Saat Ibadah Membuahkan lelah

Ibnu Mubarak dalam kitabnya, Al-Jihad,  pernah mengutip ucapan khalifh Umar bin Khattab. “Jika bukan karena tiga hal. Jika bukan untuk pergi berjihad fi sabilillah, untuk meletakkan dahi dalam sujud dan bermajelis dengan orang shalih yang pintar memilih ucapan baik seperti petani yang memilah buah yang masak. Maka, aku lebih suka meninggal dan menghadap kepada-Nya.”

Tiga hal di atas merupakan sesuatu yang paling dicintai oleh khalifah kedua tersebut. Ada rasa bahagia sekaligus nikmat jika mampu melaksanakan ibadah-ibadah itu.  Lain lagi dengan Abu Darda’, tiga yang membuat hidup beliau lebih hidup yaitu; “Shaum di waktu siang, sujud di waktu malam dan bermajelis dengan orang shalih.”

Umumnya manusia, menikmati hidup adalah dengan memuaskan keinginan atau nafsu. Namun, bagi para shahabat dan para salaf, kenikmatan hidup ada dalam ibadah kepada Allah. Bagi mereka, menjalankan ibadah lebih nikmat dari pada menikmati hiburan dunia. Mari kita lihat bagaimana menikmati lezatnya shalat. Muhammad bin Simaah At-Taymi tak pernah masbuq shalat selama 40 tahun kecuali hanya sekali. Yaitu ketika ibudanya wafat. Abdullah bin Rawahah, shahabat yang gugur pada Perang Mu’tah, setiap hendak keluar dan rumah membiasakan shalat 2 rekaat dahulu.

Mereka mampu meraih prestasi tersebut karena menjadikan ibadah dalam rangka aliltidzad bil hidwah wa syu’uru bin nisbah. Menikmati penghambaan dan merasakan kedekatan dengan Allah. Meskipun pengalaman spiritual tersebut hanya dapat dirasakan oleh hati. Namun, indikasinya dapat terlihat dalam kehidupan nyata. Oleh karenanya, Abu Darda pernah mengatakan, “Wahai penduduk Madinah, kenapa aku tidak melihat tanda bahwa kalian dapat merasakan manisnya iman?”

Nah, bagaimana jika ibadah malah terasa hambar atau kita merasa malas dalam menjalankannya. Kita pun perlu waspada jangan-jangan itu adalah indikasi dari hal-hal berikut:

Pertama, lemah iman

Iman selalu berfluktuasi. Saat meningkat ibadah terasa ringan, saat surut menjalankan ibadah seperti menanggung beban berat. Kita perlu waspada, sebab iman yang lemah membuat hati keras dan susah menerima nasehat atau petunjuk.

Anda mungkin penah menghadiri majelis ilmu atau pengajian. Nasehat yang disampaikan oleh sang ustadz mengetuk hati anda dan membangkitkan kesadaran dan iman. Namun, sesaat setelah majelis usai, hati kembali keras dan jiwa kembali lalai. Menurut Ibnu Jauzi, hal itu disebabkan karena kemampuan orang dalam menjaga kesadaran tersebut tidak sama. Ada yang mampu mempertahankan kesadaran itu ada juga yang sebaliknya. Hanya anda yang tahu ada di mana posisi anda.

Selain itu, tiap orang, pada awalnya memang merasakan bahwa menjalankan ibadah membuat badan lelah. Namun ketika hati merasa terikat kepada-Nya. Saat hati merasakan adanya hubungan dengan Allah, beban dan kesulitan tersebut akan sirna, bahkan menjadi aktivitas paling menyenangkan dan dapat menikmatinya. Seorang ulama salaf pernah mengatakan, “Aku terbiasa shalat malam sejak lima puluh lalu. Dua puluh lima tahun pertama, aku sering merasa berat. Baru setelah itu, shalat terasa ringan bagiku.”

Kedua, ma’rifat kepada Allah lemah

Seorang mukmin ridha Allah sebagai rabbnya, Muhammad SAW sebagai rasulnya dan Islam sebagai agamanya. Rasulullah SAW bersabda:

يَقُولُ ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا

 “Orang yang merasakan nikmatnya iman yaitu orang yang ridha Allah sebagai rabbnya, islam sebagai agamanya dan muhammad sebagai rasulnya.” (HR. Muslim)

Imam Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim menuliskan bahwa ridha bermana mencukupkan diri dan tidak mencari yang lain guna memenuhi kebutuhannya. Dalam konteks ini, seorang muslim menyakini bahwa Islam adalah jalan hidup. Selain itu, dalam menjalankan agama ini pun harus benar-benar menjadikan Rasulullah SAW sebagai panduan dan pedoman.

Kepatuhan total tersebut akan akan membuat hati menjadi tenang. Sekaligus membuktikan bahwa makrifat kepada Allah, Rasul dan agama ini benar. Dengan menerima semua itu, iman akan meresap di hati dan menjalankan ketaatan terasa ringan.

Ketiga, akibat berbuat dosa

Ibnu Qayyim telah membuktikan bahwa tak ada dosa yang dilupakan begitu saja. Artinya, dampak dan akibatnya akan menimpanya.  Kadang, hukuman yang dijatuhkan dalam bentuk immateri, sebagaimana yang dialami oleh para pendeta bani israil. Mereka sering melanggar aturan Allah, namun tidak pernah tahu apa hukumannya. Mereka tidak sadar bahwa sedang dihukum, sebab tidak bisa merasakan kenikmatan bermunajat kepada Allah.

Sekali lagi, kita perlu waspada. Wuhaib bin Al Warad pernah ditanya, “Apakah ahlu maksiat dapat merasakan kenikmatan beribadah?” “Jangankan ahlu maksiat, orang yang baru berkeinginan bermaksiat pun sudah tidak bisa merasakan kenikmatan ibadah.”

Orang yang sering mengumbar pandangan, bashirah atau mata hatinya menjadi tumpul. Lisan yang tak dikontrol menyebabkan hati menjadi kotor. Sedangkan, menyantap makanan syubhat membuat sulit qiyamul lail, berdoa dan bermunajat. 

Keempat, bibit nifaq tumbuh di hati

Allah menggambarkan orang munafik sebagai orang yang menjalankan ibadah dengan terpaksa. Semua ibadah terasa beban bagi mereka. Mereka masih menjalankan shalat, namun menunaikannya dengan malas dan menunda waktunya. Allah berfirman yang artinya: 

Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS. Taubah: 54)

Para Sahabat begitu sangat takutnya terjerumus ke dalam nifaq. Meskipun itu dalam nifaq kecil.  Ibnu Abi Mulaikah berkata, “Aku bertemu dengan 30 Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka semua takut kalau-kalau ada nifaq dalam dirinya.” Wallahu A’lam.

By REDAKSI