Anas bin Malik, Sepuluh Tahun Serumah dengan Rasulullah

323

Di pagi yang cerah, beberapa lelaki Anshar berteriak: “Sesungguhnya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  dan Shahabatnya telah tiba di jalan dekat Madinah.” Dengan serta merta para lelaki Anshar yang telah beberapa lama menunggu kedatangan Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, segera menuju ke arah jalan secara bergelombang menyambut Rasulullah . Demikian pula halnya dengan anak-anak Anshar.

Belum berapa lama Rasulullah tinggal di Madinah,datanglah seorang wanita Anshar, Rumaisha atau yang dikenal dengan nama Ummu Sulaim, bersama putranya yang baru berumur sembilan tahun, Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu. Ummu Sulaim berkata, “ Ya Rasulullah, orang-orang Anshar baik lelaki maupun perempuan telah memberikan hadiahnya kepada anda. Tetapi saya tidak memiliki apa-apa untuk kuhadiahkan kepada Anda kecuali anakku ini. Maka ambillah ia agar bekhidmat kepadamu membantu apa yang anda butuhkan.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun menerima hadiah Ummu Sulaim dengan senang hati. Sejak saat itu Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu hidup dalam semerbak rumah kenabian.

Baca Juga: Kisah Menarik dari Sahabat Anas bin Malik

Di dalam rumah tangga Rasulullah inilah, Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu langsung merasakan betapa kemuliaan akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, kelembutan dan kesabaran beliau. Diantaranya adalah sebagaimana yang beliau ceritakan sendiri: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah manusia yang paling baik akhlaknya, paling santun dan paling penyayang. Suatu hari beliau mengutusku dan sayapun pergi ke luar. Lalu saya melewati kawanan anak yang bermain di pasar, sehingga saya ikut bermain bersama mereka dan tidak melaksanakan perintah beliau.

Ketika saya sedang asyik bermain bersama mereka, tiba-tiba ada seseorang yang berdiri di belakangku dan memegang pakaianku. Akupun menoleh, dan ternyata adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sedang tersenyum sembari bersabda, “Ya ,Unais, apakah engkau telah pergi melaksanakan perintahku?” Saya langsung berkata, “Baik Rasulullah, sekarang saya mau pergi.” Demi Allah, saya telah berkhidmat kepada beliau selama sepuluh tahun, dan beliau belum pernah sekalipun memukulku, belum pernah mencelaku, dan belum pernah bermuka masam kepadaku.”

Selain kemuliaan bisa hidup serumah dengan manusia termulia, Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu juga mendapat barokah do’a Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Suatu ketika beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam masuk ke rumah Ummu Sulaim. Maka Ummu Sulaim membawakan korma dan minyak samin kepada beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau besabda, “Kembalikanlah korma dan minyak samin kalian ke tempatnya, sesungguhnya saya sedang shaum.” Kemudian beliau berdiri di pojok rumah, lalu melakukan shalat bersama kami, namun bukan shalat wajib, kemudian beliau mendo’akan kebaikan bagi Ummu Sulaim dan keluarganya.

Baca Juga: Cara Sahabat Membalas Budi Umair bin Sa’ad

Ummu Sulaim pun berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya  saya memiliki orang khusus yang saya sayangi.” Beliau bersabda,”Siapa dia?” Ummu Sulaim berkata,”Pembantumu, si Anas.” Maka beliaupun mendo’akan kebaikan akhirat dan dunia bagiku. Kemudian beliau berdo’a, “Ya Allah berilah Ia rezki harta dan anak-anak, dan berkahilah ia padanya.” Do’a Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ini di kemudian hari terbukti dalam kenyataan. Anas bin Malik kemudian menjadi orang terkaya dari kalangan Anshar, dan memiliki keturunan tidak kurang dari seratus orang, dan menjadi Shahabat yang terakhir meninggal dunia karena diberi usia seratus tahun lebih.

Sebagai orang yang terbina dalam rumah kenabian, maka tidak heran jika ibadah beliau sangat mirip dengan apa yang dilakukan tuan sekaligus gurunya. Hal ini sebagaimana disaksikan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu yang berkata, “Saya tidak melihat seorangpun yang shalatnya paling mirip dengan shalat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melebihi Ibnu Ummu Sulaim ini.”

Selain sebagai seorang ahli ibadah, sebagaimana Shahabat lainnya, Anas bin Malik juga aktif dalam jihad menegakkan agama Allah. Di antaranya adalah saat terjadinya perang Yamamah, jihad menumpas Nabi palsu, yang hampir saja jiwanya terenggut saat beliau terkena kait dari besi panas yang dilempar dari benteng musuh. Namun atas ijin Allah beliau berhasil diselamatkan oleh saudaranya sendiri Baro’ bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu.

Kekuatan ibadah, kesungguhan menegakkan agama Allah, tak jarang berbuah karomah. Demikian pula yang dialami Anas bin Malik.  Suatu ketika penjaga kebun Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu mengadu kepadanya bahwa tanahnya mengalami kekeringan. Maka beliaupun keluar ke tanah lapang, melakukan shalat sunnah dan menengadahkan tangan berdo’a kepada Allah. Tak berapa lama kemudian, datanglah awan berarak-arakan. Kemudian turunlah hujan dengan derasnya. Sebagian keluarganya lalu mengecek hujan tersebut. Ternyata hujan tersebut hanya turun di sekitar tanah Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu.

Baca Juga: Fadhalah bin Umair Mencoba Membunuh Nabi

Selain telah berkhidmat untuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau juga telah berkhidmat untuk Islam dan kaum muslimin. Tercatat dari beliau terhimpun 1286 hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Diantaranya yang sangat berkesan pada jiwa beliau adalah sebagaimana diriwayatkan imam Ahmad, bahwa ada seorang lelaki datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan bertanya,”Kapankah terjadinya kiamat?” Beliau bersabda,” Apa yang telah engkau siapkan untuk menghadapinya?”  Orang itu menjawab, “Tidak ada, kecuali saya mencintai Allah dan Rasul-Nya.”  Beliau menjawab, “Sesungguhnya engkau akan bersama orang yang kamu cintai.” Mengomentari sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Kami tidak pernah merasakan kegembiraan yang luar biasa selain dari nikmat Islam melebihi kegembiraan kami dengan sabda beliau ini: Sesungguhnya engkau akan bersama orang yang kamu cintai.” Anas melanjutkan pembicaraannya, “Saya mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Abu Bakar, dan Umar. Dan saya berharap akan bersama-sama mereka karena kecintaanku kepada mereka, meskipun saya tidak bisa beramal sebagaimana amal mereka.”

Setelah seratus tahun lebih Shahabat mulia ini meramaikan dunia dengan ketaatan kepada Allah, beliaupun tertimpa sakit. Ketika menjelang ajal, kalimat syahadat tak henti-hentinya keluar dari mulut beliau yang mulia. Kemudian para malaikat suci menyambut ruh beliau yang mulia menuju keharibaan-Nya.

Oleh: Redaksi/Kisah Sahabat