Bersahabat dengan Malaikat

127

Orang mu’min sungguh berbahagia dengan keimanannya. Allah menurunkan kitab-Nya melalui rasul-Nya yang mulia baik dari kalangan malaikat maupun dari jenis manusia untuk memberi petunjuk kepada mereka dengan perantaraan kitab itu. Allah berfirman:

الم ﴿١ ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ ﴿٢ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ ﴿٣

Alif Laam Miim. Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya ; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka…(Al-Baqarah: 1-3).

Allah mensifati keimanan kepada-Nya dan kepada apa yang tidak dinampakkan-Nya, beriman kepada yang ghaib, termasuk kepada malaikat. Dengan mengimani kitab-Nya seorang mu’min mendapatkan informasi mengenai makhluk-makhluk-Nya yang ghaib dari sumber yang benar, bukan khurofat dan bukan pula penggambaran dari sumber yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Keberadaan manusia selalu berhubungan dengan malaikat sejak masih dalam bentuk nuthfah sampai masuk lahad. Malaikat pula yang diperintah oleh Allah untuk mencatat rizki dan ‘amalnya, ajal dan ketetapan saqowah dan sa’adah-nya. Ada malaikat yang selalu menyertainya tak pernah berpisah dengannya, malaikat juga yang mencabut ruh saat tiba ajalnya, membawa ruhnya kepada penciptanya, mengirimkan siksa dan kenikmatan sewaktu di alam barzakh, meneguhkan orang mu’min tatkala mendapatkan pertanyaan dengan seizin-Nya dst.

 

Malaikat Menyertai dan Mencatat ‘Amal

Malaikat adalah junuud ar-Rahman, tentara ar-Rahman. Qalbu orang yang merasakan kehadirannya akan istiqomah dalam melaksanakan perintah-perintah Allah, karena tidak ada perkataan dan perbuatan seorang hamba yang lepas dari pengawasan, kesaksian dan pencatatannya.

Orang yang beriman akan merasa malu untuk menyelisihi Rabb-nya dan bermaksiyat kepada-Nya baik dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan. Toh semua ada saksi, ada catatan dan nantinya akan dihisab. Allah berfirman,  …(yaitu) ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya, satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS. Qaaf: 17-18).

Juga kalam-Nya, Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (‘amal pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Infithar: 10-12).

Ketika mereka menganggap bahwa Allah tidak mendengar dan tidak mengetahui apa yang mereka kerjakan, Allah membantahnya, “Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka”. (QS. Az-Zukhruf: 80).

Orang yang beriman, tidak akan tega menyakiti malaikat yang selalu menyertainya dalam kebaikan, mencatat semua perkataan dan perbuatan baiknya. Pun juga perbuatan buruknya tanpa tercecer. Makhluk Allah yang mulia itu selalu bersamanya kecuali dalam dua keadaan, yakni ketika sedang berada di kamar kecil dan ketika dia sedang berjima’ dengan istrinya. Di luar dua keadaan itu orang yang beriman tidak akan menyakitinya dengan melakukan sesuatu yang dapat menyakiti penjaganya yang mulia itu dengan perkataan maupun dengan perbuatan.

 

Teman Dalam Ketaatan

Kadang, dalam usaha untuk bersungguh-sungguh menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, seorang mu’min merasakan keterasingan dari lingkungan, tak ada teman, tak ada dukungan dan support dari manusia di sekelilingnya. Secara manusiawi, hal itu tentu membuatnya merasa ter-alienasi, kesepian, bahkan ketakutan. Tetapi orang yang beriman merasa yakin terhadap keberadaan teman dan ma’iyyah-nya meski tak nampak, para malaikat yang selalu taat dan tak pernah ma’shiyat. Mereka membantu mukminin dalam ‘amal, mendoakannya, memintakan ampun dan memohonkan surga kepada Allah.

Dalam firman-Nya, (Malaikat-malaikat) yang memikul `Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Rabb-nya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan), “Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan-Mu dan peliharalah mereka dari siksa neraka yang bernyala-nyala, ya Rabb kami,  masukkanlah mereka ke dalam surga `Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. …”. (QS. Al-Mu’min: 7-9).

Orang yang beriman tak kan merasa sendirian. Lantaran itu mereka menjadi lebih mampu untuk bersabar dalam kesulitan di jalan jihad menegakkan agama Allah. Tatkala orang-orang bodoh menjahili mereka, menghina dan mentertawakan kenylenehannya semata-mata karena merealisir tuntunan nabi-Nya pada masa keterasingan, mereka merasa masih ada penduduk langit yang bersamanya taat kepada Allah, menemani, menjadi sahabat, membisiki untuk tetap tenang dalam keimanan, memotivasi untuk tetap sabar dan menentramkannya, membangkitkan keberanian untuk menempuh dan melanjutkan jalan yang mengantarkannya kepada keridhaan Allah.

Tentara Allah dari kalangan malaikat menyertainya, beribadah seperti dia beribadah, menghadapkan wajahnya kepada-Nya sebagaimana dia menghadap, bertasbih seperti dia bertasbih, mendoakan supaya langkahnya mendapat berkah, meringankan bebannya, menyebut-nyebut kebaikannya di hadapan Allah. Maka dengan itu seorang mu’min tidak merasa sendirian di jalan menuju Rabb-nya.

Ternyata seorang mu’min menempuh jalan menuju Allah bersama para penempuh yang agung, bersama mayoritas makhluk Allah yang taat kepada-Nya, malaikat yang mulia, para anbiyaa’, bersama langit dan bumi. Maka dia memiliki banyak teman setia dalam kesendiriannya, sandaran yang kuat kepada-Nya. Hamba yang beriman mempunyai indera yang benar dalam memandang dan mensikapi keadaan sehingga dia menjadi lebih bersabar dan tenang hati.

Dengan keyakinan seperti itu orang mu’min memandang penghalangan manusia di jalan Allah tak akan menggoyahkan, apalagi memalingkannya dari jalan itu, justru semakin menambah teguh dan mujahadah.

Betapa beruntungnya orang yang selalu memuliakan teman-seiringnya dari kalangan malaikat yang tak nampak oleh panca inderanya, tetapi qalbu-nya mampu merasakan kedekatannya.

Oleh: Redaksi/ruhiyah