Dakwah Islam Sebelum Wali Sanga

56

Hingga saat ini, banyak orang menganggap bahwa Islam baru masuk dan menyebar ke tanah Jawa pada masa akhir kerajaan Majapahit. Wali Sanga menjadi perintis jalan penyebaran Islam di Jawa. Periode Wali Sanga sendiri menurut versi yang masyhur terjadi pada abad 15-16 Masehi. Pada periode ini, penyebaran Islam di tetangga Jawa yang paling dekat, yaitu Sumatera dan Malaka, padahal telah memperlihatkan hasilnya. Beberapa kerajaan Islam telah lama muncul dan berkembang di dua wilayah tersebut. Sementara itu, Jawa seakan menjadi wilayah yang termarginalkan dari sentuhan dakwah Islam sehingga kedatangannya pun telat sekian abad dibanding Sumatera. Benarkah demikian?

Berbicara tentang Islamisasi Jawa, memang masih banyak hal yang terasa samar dan perlu dikaji berulang-ulang. Kesamaran itu di antaranya terjadi karena langkanya sumber tentang proses awal Islamisasi Jawa. Sumber-sumber yang ada lebih banyak memuat data periode saat Islam sudah berkembang. Berbeda dengan Sumatera, sumber tentang proses awal Islamisasi di wilayah ini masih bisa dilacak. Penulisan sejarah Islamisasi Sumatera pun menjadi lebih jelas dibanding Jawa. Terlepas dari faktor ini, harus dipahami bahwa Islamisasi adalah hasil dari interaksi bangsa Nusantara dengan dunia internasional, khususnya dengan bangsa yang sudah masuk Islam.  

 

Hubungan Jawa dengan Dunia Internasional

Dalam hubungan antarbangsa, nama Jawa sudah cukup lama dikenal di dunia internasional. Hal itu dibuktikan dengan disebutnya nama Jawadwipa dalam kitab Ramayana. Diceritakan, Sugriwa sang raja kera mengirimkan pasukannya ke empat mata angin untuk mencari Shinta. Salah satu daerah yang dituju adalah Jawadwipa. Menurut Prof. Sylvain Lévi, kitab ini ditulis tidak lebih dari abad 1 M. Ptolomy, ahli astronomi dari Iskandariah, menulis geografi dunia abad 2 M. Ia menyebut Jawa dengan Iabadiou. Menurutnya, “Iabadiou, yang berarti pulau jewawut (sejenis padi), konon adalah pulau yang sangat subur dan menghasilkan banyak emas.” Kronik China menyebutkan bahwa sekitar 132 M, Tiao Pien (Dewa Warman?), raja Ye-tioa (Jawadwipa), mengirimkan seorang duta ke Cina. Raja Cina menghadiahi Tiao Pien stempel emas dan pita ungu. (Bijan Raj Chatterjee, India and Java, 1933, hlm. 1 dan 22)

Data yang diungkap Prof. Bijan Raj Chatterjee di atas menunjukkan bahwa bangsa India, Mesir kuno (Koptik), dan China sudah lama mengenal Jawa dan berhubungan dengan penduduknya. Hubungan Jawa dengan Mesir kuno sendiri bahkan sudah terjalin berabad-abad sebelum Masehi. Donald Maclaine Campbell mengemukakan bahwa orang-orang dari barat yang pertama kali mengunjungi Jawa adalah orang-orang dari Laut Merah. Mereka datang dengan menaiki perahu pada permulaan 4.500 sebelum Masehi. (Java: Past and Present, Jilid 1, hlm. 20)

Jawa juga mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Madagaskar di Afrika Timur. Dalam History of Madagascar, Flaccourt menyatakan bahwa bahasa yang digunakan oleh penduduk pulau ini penuh dengan kata-kata Jawa dan Melayu. Menurut Raempfer, fakta ini merupakan bukti hidup terjalinnya perdagangan antara Madagaskar dengan Jawa dan Sumatera sejak 2.500 tahun yang lalu. (Java: Past and Present, Jilid 1, hlm. 87)

Baca Juga: Citra Pribumi di Mata Penjajah, Portugis

Termasuk yang berhubungan cukup intens dengan orang Jawa adalah orang Arab. Sangat aneh jika orang Jawa sudah berlayar hingga Madagaskar dan menjalin hubungan dengan orang Mesir kuno, namun tidak mempunyai hubungan dengan orang Arab. Jazirah Arab berada di jalur yang dilewati orang Jawa ke Madagaskar. Orang Arab juga dikenal sebagai penjelajah bahari. Mereka membangun pemukiman di pantai barat Sumatera pada awal abad 1 M. Orang Arab tentu sudah lama menjalin hubungan dengan orang Jawa. Akan tetapi, kapan orang Arab pertama kali mengunjungi Jawa tidaklah diketahui meski beberapa abad sebelum Masehi mereka dipastikan sudah mengenal kepulauan Maluku. (ibid)         

     

Jejak Awal Islam di Jawa

Hubungan intens dengan dunia internasional menjadi mata rantai utama untuk menelusuri jejak awal Islamisasi Jawa. Apabila bangsa Arab, bangsa yang pertama kali menerima dan menyebarkan Islam, sudah sangat lama menjalin hubungan dengan bangsa Jawa, tentulah upaya Islamisasi Jawa juga sudah dilakukan sejak awal lahirnya agama ini. Jauh sebelum masa Wali Sanga, tentu sudah ada geliat dakwah di Jawa.

W.P. Groeneveldt dalam “Nusantara dalam Catatan Tionghoa” menceritakan bahwa seorang pemimpin pemukiman Arab di pantai barat Sumatera sempat berencana menyerang Kerajaan Kalingga di Jawa pada masa pemerintahan Ratu Shima (674 M). Akan tetapi, serangan ini dibatalkan ketika ia mendengar keadilan sang ratu dan kecintaan rakyat kepadanya. (hlm. 20-21) Rencana penyerangan itu sezaman dengan pemerintahan Mu‘awiyah bin Abi Sufyan di Damaskus. Pada saat tersebut, bangsa Arab telah memeluk Islam dan menjadi dai yang sangat giat. Ini menjadi jejak awal datangnya orang Islam ke Jawa. 

Baca Juga: Jaringan Islamisasi Jawa-Maluku

Jejak berikutnya diungkap Solichin Salam dalam bukunya Sekitar Wali Sanga. Ia menyatakan bahwa pada masa Mpu Sendok (929-949 M), banyak orang Jawa berdagang hingga Baghdad. Dari hubungan ini, pada masa Airlangga (1019-1042 M) atau setidaknya masa Jayabaya (1135-1157 M), terbentuklah komunitas muslim di daerah pantai Jawa. Salah satu buktinya, ditemukannya makam Fatimah binti Maimun di Leran Gresik (meninggal th 1082 M). (hlm. 9)

Jejak berikutnya diungkap Soetjipta Wirjosoeparto. Dalam disertasinya tentang Kakawin Gatutkacasyara, ia menyebutkan bahwa kitab karya Mpu Panuluh yang ditulis pada masa Jayabaya tersebut banyak menggunakan kata-kata dari bahasa Arab. Jejak lain diungkap oleh T.W. Arnold. Dalam The Preaching of Islam (hlm. 378), ia menulis bahwa pada akhir abad 12 M, putra tertua raja Pajajaran masuk Islam. Namanya Haji Purwa. Ia berusaha mengislamkan Pajajaran, namun gagal. 

Itulah sebagian jejak sejarah yang menunjukkan upaya dakwah Islam sebelum Wali Sanga. Jadi, Wali Sanga bukanlah pihak pertama yang berdakwah di Jawa. Mereka hanya melanjutkan dakwah yang telah dirintis para dai sebelumnya. Dakwah Wali Sanga ternyata lebih sukses dibandingkan dakwah para pendahulu mereka. Oleh karena itu, nama-nama dan kisah mereka selalu dikenang dalam ingatan orang Jawa. 

 

Oleh: Ust. Muh. Isa Anshari/Sejarah Islam Indonesia