Khutbah Jumat- Aktivasi Potensi Menuju Kesuksesan Diri

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ

وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah atas nikmat dan karunia yang tak terhingga. Nikmat yang tak dapat kita hitung jumlahnya. Kita diberi akal, kemampuan berpikir, bersosialisasi dan berbagai potensi lainnya. Semuanya, seharusnya dapat kita maksimalkan untuk meraih kesuksesan di dunia dan akhirat.

Shalawat dan Salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabiyullah Muhammad, keluarga, para shahabat dan orang-orang yang senantiasa mengikuti jalannya sampai tiba ajalnya.

Wasiat takwa tak lupa kami sampaikan, agar kita senantiasa berhias diri dengan takwa. Bukan lain, karena takwa adalah penentu arah bagi segala aktivitas yang kita lakukan. Dengan takwa, insyaallah seluruh aktivitas kita akan berada pada jalur yang diridhai-Nya.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Di manapun kita beraktivitas atau bekerja, seharusnya memberikan ruang agar seluruh potensi yang Allah berikan kepada kita bisa aktif dan berkembang. Ini sebagai wujud syukur kepada Dzat yang telah menganugerahkan segala nikmat. Sekaligus menjadi penentu seberapa sukses seseorang menjalani hidup. Karena kesuksesan seseorang tergantung seberapa besar potensi yang diaktifkan sesuai dengan fungsinya. Dan begitulah semestinya fitrah berjalan sesuai dengan relnya. Tak ada satu potensipun yang tidak berfaedah, dan tak ada satu anugerah dari Allah yang boleh disia-siakan.

Menelantarkan sebagian fungsi, atau menjadikannya pasif dan menganggur, adalah kekufuran terhadap nikmat yang Allah berikan. Dan segala hal yang berjalan tidak sesuai dengan fitrahnya, pasti akan rusak, dan bahkan merusak potensi yang lain.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Allah telah memberikan potensi akal kepada manusia, anugerah yang menjadi pembeda utama antara manusia dan hewan. Semakin banyak akal ‘menganggur’, maka makin mendekatkan manusia pada karakter hewani, nas’alullahal ‘aafiyah. Karenanya, Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu berkata, “ashlur rajuli ‘aqluhu, wa hasabuhu diinuhu, wa muruu’atuhu khuluquhu”, inti seseorang disebut manusia itu adalah karena akalnya, kehormatannya terletak pada agamanya, sedangkan kewibawaannya tergantung pada akhlaknya.

Maka selayaknya kita menjalankan fungsi akal sebagaimana mestinya. Terus mengisinya dengan ilmu yang bermanfaat, baik di dunia maupun di ahirat. Nutrisi akal yang dengannya ia bisa berkembang adalah dengan menghayati ayat-ayat Allah berupa qur’aniyah dan kauniyah, firman Allah,

”Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.” (QS an-Nahl: 12)

Sisi istimewa dari akal adalah, makin sering dipergunakan, maka kemampuannya semakin bertambah, berbeda dengan barang-barang elektrik yang jika sering dipergunakan makin cepat mengalami penyusutan dan penurunan fungsi. Sebaliknya, akal yang dibiarkan menganggur akan cepat jumud, tumpul dan pikun. Secara fungsi akan mengalami penyusutan secara drastis.

Maka, bertambahnya kesibukan maupun usia, tak boleh menjadi halangan untuk tetap belajar, membaca, menghafal, memahami maupun menganalisa hal-hal yang bermanfaat. Bahkan, kerja akal tidak layak berhenti, meski aktifitas jasad istirahat karena lelah. Saat kaki tak lagi kuat menyangga tubuh, saat mata terasa berat untuk membaca dan melihat. Seperti yang menjadi tekad Ibnu ‘Uqail Al-Hambali, “Tidak halal bagiku untuk menyia-nyiakan sesaat saja dari umurku, sehingga apabila lisan dan mataku telah lelah membaca dan berdiskusi, maka aku menggunakan pikiranku dalam keadaan berbaring diatas tempat tidur. Aku tidak berdiri, kecuali telah terlintas di benakku apa yang akan aku tulis.”

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Hati dan nafsu, juga merupakan potensi yang harus diaktifkan secara benar. Pengangguran itu tak hanya berlaku bagi orang yang tidak memiliki pekerjaan secara fisik. Layak pula disebut pengangguran bagi orang yang tidak mengaktifkan hati dan jiwanya untuk mencari dan merasai kenikmatan iman. Karena tanpa iman, hati tidaklah berguna. Abdullah bin Mas’ud memberikan jawaban, kemana hati harus aktif bekerja dan mencari nutrisi yang bermanfaat. Beliau berkata, ”Carilah hatimu di tiga keadaan, saat mendengarkan al-Qur’an, saat berada di majlis ilmu dan saat menyendiri bermunajat kepada Allah. Jika kamu tidak mendapatkan hatimu di sana, maka mohonlah kepada Allah untuk memberikan hati untukmu, karena kamu tidak memiliki hati.”

Eksistensi hati itu dikatakan ada tatkala ia bisa menikmati lezatnya nutrisi-nutrisi imani. Ia merespon bacaan dan arahan al-Qur’an, merasa haus akan ilmu yang menunjukkan cara mendekatkan diri kepada Pencipta. Ia juga merasakan hadirnya ketentraman dan kesyahduan saat bermunajat kepada Allah. Jika tanda-tanda itu sama sekali tidak ada, maka hati tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupannya. Seakan pemiliknya telah kehilangan olehnya, dan hidup tanpa memiliki hati. Wajar jika Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu menyarankan kepadanya, agar ia memohon kepada Allah untuk memberikan hati yang baru kepadanya. Seharusnya, kita senantiasa membawa hati kepada hal-hal yang bisa membuat hati hidup dengan sehat.

Begitupun nafsu, hendaknya secara sengaja dan aktif dikendalikan menuju perkara-perkara yang diridhai oleh Allah. Bukan dibiarkan bergentayangan sesuai dengan kehendaknya. Karena nafsu itu, seperti yang dikatakan sahabat Salman al-Farisi, ”Sesungguhnya nafsu itu, jika kamu tidak menyibukkan ia dalam ketaatan, niscaya ia akan menyibukkan dirimu dengan kemaksiatan.”

Ketika akal, hati dan jiwa telah aktif di jalan yang seharusnya, maka jasadpun akan bergerak. Anggota badan itulah yang akan merampungkan capaian tujuan secara fisik. Kaki dengan gagah akan melangkah, tangan dengan cekatan akan berkarya, mata akan sibuk membaca, menelaah dan mencari hal-hal yang berfaedah, dan telinga akan aktif mendengarkan hal-hal yang bermanfaat. Jika semua potensi berjalan, maka kesuksesan paripurna akan berhasil untuk diraih.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah.

Demikianlah khutbah yang dapat kami sampaikan. Semoga dapat bermanfaat untuk diri kami sendiri dan umumnya kepada jamaah sekalian.

أقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ

 

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْن، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا

عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِمَامُ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى

إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 

 

Oleh: Abu Umar Abdillah/Khutbah Jumat

 

Materi Khutbah Lainnya: 

Jika Dosa Berbau

Takwa, Pondasi Paling Paripurna

Islam Akan menang Bersama Atau Tanpa Kita

 

 

Islam Akan Menang, Bersama Atau Tanpa Kita

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ

وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Alhamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta Alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, keluarga, shahabat dan orang-orang yang mengikuti sunahnya sampai hari kiamat.

Marilah kita tingkatkan ketakwaan dan kesabaran kita dalam menjalankan perintah dan larangan Syariat. Karena takwa dan sabar adalah kunci kemenangan. Allah berfirman,

“Dan jika kalian bersabar dan bertakwa, makar jahat mereka tidak akan membahayakan kalian.”

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Kabar dari Nabi Ibrahim bahwa kelak agama tauhid akan meruntuhkan kekuasaan Firaun di bawah pimpinan seorang lelaki keturunan Bani Israel, membuat Firaun panik. Firaun pun bertambah represif terhadap Bani Israil. Kepanikan ini membuat Firaun membabi buta dan mengambil keputusan-keputusan liar. Jika agama tauhid akan bangkit di bawah lelaki dari Bani Israel, maka berarti anak lelaki bani Israelah yang harus ditumpas. Tidak pandang bulu, apakah anak tersebut terlihat punya potensi jadi pemimpin atau tidak, asalkan dia keturunan Bani Israel, berarti punya peluang menjadi pemimpin. Tak ayal, pembantian keturunan Bani Israel pun terjadi. Rezim panik Firaun pun memberangus semua yang berpotensi menumbangkan kekuasaannya.

Anak-anak perempuan Bani Israel dibiarkan hidup agar bisa diperbudak dan tidak lagi memiliki keturunan murni. Adapun orang-orang dewasa diperbudak sebagaimana sebelumnya. Pengawasan, penyusupan intelijen dan berbagai macam cara dilakukan demi mengantisipasi ramalan ini. Jangan sampai ada perempuan Bani Israel yang melahirkan diam-diam.

 

إِنَّ فِرۡعَوۡنَ عَلَا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَجَعَلَ أَهۡلَهَا شِيَعٗا يَسۡتَضۡعِفُ طَآئِفَةٗ مِّنۡهُمۡ يُذَبِّحُ أَبۡنَآءَهُمۡ وَيَسۡتَحۡيِۦ نِسَآءَهُمۡۚ إِنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ 

Sesungguhnya Fir´aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir´aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 4)

Firaun benar-benar serius menjalankan program pencegahan bangkitnya agama tauhid. Meski ramalan ini tidak menjelaskan kapan tepatnya, tapi Firaun jelas tidak bisa mengabaikan ramalan seorang Nabi. Dia harus bergerak cepat menangkalnya. Jika agama tauhid tegak, itu akan menjadi akhir bagi kekuasaannya. Bagi Firaun, kekuasaan bangsa Qibty atas Mesir adalah harga mati. Mesir bukanlah milik agama manapun selain agama yang menuhankan dirinya.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Sekeras apapun tekanan yang dilakukan Firaun, seketat apapun antisipasinya atas janji Nabi Ibrahim, Firaun hanyalah manusia yang jalur takdirnya ditentukan oleh Dzat Yang Maha Kuasa. Firaun fokus membantai anak-anak Bani Israel, tapi ternyata, bayi yang paling ditakutkan kehadirannya, justru Allah susupkan ke dalam istananya. Bayi itu justru tumbuh di bawah asuhan isterinya dan bahkan dirinya. Seorang bayi lelaki yang ditemukan di sungai dan diadopsi, yang ternyata adalah keturunan Bani Israel. Dialah Musa, anak angkat Firaun dan permaisurinya.

Nabi Musa adalah keturunan suku lawy dari Bani Israel yang hidup di pinggiran dan terkenal rajin beribadah. Mereka tidak diperbudak karena memang menolak untuk diperbudak. Dan karena kuatnya penghambaan mereka kepada Allah, Allah muliakan mereka dengan mengangkat beberapa keturunan mereka menjadi Nabi.

Saat ditemukan, entah karena kecintaan pada isterinya atau karena ketidaktahuan silsilah bayi tersebut, Firaun membiarkan bayi Musa diadopsi. Dan dari sinilah kehancurannya dimulai. Allah membuat Firuan merintis keruntuhan kuasanya dari rumahnya sendiri.

Lalu, terjadilah apa yang telah terjadi. Musa dewasa akhirnya diangkat menjadi Rasul dan berhasil menumbangkan kekuasaan Firaun. Mengislamkan para penyihirnya dan menenggelamkan kekuasaan, kesombongan dan kezhaliman Firaun, berkat pertolongan dari Allah Ta’ala.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Melihat betapa kerasnya tekanan dan penindasan Firaun atas Bani Israel, tak bisa dibayangkan seperti apa mental Bani Israel kala itu. Bani Israel saat itu seakan telah berputus asa untuk bisa menang dan keluar dari cengkeraman Firaun. Namun bagaimana pun, perkataan Nabi Ibrahim mampu memberikan harapan. Keberanian Musa dalam menghadapi Firaun secara langsung juga menyuntikkan semangat ke dada umat. Islamnya para penyihir Firaun yang kalah tanding melawan Musa menjadi tanda besar bagi kekalahan Firaun dan tentaranya.

Bantuan-bantuan Allah pun turun tak henti-henti guna meruntuhkan hegemoni Firaun. Wabah-wabah besar yang menimpa Firaun dan bala tentaranya, pada dasarnya adalah cara Allah untuk menunjukkan kesalahan Firaun dan kebenaran Nabi Musa. Dan pada akhirnya, kemenangan menjadi milik Bani Israel yang beriman kepada Musa dan mengikuti ajarannya.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Firaun yang dikisahkan dalam al Quran adalah sample dari sekian banyak Firaun lain yang pernah dan akan senantiasa ada di muka bumi. Pemimpin-pemimpin zhalim menuhankan dirinya dan mengesampingkan Allah, Rasul dan ajarannya. Menuhankan kekuasaan dan selalu berusaha menumbangkan Islam dengan beragam cara. Sensitiv pada hal-hal yang berbau Islam dan penegakkan Islam, tapi abai terhadap ancaman selain itu.

Fairaun-Firaun yang  sangat peka dengan embrio-embrio kebangkitan Islam dan berusaha memberangusnya, sebagaimana Firaun Mesir membunuhi bayi bani Israel. Dari arah manapun, dari jalur apapun yang akan ditempuh Islam untuk bangkit, Firaun tidak akan membiarkannya.

Namun, sebagaimana Musa akhirnya lahir dan menghancurkan Firaun, insyaallah, Islam pun pada akhirnya akan bangkit. Seperti apapun cara Firaun memberangus Bani Israel, tidak akan ada yang mampu mencegah kemenangan Islam jika Allah telah berkehendak. Maka, meski di bagian dunia lain Islam dizhalimi, umat Islam diusir bahkan dibunuhi, kita harus tetap percaya dan mendoakan, mereka akan mendapatkan pertolongan. Meski di bagian dunia yang lain lagi, Islam ditekan dan dikekang, kita pun jangan sampai putus asa, insyaallah Allah akan tetap memenangkan Islam pada akhirnya.

Hal yang perlu kita laukan adalah tetap berjuang demi Islam, tetap berdakwah dan membantu dakwah Islam agar terus berkembang. Memberikan kontribusi untuk Islam dengan ragam kemampuan yang kita miliki. Dan kita pastikan, kita berada di barisan para pejuang, meski mungkin tak sempat melihat Islam meraih kejayaan. Jangan sampai kita tertinggal atau bahkan lari karena kita sendiri yang akan rugi. Islam akan tetap menang, bersama atau tanpa kita, tapi kita pasti akan kalah dan binasa tanpa islam. Wallahul musta’an.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ اْلعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُهُ

يَغْفِرْلَكُمْ إِنَِّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

Khutbah Kedua

 

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْن، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا

عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِمَامُ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى

إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 

Oleh: Taufik Anwar

 

Khutbah Sebelumnya: 

Wasapadai Kemunafikan Saat Islam Menghadapi Tekanan

Kekuasaan, Penopang Kebenaran Atau Senjata Kejahatan

Agar Iman Tak Goyah Di Zaman Fitnah

Takwa, Pondasi Paling Paripurna

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ

اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ

ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Alhamdulillah, kalimat pujian dan syukur kembali kita panjatkan kepada Allah atas limpahan nikmat dan hidayah-Nya. Terutama nikmat iman dan Islam yang merupakan karunia terbesar yang diperoleh ummat manusia. OIeh karena itu, sudah selayaknya kita menjadi hamba yang bersyukur dengan selalu menggunakan potensi yang kita miliki untuk menjadi hamba yang selalu taat kepada-Nya.

Kemudian, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, para shahabat serta ummatnya yang selalu berpegang teguh dengan ajarannya.

Tak lupa khatib mewasiatkan untuk para jamaah, marilah kita selalu meningkatkan takwa kepada Allah. Sebab, bekal terbaik untuk kehidupan dunia dan akherat ternyata bukan banyaknya materi. Tapi, bekal terbaik adalah takwa kepada Allah. Adapun gambaran orang bertakwa adalah seperti orang yang melewati jalan penuh lubang dan duri. Ia pasti berhati-hati. Begitu pula hidup di dunia ini yang penuh jebakan maksiat dan dosa. Kita harus berhati-hati melangkah agar tidak terperosok ke lubang kemaksiatan.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Langkah awal untuk mendirikan sebuah bangunan adalah memasang pondasi yang kokoh lagi kuat. Agar bangunan yang berada di atasnya bisa lebih langgeng, lestari dan tak mudah goyah oleh terpaan angin, tidak pula roboh karena terkikis air di sekitarnya.

Begitupula dengan bangunan yang bersifat non fisik. Semua akan baik dan lestari ketika dibangun di atas pondasi yang kuat. Baik berupa bangunan rumah tangga, komunitas, aturan masyarakat, maupun lembaga dakwah dan perjuangan.

Allah berfirman,

 

أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَم مَّنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَبِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللهُ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Maka Apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan Dia ke dalam neraka Jahannam. dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang- orang yang zalim.” (QS. at-Taubah: 109)

Meskipun ayat ini terkait dengan masjid dhirar yang dibangun untuk memecah belah kaum muslimin, namun lafazh ayat ini menunjukkan keumumannya. Sehingga Imam al-Qurthubi menafsirkan, “Ayat ini menjadi dalil, bahwa segala sesuatu yang didasari takwa kepada Allah dan mengharap wajah-Nya, itulah yang akan membuat langgeng, pemiliknya berbahagia dan akan diangkat sebagai pahala di sisi Allah.”

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Dalam berkeluarga misalnya. Ketika rumah tangga dibangun dengan pondasi takwa, niscaya menjadi bangunan yang elok dan kokoh, indah dan lestari. Dengan pondasi kuat yang disepakati itu, segala bentuk keindahan dan kebahagiaan makin terjamin kelestariannya. Tak hanya harmonis di dunia semata, keluarga semisal ini bahkan akan terjaga kelanggenggannya hingga di jannah. Allah Ta’ala berfirman,

”(yaitu) jannah ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang shalih dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu.. (QS. ar-Ra’du: 23)

Ibnu Katsier menjelaskan bahwa, ”Allah mengumpulkan mereka semua, agar menjadi penyejuk mata dan kebahagiaan dengan berkumpulnya mereka dalam satu tempat yang sangat istimewa. Sebagaimana firman Allah,

”Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka[1426], dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.” (QS. ath-Thuur: 21)

Maksudnya, Kami samakan kedudukan mereka dalam satu tempat, agar menjadi penyejuk mata. Kami tidak memisahkan yang tinggi derajatnya dengan yang rendah derajatnya. Bahkan Kami angkat derajat (anggota keluarga) yang amalnya kurang, lalu Kami samakan dengan yang banyak amalnya, sebagai anugerah dan kenikmatan dari Kami.”

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Adapun keluarga yang dibangun tanpa didasari pondasi takwa, ia seumpama bangunan yang didirikan di tepi jurang, sebentar kemudian akan runtuh dan jatuh beserta seluruh isi dan penghuninya. Baik itu berupa tujuan, kedudukan maupun kecantikan yang tidak disertai takwa. Ia mudah sekali goyah, gampang sekali runtuh dan hanya mampu bertahan ’seumur jagung’. Lihat saja bagaimana rumah tangga para publik figur yang berkiblat pada budaya Barat. Mereka menjadi ikon dalam hal ketampanan dan kecantikan. Dan kekayaan?siapa yang menyangsikan banyaknya kekayaan mereka? Begitupun dengan status sosial dan ketenaran, mereka juga memilikinya. Tapi soal rumah tangga, bukan lagi menjadi rahasia, betapa rumah tangga mereka paling riskan dengan problem dan perceraian.

Karenanya, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاك

”Wanita itu dinikahi karena empat alasan; karena hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka utamakan agamanya, niscaya kamu akan beruntung.” (HR. Bukhari)

Harta tanpa takwa, bukanlah pengikat cinta, bukan pula jaminan harmonisnya keluarga. Bahkan sangat berpeluang menjadi pemicu konflik yang tak terjinakkan. Begitupun dengan kedudukan dan kehormatan di mata manusia. Tanpa takwa, dalam sekejap akan berubah menjadi kehinaan. Seperti yang pernah dialami seseorang yang bertanya kepada Sufyan bin Uyainah, ’Wahai, Abu Muhammad (yakni Sufyan), aku adalah lelaki yang paling hina dan rendah di mata isteriku.” Lalu Sufyan mencoba menebak, ”Mungkin, engkau menikahinya demi meraih kedudukan dan kehormatan?” Lelaki itu menjawab, ”Ya, memang benar wahai Abu Muhammad”. Kemudian Sufyan memberikan nasihat, ”Barang siapa berbuat karena ingin mencari kehormatan, niscaya akan diuji dengan kehinaan.”

Tak terkecuali kecantikan. Betapa singkatnya keharmonisan rumah tangga yang hanya dibangun atas dasar keelokan rupa tanpa takwa. Bukankah kecantikan fisik seorang wanita hanya bertahan sangat sementara? Terkadang, belum lagi kecantikan luntur, musibah telah terjadi lebih awal. Mungkin karena istrinya yang cantik tergoda oleh laki-laki lain, atau setidaknya bertingkah dengan sesuatu yang selalu memantik kecemburuan suami, la haula wa laa quwwata illa billah.

Bila ada kondisi lain, di mana rumah tangga dibangun bukan karena takwa, namun bisa harmoni sampai mati, pun tidak bisa dikatakan lestari dan langgeng. Seperti keharmonisan antara Abu Lahab dan Ummu Jamil, yang seia sekata untuk memusuhi dakwah Nabi. Karena keharmonisan itu hanya bertahan di dunia yang sangat sementara. Adapun di akhirat, hubungan itu akan berubah menjadi permusuhan, tidak ada lagi istilah akur, kompak, apalagi harmoni. Allah Ta’ala berfirman,

”Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS az-Zukhruf 67)

Maka jika kita mendambakan rumah tangga yang langgeng lagi berpahala, bangunlah dengan pondasi takwa. Rabbana hablana min azwaajinaa, wu dzurriyaatina qurrata a’yun, waj’alnaa lil muttaqiina imaaman. Aamiin.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ اْلعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُهُ

يَغْفِرْلَكُمْ إِنَِّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

Khutbah Kedua

 

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْن، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا

عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِمَامُ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.

 

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى

إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ

 

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

 

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا

يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 

Oleh: Redaksi/Khutbah Jumat

 

Waspadai Kemunafikan Saat Islam Menghadapi Tekanan

Puji syukur kepada Allah atas limpahan nikmat dan karunia-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi dan rasul-Nya, Muhammad SAW, juga para shahabat dan para pengikutnya. Hendaknya kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah dengan berusaha menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

     Jamaah Jumat Rahimakumullah

Suatu ketika Imam asy Syafi’i ditanya, “Sebaiknya kita berdoa memohon agar diuji atau agar diberi kemenangan dan kedaulatan?” Imam Asy Syafi’i pun menjawab, “Kalian tidak akan mendapat kemenangan sebelum diuji dengan bala’?”

     Jamaah Jumat Rahimakumullah

Inilah sunnah ilahi. Sunnah ini telah berlaku sejak jaman dahulu dan akan tetap berlaku atas umat in sampai kiamat nanti. Lihatlah Nabi Nuh AS. Sebelum mendapatkan kedamaian dan kemenangan, Nabi Nuh harus bersabar dengan tekanan kaumnya yang semakin keras. Kapal besar yang Beliau buat benar-benar menjadi bahan untuk membully dan melecehkan diri Beliau. Sebutan pembohong, gila, tak masuk akal dan bahkan tantangan agar adzab segera datang, menghunjam pendengaran Beliau setiap hari. Namun setelah masa terberat itu, Beliau pun dapat hidup tenang, hanya bersama orang-orang beriman.

Lihatlah pula Nabi Musa dan bani Israil. Sebelum mendapatkan kemerdekaan, Nabi Musa dan Bani Israil harus berhadapan dengan sebuah masa yang benar-benar sulit. Setelah berhasil mengajak Bani Israel pergi dari Mesir, ternyata situasi justru semakin tak karuan. Firaun mengerahkan semua balatentaranya untuk mengejar Bani Israil. Sampai akhirnya Bani Israil terkepung; di depan mereka terbentang lautan dan dibelakang mereka tentara Firaun. Kanan maupun kiri pun tak bisa digunakan untuk melarikan diri karena mereka hanya berjalan kaki sementar tentara Firaun adalah pasukan kavaleri. Sebagian mereka sampai berputus asa dan berkata, “Inna lamudrakuun” Kita pasti tertangkap. Namun di saat itulah Allah belahkan lautan untuk mereka. Menjadi jalan melarikan diri, bahkan dengannya Allah hancurkan Firaun dan semua tentaranya.

Lihatlah pula Nabi Muhammad dan shahabatnya. Sebelum mendapatkan kemenangan, bahkan atas kekuasaan Romawi dan Persia, Rasulullah dan shahabat harus melewati masa-masa yang luar biasa sulitnya. Tekanan, diskriminasi, pengusiran, tindak kesewenangan, uji coba pembunuhan hingga pembunuhan-pembunuhan sadis pun mereka alami. Sampai-sampai sebagian orang berkata, “Mata nashrullah?” “Kapankah pertolongan Allah akan datang?” Namun setelah masa terberat berlalu, datanglah kemenangan dari Allah. Umat Islam mendapatkan kedaulatannya hingga mampu membuktikan bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Ketika Islam berkuasa, orang-orang shalih memimpin, dunia dapat merasakan betapa penuh rahmat agama ini.

     Jamaah Jumat Rahimakumullah

Inilah ujian yang sulit bagi umat ini. Sebelum mendapat kemenangan, kedaulatan dan kemerdekaan, umat Islam akan diuji dengan beragam ujian. Sulitnya lagi, semakin dekat dengan kemenangan, ujian akan semakin berat. Allah jadikan musuh-musuh Islam kuat dan mampu berbuat semena-mena. Dengan kekuatan dan kekuasaan yang mereka  miliki, mereka mampu melakukan apapun yang diinginkan. Tak hanya di satu tempat, bahkan seakan, seluruh dunia memusuhi Islam. Persis seperti yang pernah dialami para pendahulu kita. Sekedar pembubaran pengajian, organisasi Islam atau dihalanginya ibadah dan aktifitas keislaman, barulah permulaan ujian jika dibandingkan dengan ujian yang telah dialami para shahabat Nabi.

Mengapa Allah memberikan ujian ini? Bukankah Allah Maha Mampu untuk langsung memberikan kemenangan bagi umat ini? Mengapa pula dahulu, Allah tumbangkan kekuasaan Islam di Turki, lalu membiarkan umat ini berjuang dari awal dan diuji seperti ini lagi?

     Jamaah Jumat Rahimakumullah

Ada hikmah agung dari semua ujian yang Allah berikan ini. Hikmah pertama, inilah “ad duulah”, pergiliran masa yang telah Allah tetapkan atas manusia. Ada kalanya hamba-hamba-Nya yang beriman menang dan berkuasa, ada masanya pula mereka lemah dan ditindas. Jika saja Allah menangkan musuh-musuh Islam terus menerus, tentulah hamba-hamba-Nya yang beriman akan berputus asa. Namun jika hamba-hamba-Nya yang beriman diberikan kekuasaan terus menerus, niscaya kemunafikan akan merajalela. Orang-orang yang sebenarnya benci dengan Islam namun tak mampu melawan terang-terangan akan menusuk dari dalam.

Allah berfirman;

وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّـهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنكُمْ شُهَدَاءَ ۗ وَاللَّـهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Ali Imran :140)

Hikmah kedua, masa ini adalah masa tamhish, masa penyaringan. Ketika kondisi musuh-musuh Islam seperti disebutkan dalam ayat:

“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat. Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”.(al Ahzab: 10-12)

Inilah masa penyaringan, menyaring iman sejati dari iman yang bercampur nifak. Masa-masa ini adalah masa-masa yang sulit bagi kaum munafik untuk tidak menunjukkan jati diri. Sulit bagi mereka untuk tetap yakin dan berjuang. Sulit bagi mereka untuk tidak berputus asa lalu memalingkan keberpihakan kepada lawan. Sulit bagi mereka untuk tidak mengatakan, bahwa kemenangan Islam hanyalah omong kosong. “ Ma wa’adanallah warasuluhu illa ghurura? Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya””. Sulit bagi mereka untuk tidak mengatakan, tidak ada perintahnya kita berjuang mati-matian membela agama sementara Allah maha Kuasa. Agama macam apa yang menyulitkan pemeluknya hingga harus membelanya dengan mengorbankan nyawa?

Inilah masa tamyiz. Allah berfirman:

لِيَمِيزَ اللَّـهُ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ وَيَجْعَلَ الْخَبِيثَ بَعْضَهُ عَلَىٰ بَعْضٍ فَيَرْكُمَهُ جَمِيعًا فَيَجْعَلَهُ فِي جَهَنَّمَ ۚ أُولَـٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ ٣٧

“Supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu kesemuanya ditumpukkan-Nya, dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka Jahannam. Mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al Anfal; 37)

Maka hendaknya kita berhati-hati. Jangan sampai kita menjadi golongan yang terbuang dari tamyiz dan tamhish keimanan. Menjadi sampah yang teronggok bersama musuh-musuh Islam. Di neraka jahanam. Sekuat tenaga, kita apstkan diri kita berada di pihak para pembela al haq. Berada pada barisan kaum beriman. Sesulit apapun, seberat apapun. Waspadai kemunafikan, sekecil apapun. Mukmin sejati adalah mukmin yang paling waspada terhadap penyakit nifak. Para shahabat Nabi adalah manusia-manusia yang paling takut dan khawatir terhadap kemunafikan.

     Jamaah Jumat Rahimakumullah

Menghadapi masa-masa penuh fitnah dan ujian iman seperti ini, hendaknya kita berhati-hati. Tidak ada cara lain selain memperbanyak bekal keilmuan tentang Islam dengan metode pemahaman yang benar agar keyakinan dan persepsi kita tidak mudah dibengkokkan. Tinggalkanlah perkataan-perkataan manusia-manusia liberal yang menafsirkan quran dengan cara penafsiran bibel. Kembalilah kepada para ulama yang ikhlas dan gigih memperjuangkan agama-Nya dan mendakwahkan ilmunya. Memperbanyak bekal iman agar tak mudah goyah menghadapi fitnah, karena ilmu saja tidak cukup. Betapa banyak orang yang sebenanarnya tinggi ilmunya namun justru terperdaya muslihat lawan dan berbalik membela mereka. Dan tentu saja, memperbanyak doa agar pertolongan dan kemenangan dari Allah segera datang. Ad ad dua’ silahul mukmin, doa adalah senjata utama orang beriman. Apalah kita ini tanpa pertolongan dari Allah? Dengan apa kita bisa menang jika tanpa pertolongan dari Allah, sementara jumlah mukmin sejati selalu lebih sedikit daripada kaum munafik dan manusia yang ingkar?

Wallahul musta’an. Hanya kepada Allahlah tempat memohon pertolongan.

Oleh: Taufik Anwar

 

Khutbah Lainnya: 

Jika Dosa Berbau

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, atas nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Nikmat iman, nikmat Islam dan nikmat dapat membaca firman-firman-Nya yang terangkum dalam al-Quranul Karim. Itulah nikmat terbesar dalam hidup ini. Nikmat paling istimewa karena tanpanya, nikmat yang lain tidak akan berguna.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW. Juga kepada para shahabat, tabi’in dan orang-orang yang teguh mengikuti sunah Rasulullah sampai hari Kiamat.

Rasulullah senantiasa menasihatkan taqwa dalam setiap khutbahnya.Maka, khatib pun akan mengikuti sunah Beliau dengan menasehatkan wasiat serupa. Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah. Berusaha menjalankan perintah-perintah-Nya dengan penuh cinta dan tidak  asal gugur kewajiban semata. Berusaha meninggalkan larangan-Nya, juga dengan penuh cinta meski sebenarnya nafsu sangat menginginkannya.

 

Jamaah jumat Rahimakumullah

Selain nikmat Islam dan al Quran, ada satu nikmat besar lagi yang Allah berikan kepada kita yang sering tidak kita sadari. Di dalam surat Luqman ayat 20 Allah berfirman,

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّـهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً

“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin…. (QS. Luqman:20)

Imam adh Dhahak, seorang pakar tafsir pada masa Tabi’in menjelaskan, maksud nikmat yang sifatnya lahiriyah adalah al-Islam dan al-Quran. Adapun nikmat yang sifatnya bathiniyah adalah Allah telah tutupi aib-aib kita. (Kitab Makarimal Akhlaq: 488)

Nikmat terbesar itu adalah ditutupinya aib-aib kita. Apa aib-aib itu? penyakit kulit yang memalukan? penyakit ayan? Kemandulan? Bukan! Penyakit-penyakit itu bisa jadi merupakan aib bagi kita tapi kita tidak perlu malu mengidapnya. Mengapa? Karena penyakit itu pemberian Allah. Lantas apa aib-aib memalukan yang Allah tutupi itu? Bukan lain adalah dosa-dosa kita. Dosa-dosa yang kita perbuat, tapi Allah tutupi dari pandangan manusia.

Dengan apa Allah menutupi dosa-dosa kita? Yaitu dengan mewujudkan dosa dalam bentuk abstrak; tidak berwujud, tidak berbau, tidak terasa, namun kita sebagai orang beriman yakin bahwa dosa itu ada. Catatan-catatan kesalahan dan kemaksiatan itu benar-benar nyata. Berada dalam genggaman malaikat-malaikat yang telah Allah perintahkan mengawasi kita saban hari. Raqib dan Atid.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Bayangkan jika dosa itu berwujud. Taruhlah wujudnya berupa titik hitam pada organ manusia yang melakukan dosa. Sekali melakukan ghibah, misalnya, ada titik hitam di lidah. Sekali mata melihat maksiat, ada titik hitam pada area mata. Sekali tangan melakukan kemungkaran, ada titik hitam pada pergelangan. Dengan frekuensi dosa dan kesalahan yang kita lakukan, dalam kurun waktu lima tahun, barangkali tubuh kita sudah lebih hitam daripada kulit orang-orang Negro. Legam dipenuhi tanda dosa dan kesalahan.

Bayangkan pula jika dosa itu mewujud dalam bentuk bau. Sekali mulut mengucap kata keji, bau menyengat menyertai nafas. Sekali tangan melakukan kezhaliman, bau tak sedap keluar dari telapak tangan. Dan sekali telinga digunakan mendengar kemaksiatan, bau busuk keluar dari lobang telinga hingga tercium oleh siapa saja di dekatnya. Sebagai manusia awam yang sering kalah oleh nafsu, mungkin saat ini kita sudah jauh lebih bau daripada penampung kotoran.

Dan terakhir, jika dosa Allah wujudkan sebagai rasa sakit, subhanallah, entah sudah seperti apa jasad kita saat ini. Sekali saja hati bersuudzan kepada Allah, jantung terkena penyakit. Sekali saja kaki melangkah menuju tempat maksiat, rasa pegal, nyeri atau apapun bentuk rasa sakitnya segera menyerang daerah kaki. Demikian pula anggota badan yang lain. Dan saat kita menapaki umur yang mulai uzur, sementara taubat kita terus saja mundur, entah akan seperti apa raga kita akibat terpaan rasa sakit akibat dosa dan kesalahan yang kita lakukan.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Memang, di satu sisi, tidak berwujudnya dosa justru melenakan jiwa. Kita jadi sering tidak sadar setelah melakukan dosa bahkan ketika dosa kita sudah sebanyak air di samudra. Namun di sisi lain, sebagai makhluk yang tidak bisa lepas dari dosa, salah dan lupa, tentu nikmat ini adalah nikmat yang besar bagi kita. Sebuah karunia yang nyata adanya, meski wujudnya adalah ketiadaan.

Nikmat ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada kita. Meskipun dosa telah tercatat, tapi masih ada taubat. Masih ada waktu untuk memperbaiki yang telah lalu. Masih ada maaf dan ampunan yang dapat menghapuskan kesalahan. Allah tidak serta merta memberikan hukuman atas segala kesalahan, tidak pula serta merta mengazab setiap perbuatan biadab. Allah wujudkan dosa hanya dalam sebuah catatan. Itupun hanyalah catatan yang sangat rapuh karena dapat segera luruh hanya dengan sekelumit istighfar dalam taubat yang utuh. Dapat terkikis habis hanya dengan penyesalan dan senggukan tangis, dan dapat musnah bahkan terganti dengan catatan kebaikan, jika diiringi taubat nasuha dan iringan iman juga amal keshalihan.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Oleh karena Allah telah menutupi dosa kita, maka janganlah kita beberkan dosa-dosa kita di hadapan manusia. Satu hal yang paling Alalh murkai adalah ketika manusia membeberkan perbuatan dosanya, padahal Allah telah menutupinya.

Rasulullah bersabda, “Setiap umatku akan diampuni kecuali orang yang melakukan mujaharah (yaitu melakukan dosa terang-terangan).” (HR. Bukhari)

Dan celakanya, di masa ini, tidak sedikit orang tidak sadar telah melakukan Mujaharah (melakukan dosa terangan-terangan) dengan mengunggah perbuatan dosanya di media sosial. Ada muda-mudi yang mengunggah foto pacaran mereka, mengunggah foto saat minum minuman keras, mengunggah foto mesum, status atau tulisan yang berisi fitnah dan ghibah, dan lain sebagainya. Naudzubillah, semua itu sama saja dengan mempertontonkan dosa di hadapan manusia di dunia nyata. Itu mujaharah dosa, dan itu sangat dimurkai oleh Allah. Semoga Allah menghindarkan kita dari perbuatan semacam ini.

Sebagai akhir dari khutbah ini, marilah kita tambah rasa syukur kita kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya. Berusaha mengurangi kesalahan dan dosa dengan memohon ampunan dan melaukan amal kebaikan. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang senantiasa mampu bertaubat dan beristighfar atas setiap dosa yang kita lakukan. Dan semoga pula, Allah senantiasa menutupi dosa-dosa kita lalu berkenan mengampuninya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. 

 

Oleh: Taufik Anwar 

 

Khutbah Lainnya: Belajar Syukur dari Lelaki Buntung, Agar Iman Tak Goyah Di Zaman Fitnah

Belajar Syukur dari Lelaki Buntung

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Alhamdulillahirabbil’alamin. Marilah senantiasa kita bersyukur kepada Allah Ta’ala atas limpahan nikmat dan karunia-Nya. Nikmat iman dan Islam, juga nikmat sehat dan afiat yang tetap Allah berikan kepada kita meskipun kita sering lupa memintanya.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, para shahabat dan orang-orang yang senantiasa mengikuti sunah Nabi sampai hari kiamat.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Ramadhan telah berlalu beberapa waktu, namun kita berharap bekas-bekas Ramadhan masih dapat kita rasakan. Ketakwaan di bulan Ramadhan, semoga dapat bertahan hingga kini. Takwa adalah inti diri kita. Nilai yang menentukan seberapa berharga diri kita di hadapan Allah Ta’ala. Oleh karenanya, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah, agar nilai diri kita juga meningkat.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Ada sebuah kisah nyata yang tertulis dalam kitab ats-Tsiqot Karya al-Imam Ibnu Hibban. Al-Imam Ibnu Hibban menukil kisah ini dari Abdullah bin Muhammad, dia bercerita bahwa suatu ketika, beliau tengah berjaga di perbatasan (ribath) dan berjalan di kawasan pantai . Beliau melihat ada sebuah tenda, ternyata di dalamnya ada seorang lelaki tua yang buntung kaki dan tangannya, rabun pengelihatannya dan pendengarannya juga berkurang. Hanya lisannya yang masih dengan fasih mengucapkan,

الحَمْدُ لله الَّذِي فَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً .. الحَمْدُ للهِ الَّذِي فَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَق تَفْضِيْلاً 

“Puji syukur kepada Allah yang telah melebihkanku dari banyak makhluk yang Dia ciptakan…Puji syukur kepada Allah yang telah melebihkanku dari banyak makhluk yang Dia ciptakan….”

Beliau pun mencoba mencari adakah orang yang merawatnya? Ternyata tidak ada seorang pun disekitarnya.

Abdullah mencoba bertanya, dengan kondisi seperti itu, mengapa dia masih menyatakan syukur karena Allah telah melebihkan dirinya dari para makhluk?

Dia pun menjawab bahwa bukankah nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya sangat luas? Salah satunya adalah lidah yang bisa mengucapkan syukur terus menerus.

Lalu lelaki Tua itu menyatakan bahwa dia tidak memiliki siapa-siapa selain seorang anak yang merawatnya, menyuapi dan mewudhukan setiap shalat. Namun sudah tiga hari si anak pergi entah kemana. Lelaki tua itu meminta agar Abdullah mencarinya.

Abdullah pun mencoba mencari meski tidak tahu harus ke mana. Baru beberapa saat berjalan, dia menemukan jasad seorang pemuda yang telah terkoyak dimakan binatang buas. Abdullah yakin pemuda itu adalah anak yang dimaksud karena di sekitar tempat itu tidak terdapat tempat tinggal lain.

Abdullah bingung, bagaimana harus menyampaikan berita sedih itu. Ia pun mencoba mengingatkan lelaki tua itu dengan ujian Nabi Ayub. Saat diingatkan, lelaki tua itu selalu menyatakan bahwa ujian Nabi Ayub jelas lebih berat dan sikap Beliau adalah bersabar dan bersyukur. Maka setelah itu, Abdullah pun mengabarkan kematian anaknya akibat binatang buas.

Mendegar berita itu, lelaki tua itu berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak menciptakan bagiku keturunan yang bermaksiat kepada-Nya, lalu Ia menyiksanya dengan api neraka,” kemudian ia berkata,”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un,” lalu ia menarik nafas yang panjang, kemudian meninggal dunia.
Abdullah menangis. Tak berapa lama beberapa kawan Abdullah datang dan mengenali siapa lelaki tua tersebut. Mereka menangis dan mencium kening lelaki tua itu. Ternyata, dia adalah Abu Qilabah, seorang ahli ibadah yang sangat menjaga diri dari hal-hal haram. Sahabat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu. Mereka pun memandikan dan menguburkan jenazahnya.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Sungguh luar biasa keimanan Abu Qilabah menghadapi ujian dari Allah. Ujian seberat itu bukan lagi dihadapi dengan sabar tapi dengan syukur. Lisan beliau tidak berhenti menyatakan bahwa apa yang Allah timpakan kepadanya adalah kebaikan yang banyak.

Dan jika kita renungi, apa yang beliau katakan sangatlah tepat. Meski beliau lumpuh, namun Beliau masih dapat senantiasa bersyukur dan berdzikir. Sementara itu, berapa banyak orang  yang tidak bisa bicara hingga tidak bisa berdzikir? Atau berapa banyak orang yang sehat kaki tangan dan lisannya tapi malah lalai dan lupa untuk bertahmid kepada Allah?

Beliau, dengan segala kekurangannya masih mempertahankan iman, sementara itu berapa banyak orang yang sehat tapi tidak beriman? Berapa banyak orang tidak menikmati indahnya iman kepada Allah? Berapa banyak orang yang dengan kesehatannya justru menyembah berhala dan teori-teori kosong tentang ketuhanan?

Beliau lumpuh dan tidak bisa kemana-mana tapi justru disyukuri karena dengannya, Beliau tidak bisa bermaksiat kepada Allah. Sementara itu ada banyak orang yang Allah karuniai nikmat tangan dan kaki, juga mata dan mulut, tapi justru digunakan untuk melaggar larangan Allah, bahkan memusuhi agama Allah.

Dan karena itulah, lelaki tua itu terus bersyukur hingga ketika kesyukurannya memuncak sepeninggal anaknya, Allah memanggilnya ke haribaan-Nya.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Dari nikmat mata saja, kita sudah bisa membuktikan kebenaran firman-Nya yang menyatakan nikmat Allah tak terhingga,

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّـهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّـهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ 

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menghitung jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl [16] : 18).

Imam al Hasan al-Basri pernah mengatakan bahwa kemana pun kita mengarahkan pandangan mata, pasti akan mengenai nikmat Allah.

Nikmat Allah tak terhitung banyaknya sementara syukur kita kepada-Nya sangatlah terbatas. Saat satu saja nikmat Allah hilang atau diminta kembali oleh-Nya, kita merasa kecewa. Seakan-akan Allah telah merenggut segalanya dari diri kita.

Jika pun kita sakit beberapa hari, bukankah ada tahun-tahun yang kita lewati dengan sehat? Jika pun harta kita hilang, bukankah itu hanya sekian persen kecil dari harta dan rejeki yang telah kita nikmati? Dan jika mata pencaharian kita raib, bukankah masih ada raga dan pikiran yang bisa kita gunakan untuk kembali mencari rejeki?

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Jika hati kita mampu bersyukur dan ridha atas segala kehendak Allah atas diri kita, isnyaallah kita akan menjadi manusia paling bahagia di dunia, dan bahagia juga di akhirat. Syukur tidak hanya akan membuat hati kita tenang, tapi juga membuat Allah senang dan ridha kepada Kita. Jika Allah ridha, Allah akan tambahkan nikmat-Nya di dunia dan memberikan janji-Nya kepada orang-orang bersyukur untuk memasukkan mereka ke dalam surga-Nya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ

قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ اْلعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُهُ يَغْفِرْلَكُمْ إِنَِّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْن، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِمَامُ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 

 

Khutbah Lainya: Agar Iman Tak Goyah di Zaman Fitnah, Ulama’ Syiar dan Wali Allah, Khutbah Iedul Fitri

Khutbah Iedul Fithri 1438 H: Meraih Nikmat dengan Taat

Menyambut kemenangan kaum muslimin pada hari fitri, Majalah ar-risalah mempersembahkan materi khutbah yang sejuk untuk disampaikan dan mudah untuk diamalkan.

Dengan judul “Meraih Nikmat Dengan Taat” menegur kita para hamba Allah yang memberikan ketaatan sekadar untuk menggugurkan kewajiban. Perlu disadari bahwa dibalik taat ada nikmat, dibalik ikhlas beramal ada pahala dan keselamatan jiwa dan akal. Semoga kita tergugah.

Taqabbalallahu minna wa minkum, Kullu ‘aamin wa antum bikhair.

 

Link Download Pdf :

[download id=”6646″]

Kekuasaan, penopang kebaikan atau senjata kejahatan?

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Kita bersyukur kepada Allah atas limpahan nikmat dan karunia-Nya. Semoga, nikmat dan karunia dari Allah dapat kita gunakan untuk bermala shalih.

Shalawat dan Salam semoga tercurah kepada nabi Muhmmad Shallallahua ‘alai wa sallam, kepada keluarganya, para pengikut sunah dan seluruh umatnya sampai hari kiamat.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Pada zaman Khalifah al Mutawakkil, terjadi peristiwa menyakitkan berupa kriminalisasi orang shalih dengan fitnah keji. Ahmad bin Nashr, orang yang sebenarnya shalih harus menerima hukuman mati gegara fitnah yang ditujukan padanya. Dia dihukum mati oleh Al Wastiq, khalifah sebelum al Mutawakkil.

Salah seorang pejabat al Mutawakkil melaporkan hal itu kepada Khalifah al Mutawakil. Dia menyatakan, ada yang aneh dengan vonis mati Ahmad bin Nashr. Ahmad bin Nashr selalu membaca al Quran bahkan hingga akhir hayatnya. Mendengar ini, sang Khalifah pun mulai gusar.

Saat seorang pejabat bernama Muhammad bin Abdul Malik datang, Khalifah bertanya, “Wahai putra Abdul Malik, ada yang mengganjal hatiku mengenai kematian Ahmad bin Nashr.” Namun entah karena motif apa, Muhammad bin Abdul Malik berdusta dengan mengatakan, “Wahai Amirul Mukminin, Allah pasti membakar aku jika aku bohong, yang dibunuh al Watsiq (Ahmad bin Nashr) itu orang kafir!”

Lalu datang lagi seorang pejabat bernama Hartsamah dan khalifah mengungkapkan hal serupa. Anehnya, pejabat ini juga berdusta dan mengatakan, “Wahai Amirul Mukminin, Allah memotong jari-jariku apabila aku bohong, yang dibunuh al Watsiq (Ahmad bin Nashr) itu orang kafir!”

Dan datang lagi Ahmad bin Abi Duad. Khalifah pun menyatakan hal serupa. Ternyata, Ahmad bin Duad setali tiga uang dengan dua pejabat sebelumnya. Dia berdusta dengan mengatakan, “Wahai Amirul Mukminin, Allah akan menghukumku dengan lumpuh sebelah jika aku bohong, yang dibunuh al Watsiq (ahmad bin Nashr) itu orang kafir!”

Sayangnya, kebohongan ketiga orang ini dapat dibongkar oleh Khalifah. Khalifah pun menghukum Muhammad bin Abdul Malik dengan vonis bakar. Adapun Hartsamah berhasil kabur dari sanksi khalifah. Namun malang, ketika melewati kabilah Khuza’ah, seorang penduduk mengenalinya dan tahu bahwa Ahmad bin Nashr mati karena persengkokolannya dahulu. Penduduk Khuza’ah pun mengamuk dan memutilasi Hartsamah, persis seperti sumpahnya. Dan adapun Ahmad bin Duad terkena lumpuh sebelah dan membuatnya terpenjara seumur hidup.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Demi mendapat atau mempertahankan jabatan, orang sering menghalalkan segala cara. Ada yang mencurangi saingannya, memfitnah, menyebarkan berita bohong, menjebaknya dalam tindakan melanggar hukum, atau mengungkit kesalahan kecil hingga dapat menurunkan citra baiknya di hadapan publik.

Dalam kisah di atas, ketiga pejabat tersebut bisa jadi takut kasus lama terkait Ahmad bin Nashr menganggu jabatan mereka. Mereka pun berdusta dengan menuduh Ahmad bin Nashr sebagai orang kafir yang memang layak dihukum mati. Pada akhirnya, kedustaan mereka dibayar tunai oleh Allah sesuai sumpah paslu yang mereka ucapkan.

Allah berfirman,

وَقَدْ خَابَ مَنِ افْتَرَىٰ

 “Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedustaan.”  (QS. Thaha: 21)

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Jabatan memang merupakan kekuatan yang besar. Kekuasaan adalah power, energi luar biasa dan senjata yang bisa digunakan untuk kebaikan atau keburukan. Mengingat besarnya kekuatan ini, setan-setan yang bermain dan menggoda para penguasa sangat mungkin merupakan setan-setan level atas yang lihai dan ahli dalam menjerumuskan manusia dalam dosa. Iblis tentu harus memastikan bahwa kekuasaan manusia harus dipegang oleh para pendukungnya. Jika tidak, kekuasaan akan digunakan untuk menegakkan syariat Allah dan itu akan sangat merugikan proyek Iblis dalam menyesatkan manusia.

Oleh karenanya, dunia jabatan dan kekuasaan senantiasa dikelilingi tipudaya setan berupa kejahatan, kedustaan, konspirasi licik nan jahat, fitnah keji, kemunafikan, kepura-puraan, dan berbagai dosa besar; zina, pembunuhan, dusta, suap, korupsi dan makar jahat. Dan yang paling jahat dari maksiat itu sendiri adalah ketika jabatan digunakan untuk melindungi pelaku maksiat dan mengkriminalkan ulama dan orang shalih yang tidak bersalah.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Hari ini kita lihat, para ulama dan orang-orang shalih menjadi korban fitnah dusta dan konspirasi jahat oknum-oknum pemegang kuasa yang berhasil dikuasai setan. Mereka tak segan berdusta, mencari-cari masalah atau menjebak korbannya dalam tipudaya dan makar licik agar dijatuhi vonis penjara.

Hal yang salah dianggap benar dan dibiarkan, adapun yang benar justru dipermasalahkan dan diburu. Orang yang jujur dikriminalkan sementara yang tukang bohong dan korup dibiarkan begitu saja. Bahkan hasil dan penyaluran infaq umat dianggap korupsi dan kejahatan, sementara dana-dana tak jelas yang jumlahnya lebih besar justeru diabaikan bahkan ditutup-tutupi.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Itulah dunia kekuasaan. Kita tidak heran karena memang seperti itulah adanya sejak jaman dahulu kala. Oleh karenanya, Islam sangat berhati-hati dalam memberikan kekuatan berupa jabatan dan kekuasaan ini. Para ulama sepakat bahwa kepemimpinan dalam Islam harus mengedepankan keshalihan baru kemudian kemampuan leadership. Orang yang rusak moral dan imannya, sepintar apapun dalam mengelola urusan manusia, tidak layak diberi jabatan tinggi. Masalahnya, kemashalahatan umat, kesejahteraan dan kebaikan mereka bukan hanya tertumpu pada kepiawaian pemimpinnya dalam leadership tapi tertumpu pada ridha Allah.

Jika Allah ridha, bahkan seorang pemimpin sederhana akan diberi kelancaran dan kemudahan dalam mengatur urusan manusia. Para ahli akan membantunya untuk menyelesaikan tugas dengan baik. Tapi sebaliknya, jika Allah tidak ridha, sepintar apapun pemimpinnya, sebjitu apapun programnya, Allah akan gagalkan itu semua.

Apalagi para pemimpin yang memusuhi Allah dengan cara memusuhi para wali-Nya. Tega berdusta dan memfitnah mereka agar masuk penjara. Dan siapakah wali Allah? Orang-orang beirman dan para ulama. Allah berfirman,

مَنْ عَادَى لِـيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْـحَرْبِ

“Siapa memusuhi wali-wal-Ku, berarti dia telah menantang perang kepada-Ku….” (HR. Bukhari)

  Jamaah Jumat Rahimakumullah

Jika kita adalah pemimpin, pejabat atau penguasa, hendaknya kita camkan firman Allah dalam hadits qudsi di atas. Orang-orang beriman, di hadapan Allah sangat mahal nilainya melebihi dunia dan seisinya. Memusuhi mereka karena keimanan dan keteguhan mereka di atas kebenaran hanya akan membawa kepada kehancuran diri.

Dan jika kita adalah rakyat, maka berhati-hatilah dalam memilih pemimpin. Lihatlah keshalihan dan ketakwaan-Nya serta ketundukannya kepada syariat karena hal itulah yang akan membuat rahmat Allah turun. Waspadailah orang-orang yang begitu berambisi memimpin padahal keshalihan dan akhlaknya nihil. Dia tidak akan membawa kebaikan apapun. Kalaupun ternyata dari segi pembangunan infrasturktur maju, pasti tidak akan demikian dengan moral dan iman. Orang-orang tidak taat pada syariat pasti akan membiarkan tindakan maksiat. Dan itu adalah awal dari kehancuran umat.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ اْلعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُهُ يَغْفِرْلَكُمْ إِنَِّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْن، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِمَامُ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

(Ust. Taufik Anwar)

 

 

 

Ulama, Syiar dan Wali Allah

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Kita bersyukur kepada Allah atas limpahan nikmat dan karunia-Nya. Semoga, nikmat dan karunia dari Allah dapat kita gunakan untuk bermala shalih.

Shalawat dan Salam semoga tercurah kepada nabi Muhmmad Shallallahua ‘alai wa sallam, kepada keluarganya, para pengikut sunah dan seluruh umatnya sampai hari kiamat.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Ada kisah menarik dalam kehidupan seorang ulama besar, mujahid pemberani dan donatur muslim terkaya di zamannya, yang bernama Ibnu Mubarak. Suatu ketika ada seorang Yahudi yang ingin menjual rumahnya. Pada saat itu, harga rumah di daerah tersebut seharga 1000 dirham, namun si yahudi menjual dengan harga 2000 dirham. Saat ditanya, mengapa rumahmu begitu mahal? Si Yahudi menjawab, karena rumahku berdekatan dengan Ibnul Mubarak. Dia seorang muslim yang shalih dan baik hati. Kalian pasti senang punya tetangga seperti Ibnul Mubarak. Jadi, harga lokasi rumahku yang dkeat dengannya kuharagai 1000 dirham, dan bangunannya 1000 dirham.

Masyyaallah, pada zaman dahulu, para ulama begitu dihargai. Bahkan rumah yang berada didekat rumahnya pun dihargai mahal. Tak hanya itu, di jaman dahulu, seorang ulama lebih dihormati daripada seorang gubernur atau khalifah sekalipun.

Dikisahkan bahwa suatu ketika, sang Khalifah harun ar-rasyid berkunjung ke kota Riqah. Ketika datang, sang Khalifah melihat orang-orang berlarian menuju suatu tempat. Mereka berdesak-desakan sampai-sampai sandal-sandal terputus dan debu berterbangan. Lalu muncullah seorang wanita bertanya pada orang-orang, “Ada apa?” dijawab, “Orang alim dari Khurasan tiba di riqqah, namanya Ibnul Mubarak.” Wanita itu berkata, “Demi Allah, inilah raja, tapi bukan raja Harun ar rasyid yang tidak bisa mengumpulkan orang kecuali dengan polisi.”

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Ulama adalah pewaris Nabi. Mereka mewarisi ilmu dan juga amal shalih, karena yang pantas disebut ulama adalah yang benar dan luas ilmunya, serta shalih amalnya. Merekalah pelita umat dari gelapnya kebodohan. Kebodohan apa? Kebodohan terhadap syariat Allah, petunjuk, dan hidayah Allah. Mereka mewarisi tugas seorang nabi berupa ta’limul jahil wa irsyadud dholl, mengajari orang yang tidak tahu dan memberi petunjuk orang yang tersesat.

Ulama juga merupakan wali Allah. Allah berfirman dalam hadits Qudsi:

مَنْ عَادَى لِـيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْـحَرْبِ ،

“Barangsiapa memusuhi wali-wali-Ku, Aku telah mengumumkan perang kepadanya…” (HR al Bukhari).

Dan wali-wali Allah adalah ulama dan orang-orang yang beriman. Imam asy Syafi’I mengatakan, “ Jika para ulama bukan wali Allah, niscaya Allah tidak memiliki wali sama sekali.”

Memang benar, ulama adalah wali-wali Allah. Merekalah pilar-pilar penyangga agama ini. Ilmu, ketakwaan dan dakwah mereka adalah nyawa yang menjaga dien ini tetap berdetak. Wjar jika Allah memberi kehormatan khusus kepada mereka. Dalam hadits di atas dijelaskan, sesiapa yang memusuhi ulama, berarti telah menyatakan perang terhadap Allah.

Allah telah memuliakan para ulama dengan firman-Nya:

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءامَنُواْ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلْعِلْمَ دَرَجَـٰتٍ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Niscaya Alloh akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu dengan beberapa tingkatan. Dan Allah Maha mengetahui terhadap apa yang kalian lakukan.” [al-Mujadilah: 11]

Ilmu yang dimaksud di sini bukan lain adalah ilmu agama, karena itulah ilmu yanbg paling mulia. Jika Allah memuliakan orang-orang yang diberi ilmu, maka bagaimana mungkin kita tidak turut memuliakannya?

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Sebagai umat islam, kita wajib menghormati para ulama. Dari ormas manapun dia berasal, asalkan keilmuan dan keshalihannya diakui, maka dia adalah ulama. Kita menghormati mereka secra baik dan proporsional, tidak berlebihan tapi juga jangan sampai meremehkan. Kita juga wajib membela mereka saat dizhalimi oleh musuh-musuh Islam. Membela ulama berarti menjaga para pewaris Nabi, dan itu juga berarti menjaga dien ini.

Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma berkata, “Barangsiapa mengganggu seorang fakih, berarti dia telah mengganggu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Dan barangsiapa mengganggu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berarti dia telah mengganggu Alloh ‘azz wa jalla.”

Di zaman fitnah semacam ini, penjagaan dan pembelaan kita terhadap para ulama semstinya lebih dikuatkan lagi. Musuh-musuh Islam dari golongan kafir, syiah dan komunis mulai berani lancang terhadap para ulama. Orang-orang yang tak berilmu pun dapat dengan mudah menghina, melecehkan, membantah dan mengkritik tanpa adab kepada seorang ulama di media sosial. Mereka berusaha mengkriminalkan para ulama, mencari-cari kesalahan ulama dan merusak kehormatan mereka dengan berbagai fitnah dan tuduhan palsu. Kita bela para ulama dengan ragam cara yang kita mampui.

Dan satu hal yang perlu kita waspadai adalah fitnah dari musuh islam. Jangan sampai kita mudah terhasut saat mereka mencoba menyebar berita bahwa seorang ulama telah berzina, menrima suap atau apapun kabar buruk dari mereka.

Bukan berarti para ulama selalu bersih dan suci dari dosa, tapi memang sudah menajdi tugas kita untuk senantiasa berhusunuzhan terlebih dahulu terhadap segala fitnah dan tuduhan yang dialamatkan kepada orang-orang mulia. Saat orang-orang munafik memfitnah Ibunda Aisyah berzina, orang-orang beriman tetap berhusunuzhan dan tak mau terseret hasutan meski mereka juga tidak bisa membuktikan.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Zaman ini memang zaman penuh keprihatinan. Anak muda tak menghormati orangtua, orang bodoh menghina ulamanya dan orang jujur justru akan terancam hidupnya. Sebaliknya, artis-artis menjadi idola, para penguasa lebih tunduk pada konglomerat kaya, dan para pengkhianat serta pembohong justru dipercaya.

Di tengah karut marut kondisi zaman, ilmu, iman dan semangat pembelaan terhadap kebenaran harus senantiasa kita tingkatkan. Jangan sampai saat ditanya Allah kelak, di mana diri kita saat wali Allah dihina, kita tidak mampu menajwabnya. Saat kita ditanya, apa yang sudah kita lakukan untuk membela dien-Nya, membela wali-Nya, membela saudara-saudara mukmin dari fitnah dan makr musuh islam, kita pun tidak mampu menajwabnya. Wal iyadzu billah, padahal sekecil apapun pembelaan pasti akan ada nilainya, sebagaimana sekecil apapun pengabaian dan ketidakpedulian pasti juga akan ada hukumannya. Wallahua’lam.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ اْلعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُهُ يَغْفِرْلَكُمْ إِنَِّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْن، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِمَامُ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

(Ust. Taufik Anwar)

 

Agar Iman Tak Goyah Di Zaman Fitnah

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Zaman ini adalah zaman fitnah. Zaman yang penuh ujian bagi hati dan pikiran. Ada beragam jenis fitnah siap mengombang-ambingkan manusia dalam kebingungan.

Apa itu fitnah? Fitnah dalam bahasa Arab memiliki makna bala’ dan ujian. Ujian bagi hati dan pikiran. Fitnah bagi hati, wujudnya adalah fenomena-fenomena yang menguji kekuatan iman dan ketakwaan. Saking banyaknya, serasa hampir mustahil bisa mempertahankan iman tetap utuh dari hari ke hari. Pasti akan ada hari di mana iman kita sedikit tergores, tergerus atau bahkan hampir terampas dari hati.

Ambil contoh, fitnah berupa makin mudahnya wanita dan lelaki yang mengumbar aurat. Ibarat memalingkan muka dari aurat di depan mata, mata kita akan tetap terbentur pada aurat lain saat menghadap ke belakang. Beberapa masa yang lalu, yang hidup di pedesaan masih bisa selamat dari hal ini. Tidak seperti orang kota yang menyaksikannya saban hari. Akan tetapi, lihatlah, hari ini orang desa sudah mengikuti orang kota, bukan pekerjaannya, tapi cara mengumbar auratnya.

Fitnah minuman keras. Mendapatkan minuman keras bukanlah hal sulit. Beberapa waktu lalu, minuman keras bahkan disediakan di swalayan-swalayan kecil. Tidak sulit pula mendapatkannya di diskotek, klub malam atau tempat-tempat hiburan lain. Parahnya lagi, tempat-tempat tersebut justru seringkali dilindungi oknum aparat. Akibatnya, saat ada sebagian kaum muslimin yang melakukan amar makruf nahi mungkar justru merekalah yang ditangkap sementara penjual miras dibiarkan bebas.

Belum lagi jika fitnah berupa makin merajalelanya homoseksual, lesbian dan penyakit-penyakit seksual lain yang hari ini justru minta diakui. Maraknya transaksi ribawi yang sangat menggiurkan, mudahnya melakukan penipuan dalam jual beli karena hari ini jual beli dilakukan secara online dan fitnah-fitnah penguji iman yang lain.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Fitnah yang tak kalah berbahaya adalah fitnah yang menguji pikiran. Menguji kecerdasan sekaligus kebijaksanaan kita sebagai muslim. Fitnah yang mengharuskan kita lebih jeli dan teliti sebelum bertindak. Mengapa? Karena jika kita salah dalam bertindak, bukan hanya kita yang bisa terkena akibatnya tapi juga saudara-saudara muslim kita.
Salah satu contoh fitnah ini adalah makin banyaknya penyebaran berita bohong. Orang jaman sekarang menyebutnya hoax. Hoax adalah berita dusta yang disebar melalui berbagai media; facebook atau whatsapp, situs internet dan juga televisi.

Sebagian besarnya adalah berita-berita bohong tapi heboh yang menarik untuk disebarkan dan sebagian lain adalah berita nyata tapi dibesar-besarkan. Hoax dan berita-berita tidak jujur semacam ini berseliweran setiap waktu di handphone, komputer dan media berita lainnya. Hoax berbahaya karena isinya mampu menyesatkan pikiran, memprovokasi tindakan negatif, adu domba atau menjatuhkan nama baik orang lain.

Berita-berita hoak semacam ini menjadikan kita sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kita juga sulit membedakan mana yang jujur dan mana yang dusta. Fenomena ini persis seperti yang disampaikan Nabi Muhammad ribuan tahun silam,

إِنَّهَا سَتَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Sesungguhnya akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya. Para pendusta dipercaya sedangkan orang jujur dianggap berdusta. Penghianat diberi amanah sedangkan orang yang amanat dituduh khianat. Dan pada saat itu, para Ruwaibidhah mulai angkat bicara. Ada yang bertanya, ‘Siapa itu Ruwaibidhah?’ Beliau menjawab, ‘Orang dungu yang berbicara tentang urusan orang banyak (umat).” (HR. Ahmad, Shahih)

Bayangkan, satu berita hoak bisa membuat kita memilih pemimpin yang salah, membenci orang yang baik, memusuhi seorang ulama, ikut-ikutan memfitnah dan membenci kaum muslimin, ikut memihak para penjahat dan membenci pembela kebenaran, merasa khawatir atau takut berlebihan dan lain sebagainya.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Untuk menangkal fitnah pertama yaitu fitnah hati dan iman, hendaknya kita memperbanyak istighfar dan berusaha meningkatkan ketakwaan. Godaan iman yang setiap hari menerjang sangat sulit dihindari. Kita tidak mencari, tapi fitnah itu datang sendiri. Tanpa istighfar dan melakukan amal penambah iman yang lain, iman kita akan seperti tanah di pinggiran sungai yang saban hari dihantam arus deras.

Adapun unutk menangkal fitnah kedua, hendaknya kita renungi nasihat dari Banu Mas’ud berikut:

إِنَّهَا سَتَكُوْنُ أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَات فَعَلَيْكُمْ بِالتُّؤَدَةِ ، فَإنَّكَ أَنْ تَكُوْنَ تَابِعًا فِي الْخَيْرِ، خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَكُوْنَ رَأْسًا فِي الشَّرِّ

“Sesungguhnya akan ada hal-hal syubhat (membuat ragu). Maka, wajib bagi kalian untuk berhati-hati dan tidak terburu-buru dalam bertindak. Sungguh, apabila engkau menjadi pengikut suatu kebaikan, itu lebih baik daripada engkau menjadi pemimpin suatu keburukan.”

Ya, benar. Berhati-hati. Jangan mudah percaya terhadap semua berita yang terlihat heboh. Jangan mudah tersulut oleh berita yang provokatif. Jangan pula mudah teprengaruh oleh berita yang menyudutkan Islam, mendeskreditkan ulama dan tokoh-tokoh umat juga berita-berita yang memojokkan Islam.

Jangan pula mudah menyebarkan berita tanpa mengecek sumbernya. Membagikan berita memang semudah menekan jempol pada handphone, tapi pertanggungjawabannya akan sangat sulit. Kita akan menjadi bagian dari mata rantai penyebaran hoak, dusta, fitnah dan provokasi. Jika ada saudara kita, ulama kita atau umat Islam yang terkena dampak buruk suatu hoak, kita akan turut dimintai pertanggungjawaban.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Oleh karenanya, kehati-hatian adalah jalan paling selamat. Fitnah yang bertebaran hari ini sudah menjadi ketentuan ilahi. Kita tidak bisa mengubahnya. Hal yang bisa kita lakukan adalah berhati-hati. Berhati-hati menjaga iman, berhati-hati menjaga sikap, berhati-hati menjaga lisan dan berhati-hati menjaga jemari. Semoga dengan begitu, kita bisa selamat dari fitnah.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ اْلعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُهُ يَغْفِرْلَكُمْ إِنَِّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْن، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِمَامُ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Umara’ Wajib Hormati Ulama

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ

وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Jamaah Jumat Rahimakumullah.

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta Alam, atas limpahan karunia dan nikmat-Nya kepada kita. Shalawat dan salam semoga senanntiasa tercurah kepada Nabi Muhammad, kepada kelurga, para shahabat dan kaum muslimin di manapun mereka berada.

Jamaah Jumat Rahimakumullah.

Taqwa adalah jatidiri dan harga diri kita. Seindah apapun wajah kita, sekuat apapun jasad kita, sehebat apapun skill kita dan setinggi apapun kecerdasan kita, semuanya sama dihadapan Allah. Taqwalah yang meninggikan derajat atau merendahkan. Taqwalah yang menentukan selamat atau celaka. Maka dari itu, meningkatkan taqwa adalah kewajiban rutin yang harus kita lakukan setiap hari.

Jamaah Jumat Rahimakumullah.

Dalam Islam, pemimpin kaum muslimin seharusnya diangkat berdasarkan keshalihan dan kecakapannya dalam mengatur Negara dan urusan umat. Mengapa Keshalihan diutamakan? Karena tujuan kepemimpinan dalam Islam adalah hirasatud dien wa himayatudunya bid dien, menjaga agama dan memelihara urusan dunia sesuai aturan agama. Bagaimana mungkin seorang pemimpin mampu menjaga agama dan memelihara urusan Negara berdasar agama jika dia tidak tahu agama?

Tidak hanya pemimpin tertinggi, pejabat negarapun, idealnya dipilih dari orang-orang yang tidak hanya cakap dalam bidangnya namun juga shalih pribadinya. Lihatlah para pejabat yang diangkat oleh Umar bin Abdul Aziz pada masa pemerintahannya. Orang-orang shalih diangkat untuk membantunya menjalankan pemrintahan.

Namun demikian, sejarah menyatakan, pada kenyataanya tidak sedikit khalifah dan pemimpin Islam yang diangkat karena Nasab, bukan karena kemampuannya. Dalam kondisi ini, pemimpin harus mendekat kepada para ulama. Pemimpin harus mendekat kepada orang-orang yang Allah karunia ilmu agama dan keshalihan, agar tugas utamanya dapat terlaksana dengan baik. Yaitu menjaga agama dan mengatur urusan dunia berdasar agama. Ada ratusan kisah yang bisa kita baca bahwa para khalifah di masa lalu rajin mengunjungi para ulama untuk meminta nasihat. Mereka juga mengundang para ulama secara resmi untuk meminta nasihat.

Allah berfirman,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“Bertanyalah kepada ahli ilmu jika engkau tidak tahu” (QS. An Nahl: 43)

Jamaah Jumat Rahimakumullah.

Demikianlah, umara’ atau penguasa memang harus mendekat kepada ulama. Mendekat untuk meminta nasihat, arahan dan bimbingan. Hal itu perlu dilakukan karena jabatan dan kekuasaan adalah pedang bermata dua; besar manfaatnya namun juga sangat berbahaya godaan-godaannya.

Simaklah pidato Abu Bakar ash Shiddiq setelah diangkat menjadi khalifah, Beliau berkata, “Saudara-saudara, aku telah diangkat menjadi pemimpin bukanlah karena aku yang terbaik diantara kalian semuanya, untuk itu jika aku berbuat baik, bantulah aku, dan jika aku berbuat salah, luruskanlah aku….”

Umar bin Khattab saat dilantik pun meminta agar diluruskan jika salah. Salah seorang shahabat bangun dan menyatakan, “Jika anda benar, saya akan menaati anda. Jika anda menyimpang, pedang ini yang akan meluruskanmu.”
Dan bukannya marah, Umar justru tersenyum bangga melihat ada rakyatnya yang siap meluruskan pemimpinnya.

Jamaah Jumat rahimakumullah.

Jika seorang pemimpin seshalih Abu Bakar dan Umar saja masih meminta nasihat dari rakyatnya, Umar bin Abdul Aziz masih meminta bimbingan dari para ulama dan para khalifah Islam masih mendatangi para ulama untuk meminta nasihat mereka, maka pemimpin hari ini lebih layak meminta nasihat kepada ulama. Pemimpin dan pejabat hari ini lebih patut
untuk mendekat kepada ulama dan meminta bimbingannya.

Bukan lain, karena jabatan adalah pedang bermata dua, besar manfaatnya tapi juga berbahaya godaannya. Semakin tinggi jabatannya, semakin luas cakupan kekuasaannya, maka semakin berbahaya pula godaannya. Apalagi jabatan dalam sistem demokrasi sekuler seperti sekarang ini. Pejabat dilantik bukan karena keshalihannya, bahkan acapkali mereka dilantik bukan pula karena kecakapannya dalam memimpin, tapi hanya karena mampu membiayai kampanye. Mereka terpilih karena publik tertipu dengan politik pencitraan yang mati-matian mempublikasikan kebaikan dan menutupi keburukan dirinya. Kemudian, hasilnya adalah pejabat-pejabat yang tidak kompeten dan malah menyalahgunakan jabatannya.

Hari ini, jabatan bukan diamanahkan tapi jadi rebutan, bahkan diperjualbelikan. Bisa dibayangkan, akan seperti apa jadinya model pemerintahan yang dilahirkan dari proses seperti ini?

Jujur dan amanah akan menjadi hal yang sulit jika sudah berhadapan dengan uang. Sikap mementingkan rakyat serasa berat jika berhadan dengan kepentingan partai dan pihak-pihak yang sudah membiayai kemapanyenya. Adil serasa mustahil jika sudah berhadapan dengan para konglomerat dan taipan.

Oleh karenanya, kepemimpinan dan jabatan di era ini jauh lebih layak untuk mendengar nasihat para ulama. Jauh lebih pantas untuk mendekat kepada ulama dan meminta bimbingan mereka. Bukan malah menjauhi dan mencoba mengkriminlasisi lembaga-lembaga ulama dan Islam. Bukan pula mendeka tapi dengan maksud menekan para ulama atau memengaruhi mereka agar berfatwa sesuai keinginan penguasa.

Umara dan ulama adalah bagian tak terpisahkan dalam menjaga keutuhan masyarakat. Umara yang mengabaikan ulama akan cenderung menyimpang karena hanya mementingkan materialism. Adapun ulama juga tidak akan mampu mengatur masyarakat tanpa umara.

Jamaah jumat rahimakumullah.

Jika umara’ sudah mengabaikan ulama, maka ulama harus tetap mengingatkan dan menasehati penguasa dan pemimpin. Berdiri di atas garis netral dan memberikan nasihat dengan ikhlas dan benar. Mewaspadai tipuan politik dan iming-iming pihak penjahat dan siap menghadapi tekanan pihak yang tidak berkenan. Jika para ulama justru menjadi pencuri di istana penguasa, menjadi corong kepentingan bagi penguasa, maka umat tidak akan lagi memiliki harapan. Kapal akan tenggelam karena amar makruf nahi mungkar yang paling krusial telah ditingalkan.

Jamaah jumat rahimakumullah.

Kita berdoa, semoga Allah melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada para ulama kita. Juga melimpahkan rahmat dan hidayah kepada para umara’ kita agar patuh pada syariat-Nya, menjaga kesucian kitab suci dan hadits Nabi dan menghormati ulama serta terus memohon bimbingan dari mereka. Aamiin Ya rabbal ‘alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ اْلعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُهُ يَغْفِرْلَكُمْ إِنَِّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْن، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِمَامُ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

(Ust. Taufik Anwar)