Umara’ Wajib Hormati Ulama

317

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ

وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Jamaah Jumat Rahimakumullah.

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta Alam, atas limpahan karunia dan nikmat-Nya kepada kita. Shalawat dan salam semoga senanntiasa tercurah kepada Nabi Muhammad, kepada kelurga, para shahabat dan kaum muslimin di manapun mereka berada.

Jamaah Jumat Rahimakumullah.

Taqwa adalah jatidiri dan harga diri kita. Seindah apapun wajah kita, sekuat apapun jasad kita, sehebat apapun skill kita dan setinggi apapun kecerdasan kita, semuanya sama dihadapan Allah. Taqwalah yang meninggikan derajat atau merendahkan. Taqwalah yang menentukan selamat atau celaka. Maka dari itu, meningkatkan taqwa adalah kewajiban rutin yang harus kita lakukan setiap hari.

Jamaah Jumat Rahimakumullah.

Dalam Islam, pemimpin kaum muslimin seharusnya diangkat berdasarkan keshalihan dan kecakapannya dalam mengatur Negara dan urusan umat. Mengapa Keshalihan diutamakan? Karena tujuan kepemimpinan dalam Islam adalah hirasatud dien wa himayatudunya bid dien, menjaga agama dan memelihara urusan dunia sesuai aturan agama. Bagaimana mungkin seorang pemimpin mampu menjaga agama dan memelihara urusan Negara berdasar agama jika dia tidak tahu agama?

Tidak hanya pemimpin tertinggi, pejabat negarapun, idealnya dipilih dari orang-orang yang tidak hanya cakap dalam bidangnya namun juga shalih pribadinya. Lihatlah para pejabat yang diangkat oleh Umar bin Abdul Aziz pada masa pemerintahannya. Orang-orang shalih diangkat untuk membantunya menjalankan pemrintahan.

Namun demikian, sejarah menyatakan, pada kenyataanya tidak sedikit khalifah dan pemimpin Islam yang diangkat karena Nasab, bukan karena kemampuannya. Dalam kondisi ini, pemimpin harus mendekat kepada para ulama. Pemimpin harus mendekat kepada orang-orang yang Allah karunia ilmu agama dan keshalihan, agar tugas utamanya dapat terlaksana dengan baik. Yaitu menjaga agama dan mengatur urusan dunia berdasar agama. Ada ratusan kisah yang bisa kita baca bahwa para khalifah di masa lalu rajin mengunjungi para ulama untuk meminta nasihat. Mereka juga mengundang para ulama secara resmi untuk meminta nasihat.

Allah berfirman,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“Bertanyalah kepada ahli ilmu jika engkau tidak tahu” (QS. An Nahl: 43)

Jamaah Jumat Rahimakumullah.

Demikianlah, umara’ atau penguasa memang harus mendekat kepada ulama. Mendekat untuk meminta nasihat, arahan dan bimbingan. Hal itu perlu dilakukan karena jabatan dan kekuasaan adalah pedang bermata dua; besar manfaatnya namun juga sangat berbahaya godaan-godaannya.

Simaklah pidato Abu Bakar ash Shiddiq setelah diangkat menjadi khalifah, Beliau berkata, “Saudara-saudara, aku telah diangkat menjadi pemimpin bukanlah karena aku yang terbaik diantara kalian semuanya, untuk itu jika aku berbuat baik, bantulah aku, dan jika aku berbuat salah, luruskanlah aku….”

Umar bin Khattab saat dilantik pun meminta agar diluruskan jika salah. Salah seorang shahabat bangun dan menyatakan, “Jika anda benar, saya akan menaati anda. Jika anda menyimpang, pedang ini yang akan meluruskanmu.”
Dan bukannya marah, Umar justru tersenyum bangga melihat ada rakyatnya yang siap meluruskan pemimpinnya.

Jamaah Jumat rahimakumullah.

Jika seorang pemimpin seshalih Abu Bakar dan Umar saja masih meminta nasihat dari rakyatnya, Umar bin Abdul Aziz masih meminta bimbingan dari para ulama dan para khalifah Islam masih mendatangi para ulama untuk meminta nasihat mereka, maka pemimpin hari ini lebih layak meminta nasihat kepada ulama. Pemimpin dan pejabat hari ini lebih patut
untuk mendekat kepada ulama dan meminta bimbingannya.

Bukan lain, karena jabatan adalah pedang bermata dua, besar manfaatnya tapi juga berbahaya godaannya. Semakin tinggi jabatannya, semakin luas cakupan kekuasaannya, maka semakin berbahaya pula godaannya. Apalagi jabatan dalam sistem demokrasi sekuler seperti sekarang ini. Pejabat dilantik bukan karena keshalihannya, bahkan acapkali mereka dilantik bukan pula karena kecakapannya dalam memimpin, tapi hanya karena mampu membiayai kampanye. Mereka terpilih karena publik tertipu dengan politik pencitraan yang mati-matian mempublikasikan kebaikan dan menutupi keburukan dirinya. Kemudian, hasilnya adalah pejabat-pejabat yang tidak kompeten dan malah menyalahgunakan jabatannya.

Hari ini, jabatan bukan diamanahkan tapi jadi rebutan, bahkan diperjualbelikan. Bisa dibayangkan, akan seperti apa jadinya model pemerintahan yang dilahirkan dari proses seperti ini?

Jujur dan amanah akan menjadi hal yang sulit jika sudah berhadapan dengan uang. Sikap mementingkan rakyat serasa berat jika berhadan dengan kepentingan partai dan pihak-pihak yang sudah membiayai kemapanyenya. Adil serasa mustahil jika sudah berhadapan dengan para konglomerat dan taipan.

Oleh karenanya, kepemimpinan dan jabatan di era ini jauh lebih layak untuk mendengar nasihat para ulama. Jauh lebih pantas untuk mendekat kepada ulama dan meminta bimbingan mereka. Bukan malah menjauhi dan mencoba mengkriminlasisi lembaga-lembaga ulama dan Islam. Bukan pula mendeka tapi dengan maksud menekan para ulama atau memengaruhi mereka agar berfatwa sesuai keinginan penguasa.

Umara dan ulama adalah bagian tak terpisahkan dalam menjaga keutuhan masyarakat. Umara yang mengabaikan ulama akan cenderung menyimpang karena hanya mementingkan materialism. Adapun ulama juga tidak akan mampu mengatur masyarakat tanpa umara.

Jamaah jumat rahimakumullah.

Jika umara’ sudah mengabaikan ulama, maka ulama harus tetap mengingatkan dan menasehati penguasa dan pemimpin. Berdiri di atas garis netral dan memberikan nasihat dengan ikhlas dan benar. Mewaspadai tipuan politik dan iming-iming pihak penjahat dan siap menghadapi tekanan pihak yang tidak berkenan. Jika para ulama justru menjadi pencuri di istana penguasa, menjadi corong kepentingan bagi penguasa, maka umat tidak akan lagi memiliki harapan. Kapal akan tenggelam karena amar makruf nahi mungkar yang paling krusial telah ditingalkan.

Jamaah jumat rahimakumullah.

Kita berdoa, semoga Allah melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada para ulama kita. Juga melimpahkan rahmat dan hidayah kepada para umara’ kita agar patuh pada syariat-Nya, menjaga kesucian kitab suci dan hadits Nabi dan menghormati ulama serta terus memohon bimbingan dari mereka. Aamiin Ya rabbal ‘alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ اْلعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُهُ يَغْفِرْلَكُمْ إِنَِّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْن، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِمَامُ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

(Ust. Taufik Anwar)