Hukum Membaca Al-Qur’an Tanpa Tahu Artinya

Konsultasi: 

Assalaamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh. Ustadz, Apakah membaca al-Qur’an harus dengan memahami artinya? Apakah keutamaan mengkhatamkan Al-Qur’an itu harus dengan mentadaburi ayat-ayatnya? Ada teman yang mengatakan bahwa baca Al-Qur’an akan sia-sia bila tanpa mentadaburi artinya.  Jazaakumullahkhairan. Wassalaamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Ibnu Mabruri, Bumi Allah

Jawab:

Memahami ayat-ayat dari Al-Qur’an dan mentadaburinya sebuah keniscayaan bagi seorang muslim, karena ia diturunkan sebagai petunjuk bagi seluruh manusia. Allah Ta’ala berfirman, ”Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shaad: 29)

Bahkan Allah mencela orang-orang yang tidak mentadaburi ayat-ayatnya.

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci.” (QS. Muhammad: 24)

Walau demikian, dibolehkan hanya membaca tanpa memahami maknanya dengan tujuan mendapatkan pahala membaca, sebagaimana keumuman hadits Nabi SAW,

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan akan dilipatgandakan dengan sepuluh kali lipat.” (HR. Tirmidzi)

Dari Abdullah bin Amru, Rasulullah SAW bersabda,

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُ بِهَا

Dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an, bacalah dan tingkatkan, tartillah dalam menbacanya (di jannah) sebagaimana kamu membaca di dunia. Sesungguhnya tempat (kembalimu) pada akhir ayat yang kamu baca.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud dan Ahmad)

Al-Khattabi berkata, ”Disebutkan dalam sebuat atsar, sesungguhnya jumlah ayat-ayat Al-Qur’an itu sesuai dengan tingkatan jannah. Maka dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an, naiklah di tingkatan jannah sesuai dengan jumlah bacaanmu. Barangsiapa yang menyempurnakan bacaan seluruh Al-Qur’an maka dia memiliki puncak tertinggi tingkatan jannah, dan barangsiapa yang membaca satu juz maka dia memiliki tingkatan jannah sesuai bacaan tersebut, maka endingnya pahala itu ketika di penghujung bacaan.” (Lihat: Tuhfatul Al-Ahwadzi: 7/232, Tadabburul Al-Qur’an: 24)

Redaksi | Konsultasi

 

Lampu Merah dan Kemacetan Jadi Motivasi Untuk Menghafal Al-Qur’an

Sebuah akun Facebook milik Meirna Nurdini Thomas mengunggah foto unik. Seorang  pengendara motor sedang membaca Al-qur’an ketika lampu lalu lintas berwarna merah. Foto tersebut sempat menjadi perbincangan hangat di media sosial.

Foto lelaki tersebut unik karena kebanyakan orang tidak menggunakan waktu saat menanti lampu merah untuk sesuatu yang bermanfaat. Ternyata, kondisi yang pada umumnya menjadikan banyak orang merasa resah ini dapat diubah menjadi sebuah berkah.

Ada sebuah kisah seorang pemuda yang berhasil menghafalkan surat Al-Baqarah saat menanti lampu merah. Pemuda ini sengaja menyimpan mushaf di mobilnya. Ketika lampu merah menyala, ia membuka mushaf dan membacanya. Tak sekadar membaca, ia mencoba menghafalkan satu dua baris ayat Al-Qur’an. Bahkan ia berhasil menyelesaikan hafalan surat Al-Baqarah sepenuhnya di tengah lampu merah. 

Dalam situs Isykarima.com, disebutkan ada metode khusus yang bisa dilakukan bagi yang berminat menghafal selagi menunggu lampu merah. Metode ini disebutkan dalam kitab Kaifa Tahfazhul Qur’an Al-Kariim (Bagaimana Cara Menghafal Al-Qur’an Al-Karim) karya Dr. Yahya bin Abdurrozaq Al-Ghautsaniy.

Baca Juga: Momentum Persaudaraan dan Optimisme Kebangkitan

Caranya, kita dapat mengkopi lembaran mushaf yang hendak dihafal. Letakkan foto kopian mushaf tadi di depan mobil atau kendaraan dan usahakan tidak mengganggu pemandangan Anda ketika menyetir. Ketika hendak berangkat ke kantor ataupun aktivitas lainnya di pagi hari, bacalah ayat pertama pada lembaran mushaf yang difoto kopi tadi. Ulangi bacaan tadi selama perjalanan.

Kemudian ketika Anda merasa bahwa ayat tadi sudah mudah dihafal, ulangi bacaan ayat tadi tanpa melihat mushaf. Saat berhenti di lampu merah, baca ayat selanjutnya berulang-ulang. Ketika sudah berganti dengan lampu hijau, ulangi ayat tadi tanpa melihat mushaf dan mulailah menghafal ayat tersebut.

Yang perlu diperhatikan dalam menerapkan metode ini adalah penjagaan terhadap lembaran mushaf yang difoto kopi tadi. Simpan foto kopian lembaran mushaf tadi setelah dihafal, bisa jadi sewaktu-waktu Anda masih membutuhkan lembaran itu. Akan lebih baik bila lembaran-lembaran mushaf tadi dilaminating supaya lebih terjaga dan lebih rapi. Jangan meletakkan lembaran tadi sembarangan, karena lembaran itu berisi kalamullah yang harus kita agungkan.

Metode ini bisa juga diterapkan bagi orang-orang yang berpergian dengan kendaraan umum. Bagi Anda yang berkendaraan umum atau yang tidak duduk di belakang kemudi, sangat memungkinkan untuk mempraktekkan metode ini. Syeikh Abdul Karim Al-Yamani, seorang penggiat Tahfizhul Qur’an dari Hay’ah Litahfizhil Qur’anil Karim (Lembaga Internasional untuk Tahfizhul Qur’anil Kariim), mengatakan bahwa sangat memungkinkan untuk menghafal Qur’an saat lampu merah di Indonesia, terutama kota besar seperti Jakarta. Banyaknya lampu merah dan seringnya macet memungkinkan seseorang untuk menghafal Qur’an selama perjalanan.

Syeikh Suud Suraim, seorang Imam Masjidil Haram yang hafalannya sangat mutqin ternyata juga memanfaatkan lampu merah untuk menghafal Al-Qur’an. Beliau menyelesaikan hafalan surat an-Nisaa di lampu merah.

Baca Juga: Maraknya Tren Membeda-bedakan Ustadz dan Ulama’

Jadi, menghafal al-Qur’an bukanlah soal tingginya tingkat kecerdasan seseorang, namun lebih pada tekad dan kemauan keras mencapai derajat mulia di sisi Allah dengan memanfaatkan setiap potensi dan waktu meskipun sedikit demi sedikit. Bahkan kesulitan dalam menghafal sehingga mengulangi bacaan juga menambah pahala bagi yang melakukannya.

Selain cara tersebut, para ulama juga telah mengajarkan cara mudah menghafalkan al-qur’an. Antara lain:

    1.Tidak memperbanyak menghafal melebihi kapasitas kemampuan sehingga tidak timbul kejenuhan dan senantiasa energik untuk menghafal pada hari-hari berikutnya.

    2.Bergabung dengan kumpulan Halaqoh penghafal  qur’an atau menghafal kepada Syaikh; karena hal ini akan menjadikan berkesinambungan.

    3.Memahami ayat–ayat sebelum menghafal, hal ini akan memberikan motifasi tersendiri bagimu dan akan lebih melekat dalam benak dan yang demikian dengan mentelaah Tafsir Muyassar.

    4.Memberikan porsi muroja’ah hafalan yang lebih banyak dibanding waktu untuk menghafal. Dari Abu Musa dari Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Hendaklah kalian senantiasa menjaga hafalan kalian, maka demi Dzat yang jiwa Muhammad berada ditanganNya; sesungguhnya Al-Qur’an itu akan lebih cepat hilangnya dari pada onta yang diikat pada tambatannya”. Hadits riwayat Muslim (791).

    5.Tidak bergonta–ganti dalam menggunakan mushaf Al Qur’an, sehingga bentuk lembar dan halamannya tergambar dalam benak dan ingatan.

    6.Memperbaiki tilawah beserta hafalan dihadapan Qori’ Al-Qur’an.

    7.Banyak mendengarkan tilawah para Qori’ yang Tersohor.

    8.Mengamalkan dan melaksanakan apa yang  telah anda hafalkan dan hal ini merupakan tujuan puncak keutamaan.

    9.Laksanakan Qiyamullail dengan menerapkan apa yang anda hafal dari Al Qur’an atau anda memperdengarkan untuk diri anda sendiri pada saat shalat disiang hari.

    10.Memperbanyak berdo’a dan senantiasa memohon Taufiq kepada Allah.

 

Oleh: Ust. Muhtadawan/Biah


Dapatkan Majalah Islami untuk Keluarga Muslim Indonesia Hanya di Agen Terdekat di Kota Anda. Info Keagenan dan Langganan Silahkan Hubungi Nomer Berikut: 0852 2950 8085

Al-Quran dan Hadits: Dua Pedoman dalam Menyandarkan Agama Islam

 

Bangunan yang ditegakkan tanpa pondasi tentulah akan goyah dan roboh dengan mudahnya, begitu juga bangunan yang didirikan diatas pondasi yang tidak kuat dan tak sempurna, maka tinggal menunggu runtuhnya.

Agama Islam haruslah didirikan di atas pondasi yang kuat, agar tidak goyah diterpa badai dan tak runtuh dilanda gempa. Ia harus didasari dengan kitab Allah yaitu Al-Quran dan pentunjuk Rasul yang berupa sunah-sunnahnya. Yaitu dengan membenarkan Qur’an dan sunnah, melaksanakan perintah-perintahnya dan meninggalkan larangan-larang nya.

seorang muslim Tidak boleh mendirikan agamanya hanya dengan Al-Quran saja dan meninggalkan hadits, atau sebaliknya mendirikan agamanya hanya dengan hadits saja dan meninggalkan al-Qur’an. Tak boleh pula mendirikan agamanya dengan mengedepankan akalnya dan mengesampingkan al-Quran dan sunnah.

Baca Juga: Tauhid Rububiyyah Saja Tidak Cukup

Bila petunjuk Al-Quran dan Sunnah Rasulillah yang dijadikan pedoman dalam mendasari agamanya, maka ia akan mendapatkan janji Allah, yaitu tidak akan tersesat dan tidak pula celaka. Allah subhanahu wata’ala berfiman:

“Lalu Barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha: 123)

Ibnu Katsir menukilkan perkataan Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat ini, yaitu barang siapa yang membaca Al-Quran, beramal dengannya maka ia tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan sengsara di akhirat.

Mengamalkan Al-Quran harus disertai dengan sunnah (mengikuti petunjuk Rasul), karena Allah sendiri dalam Al-Quran berfirman:

“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali Imran: 31)

Maksud dari firman Allah, “Ikutilah Aku” adalah ikutilah Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam. Dan kita bisa mengikuti Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dengan cara meneliti khabar dan hadits yang benar-benar shahih datang dari beliau shallallahu’alaihi wasallam. Baik periwayatannya mutawatir maupun ahad. Dan Semua khabar shahih yang datang dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam meskipun ahad bisa dijadikan hujjah dan landasan dalam permasalahan aqidah dan ibadah.

Ada 6 kriteria dalam mengikuti Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam, apabila kita bisa mempraktekannya maka kita mendirikan agama kita diatas pondasi yang kuat.

Pertama, jenis. Misalnya dalam hewan qurban, jenisnya telah ditentukan seperti onta, sapi dan kambing. Bila seseorang berkurban dengan ayam, maka tidak diterima amalnya karena jenisnya tidak sesuai yang ditetapkan.

Kedua, dalam kadarnya. Yaitu sebagian ibadah ditentukan kadar dan ukurannya, misalnya shalat isya’ jumlah rakaatnya empat. Maka kalau ada yang shalat isya’ tiga rekaat atau lima rekaat dengan sengaja, tidak diterima bahkan berdosa.

Ketiga, tempat. Sebagian ibadah ditentukan tempatnya seperti ibadah haji, wuqufnya di arafah, mabitnya di muzdalifah. Kalau seseorang melakukan wuquf di ka’bah maka tidak diterima amalnya.

Keempat, waktu. Telah maklum bahwa ibadah puasa yang wajib adalah di bulan Ramadhan, waktunya harus dibulan Ramadhan. Bagi yang sengaja (tidak dalam keadaan menqadha) puasa wajib sebulan penuh di bulan muharram, maka puasanya tidak sah.

Kelima, kaifiyah atau tata caranya. Misalnya wudhu, apabila tidak sesuai dengan tata cara yang diajarkan Rasul maka wudhunya tidak sah, seperti memulai wudhu dari kaki, mengusap kepala, hingga yang terakhir mencuci ke dua tangan.

Dan yang terakhir, sebab. Kalau seorang muslim beribadah dengan sebab yang tidak dimasyru’kan, maka ini merupakan kebid’ahan. Seperti shalat tahajjud yang sebab pelaksanannya karena hari itu tanggal 1 muharram, atau hari itu adalah hari kelahirannya. Maka amalannya tertolak, dan pelakunya mendapatkan dosa.

Baca Juga: Syirik, Mengharap Syafaat Peroleh Laknat

Sungguh sengsaranya orang yang melaksanakan ibadah dengan mengikuti akal dan hawa nafsunya serta mengesampingkan petunjuk Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam, sudah capek di dunia dengan persangkaan amal shalihnya, tapi di akhirat tidak mendapatkan pahala. Sebuah permisalan di dunia yang tidak kita inginkan, seorang perkerja di suatu perusahan yang sudah bekerja keras seharian selama sebulan penuh, tapi ketika tanggal satu, ketika ingin mengambil gajinya, ternyata di dianggap oleh perusahaan tidak melaksanakan kerjanya dengan benar dan tidak mendapatkan gaji yang selama sebulan kemarin di idam-idamkan.

Lalu bagaimana dengan akhirat kita, tentunya kita tidak ingin bila catatan amal kita di ahkirat kosong karena amalan yang kita kerjakan di dunia tidak dianggap Allah dan tidak diterima karena tidak mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.

Bila kita bisa mendirikan agama islam ini diatas Al Quran dan petunjuk Rasul, maka kita akan lulus dari ujian di dunia yang berupa syubhat, syahwat, kebid’ahan dan menuruti hawa nafsu kemudian bisa mendapatkan keberuntungan di akhirat dengan mendapat keridhaanNya serta terhindar dari kemarahan Allah, adzabNya dan terhindar dari nereka. Nasalullahal ‘afiyah

 

Oleh: Ust. Taufik Al-Hakim/Akidah

Al-Qur’an, Bukan Bacaan Biasa

Suatu hari Nafi’ bin Abdul Harits bertemu dengan Amirul Mukminin Umar bin Al Khattab radiyallahu ‘anhu  di daerah ‘Usfan. Saat itu Umar tengah mempercayakan kepemimpinan Mekah kepada Nafi’. Lalu Umar bertanya, “Siapa yang engkau tunjuk menjadi pemimpin daerah Wadi?” Nafi’ menjawab, “Ibnu Abza.” Umar bertanya lagi, “Siapa Ibnu Abza itu?” Nafi’ menjawab, “Seorang bekas budak dari budak-budak kami yang telah dimerdekakan.” Umar bertanya kembali, “Engkau percayakan jabatan itu kepada seorang bekas budak?“ Nafi’ mengatakan,“Sesungguhnya dia adalah seorang Ahlul-Qur’an (yang hafal, paham, dan mengamalkannya) dan faqih dalam hal syariat.”

Umar berkata, “Sungguh Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

Sesungguhnya Allah mengangkat derajat sebagian manusia dengan Al-Qur`an dan merendahkan sebagian yang lain dengan Al-Qur`an” (Shahih Muslim)

Begitulah pandangan orang beriman terhadap al-Qur’an, ia merupakan tolok ukur kemuliaan. Al-Qur’an itu bukan bacaan biasa. Ia adalah barometer manusia itu mulia ataukah hina. Mulialah orang yag memuliakannya, dan hinalah orang yang meremehkannya.

Al-Qur’an adalah barometer baik dan buruk, pemisah antara yang benar dan yang salah, pembeda yang adil dan yang zhalim, yang mukmin dan yang kafir. Allah Ta’ala berfirman,

Sesungguhnya al-Quran itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang hak dan yang bathil. Dan sekali-kali bukanlah dia senda gurau”. (QS. at-Thariq: 13-14)

Baca Juga: Qalbun Salim, Hati yang Selamat dari Syubhat dan Syahwat

Al-Quran tidaklah seperti yang dituduhkan oleh orang-orang kafir. Bukan gurauan atau mitos sebagaimana klaim mereka. Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan sebagai pembeda antara kebenaran dan kebatilan. Di dalamnya termuat kaidah dan risalah serta ajaran yang mengajak kepada kebenaran serta konsekuensinya. Juga memuat rambu-rambu dan batas-batas yang menyelamatkan manusia dari kerugian abadi dan kesengsaraannya.

Orang-orang yang kafir sekalipun, di zaman turunnya al-Qur’an tak mampu menyembunyikan kekagumannya terhada al-Qur’an, bahkan tak mampu menemukan celah kekurangannya. Dialah Walid bin Mughirah, sang pujangga Arab, pakar dalam syair dan bahasa Arab, Ibnu Abbas mengisahkan bahwa suatu hari dia menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Rasulullah membacakan Al-Qur’an kepadanya. Sepertinya al-Quran itu melembutkan kekufuran al-Walid. Kabar ini sampai ke telinga Abu Jahal. Ia pun datang menemui al-Walid.

Abu Jahal mengatakan, “Wahai paman, sesungguhnya kaummu ingin mengumpulkan harta untukmu.” “Untuk apa?” tanya al-Walid. “Untukmu. Karena engkau datang menemui Muhammad yang menentang ajaran nenek moyang kita.”

Al-Walid bin al-Mughirah menanggapi, “Orang-orang Quraisy tahu, kalau aku termasuk yang paling kaya di antara mereka.”

Abu Jahal ingin memastikan bahwa al-Walid masih dipihaknya, ia berkata, “Ucapkanlah suatu perkataan yang menunjukkan kalau engkau mengingkari Al-Qur’an atau engkau membencinya.”

Al-Walid mengatakan, “Lalu apa yang harus saya katakan? Demi Allah tidak ada di antara kalian orang yang lebih memahami syair Arab daripada aku. Tidak juga pengetahuan tentang rajaz dan qashidahnya, bahkan tentang syair jin yang mengungguli diriku. Tapi apa yang diucapkan Muhammad itu berbeda dengan itu semua. Demi Allah! Apa yang ia ucapkan itu serasa manis, nikmat merasuk jiwa. Bagian atasnya berbuah, sedang bagian bawahnya begitu subur. Perkataannya begitu tinggi dan tidak ada yang mengunggulinya, serta menghantam apa yang ada dibawahnya.”

Baca Juga: Menghamba Separuh Jiwa

Abu Jahal terus mendesak al-Walid dan berkata, “Kaummu tidak akan ridha kepadamu sampai engkau mengatakan sesuatu yang buruk tentang al-Qur’an itu.” Pintu inilah, kekhawatiran jatuh di mata kaumnya hingga ia mengingkari nurani dan pengetahuannya sendiri, hingga dia mengatakan bahwa al-Qur’an itu adalah sihrun yu’tsar, sihir yang dipelajari.

Allah juga menantang semua jin dan  manusia dengan semua level kepandaiannya untuk yang membuat semisal al-Qur’an, dan Allah telah memvonis bahwa mereka tak akan mampu.Takkan ada yang semisal al-Qur’an, yang dijaga oleh Allah otentitasnya,

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Alquran, dan Sesungguhnya Kami pula yang benar-benar memeliharanya.” (QS. al-Hijr: 9)

Bacaan mana pula yang bernilai pahala perhuruf bagi pembacanya; satu kebaikan yang dilipatkan sepuluh kali. Lantunan manakah yang lebih indah daripada al-Qur’an? Yang ketika didengar takkan membuat bosan. Bahkan popularitasnya terus viral di sepanjang zaman.

Ilmu manakah yang lebih utama dari al-Qur’an? Ia menjelaskan segala sesuatu, tibyaanan likulli syai’in. Ilmu apapun yang bertentangan dengannya pasti salah, karena al-Qur’an adalah fiman Allah yang ilmunya meliputi segala sesuatu. Tak ada kesalahan sedikitpun di dalamnya. Sementara akal manusia terbatas, penelitian tak akan mencapai final dari keseluruhan ilmu pengetahuan, meskipun estafet itu bersambung dari zaman ke zaman. Dan jika ada klimks dari sebuah penelitian tertentu, hasilnya adalah bukti kebenaran al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman,

“Akan Kami perlihatkan secepatnya kepada mereka kelak, bukti-bukti kebenaran Kami di segenap penjuru dunia ini dan pada diri mereka sendiri, sampai terang kepada mereka, bahwa al-Quran ini suatu kebenaran.” (Q.S Fushshilat : 53)

Maka siapa yang ingin memiliki pengetahuan paling luas, hendaknya ia mempelajari al-Qur’an. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menyatakan,

 

مَنْ أَرَادَ الْعِلْمَ فَلْيُثَوِّرِ الْقُرْآنَ فَإِنَّ فِيهِ عِلْمَ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ فِي الْمَدْخَلِ وَقَالَ: أَرَادَ بِهِ أُصُولَ الْعِلْمِ

“Barangsiapa yang menginginkan ilmu (yang bermanfaat), maka hendaklah ia mendalami Al-Qur`an, karena di dalamnya terdapat ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang sekarang dan akan datang” (Diriwayatkan Al-Baihaqi)

Maka beruntunglah adalah yang mengambil bagian paling dari al-Qur’an; membacanya,  menghafalnya, mengamalkannya, mengajarkannya dan mendakwahkannya. Semoga Allah menjadikan kita sebagai ahlul Qur’an, aamiin.

 

Oleh: Abu Umar Abdillah/Tadabbur

 


Belum baca Majalah islam ar-risalah edisi terbaru? Segera hubungi agen terdekat kami di kota Anda, atau hubungi pemasaran kami di: 0852 2950 8085

Agar Menghafal Quran Mudah dan Ringan

Apa yang membuat orang-orang begitu mudah mengahafal nyanyian? Bahkan secara otomatis hafal tanpa ‘berniat’ untuk menghafalkan? Mengapa pula orang merasa kesulitan untuk menghafal al-Qur’an dan hadits, meskipun sudah berniat untuk menghafalkan?

Salah satu faktornya karena dorongan cinta. Rasa suka seseorang terhadap sesuatu memudahkan untuk mengingatnya. Rasa suka terhadap nyanyian juga merangsang keinginan untuk menghafalkan, dan ada ‘kepuasan’ tatkala ia berhasil menghafalkan. Kultur yang memang telah terbius oleh tradisi nyanyian semakin mengentalkan kebiasaan bernyanyi, hingga nyanyian menjadi reflek yang mengiringi seseorang saat kerja dan senggang. Wajar, jika nyanyian menjadi sesuatu yang mudah dihafal oleh generasi sekarang.

 

Munculkan Rasa Cinta Terhadap Ilmu

Mengapa kemudahan orang dalam menghafal nyanyian tidak dialami oleh sebagian orang yang menghafalkan al-Qur’an, hadits dan ilmu-ilmu syar’i? Bisa jadi, kecenderungan hati (nafsu?) masih kepada hal-hal yang remeh temeh seperti nyanyian. Atau belum begitu ‘ngeh’ terhadap faedah apa yang bisa diraih dengan memahami ilmu syar’i, sekaligus keuntungan yang bisa diperoleh dengan menghafalnya.

Sekedar otokritik, jangan-jangan kecintaan kita terhadap nash-nash syar’i masih jauh dibanding kecintaan para pecinta nyanyian terhadap nyanyian.

Memang sebagian kita telah memiliki rasa cinta terhadap ilmu syar’i. Tapi, kadar cinta itu belum memadai untuk mendongkrak kemauannya untuk menghafal, atau bahkan menjadikannya sebagai senandung yang secara reflek mengiringi setiap kesempatan yang memungkinkan.

Baca Juga: Al-Quran Relevan Sepanjang Zaman 

Padahal, andaikan kita memiliki banyak hafalan, selaksa faedah bakal kita dapatkan. Sebagian pembaca mungkin sudah bertahun-tahun mengikuti kajian ilmu syar’i. Atau bahkan memiliki dan pernah membaca ratusan literatur Islam. Tapi sudahkah Anda mampu menjelaskan satu dua topik saja dari sekian pertemuan atau sekian ratus buku, tentu lengkap dengan dalil dan argumen yang memadai? Ini karena yang menjadi target baru sebatas paham, belum untuk memahamkan.

Padahal, selain paham dan mengamalkan, karakter orang yang telah berilmu adalah menghafal matan. Baik berupa dalil al-Qur’an, hadits, maupun aqwal (perkataan atau nukilan) para ulama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

مَنْ حَفِظَ اْلمُتُوْنِ حاَزَ الْفُنُوْنِ

“Barangsiapa menghafal matan, berarti dia telah meraup pengetahuan.”

Jadi, jika apa yang kita pelajari belum ada yang nyantel sebagai hafalan, kita belum disebut orang alim dalam definisi yang bersifat perolehan ilmu. Meskipun kita telah mendapatkan faedah berupa lurusnya amal dan keyakinan.

Penuntut ilmu sejati, tidak merasa cukup hanya memahami. Targetnya juga bisa memahamkan orang lain kapanpun diperlukan. Dan ini memungkinkan jika hafalan selalu ready di hati dan pikirannya. Imam Masjid dan Khathib Masjid Nabawi, Syaikh Abdul Muhsin al-Qasim berkata, “Orang yang cerdas adalah orang yang mencatat sesuatu yang terbaik dari apa yang didengarnya, dan orang yang jenius adalah orang yang menghafal sesuatu yang terbaik dari apa yang ditulisnya.”

 

Bersama Para Penghafal

Sepanjang sejarah Islam, tidaklah kita kenal ulama di sepanjang zaman, melainkan mereka memiliki banyak hafalan dan kuat hafalannya. Seperti Imam Ahmad bin Hambal, Abu Zur’ah berkata, “Adalah Ahmad bin Hambal hafal satu juta hadits.” Imam Asy-Sya’bi juga menyebutkan sendiri sebanyak apa ilmu yang dihafalnya, “”Yang paling sedikit dari yang aku pelajari adalah kata-kata sya’ir. Namun seandainya aku mau membacakan sya’ir-sya’ir yang kuhafal, tentu akan memakan waktu sebulan penuh tanpa mengulang-ulang yang sudah aku sebutkan.”

Abu Bakar al-Anbari, ulama abad 4 H, sangat kuat hafalannya. Saat masih muda dia sakit, hal ini membuat sang ayah gelisah dan berkata, “Bagaimana aku tidak gelisah, ia satu-satunya orang yang saya harapkan bisa menghafal semua buku di rak-rak ini.” Beliau pernah mendiktekan muridnya-muridnya dengan hafalan, kitab Ghariibul hadits yang berjumlah 45.000 halaman, Kitab Syarh al-Kaafi setebal 1000 halaman, Kitab al-Adhdaad 1000 lembar, Kitab al-Jahiliyyaat 700 halaman dan kitab-kitab yang lain. (Siyar A’lam 15/511). Dikisahkan pula bahwa beliau hafal 120 kitab Tafsir lengkap dengan sanad-sanadnya.

 

Ubah Target Menghafal Menjadi Membaca Puluhan Kali

Mungkin kita tercengang dan kagum menyimak kisah tentang kekuatan hafalan dan daya ingat para ulama di atas. Sebagian kita tak memiliki bayangan sedikitpun untuk bisa memiliki hal serupa. Faktor bawaan dan nasib kerap dijadikan sebagai jawaban pamungkas saat kita ingan berkilah dari motivasi untuk menghafal. Padahal, hasil yang mereka dapatkan bukan serta merta didapatkan, ada proses panjang, yang kitapun terbuka kemungkinan bisa menempuhnya.

Mereka juga mengalami masa-masa sulit untuk menghafal. Mereka juga membutuhkan kesabaran ekstra, mengulang-ulang untuk menghafalnya, atau menjaga agar hafalan tidak hilang dari rekaman otaknya.

Ada baiknya kita mencoba cara serupa. Jika target hafalan dirasa berat, maka cukuplah target diturunkan menjadi ‘membaca sekian puluh kali’. Meski terkesan agak membutuhkan waktu lama, tapi beban pikiran terasa lebih ringan katimbang beban ‘harus hafal.’ Hasilnya akan bisa kita rasakan. Simaklah bagaimana para ulama menghafal pelajaran yang didapatkan.

Baca Juga: Al-Quran, Keajaiaban dunia Yang Terabaikan

Abu Ishaq al-Shirazy biasa mengulangi pelajaran yang ia dapatkan sebanyak seratus kali. Al-Hasan bin Abu Bakar an-Naisabury juga berkata, “Seseorang tidak akan hafal dengan baik sampai dia mengulanginya sebanyak lima puluh kali.”

Beliau juga bercerita  tentang seorang faqih (ahli fiqh) yang mengulang pelajaran di rumahnya berkali-kali. Hingga seorang nenek tua di rumahnya berkata, “Cukup…demi Allah, akupun sampai ikut hafal.’” Maka berkatalah si faqih, “Ulangilah apa yang telah nenek hafal’, maka wanita tua itu mengulanginya dan betul-betul hafal. Setelah beberapa hari, si faqih berkata kembali, ‘Nek!, ulangilah pelajaran yang waktu itu’ maka ia berkata, “Aku tidak hafal lagi.” Si faqih itu berkata, “Aku selalu mengulanginya agar tidak menimpaku apa yang telah menimpamu (yaitu hilangnya hafalan).”

Kesungguhan semacam ini pada akhirnya akan membuahkan kenikmatan dan kemudahan untuk menghafalkan ilmu yang bermanfaat. Wallahu a’lam. (Abu Umar Abdillah/Motivasi)

 

Tema Terkait: Al-Quran, Fadhilah, Motivasi 

 

Opini

“Likulli ra’sin Ra’yun”, setiap orang memiliki pendapat, demikian kata pepatah arab. Jadi, sah-sah saja ketika seseorang beropini atas satu kejadian atau peristiwa. Ya, Allah memberikan kelebihan kepada manusia berupa akal yang dengannya ia bisa berpikir. Dengan akal manusia bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk.

Ibnu Katsir ketika menafsirkan surat an-Nahl: 78, “Dialah yang menjadikan kalian memiliki pendengaran, penglihatan, dan hati supaya kalian bersyukur,” menjelaskan, “Allah memberikan mereka telinga untuk mendengar. Mata untuk melihat dan hati (akal) untuk membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang membahayakan. Dan Allah memberikan kenikmatan tersebut agar mereka dapat beribadah kepada Rabbnya.”

Baca Juga: Viral!

Berulangkali pula Allah menyebutkan perintah berpikir dengan redaksi yang berbeda-beda, afala ta’qilun, afala tatafakkarun, laallahum yafqahun, afala yatadabbarun, afala yandurun.

Islam memberi ruang khusus bagi akal untuk menganalisa sesuatu yang masih dalam jangkauannya. Ibnu Taimiyah dalam majmu’ fatawa mengatakan, “Akal bukanlah sesuatu yang dapat berdiri sendiri. Akal merupakan kemampuan dan kekuatan dalam diri seseorang sebagaimana seseorang bisa melihat dengan mata. Maka apabila hal itu tidak terhubung dengan cahaya iman dan al-Qur’an ia ibarat cahaya mata yang terhubung dengan cahaya matahari atau api.”

Ada batasan ketika seseorang hendak beropini atas sesuatu yang berhubungan dengan agama. Dalam hal ini dibutuhkan akal untuk memahami dan menyimpulkan suatu hukum dalil, tapi akal tidak boleh keluar dari dalil yang ada. Ketika ada dalil wahyu, sunnah, atau pendapat ulama maka tidak boleh mengedepankan nafsu, mengada-adakan hal baru, atau menentang syariat tertentu.

Maka sebelum seseorang beropini terkait agama apalagi berharap opininya bisa viral dan dibaca banyak orang, ia mesti mengilmui apa yang hendak dikatakan atau dituliskan. Kata Imam Bukhari di salah satu bab dalam kitabnya, al-ilmu qabla qaul wal amal, ilmu sebelum berkata dan berbuat. Setidaknya ketika beropini kita membuka peluang untuk menerima masukan dan koreksian dari orang yang lebih paham.  Segera beristighfar dan merevisi bila ada kesalahan.

Baca Juga: Di Balik Media 

Bila dalam hal pengetahun dunia saja kita tidak berani ngarang-ngarang (mengada-ada, red) dan selalu menanyakan dalil ilmiah, apalagi dalam masalah agama. Jangan sampai di satu sisi mengkritisi, di sisi lain menutup diri dari nasihat orang lain. Mempertahankan opini yang tidak berdasar hanya karena ada atau mengharap dukungan. (Redaksi/Arrisalah/Biah)

 

Tema Terkait: Pemikiran, Sekitar, Pendapat

Al Quran, Keajaiban Dunia yang Terabaikan

Mengimani kemukjizatan al Quran (I’jazul quran) merupakan unsur penting dalam rukun iman kepada al Quran. I’jaz adalah keistimewaan, keunggulan, keajaiban, dan keluarbiasaan al Quran yang menihilkan kemampuan manusia untuk menandingi. Secara redaksional, kata i’jazul quran sebenarnya tidak disebutkan dalam ayat ataupun hadits. Ini merupakan istilah yang dipakai para ulama untuk menjelaskan keistimewaan al Quran. Dan secara makna, al Quran mengungkapkannya dengan kata “ayat”, “bayinah”atau “burhan” yang maknanya mengacu pada tanda-tanda dan bukti kebesaran Allah. al Quran adalah bukti dan petunjuk paling jelas akan kekuasaan-Nya.

Kemukjizatan al Quran merupakan keajaiban luarbiasa yang melampaui kemampuan nalar manusia bahkan pengetahuan zaman. Jauh lebih ajaib dari semua simbol keajaiban yang disebut manusia sebagai keajaiban dunia seperti Piramid, candi Borobudur, atau tembok besar China.

Bangunan-bangunan peninggalan masa lampau ini disebut ajaib karena dinilai melampaui zaman. Bagaimana bisa bangsa Mesir jaman dahulu mampu membuat piramid? Padahal mereka belum menemukan komputer, mesin potong batu dan pengangkat batu modern untuk mengangkat batu ribuan kilo itu dan membentuk pirmaid yang tinggi? Lengkap dengan sifat presisi, rata seimbang dan dilengkapi dengan ruangan di dalamnya? Dan bagaimana pula orang-orang Jawa jaman dahulu membangun Borobudur? Sebuah candi raksasa yang juga berasal dari potongan-potongan batu besar yang tersusun rapi, rata dan artistik?

Akan tetapi, sekagum apapun manusia terhdap bangunan-bangunan tersebut, bangunan itu hanyalah ciptan manusia. Seajaib apapun sebuah bangunan, nilainya tidak akan lebih dari sekadar peninggalan yang tidak mempengaruhi zaman selain hanya sebagai situs wisata dan bahan pelajaran. Tapi al Quran, memiliki keajaiban yang tak hanya ajaib dan melampaui zaman tapi juga memengaruhi zaman. Itu karena al Quran bukanlah ciptaan, tapi kalam suci dari ar Rahman.

Al quran memiliki I’jaz dari segala sisi. Para pakar ilmu al Quran menjelaskan bahwa al Quran memiliki keajaiban dari sisi linguistik (lughawi), informasi (ikhbari), penetapan hukum (tasyri’i) dan sains (ilmi). Semua sisi ini istimewa, ajaib, luarbiasa dan melampaui kemampuan manusia.

Pertama, dari segi I’jaz al lughawi. Keajaiban dari segi linguistik. Al quran memiliki keajaiban dari aspek fashahah, balaghah dan nazham. Aspek fashahah merujuk kepada kebenaran penggunaan kata dalam bahasa Arab. Sebuah kata disebut fashih jika kata itu benar sesuai parameter pecahan kata dalam morfologi bahasa Aarab (qiyas sharf), juga memiliki diksi yang ringan di lidah dan tidak asing di telinga. Ini baru fashih secara kata (fashahatul kalimah).

Fashih dalam kata belum tentu fashih secara kalimat (fashahtul kalam). Al Quran fashih secara kata maupun kalimat. Fashih secara kalimat adalah susunan kalimat yang bebas dari tanafurul huruf, dha’fu ta’lif dan ta’qid. Tanafurul huruf yaitu susunan kalimat yang berat dilidah karena penyebutan suatu kata yang sama atau mirip secara intens dalam satu kalimat.  Misalnya contoh syair berikut:

وَقَبْرُ حَرْبٍ بِمَكَانٍ قَفْرٍ  #  وَلَيْسَ قُرْبُ قَبْرِ حَرْبٍ قَبْرُ

“Kuburan Harb (Harb ibn Umaiyah) di tempat yang tandus # Tidak ada dekat kuburan Harb (Harb ibn Umaiyah) kuburan.”

Penggalan syair ini sulit diucap karena adanya tanafurul huruf. Adapun dha’fut ta’lif adalah susunan kata yang kacau secara Nahwu. Nahwu adalah pola susunan Subjek, predikat, objek, keterangan dan lain-lain dalam bahasa Arab. Al Quran bersih dari unsur dha’fut ta’lif ini, artinya secara ilmu nahwu, susunan kata dalam al Quran seratus persen benar. Bahkan ilmu Nahwu merujuk kepada al Quran.

Adapun ta’qid adalah penunjukan makna yang tidak jelas. Bisa dari segi lafadz yang tidak jelas atau dari segi makna berupa penggunaan majaz yang aneh dan kinayah (konotasi) yang absurd. Misalnya,

نَشَرَ المَلِكُ أَلْسِنَتَهُ  فِى المْدِيْنَة

Raja itu menyebar (mengerahkan) lidah-lidahnya di kota.

Majaz ini aneh karena yang dimaksud adalah telik sandi. Biasanya, telik sandi di majazkan dengan “mata-mata”, bukan lidah-lidah.

Adapun balaghah adalah seni mengungkapkan kata-kata yang fashih tapi juga menyentuh hati dan menjaga relevansi setiap kata dengan tempat pengucapannya dan kondisi orang yang diajak bicara. Sebuah penyapaian dikatakan telah memenuhi aspek balaghah jika ia mampu memuaskan nalar dan perasaan pendengar. Dalam balaghah,hal-hal seperti majaz, konotasi, dan metafora haruslah benar dan tepat. Nah, al Quran memiliki semua tuntutan keindahan bahasa ini.

Sedangkan nazham adalah keserasian dalam susunan nada dan bunyi, juga diksi yang digunakan untuk mewakili suatu makna atau kontek dalam susunan kalimat yang apik. Dalam pembahasan yang lebih rinci, masing-masing aspek tersebut di atas memiliki detail-detail yang membutuhkan penjelasan yang panjang.

Al Quran turun saat bahasa Arab berada pada masa keemasan. Zaman ketika bahasa yang baik, benar dan memiliki tingkat seni tinggi menjadi instrumen komunikasi yang dipakai setiap hari. Pun begitu, ketika al Quran turun, para pakar bahasa pada masa itu hanya bisa terkagum. Tingkat kebenaran, keindahan, keserasian bahasa al Quran melampaui seluruh kemampuan manusia.

DR.Abdul Karim Taufan dalam karyanya ad Dilalah al ‘Aqliyah fil Quran wa Makanatiha fie Masailil Aqidah al ilamiyah, menjelaskan, bukti bahwa al Quran memiliki i’jaz lughawi adalah tantangan al Quran kepada ahli bahasa pada zaman Nabi, bahkan juga masa sekarang, untuk membuat yang semisal dengan al Quran. Dan terbuti tidak satupun yang sanggup membuatnya bahkan meskipun hanya satu ayat, dari dulu sampai sekarang.

Membuat yang semisal maksudnya menyusun suatu kalimat yang mencakup semua unsur keindahan, kebenaran, keserasian diksi yang mampu mewakili makna dan kontek secara harmonis. Bagi kita yang tidak mengenal Bahasa Arab, barangkali agak kesulitan menilai, sebenarnya sampai sejauh mana keajaiban al Quran dari segi bahasa. Namun bagi para pakar bahasa Arab, keajaiban itu akan terasa sejak ayat pertama yang mereka baca.

Kedua, I’jaz al ikhbari. Yaitu keistimewaan al Quran dalam memberikan berita dan informasi baik dari zaman lampau maupun masa yang akan datang, berita-berita mengenai alam ghaib, bahkan mengenai berbagai macam isi hati manusia.

Kisah-kisah itu nyata dan bukti-buktinya dapat diksaksikan hingga hari ini. Sisa-sisa bangunan kaum Tsamud, mayat-mayat kaum Sodom, mummy Firaun yang masih utuh dan lain sebagainya. Di zaman nabi Muhammad, kaum Yahudi dan Nashrani merasa jumawa karena mereka mengetahui kisah-kisah umat terdahulu melalui kitab mereka. Namun setelah turun-Nya al Auran mereka tidak bisa lagi sombong.

Ketiga, dari segi i’jaz tasyri’i. Yaitu al Quran bukan sekadar kumpulan nasihat dan kisah, tapi juga berisi ketentuan hukum mengenai berbagai macam hal; halal-haram, ibadah, kewajiban, larangan-larangan, panduan etika, hikmah dan lain sebagainya.

Dan yang luarbiasa, semua aturan hukum ini dibalut dalam keindahan dan kebenaran bahasa sesuai penjelasan dalam i’jaz lughawi di atas. Bisakah anda membayangkan, anda membuat perundang-undangan tapi dengan bahasa yang benar, indah, menyentuh hati dan enak dibaca bahkan tetap enak dibaca berulang-ulang?

Keempat, i’jaz ilmi. Yaitu isyarat-isyarat dan tanda-tanda dalam al Quran tentang sains. Ada beberapa contoh, misalnya:

Ayat 12-14 surat al Mukminun menjelaskan fase-fase penciptaan manusia. Di zaman Nabi SAW, pengetahuan belum mendalami hal ini. Dan ilmu modern membuktikan hal itu secara faktual.

Ayat 43 surat an Nur tentang siklus hujan dan salju. Penelitian ilmiyah membuktikan bahwa memang seperti itulah hujan terbentuk. Dari tiupan angin, kumpulan awan, gumpalan lalu hujan.

Ayat 56 urat an nisa’ tentang siksa bagi penghuni neraka berupa ditumbuhkannya kulit yang baru setelah terkelupas akibat terbakar.  Sains membuktikan bahwa syaraf terkumpul pada kulit. Jika luka bakar telah menghilangkan kulit, maka rasa sakitnya akan berkurang saat sampai bagian daging. Oleh karenanya, kulit penghuni neraka selalu diperbarui agar tersiksa.

BACA JUGA : Percaya Adanya “ Penampakan Hantu ”, Syirikkah?

Hanya saja, i’jaz ilmi masih diperdebatkan di kalangan pakar al Quran. Pasalnya, penemuan sains masih sangat mungkin terkoreksi, sementara al Quran sudah final. Pencocokan ayat-ayat al Quran dengan sains justru akan menjadi bahan olokan ketika penemuan tersebut terkoreksi. Namun, tidak sedikit yang menambahkan bahwa penemuan-penemuan sains adalah keterangan-keterangan yang dapat menambah pemahaman terhadap suatu ayat. Dan bahwa memang, al Quran juga berbicara tentang alam dan ilmu pengetahuan meskipun dalam wujud tanda-tanda. Tanda-tanda ini menguatkan kemukjizatan al Quran. Sesuatu yang pada jaman Nabi mungkin hanya dipahami secara arti bahasa saja, seiring penemuan-penemuan ilmiyah, tanda-tanda itu semakin jelas terbaca.

Demikianlah. Al Quran adalah sebuah keajaiban yang semestinya membuat umat islam bangga. Jika pun kita tidak mampu mengunjungi berbagai simbol keajaiban dunia, kita masih memiliki keajaiban dunia nomor wahid yang tak tertandingi di lemari kita. Itulah al Quran.

Andai yang Dilantunkan adalah Al-Qur’an

Imam adz-Dzahabi dalam Kitabnya Siyar A’lam an-Nubala’ menceritakan kisah taubatnya Zaadzan Abu Amru al-Kindy, seorang ulama senior di kalangan tabi’in,

“Dari Abu Hasyim berkata, “Zaadzan pernah bercerita, “Dahulu aku adalah seorang pemuda yang memiliki suara merdu dan terampil dalam memainkan thanbuur (semacam gitar-pen). Seperti biasa, aku sedang berkumpul dengan kawan-kawanku, ditemani dengan arak dan khamr, sementara aku mendendangkan lagu dan memetik gitarku untuk kawan-kawanku. Ketika itu, Abdullah bin Mas’ud lewat dan memergoki kami. Serta merta beliau memecahkan botol khamr dan gitar, kemudian berkata, “Andai saja yang diperdengarkan dari merdunya suaramu adalah al-Qur’an…”

(versi lain menyebutkan bahwa yang memecahkan botol dan gitar itu adalah Zaadzan sendiri setelah menyadari keteledorannya-pen)

Setelah Ibnu Mas’ud beranjak pergi, aku bertanya kepada teman-temanku, “Siapakah orang itu?” Mereka menjawab, “Beliau adalah Ibnu Mas’ud, sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.”

Lalu saya memutuskan diri untuk bertaubat, aku mengejar beliau sambil menangis. Aku memegangi ujung bajunya dan berdiri di hadapan beliau, lalu kukatakan, “Demi Allah, aku bertaubat dari apa yang telah kukerjakan dan dari memusuhi Rabbku, aku benar-benar ingin bertaubat!”

Ibnu Mas’ud juga ikut menangis haru dan berkata, “Marhaban, selamat datang sebagai orang yang dicintai oleh Allah ta’ala. Selamat datang sebagai orang yang dicintai oleh Allah.”

(Siyaru A’lam an-Nubalaa’, Imam adz-Dzahabi)

Pada gilirannya, beliau menjadi seorang imam dan qari’ setelah tadinya sebagai pemusik dan penyanyi. Beliau juga dikenal sebagai ulama yang meriwayatkan hadits.