Melatih Diri

Melatih Diri

Layaklah para sahabat, tabiin, dan tabiut tabiin disebut sebagai generasi terbaik. Mereka adalah manusia yang paling tahu cara mendidik diri. Mereka telah mewariskan kepada kita sebaik-baik bekal tarbiyah. Di antara bekal tersebut adalah melatih diri. Jiwa orang-orang terdahulu, kata Abdullah bin Mubarak, mudah diajak berbuat baik, sedangkan jiwa kita harus dipaksa untuk itu. Maka sudah sepatutnya kita memaksa.

Jiwa tidak akan mengerjakan ketaatan dengan kesadaran. Ia melakukannya dengan tarbiyah dan latihan. Dengan begitu ketaatan menjadi karakter dan kebutuhan. Seorang tabiin pernah berkata, “Dahulu aku tak bisa mengecap nikmatnya bacaan al-Qur’an. Aku pun berkata kepada diri agar seolah mendengarnya langsung dari Rasulullah dan aku merasakan sedikit nikmatnya. Kemudian kukatakan pada diri untuk membaca seolah mendengar dari Jibril ketika mengabarkan kepada Nabi maka bertambahlah rasa nikmat. kemudian aku katakan pada diri agar membacanya seolah mendengar ketika Allah berfirman dengannya maka aku merasakan nikmat yang sempurna.

Begitulah ia lalui tahapan demi mendapatkan kenikmatan. Sementara kita seringkali mengerjakan ibadah tanpa merasakan kenikmatan darinya. Tangan kita terangkat, lisan kita berucap, kepala kita tersuruk dalam sujud, tapi hati kita hampa tanpa makna.

Sungguh jalan menuju penyucian jiwa adalah dengan membiasakan diri melakukan amalan dari hati. Apabila telah terbiasa karena dikerjakan berulang kali akan menjadi tabiat. Maka ringanlah jiwa apa yang dulu dirasa berat olehnya. Karenanya siapa yang ingin menjadi dermawan, ia harus memaksa diri untuk memberi. Mengulanginya terus sampai menjadi tabiat diri.

Orang-orang shalih terdahulu semangat sekali mengajarkan kepada anak dan muridnya untuk melatih diri. Abdullah bin Abdul malik bercerita ketika ia berkendara bersama ayahnya ditunjukkan ia kepada sebuah pohon dan ayahnya berkata, ‘Bacalah tasbih hingga kalian sampai di pohon itu.’ Ketika telah sampai pada pohon yang ditunjuk, ia tunjuk lagi pohon yang ada jauh di depan seraya ia katakan, ‘Bertakbirlah hingga kalian sampai pohon itu. Demikian terus hingga sampai di tujuan.

BACA JUGA : Memaafkan Itu Berat, Benarkah?

Begitulah mereka lakukan hingga tasbih dan tahmid menjadi hiasan lisan yang tak pernah tertinggal. Mereka berkata, “Kita selalu membiasakan diri mengerjakan sesuatu hingga terbiasa.”

Sementara kita, betapa banyak waktu tersita oleh kesibukan yang tak bernilai ketaatan.

%d bloggers like this: