Jihad Setan Melawan Manusia

146

Semenjak diputuskan sesat oleh Allah, Iblis memulai peperangan dengan manusia. perang yang dilancarkan terhadap seluruh manusia di muka bumi tanpa henti.

“Iblis berkata; Ya Tuhanku, oleh karena Engka telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis diantara mereka.” (QS. al-Hijr: 39-40)

Permusuhan kepada manusia dimulai sejak manusia lahir di muka bumi. Nabi mengabarkan hal ini: “Jeritan bayi tatkala dilahirkan adalah karena ditusuk oleh setan.” (HR. Muslim)

Sejak itu, manusia tak akan diibiarkan melenggang diatas jalan firah. Dari segala arah setan menggoda, membujuk, merayu dan menghalangi manusia dari jalan yang lurus, tekad Iblis: “Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka.” (QS. al-A’raaf: 17)

BACA JUGA: SETAN DIBELENGGU, NAFSU MENGHASUTMU

Setan istiqamah melawan manusia, serius, intensif dan tak mengenal istirahat. Hasan al-Bashri pernah ditanya: “Apakah setan mengenal waktu istirahat?” Beliau menjawab: “Kalau saja setan istirahat, tentulah kita bisa rehat.”

Bukan hanya saat manusia terjaga, di saat tidur pun setan melancarkan gerilyanya. Setan mengikatkan tali ke tengkuk manusia dengan tiga ikatan di saat tidur, dia mengencangkan talinya setiap kali mengikat sembari berkata: “Malammu masih panjang, tidurlah.” Demikian yang dikabarkan Nabi. Tujuannya supaya manusia terlelap dan terlewat dari kewajiban shalat dan keutamaan sepertiga malam lainnya. Tanda kemenangan dan sekaligus penghinaan setan terhadap musuhnya, diwujudkan dengan mengencingi teingan manusia. Walhasil manusia terlelap dalam tidurnya hingga matahari sudah menjulang tinggi.

Setan tak pernh bosan dan putus asa menggoda manusia, di level mananpun tingkatan mereka, mereka selalu punya senjata dalam segala kondisi musuh. Jika manusia tak melakukan kesyirikan dan kekafiran, setan menggoda dengan amalan bid’ah. Jika tak mempan, setan menawari dosa besar. Jika tak tergoda dengan dosa besar, dosa kecil adalah alternatif berikutnya. Jika belum berhasil, setan menyibukkan musuhnya dengan perkara mubah. Jika hal itu belum bisa, solusi terakhir adalah dengan merusak prioritas amal manusia. Demikian tak seorangpun terlewat dari godaan setan, kecuali satu musuh yang tak bisa ia goda: “kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlas di antara mereka.” (QS. al-Hijr: 40)

Jika demikian gencar setan memusuhi dan memerangi kita, lalu segigih apakah perlawanan kita untuk melawannya? Atau kita belum sadar bila kita menjadi tawanan perang dan target operasi mereka?