Dua Ayat Penyebab Taubat Seorang Begal

15

Ada seseorang yang tiap harinya giat beribadah, namun siapa tahu bahwa wafatnya tidak dalam kebaikan. Tapi sebaliknya, ada orang yang tiap hari bermaksiat, mencuri, berzina dan macam kemaksiatan lainnya, tapi di akhir hayatnya Allah perkenankan ia mendapatkan hidayah.

Berbagai macam jalan dilalui orang untuk mendapatkan hidayah. Kadang dengan ujian yang bertubi-tubi, kadang juga dengan perkara sepele yang tidak dinyana-nyana, iapun bisa mendapatkan hidayah. Ada juga yang hanya dengan mendengarkan lantunan se ayat al-quran.

Baca Juga: Dakwah, Mencari Kawan atau Lawan?

Al-Ashma’i bercerita bahwa suatu saat Ia mengajarkan al-Quran di suatu pedesaan. Dalam perjalannya ia bertemu dengan seorang dusun yang membawa pedang untuk merampok orang-orang yang lewat. Tatkala ia mendekat ke Al-Ashma’I dan hendak merampas pakaian yang dibawanya, si perampok itu bertanya, “Wahai orang kota, apa yang membuatmu berkunjung ke desa ini?” Al-Asma’I menjawab, “Aku hendak mengajarkan al-Quran”, “apa itu al-Quran?” Timpal si perampok tersebut. Al-Ashma’I menjawab, “al-Quran adalah kalam (perkataan) Allah Azza wa Jalla.”

Ia kembali bertanya dengan herannya, “Allah bisa berkata (Allah mempunyai perkataan)?” Al-ashma’I menjawab, “ya, tentu”, “bila demikian, bacakan aku satu bait darinya.” Pinta perampok itu.

Lalu al-Ashma’I membacakan surat ad-Dzariyat ayat 22,

وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ

“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.”

Ketika mendengar ayat ini, perampok itu lalu membuang pedang dari tangannya dan berkata, “Astaghfirullah, Rezekiku sudah ditetapkan di langit, tapi aku mencarinya di bumi.”

Baca Juga: Lampu Merah dan Kemacetan Jadi Motivasi Untuk Menghafal Al-Qur’an

Setelah beberapa tahun, Al-Ashma’I kembali bertemu dengan orang desa tadi saat Thawaf, lalu ia menyapa, “Bukankah engkau adalah sahabatku yang kemarin itu?”, al-Ashma’I menjawab, “Iya, benar.” Lalu ia kembali berkata, “Kalau begitu, bacakan untukku satu bait yang lain.” Kemudian al-Ashma’I membaca surat adz-Dzariyat ayat; 23,

فَوَرَبِّ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّهُ لَحَقٌّ مِّثْلَ مَا أَنَّكُمْ تَنطِقُونَ

“Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.”

Orang desa itu pun menangis dan berkata, “Dan siapakah yang mampu melindungi diri dari janji  Allah?” Iapun mengulang-ulang perkataan tersebut sampai terjatuh dan akhirnya meninggal.

(Shifatus Shafwah: 4/554)

Oleh: Redaksi/Motivasi