Mereka yang Berguguran di Jalan Iman

47

Iman merupakan harta paling berharga dalam hidup ini. Tapi tidak sedikit orang yang rela menukar harta berharga tersebut dengan yang lebih rendah nilainya bahkan justru dengan sebuah nilai yang hina.

Kisah pertama, kita mulai dengan kisah Abdah bin Abdurrahim. Masa mudanya diarungi dengan menghafal al quran dan berjihad di jalan Allah. Berbagai ekspansi militer ia ikuti. Kawan-lawan seperjuangannya banyak yang merasa kagum dengan prestasinya. Kini, peperangan besar sedang ia hadapi, melawan Romawi.

Di sinilah ujian keteguhan itu datang menantang keteguhan pemuda luar biasa ini. Bukan pedangnya yang diuji, orang-orang Romawi memiliki mental tak jauh beda dengan musuh-musuh tak punya iman lainnya. Bukan pula ibadah dan hafalannya, karena meskipun tengah berjihad, ia masih bisa beribadah dan menghafal. Yang diuji kali ini adalah nafsu bujangnya.

Ketika melewati sebuah benteng di negeri Romawi, tiba-tiba pandangan matanya terpaku pada sebuah wajah jelita dengan rambut pirang. Jatuh cinta pada pandangan pertama. Bukan, bukan jatuh cinta lagi, Abdah jatuh hati. Hatinya jatuh dan langsung terpenjara oleh kecantikan wanita Eropa yang baru pertama dilihatnya.

Sekonyong-konyong, hasrat hati Abdah tertarik dengan sangat kuat, seperti besi kecil yang didekatkan pada sebuah magnet besar. Abdah membelokkan langkah kudanya mendekati si wanita. Tanpa babibu, Abdah melamar si wanita untuk dijadikan isteri. Cintanya tak bertepuk sebelah tangan, si wanita menerima, hanya saja ada syaratnya.

Syaratnya, Abdah harus menukar imannya dengan kekufuran, menjadi seorang Nashrani. Rupanya racun cinta yang ditembakkan setan kali ini tepat mengenai tali hati Abdah. Ia mengiyakan begitu saja syarat gadis pirang itu. Ia pun melepas Islamnya dan menikah di dalam benteng.

Seperti disambar petir, kawan-kawan Abdah terguncang. Bagaimana bisa seorang pejuang sekaligus penghafal al Quran rela melepas mahkota iman nya hanya untuk ditukar dengan sampah dunia yang beberapa tahun lagi tua dan akhirnya ke neraka? Ibadah dan semua catatan perjuangannya pun berakhir sampai di sini. Sirna tak tersisa. Saat ditanya, apa yang terisa dari hafalanmu? Abdah menjawab, hanya dua ayat:

“Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). (QS. Al Hijr: 2-3).

Kisah kedua, plotnya setali tiga uang dengan Abdah. Kisahnya dituturkan oleh Imam al Qurthuby dalam kitab at Tadzkirah. Tentang seorang pemuda ahli ibadah yang mendedikasikan dirinya sebagai muadzin. Perjalanan hidupnya dilalui dengan ibadah dan kedekatan dengan masjid.

Sampai suatu ketika, keteguhan hatinya diuji oleh seorang wanita Nashrani. Saat hendak mengumandangkan adzan, matanya terpikat pada pemandangan luarbiasa di sebuah jendela, di bawah menara. Kecantikan putri seorang nashrani itu, rupanya mampu menembus jendela dan menjangkau jarak si muadzin.

Sang muadzin pun jatuh hati. Ia turuni tangga menara, menghampiri sumber pesona itu memancar. Sang gadis bertanya, “ Apa yang anda inginkan?” sang Muadzin menjawab, “Dirimu.” “Kenapa begitu?” Dia menjawab, “Aku telah jatuh cinta padamu.” Wanita itu berkata, “Saya tidak mau berbuat dosa.” Muadzin berkata, “Aku akan menikahimu.” Wanita itu menjawab, “Kamu seorang muslim dan saya seorang Nasrani, ayahku jelas tidak akan merestui.” Muadzin berkata, “Saya akan beragama Nasrani.”

Seperti zombie, pemuda itu menuruti hasrat hatinya tanpa bisa berpikir jernih lagi. Akhirnya, dia pun pindah keyakinan. Dan saat menaiki tangga loteng rumah sang gadis, pemuda itu jatuh dan meningal dunia. Ia mati sebagai orang-orang yang selalu disebut Allah sebagai adh Dhallin, orang-orang yang tersesat. (at-Tadzkirah fi Umuril Akhirah oleh al-Qurthubi hlm. 43)

Kisah ketiga adalah kisah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW. Perjalanan iman nya sebenarnya sudah cukup cemerlang. Abdull Uzza bin Khattal masuk Islam di Madinah. Namanya diganti oleh Rasulullah menjadi Abdullah bin Khattal. Tak berapa lama, ia sudah dipercaya menjadi petugas pengambil zakat ke berbagai daerah.

Baca Juga: Makanan yang Haram, Merusak Tabiat dan Jasad

Suatu ketika, Abdullah bin Khattal diutus mengambil zakat ke suatu daerah. Di tengah perjalanan, ia menyuruh budak yang bersamanya untuk memasak sesuatu dan Abdullah pun tidur. Bangun dari tidur, ternyata si budak tidak melaksanakan tugasnya. Abdullah naik pitam dan dibunuhlah si budak. Perasaan takut pun menguasai dirinya. Jika ketahuan Rasulullah, ia pasti akan dibunuh. Ia pun lari dan membelot ke pihak musyrikin. Mengganti iman nya agar selamat dari hukuman qishash. Akhirnya, saat pembebasan Makkah, ia dibunuh oleh Said bin Harits dalam keadaan musyrik.

Wal iyadzubillah. Ternyata, kebersamaan dengan Nabi tetap tak mampu membuat jiwa tetap istiqomah di jalan iman. Kasus hampir mirip juga terjadi pada mantan sahabat Nabi bernama Miqyas. Ia masuk Islam sambil menuntut diyat saudaranya. Rasulullah mengabulkan tuntutannya dan diberikan diyat. Ia pun tinggal di Madinah. Namun, rupanya dendamnya atas terbunuhnya saudaranya belum juga surut. Ia tetap membunuh orang yang membunuh saudaranya padahal telah dibayarkan diyatnya. Karena perbuatannya, Miqyas divonis mati dan dibunuh oleh Numailah atas perintah Rasulullah SAW.

Satu lagi kisah seorang sahabat Nabi yang juga berakhir tragis. Namanya Quzman. Seorang lelaki hebat dari Kabilah Bani Zhafr. Saat penduduk Madinah banyak yang masuk Islam, ia pun turut masuk Islam. Ketika terjadi perang Uhud, Quzman ikut trjun dalam kancah perang. Beberapa orang musyirk berhasil dibantainya.

Ketika peperangan usai, Quzman mengalami luka parah. Saudaranya dari Bani Zhafr membawanya pulang dan menghiburnya, memintanya untuk bersabar. Mereka memuji kepahlawanannya dan mendoakannya agar mendapat surga yang tertinggi. Tetapi di luar dugaan, tiba-tiba Quzman berkata, “Demi Allah, aku ikut berperang semata-mata karena pertimbangan kaumku. Kalau tidak karena itu, aku tidak akan sudi untuk berperang!”

Saudara-saudara seiman yang mendengar hal itu menjadi sedih. Mereka membujuknya agar bertaubat, tetapi Quzman enggan. Dan karena luka yang dialaminya cukup parah, rasa sakit yang menyerang syaraf-syarafnya membuatnya tak mampu bersabar. Quzman pun bunuh diri. Ketika Nabi SAW diberitahu tentang keadaan Quzman tersebut, beliau bersabda, “Jika dia berkata (dan berbuat) seperti itu, maka ia termasuk penghuni (akan masuk) neraka!”

 

Istiqamah Tidak Mudah

Istiqomah memang tidak mudah. Fokus pada tujuan itu bikin lelah. Godaan menghadang sepanjang jalan. Hanya orang-orang hebat dan dirahmati Allah yang mampu tetap lurus berjalan dan tahan godaan. Lainnya lebih banyak yang gugur. Ada yang baru satu langkah sudah kalah, setengah perjalanan sudah kelelahan, bahkan ada yang sedikit lagi sampai malah memilih berhenti.

Secara teori, sangat mudah memetakan godaan yang dihadapi hamba beriman. Dalam perjalannya menuju nasib akhir dirinya, manusia akan menghadapi dua jenis godaan:godaan syubhat dan syahwat. Ya.Hanya dua, tapi derivasinya bisa tak terhingga sehingga secara praktek sama sekali tak akan mudah untuk menghadapinya.

Syubhat adalah perkara-perkara yang samar-samar, meragukan dan mampu membuat orang bingung dan akhirnya salah jalan. Wujudnya dapat berupa berbagai pemikiran rusak dan persepsi-persepsi membingungkan dan menyesatkan.

Kisah melencengnya kaum khawarij menjadi bukti nyata beratnya godaan syubhat. Mereka adalah kaum ahli ibadah, tapi pemikiran mereka melenceng karena syubhat (kesamaran) persepsi dalam menyikapi keputusan khalifah. Akibatnya mereka keluar dari baiat kekhilafahan kaum muslimin lalu melakukan banyak pembantaian terhadap saudara muslim sendiri.

Baca Juga: Karakteristik Firqatun Naajiyah, Golongan Orang-orang yang Selamat

Demikian pula kaum syiah. Syubhat pemikiran yang ditebarkan Abdullah bin Saba’ sukses memperdaya ribuan manusia dari generasi ke generasi. Pikiran sesat yang mengangungkan Ali dan ahlul bait melebihi semua sahabat Rasulullah, bahkan Rasulullah sendiri. Berkembanglah sekte sesat paling keji di muka bumi yang berhasil mendirikan daulah bahkan negara sendiri.

Bentuk lain adalah pikiran-pikiran sesat kaum liberal yang mampu membuat seorang mukmin akhirnya tak percaya kebenaran al Quran, tak meyakini kewajiban hijab, shalat dan haji. Wal iyadzubillah, semoga kita dijaga oleh Allah dari pengaruh pikiran-pikiran ini.

Adapun syahwat adalah godaan yang menyerang hawa nafsu. Kategori besarnya dibagi menjadi tiga; harta, tahta, wanita. Tapi pada praktiknya, ketiganya bisa saling terkait dan membentuk berbagai macam jenis godaan yang bisa menjatuhkan seseoran dari jalan iman.

Tak ada jaminan untuk tetap istiqomah selain rahmat Allah dan usaha kita sendiri. Gelar al-hafiz, julukan mujahid, status seorang ahli ibadah bahkan kebersamaan dengan Nabi (sahabat) hanyalah alat dan atribut yang seharusnya bisa membantu, namun tetap tai bisa menjamin. Oleh karenanya, amal apapun yang telah kita lakukan, hendaknya jangan membuat kewaspadaan kita kendur. Bisa jadi, saat rajin beramal, godaan yang terbesar belumlah datang. Selalulah berdoa agar diberi keistiqomahan di atas jalan iman. Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan yang selamat hingga akhir hayat. Aamiin.

 

Oleh: Ust. Taufik Anwar/Telaah