Renungan

Dosa Hanya Membuahkan Derita

 

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.” (QS. al-Jatziyah: 21)

 


 

Ibnu Asakir menyebutkan dari Masruq bahwa Tamim ad-Dari radhiyallahu anhu suatu malam shalat dengan membaca dan mengulang-ulang ayat,

“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka?” (QS. Al-Jatsiyah: 21)

Beliau melakukannya dari tengah malam hingga menjelang Subuh sembari menangis karena penghayatannya terhadap ayat ini. Betapa peka hati beliau. Semacam ada kekhawatiran bahwa perbuatan baik dan amal shalihnya belum mencapai level sebagai orang baik. Ada rasa takut bahwa kekhilafannya saat terjerumus pada suatu dosa atau sisi kekurangannya dalam menjalankan kewajiban menjatuhkannya pada kriteria sebagai pendosa.

Begitulah para shalihin, amalnya klimak, rasa takutnya memuncak. Orang mukmin itu melihat dosa yang pernah dilakukannya seperti duduk di kaki gunung hingga takut akan reruntuhan bebatuannya. Adapun orang fajir memandang dosa yang telah diperbuatnya seperti lalat yang hinggap di hidungnya. Cukup dengan mengibsakan kepalanya, maka lalat itu akan enyah dari dirinya. Begitulah wasiat dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu.

Seorang mukmin menganggap besar urusan dosa dan tidak menyepelekannya. Maka ia akan berusaha meninggalkan dosa, menjauhinya, bertaubat dan merengek-rengek kepada Allah agar mengampuni dan memaafkannya.

Baca Juga: Yang Menyenangkan Belum Tentu Membuat Bahagia

Adapun karakter pendosa tidak demikian halnya. Berapa banyak orang-orang yang dengan gampang melakukan dosa, lalu mengira secara otomatis Allah akan mengampuninya. Berapa banyak pula orang yang malas dalam melakukan ketaatan dan menelantarkannya, lalu secara sepihak mengklaim bahwa Allah memaklumi kemalasannya? Mereka mengikutapi mengklaim sebagai kata hati atau nurani yang Allah fitrahkan kepadanya. Padahal ia tidak mau tahu petunjuk-Nya, perintah dan larangan-Nya lalu mengira sudah mentaati-Nya. Dengan dalih itu pula ia menyangka bahwa Allah akan membalas sama antara mereka dengan orang yang benar-benar takut berbuat dosa dan benar-benar taat dalam menjalankan perintah Allah. Ini terlalu namanya. Maka tentang klaim yang seperti ini, maka Allah menyanggahnya,

“Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.” (QS. Al-Jatsiyah: 21)

Ibnu Katsier menjelaskan dalam Tafsirnya, “Alangkah buruknya dugaan mereka terhadap Kami, padahal mustahil Kami menyamakan di antara orang-orang yang bertakwa dengan para pendosa baik dalam kehidupan di negeri akhirat nanti dan juga dalam kehidupan di dunia ini.

Ibnu Katsier rahimahullah menyebutkan satu riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda,

كَمَا أَنَّهُ لَا يُجْتَنَى مِنَ الشَّوْكِ الْعِنَبُ، كَذَلِكَ لَا يَنَالُ الْفُجَّارُ مَنَازِلَ الْأَبْرَارِ”

“Sebagaimana tidak dapat dipetik dari pohon yang berduri buah anggur, demikian pula halnya orang-orang durhaka, mereka tidak akan memperoleh kedudukan orang-orang yang bertakwa.”

Hanya saja hadits ini gharib bila ditinjau dari segi jalurnya. Akan tetapi Muhammad Ibnu lshaq menyebutkan di dalam kitab Sirah-nya bahwa ada temuan sebuah prasasti yang ada di Mekah, tepatnya di pondasi Ka’bah, tertulis padanya, “Kamu berbuat keburukan lalu berharap hasil yang baik, perihalnya seperti orang yang memetik buah anggur dari pohon yang berduri,” yakni mustahil mendapatkannya karena pohon yang berduri tidak dapat membuahkan anggur.

Baca Juga: Dosa Itu Kini Tumbuh Besar

Balasan baik hanya diterima oleh orang yang usahanya baik. Begitupun dengan hasil yang buruk, tidak disandang kecuali oleh orang yang berlaku buruk. Sebagaimana amal keduanya berbeda saat di dunia, maka beda pula hasilnya kelak pada hari Kiamat. Kerugian dan siksa neraka adalah buah yang akan dipanen para pendosa, sedangkan keberuntungan dan kenikmatan adalah buah yang Allah anugerahkan kepada orang-orang baik dan bertakwa. Allah Ta’ala berfirman,

“Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 20)

Maka perlu dipahami betul indikator ataupun pembeda antara orang baik dan orang fajir. Ada penjelasan dari sahabat mulia Abu Dzar al-Ghifari yang layak kita jadikan cermin untuk diri, adakah kita masuk dalam kategori orang baik, atau malah sebaliknya.

Al-Hafiz Abu Ya’la meriwayatkan dari sahabat Abu Dzar radhiyallahu anhu bahwa beliau berkata, “Allah membangun agama-Nya di atas empat pilar. Maka barang siapa yang berpaling darinya dan tidak mengamalkannya, maka ia akan menghadap Allah dalam keadaan sebagai seorang yang fasik atau pendosa.” Ketika beliau ditanya, “Apa saja keempat pilar itu, wahai Abu Dzar?” Beliau menjawab, “Hendaklah seseorang mengambil apa yang dihalalkan oleh Allah karena Allah, dan menolak atau menghindari apa yang diharamkan oleh Allah karena Allah. Ia juga mengerjakan perintah Allah karena Allah, dan menjauhi larangan Allah karena Allah.”

Semoga Allah memasukkan kita dalam golongan orang-orang yang baik, aamiin.

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Kalam Kalbu

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *