dakwah islam di nusantara

Pada Desember 1873, Prof. Max Muller menyampaikan kuliahnya di Westminster Abbey di hadapan para misionaris mengenai agama dakwah. Menurutnya, enam agama besar di dunia dapat digolongkan kepada agama dakwah dan agama non-dakwah. Ke dalam golongan terakhir ini, masuklah agama Yahudi, Brahma, dan Zoroaster. Sementara itu, ke dalam golongan pertama, masuklah agama Kristen, Budha, dan Islam. Prof. Max Muller kemudian mendefinisikan agama dakwah sebagai agama yang di dalamnya terdapat usaha menyebarluaskan kebenaran dan mengajak orang-orang yang belum mempercayainya dianggap sebagai tugas suci oleh pendirinya atau oleh para penggantinya.

Semangat memperjuangkan kebenaran itulah yang tidak kunjung padam dari jiwa para penganutnya sehingga kebenaran itu terwujud dalam pemikiran, perkataan, dan perbuatan. Semangat yang membuat mereka merasa tidak puas sampai berhasil menanamkan nilai kebenaran itu ke dalam jiwa setiap orang sehingga apa yang diyakini sebagai kebenaran diterima oleh seluruh manusia. (Thomas W. Arnold, The Preaching of Islam, hlm. 1)

Demikianlah cendekiawan Jerman itu menjelaskan. Islam sendiri bukanlah agama yang didirikan oleh Nabi Muhammad. Dalam arti umum, Islam adalah agama yang Allah turunkan kepada semua nabi dan rasul. Sementara itu dalam arti khusus, Islam adalah agama yang Allah turunkan kepada nabi dan rasul terakhir, yaitu Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam. Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad dan juga umatnya untuk mendakwahkan agama ini kepada seluruh umat manusia.

Semangat Dakwah Generasi Awal Islam 

Nabi Muhammad menerima wahyu Allah di usia 40 tahun, yaitu pada 610 M. Tidak lama setelah itu, datanglah perintah untuk berdakwah. Nabi memulai dakwah sendirian, kemudian berhasil mendakwahi istrinya –ibunda Khadijah–, saudara sepupunya –Ali bin Abi Thalib–, anak angkatnya –Zaid bin Haritsah–, dan sahabat dekatnya sejak kecil, yaitu Abu Bakar. Jumlah orang yang mengikuti dakwah Nabi dari hari ke hari semakin bertambah. Setiap dari mereka yang telah beriman, akan mengajak keluarga, rekan atau orang lain yang dikenalnya untuk memeluk agama Islam.

Setelah 23 tahun Nabi berdakwah, seluruh jazirah Arab telah berhasil diislamkan. Sepeninggal Nabi, para sahabat menjaga dan melanjutkan dakwahnya. Atas usaha mereka, dakwah Islam terus menyebar ke berbagai wilayah. Pada masa kekhilafahan Umar bin Khatthab (634-644 M), pengaruh dakwah Islam telah mencapai bekas imperium Persia di wilayah timur dan bekas imperium Romawi Timur di Syam dan Afrika Utara di wilayah barat. Dengan berjalannya waktu, bukan hanya bangsa Arab yang aktif menyebarkan dakwah. Bangsa-bangsa lain yang sudah masuk Islam, seperti bangsa Persia, Kurdi, India, dan sebagainya, juga aktif berdakwah ke berbagai tempat yang mereka kunjungi.

Kedatangan Islam ke Nusantara

Jarak Jazirah Arab, tempat bermulanya dakwah Islam, ke kepulauan Nusantara kurang lebih 7.577 km; sebuah jarak yang sangat jauh. Masuk dan berkembangnya dakwah Islam di negeri kita tentu merupakan buah dari jerih payah para pendakwah yang luar biasa. Mereka rela meninggalkan negeri asal dan menempuh perjalanan selama berbulan-bulan. Tidak sedikit dari mereka bahkan memilih untuk tinggal di negeri ini dan tidak pernah kembali ke kampung halaman mereka.  

Lantas, siapakah orang-orang yang pertama kali mendakwahkan Islam di negeri ini? Dari mana mereka berasal? Kapan mereka datang? Pertanyaan-pertanyaan ini pernah menjadi perdebatan di kalangan para sejarawan.

Orientalis Barat seperti C. Snouck Hurgronje, D. J. Pijnappel, R. A. Kern, dan Stappel berpendapat bahwa Islam datang ke Nusantara dari Gujarat India. Para pedaganglah yang membawa dan menyebarkannya. Mereka mulai mendakwahkan Islam sejak abad 13 M.

Hurgronje bahkan dengan percaya diri menyatakan bahwa Islam yang datang ke negeri kita itu telah mencapai evolusinya yang lengkap. (Nederland en de Islam hlm. 1) Maksudnya, Islam yang didakwahkan di negeri kita bukanlah Islam yang murni, namun sudah tercampuri dengan berbagai paham dan ajaran dari India. Implikasinya, orang Islam di Indonesia sebenarnya hanya tampaknya saja memeluk Islam dan hanya di permukaan kehidupan mereka ditutupi  agama ini. Ibarat berselimutkan kain yang penuh lubang besar-besar, tampak keaslian sebenarnya yang bukan Islam. (Arabie en Oost-Indie hlm. 22)

Pendapat para orientalis di atas sebenarnya merupakan pendapat yang sangat lemah. Oleh karena itu, tidak sedikit peneliti dan sejarawan mengemukakan bahwa Islam telah masuk Nusantara jauh sebelum abad 13 M. Di Leran Gresik terdapat batu nisan Fatimah binti Maimun bin Hibatillah dengan huruf Kufi bertahun 495 H (1102 M) atau –menurut bacaan Ravaisse– 475 H (1080 M). Ini membuktikan bahwa pada abad 11 M sudah ada orang Islam di Jawa.     

Dalam kajian sejarah lebih lanjut, Islam bahkan diyakini telah didakwahkan di Nusantara sejak abad 1 H atau 7 M. Pada 651 M/31 H dan 655 M, datang duta dari Ta-shï mengunjungi istana T’ang di Cina. Nama Ta-shï adalah sebutan orang Cina untuk orang Arab. Duta Tan-mi-mo-ni’ itu menyatakan bahwa di negeri mereka telah tiga kali berganti penguasa. (Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Nusantara, hlm. 21) Tan-mi-mo-ni’ adalah sebutan dalam lisan Cina untuk Amirul Mu’minin dimana yang dimaksud oleh duta tadi tentulah Utsman bin ‘Affan.

Berdasarkan informasi di atas, para sejarawan meyakini bahwa duta tersebut kemungkinan besar singgah di Aceh. Zaman itu perjalanan dari Jazirah Arab ke Cina hanya bisa ditempuh melalui jalur laut dengan menggunakan kapal layar yang sebentar-sebentar harus singgah di daratan untuk menunggu angin. Salah satu wilayah singgah adalah Aceh. Waktu singgah itu mereka gunakan untuk mendakwahkan Islam.

Merekalah para pendakwah Islam pertama di Nusantara yang bisa dilacak sejarah. Melihat waktu kedatangannya, sangat mungkin mereka adalah generasi sahabat atau tabi‘in. Memang tidak ada sumber sejarah yang menyebut nama-nama mereka. Sebut saja mereka adalah adalah pahlawan tak dikenal. Meskipun tidak dikenal, jasa besar mereka tercatat sebagai amal saleh di sisi Allah. Wallahu a‘lam.

Oleh: M. Isa Anshari (Majalah Risalah Hati)

By REDAKSI