Mereka Yang Mendapatkan Pahala Tanpa Beramal

108

Saat di mana Nabi shallallahu alaihi wasallam sedang mempersiapakan perbekalan dan kendaraan menjelang keberangkatan perang Tabuk, beberapa orang fakir di kalangan sahabat bermaksud untuk mendaftarkan diri mereka turut dalam barisan pasukan fie sabilillah. Akan tetapi, mereka yang tidak memiliki kendaraan sendiri namun sudah bersemangat dan bertekad bulat untuk ikut serta itu tidak mendapatkan tumpangan kendaraan yang bisa mereka naiki. Sehingga Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak bisa membawa serta mereka untuk berangkat.

Betapa sedihnya mereka, lantaran merasa tidak bisa memberikan andil apa-apa dalam perjuangan itu. Hingga air mata mereka mengalir deras karena kesedihannya. Ibnu Jarier menyebebutkan dari Muhammad bin Ka’ab bahwa mereka ada tujuh orang; Salim bin Umair, Hurmiy bin Amr, Abdurrahman bin Ka’ab, Salman bin Shakhr, Abdurrahman bin Zaid, Amr bin Ghunmah dan Abdurrahman bin Amr radhiyallahu anhum.

Allah mengetahui ketulusan hati mereka, maka Allah menerima alasan mereka untuk tidak turut serta dalam perang Tabuk, dan Allah tetap mencatat pahala bagi mereka sebagaimana pahala orang yang berangkat berjihad. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

“Sungguh ada orang-orang yang tertinggal di Madinah, tidaklah kalian berinfak dengan apa yang kalian infakkan, berjalan menyusuri lembah hingga kalian berjuang saat bertemu musuh, melainkan mereka (yang tertinggal di Madinah itu) menyertai kalian dalam pahala. Kemudian beliau shallallahu alahi wasallam membaca (QS at-Taubah 92),

 

تَوَلَّوا وَّأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنفِقُونَ

“Dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu”. lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.” (Tafsir Ibnu Katsier, dan asal hadits terdapat dalam Shahihain)

Peristiwa ini mengajarkan kita banyak faidah.

Pertama

Tentang arti ketulusan yang dipraktikkan oleh para sahabat radhiyallahu anhum. Mereka sangat antusias dalam berburu keutamaan, bersemangat untuk mendapatkan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka ingin hadir dalam setiap momen kebaikan, terus bergerak menyusuri jalan menuju ridha Allah. Hingga tak ada yang menghentikan langkah mereka selain ketidakmampuan. Yang seandainya mereka memiliki kemampuan, niscaya mereka akan melakukannya. Ini juga menjadi realisasi dari perintah, “fattaqullaha mastatha’tum’, bertakwalah kepada Allah sejauh kemampuanmu. Mereka adalah teladan, maka lihatlah semangat kita terhadap setiap jenis kebaikan, apakah juga sudah sejalan dengan jejak para teladan.

 

Baca Juga: Cara Allah Ta’ala Menjaga Iman Hambanya

 

Jika dalam perkara kebaikan yang tak mampu mereka kerjakan pun ada kesedihan ketika terlewat oleh mereka, lantas bagaimana jika mereka terlewatkan dari suatu kebaikan yang mereka mampu mengerjakannya.

Jiwa yang antusias dalam kebaikan akan menyesali keteledorannya hingga melewatkan suatu keutamaan apalagi kewajiban. Menyesal ketika tertinggal shalat berjamaah di masjid, sedih karena terhalang mengerjakan shalat malam, gelisah ketika dalam sehari belum menyempatkan tilawah al-Qur’an dan begitupun untuk jenis dan mcama kebaikan yang lain.

Ini berbanding terbalik dengan orang-orang yang justru mencari banyak alasan untuk mengelak dari kebaikan pada saat sebenarnya dia memiliki kemampuan dan kesempatan. Seperti al-Jad bin Qais yang meminta ijin kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, maukah Anda mengijinkan aku untuk tidak ikut, atau kalau tidak maka Anda akan menjerumuskan aku ke dalam fitnah (godaan), demi Allah kaumku mengetahui tidak ada laki-laki yang lebih tergoda oleh wanita Bani al-Ashfar selain dariku. Maka saya takut jika nanti melihat wanita-wanita Bani Ashfar lalu saya tidak bisa bersabar.” Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam berpaling sembari berkata, “Ya, aku ijinkan kamu untuk tidak berangkat!” Tentang hal ini turunlah ayat,

 

مِنْهُم مَّن يَقُولُ ائْذَن لِّي وَلَا تَفْتِنِّي ۚ أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا

“Di antara mereka ada orang yang berkata, “Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah”. Ketahuilah, bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah…” (QS. at-Taubah 49)

Yakni dia berbohong soal alasannya tidak ikut berjihad, karena kenyataannya tidak demikian. Dengan ucapannya itu otomatis dia telah terjerumus ke dalam fitnah.

 

Baca Juga: Cara Menepis Godaan Kemaksiatan

 

Kedua

Tentang keutamaan niat yang tulus. Bahwa dengan niat yang sungguh-sungguh untuk melakukan suatu keutamaan, maka seseorang telah tercatat untuknya pahala kebaikan. Meskipun pada kenyataannya dia terhalang untuk melakukan apa yang telah dia niatkan.  Tangisan penyesalan yang tulus para sahabat lantaran tidak bisa menyertai Nabi shallallahu alaihi wasallam, padahal mereka sangat ingin mengerjakannya menjadikan mereka mendapatkan pahala sama dengan mereka yang berangkat di perang Tabuk. Ini adalah karunia dari Allah, dan berlaku juga dalam setiap lini kebaikan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

 

فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً

“Barangsiapa berniat untuk melakukan suatu kebaikan dan ia tidak mengerjakannya, maka baginya satu pahala kebaikan yang sempurna.” (HR Bukhari)

Termasuk orang yang terbiasa menjalankan shalat berjamaah, kemudian ia tidak mampu datang karena sakit, maka ia tetap tercatat sebagai orang yang shalat berjamaah. Karena ia memilki niat yang tulus, namun ada udzur yang membuat ia terhalang datang ke masjid. Begitupun untuk kebaikan dan keutamaan yang lain. Maka sudah seharusnya kita banyak belajar tentang sebanyak mungkin pintu kebaikan, meniatkan untuk menjalankan seluruhnya dan mengerjakan sejauh kemampuannya, wallahul muwaffiq.

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Tafsir