Pendidikan Anak, Tanggung Jawab Siapa

115

Entah siapa yang memulai, namun pembagian tugas: suami mencari nafkah dan istri mengurus rumah tangga, menjadi sebuah teori atas nama agama dan adat yang tak terbantahkan. Sungguh, ini tidak ada hubungannya dengan kesetaraan gender atau banyaknya muslimah yang bekerja di luar rumah dengan beragam alasan. Tapi nyatanya, ada juga para suami yang menyerahkan sepenuhnya urusan rumah kepada istri. Ya, sepenuhnya tanpa syarat. Mulai dari hal-hal remeh seperti sekadar menyapu nasi sisa yang tercecer (bekas makan anak-anaknya sendiri), sampai urusan strategis yang sering dianggap sepele, yaitu pendidikan anak.

Ironis. Ketika dalam sebuah keluarga muslim pasangan suami istri saling melempar tanggung jawab urusan ini. Suami sibuk di luar rumah demikian pula dengan sang istri. Akhirnya, anak diserahkan kepada pembantu atau seharian penuh berada di sekolah-sekolah terpadu tanpa kontrol orang tua. Orang Jawa bilang, “Pasrah bongkokan.” Ayah-ibu tiba di rumah dalam keadaan sangat payah, sehingga hampir tak ada selera untuk bercanda dengan anak-anaknya. Lebih ironis lagi, bila sibuknya sang ayah atau ibu tersebut, disebabkan urusan dakwah untuk memperbaiki akhlak orang lain, namun lupa kepada keluarganya. Lupa bahwa anak-anaknya jauh lebih berhak diperhatikan daripada orang lain.

“Hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim : 6)

“Dan perintahkanlah keluargamu menjalankan sholat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rejeki kepadamu, Kami lah yang memberi rejeki kepadamu. Dan akibat [yang baik di akherat] adalah bagi orang yang takwa.” (QS. Thaha : 13)

Mari kita renungi. Kita kembalikan semua pada fitrahnya.

Kita semua telah hafal di luar kepala, bahwa ibu adalah madrosatul ula, sekolah yang pertama bagi anak-anaknya. Tak heran, bila anak sering dianggap imitasi dari para orang tua, terlebih ibu. Lihatlah bagaimana cara mereka marah, bagaimana cara mereka berbicara, berpakaian atau bertingkah laku. Mungkin, para ibu akan tertawa sendiri bila menyadarinya. Maka sangat disayangkan bila anak-anak kita mendapat metode pendidikan yang salah dari sang ibu. Lebih menyedihkan lagi, bila pendidikan pertama ini justru didapat dari orang lain, mengingat betapa sibuknya ibu dengan pekerjaannya, dengan hobinya, dengan teman-temannya, dengan pengajiannya, dan sebagainya.

Padahal di antara tugas seorang ibu yang sholihah adalah untuk mendidik anak-anaknya, untuk menjaga kesucian dan kebersihan, menjaga kehormatan dan keberanian, serta meninggalkan gemerlap perhiasan dan kesenangan dunia. Semua itu agar mereka tumbuh sebagai anak-anak yang hanya hidup dengan islam dan untuk islam.

Lalu dimana ayah?

Dalam Islam ayah memiliki kedudukan yang agung dan mulia. Karena ayah adalah pemimpin dalam keluarga. Ia bertanggung jawab atas keistiqamahan seluruh anggota keluarga. Ialah istri dan anak-anaknya.

“Dan ketahuilah bahwa kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang yang dipimpinnya”. (HR. Muslim)

Akan tetapi kesibukanlah yang sering dijadikan alasan oleh para ayah sehingga kesulitan mencari waktu luang untuk berkumpul dengan anggota keluarga. Hampir tak ada waktu untuk sekadar mendengarkan keluhan, mengarahkan, mendengarkan pendapat atau mengajak bicara. Istri pun sering tidak mendapat kesempatan untuk berdiskusi atau membicarakan program-program dalam keluarga. Bisa juga kebersamaan yang ada itu hanya sebatas formalitas saja. Ayah bersama laptopnya, ibu sibuk dengan teman-temannya di negeri dumay (dunia maya), anak-anak menonton televisi, semua asyik dengan dunianya sendiri-sendiri. Berkumpul dalam satu atap, namun semua membisu. Bisu dan tenggelam dalam alamnya masing-masing.

Padahal peran ayah dalam mendidik anak tak kalah pentingnya. Dia memiliki andil untuk membantu istri dengan cara menjelaskan dan mendiskusikan  metode pendidikan bagi anak-anaknya serta langkah-langkah operasional untuk mewujudkan semua itu. Karena anak-anak biasanya lebih sering berinteraksi dengan ibu. Namun tanpa bantuan suami, sulit rasanya bagi seorang istri memahami hakekat pendidikan yang benar dan mengokohkan keinginan mencetak generasi-generasi terbaik dari anak-anaknya.

Mari kita perhatikan, bagaimana lelaki terbaik umat ini berinteraksi dengan anak-anak. Imam Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Abdullah ibn Buraidah, dari ayahnya, “Aku mellihat Rasulullah ﷺ sedang berkhutbah, kemudian datang Al-Hasan dan Al-Husain yang mengenakan gamis berwarna merah berjalan dengan langkah tertatih-tatih. Maka beliau turun dari mimbar lalu menggendong keduanya dan mendudukkan di hadapannya. Beliau pun bersabda, ‘Maha benar Allah dalam firmanNya, ‘Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu adalah ujian.’ Aku melihat kedua anak ini tertatih-tatih, maka aku tidak sabar, sehingga aku memotong pembicaraanku dan aku mengangkat keduanya.” Hmm…Sebuah pemandangan unik yang mungkin tak akan ditemui dari para ayah zaman sekarang.

Maka bisa dipastikan bahwa urusan pendidikan anak, bukan melulu tanggung jawab suami atau hanya menjadi tugas istri. Keduanya disyari’atkan untuk bahu membahu dalam menjalankannya. Akan tetapi para istri semestinya bersabar atas kelalaian suami yang dilakukan tanpa unsur kesengajaan. Bahkan tak menjadi penghalang bagi langkah suami dalam berbagai urusan. Sebaliknya para suami juga tidak boleh tenggelam dalam dunianya, hingga menelantarkan keluarganya. Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya dan aku adalah orang yang paling baik diantara kalian kepada keluargaku”. (HR. Tirmidzi)

Selanjutnya yang perlu kita pahami bersama bahwa, pendidikan anak bukan merupakan pekerjaan main-main. Inilah pekerjaan lintas generasi yang berawal dari rumah. Dari kita, orang tuanya. Sebuah pekerjaan yang membutuhkan kesabaran. Sebuah pekerjaan yang buah manisnya tidak bisa kita nikmati seketika, namun berbuntut panjang bahkan hingga ke negeri akhirat.

Oleh: Redaksi/Majalah ar-risalah