Muslim Maluku Melawan Portugis

100

Di Maluku, umat Islam dengan sengit melawan Portugis selama 85 tahun (1520—1605). Portugis pertama datang ke Maluku pada 1512. Tiga tahun berikutnya, Portugis diizinkan mendirikan loji di Hitu sebagai tempat tinggal dan tempat penampungan rempah-rempah sehingga terjalinlah hubungan perdagangan antara Hitu dan Portugis.

LATAR BELAKANG PERLAWANAN

Namun demikian, hubungan ini tidak berlangsung lama karena ulah Portugis sendiri. Pada 1516 orang Portugis membawa minuman keras dari kapal untuk dijual. Malah orang Portugis sendiri yang minum sampai mabuk serta membuat kekacauan dalam pasar cengkeh di Hitu. Kejadian ini menimbulkan kemarahan masyarakat Hitu terhadap orang Portugis. Mereka menuntut penguasa Hitu, yaitu Empat Perdana, agar menghukum orang Portugis karena telah melanggar adat dan agama. Akhirnya orang Portugis disuruh pindah ke bagian selatan Hitu. (Maryam RL Lestaluhu, Sejarah Perlawanan Masyarakat Islam Terhadap Imperialisme di Daerah Maluku, hlm. 39-40)

Atas tindakan ini, pada 1520 Portugis menyerang Hitu dengan mempengaruhi penduduk di bagian selatan jazirah itu untuk membantu mereka. Menghadapi situasi itu, Empat Perdana Menteri tidak tinggal diam. Mereka memerintahkan seluruh rakyat turun ke pantai menghadapi musuh yang akan mendarat. Rakyat Hitu tidak gentar menghadapi serangan Portugis karena mati bagi mereka saat itu adalah mati syahid. Pertempuran satu lawan satu berlangsung dengan seru sampai petang, namun tidak ada kemenangan yang diraih oleh salah satu pihak. Pasukan Portugis mundur karena sudah malam, lalu berlayar pulang ke pangkalannya. Serangan pertama pihak Portugis ini merupakan awal permusuhan antara Hitu dan Portugis yang berlangsung selama ± 85 tahun. (hlm. 43-44)

PERLAWANAN MUSLIM HITU

Pertempuran kembali terjadi antara rakyat muslim Hitu dan orang Portugis pada 1525. Banyak orang Portugis mati terbunuh. Penduduk Hitu Selatan yang dulu membantu penyerangan Portugis pada 1520 juga mendapatkan balasan sehingga mereka lari menyelamatkan diri. Rakyat Hitu memperoleh kemenangan yang gemilang. Delapan tahun berikutnya (tahun 1533), Portugis mencoba mempengaruhi negeri Hatiwe, yaitu salah satu negeri Islam di jazirah Hitu bagian selatan, agar membantu mereka menyerang Hitu dari laut dan darat. Sebelum rencana penyerangan Portugis itu terlaksana, pasukan Hitu bersama pasukan bantuan dari Jepara menyerang Hatiwe terlebih dahulu. Pasukan Hitu tidak hanya menunggu Portugis di tempat, tapi diperintahkan untuk menghadang pasukan musuh dalam perjalanan sebelum tiba di Hitu. Dalam pertempuran-pertempuran yang terjadi sepanjang perjalanan ke Hitu, pasukan Portugis banyak menderita kerugian karena banyak yang mati. Senjata mereka banyak pula yang jatuh ke tangan pasukan Hitu. Pasukan Portugis mengundurkan diri ke Hatiwe sambil menunggu bantuan dari Goa. Namun bantuan yang ditunggu baru tiba pada 1537 dan terjadilah pertempuran antara pasukan Hitu dan pasukan Portugis.

Pada 1570 Portugis kembali menyerang Hitu di bawah pimpinan Sancho. Karena serangan ini, Empat Perdana Menteri bersama rakyat Hitu sampai harus berpindah ke Seram Barat. Melihat keberangkatan mereka, Portugis merasa puas karena musuhnya di jazirah Hitu sudah tidak ada lagi. Namun demikian, pada 1574 Empat Perdana Menteri bersama rakyat Hitu ditambah bantuan penduduk Seram Barat melakukan penyerangan dan berhasil mengusir Portugis dari Hitu. Keadaan pun menjadi tenang kembali. Namun, hal ini hanya bertahan selama 6 tahun. Pada 1580 pasukan Portugis di bawah pimpinan Panglima Paul Dirk Kastanya kembali datang dan membuat kekacauan. Dua tahun berikutnya, Portugis menyerang Mamala. Dalam pertempuran yang berlangsung 2 hari itu, orang-orang Mamala berhasil menghalau pasukan Portugis setelah dibantu oleh Perdana Menteri Tahalele II dengan pasukannya dari Hitu. (hlm 44-56)

PERLAWANAN MUSLIM TERNATE

Perlawanan bersenjata terhadap Portugis juga terjadi di Ternate. Pada mulanya, kerajaan Islam yang berada di Maluku bagian utara ini menjalin hubungan dagang dan perjanjian damai dengan Portugis. Namun setelah Portugis memonopoli perdagangan, menyebarkan agama Katolik dengan licik dan paksaan, serta mengadu domba antara penduduk Maluku, orangorang Ternate pun menjadi benci kepada mereka. Portugis juga sering turut campur dalam urusan pemerintahan dan bertindak sewenang-wenang terhadap para sultan. Hal ini menimbulkan kemarahan luar biasa dari masyarakat Maluku Utara terhadap bangsa Portugis. Kemarahan ini semakin bertambah ketika Sultan Khairun dan ibunya ditangkap dan diasingkan dalam benteng. Mereka berdua akhirnya dibebaskan karena rakyat memberontak. Di seluruh daerah kekuasaan Sultan Ternate, timbul kebencian terhadap Portugis. Kemarahan terhadap Portugis mencapai puncaknya ketika Sultan Khairun dibunuh secara kejam pada 18 Februari 1570 dalam benteng oleh pengkhianatan de Mesquita yang menjabat sebagai Gubernur Portugis di Ternate pada waktu tersebut. Akibat kejadian itu, Sultan Babullah yang telah menggantikan ayahnya segera bertindak keras terhadap Portugis, dengan mengusir mereka yang tinggal di luar benteng.

Sementara benteng Ternate (Sau Paulo) dikepung, Sultan Babullah mengirimkan angkatan perangnya ke Ambon di bawah pimpinan Kaicili Leliato untuk menghajar Portugis. Walaupun Kerajaan Tidore bermusuhan dengan Ternate, namun dorongan solidaritas Islam telah memaksa para sultan dan rakyat Maluku Utara membantu Ternate. Kepungan terhadap benteng telah mengakibatkan timbulnya wabah dan kelaparan sehingga para penghuni dalam benteng mulai menderita penyakit busung lapar. Melihat penderitaan orang-orang yang terkepung itu, timbullah rasa kasihan dalam hati Sultan Babullah. Dia kemudian menawarkan beberapa usul. Pertama, Portugis harus menyerahkan benteng dan meninggalkan Ternate dalam waktu 2 X 24 jam. Kedua, Orang-orang Portugis harus menyerahkan pembunuh Sultan Khairun dan kaki tangannya. Sejak saat itu, hubungan Portugis dengan Kesultanan Ternate tetap tegang sampai tiba saatnya mereka meninggalkan Maluku untuk selamanya pada 1606, setelah Ternate mengalahkan Portugis dengan bantuan Belanda dan Hitu. (hlm. 57-66)

Oleh: Ust. M. Isa Anshari/Sejarah Islam Indonesia