Ekspansi Dakwah Orang Bugis-Makassar

183

            Secara resmi, Kerajaan Gowa-Tallo menerima Islam pada malam Jumat 22 September 1605 M bertepatan dengan 9 Jumadil Awal 1014 H. Raja yang memeluk Islam pada tanggal itu ialah raja Tallo yang juga menjabat mangkubumi dalam Kerajaan Gowa. Namanya I Mallingkang Daeng Mannyori’. Sebagai raja yang mula-mula masuk Islam, ia diberi gelar Sultan Abdullah Awwalul Islam. Kira-kira pada waktu itu juga raja Gowa bernama I Mangngarangngi Daeng Manra’bia masuk Islam dan diberi gelar Sultan Alauddin. Dua tahun kemudian, seluruh rakyat Gowa dan Tallo sudah selesai diislamkan. Sebagai buktinya, dilaksanakanlah shalat Jumat pertama di Tallo pada 9 Nopember 1607 M/19 Rajab 1016 H. (J. Noorduyn, “Sejarah Agama Islam di Sulawesi Selatan” dalam W.B. Sidjabat, Panggilan Kita di Indonesia Dewasa Ini, hlm. 88-89)

            Shalat Jumat itu mempunyai arti penting dalam Islamisasi di Sulawesi Selatan. Sebab setelah itu, Sultan Alauddin mendekritkan di hadapan jamaah bahwa Kerajaan Gowa sebagai kerajaan Islam dan menjadikan kerajaannya sebagai pusat Islamisasi di Sulawesi Selatan. Untuk merealisasikan dekrit tersebut, Sultan Alauddin mengirim utusan ke kerajaan-kerajaan tetangga untuk mengajak mereka secara damai masuk Islam. Sebagaimana telah disebutkan pada edisi sebelumnya, sebagian kerajaan menerima ajakan tersebut dan sebagian lain menolaknya. Meskipun demikian, kerajaan-kerajaan yang menolak, seperti Bone, Wajo dan Soppeng, akhirnya masuk Islam setelah berhasil ditaklukkan Gowa melalui perang. Bersama orang Makassar, orang Bugis yang telah masuk Islam itu kemudian terlibat aktif dalam menyebarkan Islam di Sulawesi Selatan, bahkan hingga keluar wilayah mereka.  

Islam Mengangkat Kehormatan Suku Bugis

            Di kalangan suku Bugis, dakwah Islam memang berjalan agak lambat. Meskipun demikian, menurut John Crawfurd, sekali mereka masuk Islam, maka mereka sangat tergugah untuk berjuang seperti halnya suku-suku Arab. Islam juga telah membuat mereka seketika itu menjadi orang-orang yang paling gagah berani sebagai pedagang dan pelaut mengarungi daerah Nusantara. Dengan perahu-perahu layarnya, mereka mengarungi seluruh wilayah Nusantara, mulai dari pantai Papua sampai Singapura. Mereka yang banyak menetap di berbagai daerah pesisir sangat menonjol dan aktif berdakwah. Misalnya, mereka yang berdiam di pesisir selatan Flores. Mereka melakukan pernikahan dengan penduduk asli yang semula kebanyakan menganut agama Katholik. Akan tetapi berkat usaha mereka, seluruh penduduk pulau itu menjadi muslim. (The History of Indian Archipelago, I/75 dan II/666)

Gerak Dakwah dari Sulawesi Selatan ke Sulawesi Utara

            Sambil berdagang, orang-orang Bugis berhasil mengislamkan kaum Kristen di Kerajaan Bolaang-Mongondou yang telah menganut agama itu turun temurun sejak abad 17. Raja Kristen Bolaang-Mongondou yang pertama adalah Jacobus Manoppo (1689-1709). Pada masa itu, agama Kristen berkembang pesat melalui bantuan dan pengaruh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) dan gereja Belanda. Pengganti sang raja semuanya beragama Kristen hingga 1844. Pada saat itu, Raja Jacobus Manuel Manoppo memeluk agama Islam. Terjadinya perubahan agama ini berkat dakwah yang dilakukan sejak awal abad tersebut. Para pegadang yang juga muballigh dari Bugis dan selainnya berhasil mengajak masuk Islam penduduk di wilayah pantai Kerajaan Mongondou. Dari sinilah, dua orang muballigh yang bernama Hakim Bagus dan Imam Tuweko, bergerak menyiarkan agama Islam ke seluruh wilayah kerajaan ini. Mereka mula-mula mengislamkan budak-budak dan wanita setempat yang mereka nikahi. Secara perlahan-lahan, orang-orang yang telah masuk Islam itu mengajak teman-teman dan keluarga mereka untuk memeluk keyakinan baru.

            Dari Mongondou, Islam menerobos ke wilayah utara Kerajaan Bolaang. Pada 1830, seluruh penduduk Bolaang masih menganut agama Kristen atau kepercayaan animisme. Sementara itu, jumlah orang Islam semula hanya dua atau tiga. Oleh karena ketekunan para muballigh dari Bugis dengan dibantu orang-orang Arab, agama Islam segera menyebar luas. Orang-orang Kristen yang minim pengetahuan agamanya merasa kewalahan menghadapi gelombang dakwah Islam. Oleh karena kurangnya perhatian dari Pemerintah Hindia Belanda maupun pihak Gereja, mereka mulai melarut dalam masyarakat Islam, sebagian melalui pernikahan.

            Sejalan dengan kemajuan dakwah, kunjungan orang-orang Bugis dan Arab, yang semula agak jarang, kini menjadi lebih sering. Pengaruh mereka pun berkembang dengan pesat. Sekitar tahun 1832, putra seorang Arab menikahi putri Raja Cornelius Manoppo, sementara raja sendiri masih beragama Kristen. Pada saat yang sama, banyak pejabat pentingnya meninggalkan Kristen dan masuk Islam. Dengan cara ini, Islam mulai memperoleh kedudukan penting di negeri itu sampai Raja Jacobus Manuel Manoppo masuk Islam pada tahun 1844.

Raja ini berkali-kali memohon kepada perwakilan Pemerintah Hindia Belanda di Manado supaya menunjuk pengganti kepala Sekolah Kristen, Jacobus Bastiaan. Kepala sekolah ini meninggal sehingga masyarakat Kristen di Bolaang merasa kehilangan. Meskipun demikian, permohonan Raja tidak digubris oleh Belanda. Dia malah mendapat kabar bahwa Pemerintah Hindia Belanda tidak ambil pusing apakah rakyatnya beragama Kristen atau Islam. Yang penting rakyat tetap setia kepada pemerintah. Sejak saat itu, Raja secara terbuka menyatakan dirinya sebagai Muslim. Dia lalu berusaha mendorong rakyatnya agar mengikuti langkahnya.

Seorang muballigh Arab mengambil kesempatan baik ketika terjadi gempa bumi pada tahun berikutnya. Dia mengabarkan bahwa Bolaang Mongondou akan hancur apabila rakyatnya tidak segera masuk Islam. Banyak orang mengikuti nasihatnya. Sementara itu, Raja bersama pemimpin-pemimpin lainnya mendukung dakwah para pedagang Arab. Meskipun hampir separuh penduduk masih mempertahankan kepercayaan lama, tetapi kemajuan Islam secara perlahan terus berlanjut. (Thomas W. Arnold, The Preaching of Islam, hlm. 396-398)

Selain ke Sulawesi Utara, orang Bugis dan Makassar juga aktif mendakwahkan Islam ke Sumbawa, Lombok, bahkan Papua. Demikianlah ketika Islam sudah merasuki jiwa mereka. Islam menjadi kekuatan besar yang menggerakkan pemeluknya untuk menghasilkan karya peradaban mulia. Wallâhu a‘lam