri dan didapati Hafizh telah menghapal kitab tersebeut. Sering kali pula Syaikh al-Qar’awi menyampaikan materi, setelah selesai ia meminta Hafizh untuk mengulangnya. Dia mengulangnya persis seperti yang Syaikh sampaikan. Seperti rekaman yang diputar ulang. Hapalannya benar-benar luar biasa.
Pada bulan Rajab tahun itu, ibu Hafizh wafat. Lalu pada bulan haji, ia menunaikan haji bersama ayah, dan sebagian saudaranya. Saat dalam perjalanan pulang ayahnya sakit dan wafat. Setelah itu ia fokus dalam menuntut ilmu siang dan malam. Hafizh muda rajin sekali belajar.  Hanya dalam waktu kurang dari 3 tahun, ia sudah unggul dalam banyak cabang ilmu syar’i. Banyak yang tidak percaya. Hanya orang-orang yang mengenalnya dan pernah hidup dengannya yang percaya.

Mulai Menulis
Di usia Hafizh yang ke-19 Syaikh al-Qar’awi memintanya untuk menyusun sebuah kitab berkenaan dengan tauhid—meliputi akidah as-Salafush Shalih. Hafizh diminta menyusunnya berupa nazham (semacam syair) agar mudah dihapal. Tulisan ini menjadi ujian bagi Hafizh setelah sekian lama belajar bermulazamaah kepada beliau. Penulisannya selesai pada tahun 1362. Sullamul Wushul ila ‘Ilmil Ushul fit Tauhid, demikian judul yang diberikan Hafizh untuk karya pertamanya.
Syaikh al-Qar’awi dan para ulama pada masa itu yang membaca Sullamul Wushul kagum terhadapnya. Setelah itu ia diminta untuk menulis beberapa buku lainnya dalam berbagai disiplin ilmu. Syaikh Hafizh benar-benar menjadi teladan bagi siapa saja yang ingin memiliki produktivitas ilmiah dan ilmu yang bermanfaat.
Syaikh al-Qar’awi mengakui kehebatan Hafizh dan berkata, “Hafizh tidak ada duanya dalam produkivitas ilmiah, penyusunan buku, pengajaran dan manajemen. Semua diuasainya dalam waktu singkat.”
Syaikh Hafizh tidak hanya menguasai ilmu akidah. Beliau juga pakar dalam hadits, musthalah hadits, fikih, ushulfikih, faraidh, tarikh, sirah, dan sastra arab.
Di antara karya beliau:
Sullamul Wushul ila ‘Ilmil Ushul fi Tauhidillah wa Ittiba’ir Rasul..
Ma’arijul Qabul Syarah Sullamul Wushul
Nailus Suul fi Tarikhil Umami wa Siratur Rasul
Wasilatul Hushul ila Muhimmatil Ushul (dalam Ushulfiqh)
As-Subulus Sawiyyah fi Fiqhis Sunan al-Marwiyah (dalam Ushulfiqh)
An-Nurul Faidh in Syamsil Wahyi (dalam ilmu Faraidh)
Dalilu Arbabil Falah fi Thqiqi fannil Ishthilah (Dalam Mushthalah hadits)
Al-Lu’lu al-Maknun fi Ahwalil Asanid wal Mutun (dalam Mushthalah hadts)
Al-Lamiyah fin Nasikh wal Mansukh (dalam Ushulfiqh)
Nashihatul Ikhwan ‘an Ta’athi al-Qaat wasy Syamah wad Dukhan.
Guru Syaikh Hafizh hanya hanya satu, Syaikh ‘Abdullah al-Qar’awi di kota Shamitha, dekat desa tempat tinggalnya bersama orang tuanya dulu. Syaikh Hafizh tidak pernah belajar ke kota lain—apalagi luar negeri. Hanya, ketika Syaikh ‘Abdullah memintanya untuk pergi ke Mekah dan menikahkannya dengan salah satu putri beliau pada tahun 1367, selama di Mekah beliau belajar ke Syaikh ‘Abdurrazzaq ‘Afifi di masjid al-Haram.

Komitmen dan Akhlak Syaikh Hafizh
Kakaknya yang paling besar, Muhammad bin Ahmad yang juga guru al-Qur`an Hafizh berkata, “Hampir seluruh waktunya dia habiskan untuk membaca al-Qur`an, menelaah buku-buku ilmiah, mengajar, menyusun buku dan mengulang-ulang pelajaran.”
“Dia juga rendah hati, senang berolah raga dan senang bercanda dengan kawan-kawannya dan mereka yang mengunjunginya. Inilah yang membuat banyak orang senang bermajlis dengannya dan mengambil faidah darinya,” sambungnya.
Setiap bulan Ramadhan, selepas shalat Zhuhur ia membaca al-Qur`an sebanyak 1 juz yang dijadikannya bacaan shalat Tarawih di masjid. Dia menjadi imam untuk para pelajar yang shalat di masjid al-Asyraf Harah ar-Rahah.
Syaikh Hafizh adalah seorang yang zuhud terhadap dunia. Hampir seluruh waktunya dihabiskannya untuk menuntut ilmu dan mengajarkannya kepada masyarakat dan penuntut ilmu. Beliau sama sekali tidak tertarik dengan dunia ataupun harta dan kemewahan. Saat beliau ditunjuk menjadi salah satu pengurus di Ma’had, beliau mendapat gaji 150 riyal Saudi (sekitar 500.000 rupiah). Uang yang beliau terima beliau habiskan untuk diberikan kepada para pelajar. Pun ketika ditunjuk sebagai mudir, gaji beliau beliau habiskan untuk memenuhi keperluan keluarga, para pelajar, dan orang-orang fakir.

BACA JUGA : Tauhid Rububiyah

Pendek Usia Panjang Berkahnya
Pada tahun 1373 Syaikh Hafizh menunaikan ibadah haji bersama Syaikh ‘Abdullah al-Qar’awi dan beberapa orang. Di perjalanan Syaikh Hafizh sakit, dan akhirnya meninggalkan alam fana ini untuk selama-lamanya pada tanggal 18 Dzulhijjah setelah menunaikan seluruh rangkaian manasik haji. Usianya baru 35 tahun.
Beliau wafat meninggalkan 4 anak laki-laki dan 3 anak perempuan. Putra-putra beliau adalah Ahmad bin Hafizh Ahmad al-Hakami, ‘Abdullah bin Hafizh Ahmad al-Hakami, Muhammad bin Hafizh Ahmad al-Hakami, dan ‘Abdurrahman bin Hafizh Ahmad a-Hakami.
Syaikh Hafizh adalah satu dari banyak orang yang mendapatkan keberkahan pemberian nama yang baik. Ayahnya memberinya nama Hafizh dan ia pun benar-benar menjadi hafizh. Mari memberi nama yang baik untuk anak-anak kita.

%d bloggers like this: