Kunci Meraih Nikmatnya Ibadah

31

Ibadah merupakan tujuan utama penciptaan manusia. Puncak dari segala urusan dan kepentingan di dunia fana ini. Meskipun disebut taklif atau beban, namun di dalam ibadah juga terdapat kenikmatan luar biasa. Sebuah kenikmatan yang jauh melebihi segala bentuk kenikmatan yang ada di dunia. Seperti kata Imam Abu Sulaiman, “Kenikmatan yang dirasakan ahlu tha’at (orang yang rajin melakukan ketaatan) jauh lebih lezat daripada kenikmatan yang dirasakan ahlu syahwat (budak syahwat) saat menuruti nafsu mereka.”(Hilyatul Auliya’ IV/181).

“Kenikmatan yang dirasakan ahlu tha’at (orang yang rajin melakukan ketaatan) jauh lebih lezat daripada kenikmatan yang dirasakan ahlu syahwat (budak syahwat) saat menuruti nafsu mereka.”(Hilyatul Auliya’ IV/181).

Sesiapa yang mampu merasakan nikmatnya ibadah, berarti dia telah mendapatkan anugerah terindah dari  Allah. Ia telah meraih sebuah maqam (kedudukan) yang tinggi di antara manusia. Dari milyaran manusia, hanya sedikit yang mau beribadah, dari yang mau beribadah hanya sedikit yang beribadah dengan sungguh-sungguh, dan dari yang sudah bersungguh-sungguh, hanya sedikit yang benar-benar bisa merasakan nikmatnya pengabdian kepada Allah. Mereka adalah manusia-manusia yang istimewa. Ibadah bagi mereka bukan lagi beban tapi kesenangan, rehat dan aktivitas yang penuh kenikmatan.

Nah, bagaimanakah cara meraih kenikmatan dalam ibadah?

Tentunya, kita tidak mungkin mendapatkan caranya tanpa mencoba mencari tahu dari orang-orang yang pernah merasakannya, yakni para ulama dan shalihin. Jika kita pelajari berbagai keterangan para ulama, akan ada banyak tips dan cara agar kita bisa meraih kenimatan dalam ibadah. Hanya saja, wallahu a’lam, kiranya  ada satu hal fundamental dalam semua tips dan cara meraih kenikmatan dalam ibadah yang disarankan. Yaitu, kuatnya rasa ta’zhim (pengagungan) kepada Allah.

Baca Juga: Nikmat Beribadah Bersama Keluarga

Semakin besar dan kuat pengagungan seorang hamba akan kebesaran dan kuasa Rabbnya, semakin mudah baginya merasakan nikmatnya mengabdi kepada Rabbul Izzati. Sebuah pengagungan yang menjadikan Allah satu-satunya Dzat yang diharap, ditakuti, dicintai dan disegani atas segala kuasa dan kemuliaan-Nya. Sebuah pengagungan yang membuat segala hal selain Allah menjadi kecil nilainya dan benar-benar layak dikesampingkan; tidak begitu diharapkan, tak ditakuti dan dikhawatirkan dan tak layak mendapat cinta sedalam cinta kepada-Nya.

Dalam ibadah, kuatnya ta’zhim akan membuat ibadah semakin nikmat dirasa. Segala perintah Allah akan terasa ringan bahkan menyenangkan. Begitu pula saat menghadapi godaan maksiat. Kuatnya ta’zhim akan membuat hati mudah meninggalkan perbuatan dosa dan tak gampang tergiur untuk melakukannya.

 

Ta’zhim Membuat Ibadah Semakin Indah

Ambil satu contoh ibadah; shalat. Pengagungan terhadap Allah dan ayat-ayat-Nya menjadikan dalam shalat membuat ibadah ini benar-benar terlihat menakjubkan. Lebih dari itu, shalat sendiri seakan-akan merupakan ibadah yang disetting agar unsur ta’zhim kita kepada Allah benar-benar diperhatikan.

Coba kita renungkan, di dalam shalat ucapan yang mengawali dan menandai setiap gerakan adalah takbir, “Allahu akbar”, Allah Mahabesar. Wallahua’lam, seakan-akan dalam setiap gerakan shalat kita diingatkan dan ‘diprogram’ untuk selalu mengingat keagungan dan kebesaran Allah. Dalam setiap gerakan seakan-akan kita diarahkan agar hanya Allahlah yang besar, paling mulia, paling layak dicari perhatian-Nya, sedang selain Allah itu remeh, kecil dan tidak penting. Tak hanya ucapannya, bahkan seluruh gerakan shalat pun mengilustrasikan pengagungan dan ketundukan kepada Dzat Yang Maha Besar.

Baca Juga:Wisata Ke Rumah Ibadah Agama Lain

Karenanya, tidaklah mengherankan jika saat shalat, orang-orang shalih seperti terbius oleh syahdunya munajat kepada Allah. Mereka begitu menikmati ibadah ini. Tentu kita sudah pernah mendengar kisah Ali bin Abi Thalib yang menjadikan kenikmatan ibadah shalat sebagai anestesi saat lukanya hendak dioperasi. Subhanallah.

Atau puncaknya adalah seperti yang dirasakan Nabi kita Muhammad ﷺ.  Bagi beliau, shalat adalah rohah, istirahat, jeda dari segala aktivitas yang melelahkan. Shalat bukan beban tapi justru rehatnya badan, hati dan pikiran dari segala kelelahan. Beliau bersabda,

يَا بِلاَلُ أَرِحْنَا بِالصَّلاَةِ

“Wahai Bilal, istirahatkan kami dengan shalat.”(HR. Ahmad)

Itulah arti sebuah pengagungan. Ketika Allah benar-benar menjadi yang paling agung di mata dan hati kita, semua menjadi remeh. Pertemuan dan momen-momen yang mendekatkan diri kepada-Nya pun menjadi momen paling indah dan membahagiakan.

 

Maksiat Mudah Ditinggalkan Karena Ta’zhim

Tak hanya dalam ibadah, kuatnya rasa ta’zhim kepada Allah akan membuat seorang hamba dengan mudahnya menangkis godaan maksiat. Bukankah yang namanya ketaatan itu bukan hanya melaksanakan perintah (fi’lul ma`mur) tapi juga meninggalkan maksiat (tarkul mahdzur)?

Senikmat apapun hidangan yang disajikan nafsu dan setan, rasa pengagungan kepada Allah yang kuat akan dengan mudah memusnahkan fatamorgana syahwat. Hati benar-benar tak sudi mengkhianati-Nya. Pengawasan-Nya terasa nyata, jauh lebih terasa dari pengawasan kamera bahkan supervisor di ruang kerja. Kenikmatan yang dijanjikan-Nya jauh lebih diingini meski masih ba’da kiamat nanti, daripada kenikmatan yang sudah ada dihadapanny kini. Ancaman-Nya jauh lebih terasa menyengsarakan daripada sengsaranya hati jika harus meninggalkan kesempatan mencicipi maksiat yang terlihat begitu nikmat. Dan harapan akan cinta dan kasih-Nya telah membuatnya putus asa dari mengharap cinta dari selain-Nya. Allah benar-benar akbar dalam hati dan akalnya.

Tentu kita tidak lupa dengan kisah Juraij yang urung berzina karena mengingat Allah. Padahal sajian haram itu telah terhidang pasrah dihadapannya. Juga kisah-kisah orang shalih yang lain, yang dengan mudahnya meninggalkan ajakan maksiat karena teringat akan kebesaran Rabbnya.

Dan memang, Allah berhak atas pengagungan dari seluruh hamba-Nya. Allah berfirman;

وَلَهُ الْكِبْرِيَاءُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Dan bagi-Nyalah keagungan di langit dan di bumi, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Jatsiyah: 37)

Itulah makna ta’zhim. Memang, bukan hal mudah untuk memupuk rasa ini dalam hati. Kadangkala, meski sudah tahu ilmu dan bagaimana seharusnya, tetap saja hati kita sering lemah. Pada akhirnya, ibadah sering terasa hambar dan bahkan memberatkan. Garis dosa pun demikian mudah dilanggar seakan-akan pasti mendapat permakluman.

Ya Allah, tumbuhkanlah ta’zhim kami akan kebesaran-Mu. Tambahkan iman kami, besarkan harapan kami akan kasih-Mu, kuatkan takut kami akan siksa-Mu dan rekatkan cinta kami kepada-Mu. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang Engkau beri nikmat dapat merasakan lezatnya berkhidmat kepada-Mu. Aamiin. Wallahua’lam.

 

Oleh: Redaksi/Ibadah