Dibalik Ucapan, “Ngomong itu mudah, prakteknya Susah!”

100

Di antara indahnya hidup masyarakat Islam adalah adanya tanashuh (saling menasihati) satu sama lain. Saat kita alpha, ada yang mengingatkan, saat kita lemah ada yang menguatkan dan saat kita sedih ada yang memberi kabar gembira. Tapi apa jadinya tatkala kita memberi masukan kepada seseorang yang sedang mengalami musibah atau menghadapi musibah lalu dijawab, “Ngomong itu mudah, praktiknya itu yang susah!” Saat itu lidah kitapun akan kelu, tak bisa berkata-kata lagi. Dan yang lebih penting lagi, bagaimana seandainya kalimat itu justru keluar dari mulut kita?

Ungkapan yang semisal itu juga seringkali kita dengar. M isalnya pada saat seseorang menghibur orang yang sedang ditimpa musibah lalu dijawab, “Sabar itu ada batasnya!”, Atau, “Kamu bicara seperti itu karena tidak mengalami seperti apa yang aku alami!” Dan ungkapan lain yang semisalnya.

Padahal, ketika seseorang menasihati orang lain, bukan berarti dirinya mengklaim bisa dengan mudah menjalankan tuntutan sabar. Justru karena beratnya kesabaran, maka Allah perintahkan orang-orang beriman untuk berwasiat dalam kesabaran.

Satu sisi, ungkapan itu berpotensi membungkam saudara sesama muslim dari memberikan nasihat. Dengan kata lain, ia telah menghalangi orang lain untuk menyeru yang ma’ruf. Karena efek dari ucapan itu menjadikan seseorang menjadi canggung untuk memberikan masukan yang berfaedah untuk orang lain. Padahal, ad-dienu an-nashihah, agama itu nasihat. Bagaimana agama seseorang bisa terjaga tanpa adanya saling menasihati satu sama lain.

Imam al-Khaththabi rahimahullah mengatakan bahwa kata nasihat diambil dari lafadz “nashahar-rajulu tsaubahu” (نَصَحَ الرَّجُلُ ثَوْبَهُ), artinya, lelaki itu menjahit pakainnya. Para ulama mengibaratkan perbuatan penasihat yang selalu menginginkan kebaikan orang yang dinasihatinya, sebagaimana usaha seseorang memperbaiki pakaiannya yang robek. Alangkah naif jika itikad baik itu dibalas dengan penolakan. Padahal sejatinya setiap muslim membutuhkan nasihat orang lain untuk bisa istiqamah dan juga terjaga kemaslahatan urusannya.

Hingga karena pentingnya nasihat, sampai-sampai Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengambil bai’at untuk saling menasihati.

Diriwayatkan dari Jarir radhiyallaahu‘anhu,

بَايَعْتُ رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – عَلَى إقَامِ الصَّلاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، والنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ

Aku berbai’at (berjanji setia) kepada Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan memberi nasihat kepada setiap muslim.” (HR Muttafaq alaih )

Meskipun tidak diminta, ketika kita  mendapati saudara kita hampir terjatuh ke dalam suatu keburukan, melakukan pelanggaran syar’i, berbuat sesuatu yang memudharatkan dirinya, atau perbuatan yang lainnya, maka tugas kita adalah menasihatinya walaupun ia tidak memintanya. Kita memang harus bersabar sebagai orang yang menasihati, meski ada respon yang tidak baik dari orang yang kita nasihati. Akan tetapi, tatkala kita berada dalam posisi yang dinasihati, hendaknya bisa mengambil manfaat dari nasihat tersebut. Karena cirikhas seorang mukmin itu bisa mengambil manfaat dari setiap peringatan,

“Berilah peringatan, sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS adz-Dzariyat: 55)

Maka orang yang menampik peringatan dari orang lain, berarti dia tidak bisa mengambil manfaat dari nasihat. Pada saat itu, jatuh pula derajat keimanannya karena tidak menyandang sebagian sifat dari orang-orang yang beriman.

Saat kita diberi nasihat dan diingatkan, jangan pula kemudian mengungkapkan kata-kata yang bernada putus asa. Seperti ungkapan di atas. Karena ungkapan semacam itu juga menunjukkan kelemahan jiwa seseorang yang tidak memiliki optimis, atau hampir masuk pada karakter putus asa. Sebagian lagi mengucapkan kata-kata itu setelah benar-benar berputus asa dan sengaja ‘memelihara’ keputusasaannya itu.

Seorang muslim senantiasa memiliki sifat optimis, dan menjauhi sifat putus asa.Di samping tidak akan menyelasikan masalah, putus asa juga  berpotensi memperburuk situasi, karena emosi negatif dan tidak lagi semangat untuk memperbaiki diri. Di samping hal itu memang dosa dan menjadi karakter orang-orang kafir.

“dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat serta pertolongan Allah. Sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat dan pertolongan Allah itu melainkan kaum yang kafir”. (QS. Yusuf: 87)

Ketika seorang muslim menyadari kelemahan dirinya dalam menghadapi persoalan, mereka tetap memiliki zhan (persangkaan) yang baik dan senantiasa optimis. Karena meskipun dirinya lemah, dai memiliki Allah Yang Mahakuat, dan kuasa atas segala sesuatu. Tak ada yang mustahil bagi Allah jika Dia menghendaki, meskipun itu tampak sulit bagi kita. Begitupun sebaliknya, hal yang tampak begitu mudah bisa menjadi mustahil jika tidak dikehendaki oleh Allah.

Persangkaan baik kepada Allah itu tidak sama dengan prasangka baik kepada makhluk. Prasangka baik kepada Allah berarti doa, dan Allah akan memberi hamba-Nya sesuai dengan apa yang menjadi persangkaan hamba-Nya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى

Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” (Muttafaqun ‘alaih).

Mengenai makna hadits di atas, Al Qodhi ‘Iyadh berkata, “Sebagian ulama mengatakan bahwa maknanya adalah Allah akan memberi ampunan jika hamba meminta ampunan. Allah akan menerima taubat jika hamba bertaubat. Allah akan mengabulkan do’a jika hamba meminta. Allah akan beri kecukupan jika hamba meminta kecukupan. Ulama lainnya berkata maknanya adalah berharap pada Allah (roja’) dan meminta ampunannya” (Syarh Muslim, Imam an-Nawawi).

Jika demikian, dengan alasan apalagi seorang muslim berputus asa? Semoga setelah ini kita lupakan ungkapan-ungkapan yang mengandung sikap putus asa dan prasangka buruk kepada Allah. Wallahul muwaffiq.

 

Oleh: Abu Umar Abdillah/Motivasi