Mengidolakan Dan Mengagumi

102

Tidak pantas bagi seorang muslim untuk mengidolakan orang kafir, terlebih menjadi pendukung orang kafir yang jelas jelas menghina al-Qur’an. Allah ta’ala jelas telah melarangnya di dalam kitabullah, surat An Nisa: 144-145, Al Maidah: 51 dan 57. Bila benar keimanan seorang muslim maka ia tidak akan mungkin menjadikan orang kafir sebagai teman dekat apalagi memilihnya sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang orang mukmin.

Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana, tidak mungkin menghukum hambaNya dengan dzalim. Bila ada orang yang mengaku muslim tapi mengambil orang-orang kafir menjadi wali dan menginggalkan orang mukmin, maka ini adalah alasan yang nyata dan jelas bagi Allah untuk menyiksanya, Allah Ta’ala berfirman “Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)..” di akhirat nanti Allah akan menempatkan mereka di neraka yang paling bawah, dan sebelumnya di dunia Allah membuka topeng kemunafikan mereka.

Dalam surat al-Maidah, Allah mengkategorikan mereka yang mengambil orang kafir sebagai pemimpin sebagai orang yang kafir dengan firmannya, “maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka..” perwalian sempurna yang diberikan seorang muslim kepada orang kafir mengakibatkan perpindahan agama, mungkin awalnya hanya sedikit wala’ yang diberikan akan tetapi ini mengundang kepada wala’ yang besar, sehingga seorang betul-betul sama seperti mereka, yaitu bersatu padu untuk memusuhi dan menghancurkan Islam.

Jangan lakukan hal ini, jangan ikuti orang-orang yang memiliki gelar pendidikan tinggi meski gelar agama, apalagi bukan bergelar agama yang membela, mendukung, mengajak manusia untuk memilih orang kafir menjadi pemimpin!, ikutilah pentunjuk Allah dalam kitabNya, bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.

Pengidolaan Yang Berlebihan

Berlebihan dalam mengidolakan seorang mukmin juga dilarang dalam Islam, karena menjadi sebab timbulnya penyelewengan dari jalan yang lurus. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sudah mengingatkan  umatnya untuk tidak berlebihan dalam memujinya, “Janganlah kalian memujiku sebagaimana orang nashrani memuji Isa bin Maryam, aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah Hamba Allah dan RasulNya”(HR. Bukhari)

Perbuatan ini bisa membuat pelakunya terjatuh dalam kesyirikan, secara sadar atau tidak sadar ia akan mengangkat derajat makhluk yang dipujinya sederajat dengan al-Khaliq. Tampak dalam kalimat yang diucapkan dan dari tindakan yang dilakukan, berwasilah dengan orang (atau wali Allah) yang sudah meninggal, dan menyakini tanah di area pekuburannya memiliki berkah, bisa mendatangkan manfaat dan menghindarkan madharat.

Baca juga : Taubat Dan Perbaiki Adab

Kagum terhadap amal yang dilakukan (ujub) membuat manusia memuliakan dirinya dan merendahkan orang lain, itulah kesombongan yang akan menghantarkan manusia menuju kemurkaan-Nya. Demikian pula kekaguman terhadap orang lain, bila salah dalam mengontrol perasaan ini, maka akan mengakibatkan salah jalan, bisa berupa kemaksiatan bahkan sampai tingkatan paling tinggi yaitu kesyirikan.

Pelajaran Dari Para Sahabat

Sahabat Kholid bin Walid, yang memiliki gelar pedang Allah merupakan sosok sahabat dan komandan yang mengagumkan, pribadi yang memiliki keagungan dan kemulian. Pasukan muslim yang berada di bawah komandonya merasa nyaman dan optimis dengan kemenangan. Umar bin Khatab ketika ditunjuk oleh Abu Bakar untuk menjadi khalifah sepeninggalnya langsung mencopot Khalid bin Walid dari pucuk pimpinan tentara Islam, beliau takut akan kekaguman dan kefanatikan manusia yang berlebih-lebihan kepadanya. Menghindarkan manusia dari kekaguman yang berlebih yang menghantarkan kepada kesyirikan.

Menjadi panglima atau prajurit biasa itu sama saja bagi sahabat Khalid bin Walid radhiallahu’anhu, cerminan keihklasan yang mendalam dan kejujuran dalam ibadahnya. Bersih dari kekaguman terhadap diri sendiri, dan pasukannyapun menerima dan tetap berjuang dibawah komando sahabat yang lain.

Hari ini, muncul pribadi pribadi muslim yang tersohor karena hembusan media, bisa ustadz yang banyak hafalan ilmunya, atau hadifz/qori yang merdu suaranya, semuanya belum teruji keikhlasan dan kejujuran perjuangannya, namun sudah banyak yang mengaguminya. Ketika kekaguman tidak terkontrol, maka munculah kalimat dan perbuatan yang tidak syar’i.

Histeris atau berteriak teriak, pingsan karena berdesak desakan, sangat gembira ketika bisa memfoto apalagi berfoto bersama idola atau bisa mencolek atau memegang orang yang dikagumi (lawan jenis) yang bukan mahram, itu semua tidak pernah diajarkan dalam Islam, bahkan Islam melarangnya.

Jahil dan lemah iman itulah diantara penyebabnya, kita semua baik yang masih muda maupun yang tua harus tetap semangat dalam menuntut ilmu, untuk menghilangkan kebodohan dan senantiasa berupaya melakukan amalan ketaatan sesuai dengan ilmunya, sehingga iman bertambah dan menjadi benteng bagi tiap muslim untuk menempatkan perasaanya dan menampakkan akhlak sesuai dengan petunjuk kitabullah dan sunnah RasulNya shallallahu’alaihi wasallam.