Khutbah Jumat: Tak Ada Rehat Kecuali di Jannah Kelak

111

KHUTBAH JUMAT

Tak Ada Rehat Kecuali di Jannah Kelak

Oleh: Majalah ar-risalah

Versi PDF: Di Sini

الْحَمْدُ للهِ الكَرِيمِ المَنَّانِ، صَاحِبِ الفَضلِ وَالجُودِ وَالإِحْسَانِ، يَمُنُّ وَلا يُمَنُّ عَلَيْهِ، سُبْحَانَهُ لا مَلْجَأَ مِنْهُ إِلاَّ إِلَيْهِ، أَحْمَدُهُ بِمَا هُوَ لَهُ أَهلٌ مِنَ الْحَمْدِ وَأُثْنِي عَلَيْهِ، وَأُومِنُ بِهِ وَأَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، حَثَّ عِبَادَهُ عَلَى الإِخْلاصِ فِي العَطَاءِ، وَنَهَاهُمْ عَنِ المَنِّ وَالرِّيَاءِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، قَدَّرَ نِعَمَ اللهِ حَقَّ قَدْرِهَا، وَأَجْهَدَ نَفْسَهُ بِالقِيَامِ بِشُكْرِهَا، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَرَضِيَ اللهُ عَنِ التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا المُؤْمِنُونَ

أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ تَعاَلَى ، وَصِيَّةُ اللهِ لَكُمْ وَلِلأَوَّلِيْنَ. قَالَ تَعَالَى: ( وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُواْ اللَّهَ وَإِن تَكْفُرُواْ فَإِنَّ للَّهِ مَا فِى السَّمَاواتِ وَمَا فِى الأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيّاً حَمِيداً) (النساء:131)

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Puji syukur alhamdulillah kita panjatkan kepada Allah l atas karunia dan nikmat-nikmatnya. Segala karunia tersebut pada hakikatnya merupakan ujian keimanan. Hamba yang bersyukur akan menggunakan nikmat tersebut untuk menjalankan ketaatan kepada Allah. Semoga kita termasuk golongan hamba tersebut dan bukan termasuk golongan manusia yang kufur nikmat.

Shalawat dan salam semoga selalu terhaturkan kepada rasul kita Muhammad ﷺ, kepada keluarga, para shabat dan segenap pengikutnya yang komitmen dengan sunnahnya hingga akhir masa. Aamiin ya rabbal alamin.

Selaku khatib, perkenankan saya menyampaikan pesan takwa kepada diri saya pribadi, dan kepada jamaah pada umumnya. Marilah kita bertakwa kepada Allah, dengan takwa yang sebenar-benarnya; yaitu dengan menjauhi setiap larangan Allah, dan mengamalkan segala perintah Allah, baik berupa ibadah fardhu maupun sunnah.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Dikisahkan seorang kakek senja usia pulang dari masjid kampungnya. Lalu ia segera mengetuk pintu rumahnya, namun sang istri tak membukakan pintu dengan segera. Hingga ia lelah dan pingsan di depan pintu rumahnya. Beberapa saat kemudian, sang istri yang tak mendengar ketukan pintu menyadari keterlambatan suaminya. Bergegas ia melihat keluar dan ternyata suaminya tergeletak pingsan di depan pintu karena menunggu lama. Ia pun panik, bersusah payah membawanya masuk ke dalam rumahnya.

Lalu menyeka wajahnya dengan air hingga suami siuman dari pingsannya. Sang istri meminta maaf atas keterlambatan ia membukakan pintu untuk suaminya. Akan tetapi sang suami tak memarahinya. Dia hanya berkata, “Saya pingsan bukan karena lamanya menunggu pintu dibuka, tapi karena saya ingat akan suatu hari,  ketika di hadapan Allah saya berdiri lama sementara pintu jannah tertutup di depan mata saya.”

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Begitulah hati yang peka, senantiasa terkait dengan Allah dan Hari Akhir. Dia membayangkan bagaimana kelak jika dia bersusah payah mendatangi jannah, namun pintu tak terbuka untuknya. Pelajaran ini membawa dirinya untuk senantiasa mengusahakan sebab dibukanya pintu jannah untuknya. Karana mudah atau susahnya ia memasuki jannah tergantung upayanya di dunia untuk mendatangi amal-amal yang memudahkan baginya untuk masuk jannah. Tak apalah kita berlelah-lelah di dunia, selagi kita dipermudah untuk memasuki jannah-Nya. Karena itulah, ketika Imam Ahmad bn Hambal ditanya, “mata ar-raahah?” Kapankah datangnya waktu rehat? Maka beliau menjawab, “Yakni saat engkau menginjakkan kakimu di jannah, saat itulah kamu bisa rehat.”

Itulah saat di mana seorang hamba berhasil mencapai sukses tertinggi, keberhasilan yang sebenar-benarnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ

“Maka barangsiapa dijauhkan dari neraka  dan dimasukkan ke dalam jannah maka sungguh ia telah beruntung. (QS. ali Imran: 185)

Maka kalimat al-fauzul ‘azhiem yang bermakna keburuntungan atau sukses besar banyak disebutkan oleh Allah dalam al-Qur’an setelah penyebutan tentang orang-orang yang masuk jannah dan terhindar dari neraka.

Inilah kesuksesan sesungguhnya. Karena kenikmatan jannah bersifat sempurna tanpa terselip kesedihan sedikitpun. Hanya ada kelezatan tanpa kepahitan, rasa aman tanpa ketakutan, semua keinginan tercapai tanpa sedikitpun penghalang, dan akan kekal selamanya tanpa akhiran.

Berbeda dengan apa yang diklaim sebagai kesuksesan di dunia ini. Yang sekarang sudah menduduki jabatan tinggi itu belum sukses yang sebenarnya. Mereka masih menghadapi keruwetan masalah yang di hadapinya, masih menanggung celaan dari orang yang tidak ridha dengan posisinya dan masih takut jika harus lengser dari jabatannya.

Begitupun yang sekarang sudah kaya raya, pun belum bisa dikatakan jaya dengan sebenarnya. Masih ada ambisi dan kehausan akan apa yang belum bisa dicapainya. Ada keresahan hati jika hartanya berpindah atau hilang, dna masih harus menghadapi kedengkian orang lain terhadapnya. Hal yang sama dialami oleh orang-orang tenar dan terkenal.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Memang begitulah isi dunia, semua manusia tanpa beda akan merasakan kesusahan dan kelelahan; mukmin maupun kafir.

Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي كَبَدٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. al-Balad: 4)

Sa’id bin Jubeir menafsirkan makna ‘fi kabad’, yakni manusia mengalami kesusahan dan kesulitan dalam mencari mata pencaharian.” Sedangkan Hasan al-Bashri menyebutkan, “Yakni harus menghadapi kesulitan hidup di dunia dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kesusahan di akhirat.”

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Tak ada manusia yang terbebas total dari musibah, kesulitan hidup, kegelisahan, kesedihan maupun rasa sakit. Jangan disangka orang-orang kafir hanya merasakan kesenangan tanpa duka lara. Dari sisi bahaya dan musibah yang dihadapi, nyaris tak ada beda antara keduanya, meski berbeda corak dan variasi. Tak hanya itu, menjadi pejuang kebathilan juga mengharuskan mereka untuk bersusah payah dalam berusaha. Bedanya, ada pengharapan baik bagi orang mukmin sehingga bisa menjadi pelipur lara baginya. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ ۖ إِن تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ ۖ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّـهِ مَا لَا يَرْجُونَ ۗ وَكَانَ اللَّـهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Dan janganlah kalian berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka ketahuilah mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu rasakan. Sedang kamu masih dapat mengharapkan dari Allah apa yang tidak dapat mereka harapkan.” (QS. an-Nisa’: 104)

Bedanya lagi, sekecil apapun penderitaan yang dialami seorang mukmin bisa menjadi penggugur dosa. Sedangkan musibah yang dialami orang kafir adalah sebagai bonus siksa yang disegerakan di dunia. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى، إِلاَّ حَاتَّ اللَّهُ عَنْهُ خَطَايَاهُ، كَمَا تَحَاتُّ وَرَقُ الشَّجَرِ

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Seorang mukmin takkan merasa bosan dan putus asa dalam berikhtiar dan berusaha, hingga tercapai kesuksesan jannah yang didambakannya. Jikalau ada keinginan duniawi yang belum bisa dicapainya, toh akan digantikan dengan yang lebih baik dan lebih kekal di akhirat.

Andaikan yang terjadi di dunia ini selalu sesuai dengan apa yang kita ingini, tentulah jannah tak dirindukan lagi. Dan andai tidak ada duka lara di dunia ini, niscaya tak ada istimewanya rehat di akhirat nanti. Karenanya, ucapan penghuni jannah saat memasuki jannah adalah,

“Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami.” (QS. Fathir: 34)

Semoga Allah memasukkan kita ke dalam jannah, aamiin.

أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ.

 

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، تَفَضَّلَ وَأَكْرَمَ، وَأَعْطَى وَأَنْعَمَ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، عَطَاؤُهُ مَمْدُودٌ، وَنِعَمُهُ عَلَى عِبَادِهِ بِلا حُدُودٍ، وَكُلُّ شَيْءٍ مِنْهُ وَإِلَيْهِ، لا مِنَّةَ لأَحَدٍ مِنْ خَلْقِهِ عَلَيْهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ البَشِيرُ النَّذِيرُ، أَعْطَاهُ رَبُّهُ مِنَ الخَيْرِ الكَثِيرَ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأصَحْابِهِ أَجْمَعِينَ، وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

هَذَا وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا عَلَى إِمَامِ الْمُرْسَلِيْن، فَقَدْ أَمَرَكُمُ اللهُ تَعَالَى بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَيْهِ فِي مُحْكَمِ كِتَابِهِ حَيْثُ قَالَ عَزَّ قَائِلاً عَلِيْمًا
(( إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا))

اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ

رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ :(( إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ )).وَ أَقِمِ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ وَ لَذِكْرَ اللهِ أَكْبَرُ وَ اللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

 

Download versi PDF nya: Di Sini