Pentingnya Akidah Islam Dalam Membendung Fitnah Wanita

Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menguji hamba-Nya dengan beberapa fitnah. Tidak lain tujuannya adalah agar terpiih siapa diantara mereka yang paling bagus amalan dan keimanannya.

Fitnah maknanya adalah segala bentuk cobaan bagi manusia yang menyebabkan manusia berpaling dan menjauh dari Allah subhanahu wa ta’ala. Adapun varian dan bentuknya sangat banyak, dianataranya adalah fitnah harta benda, fitnah wanita, tahta dan lain sebagainya.

Rasulullah senantiasa memohon kepada Allah agar dihindarkan dari keburukan fitnah. Beliau mewanti kepada umatnya marabahaya yang ditimbulkan fitnah-fitnah tersebut. bilamana ia terjerembab dalam fitnah tersebut, di dunia ia akan tersesat dan kehilangan jalan hidup, sedangkan di neraka ia akan ditimpa dengan beratnya hisab dan adzab Allah yang sangat pedih.

Nabi bersabda,

“Sesungguhnya kalian akan merasakan berbagai fitnah, maka berlindungan kalian kepada Allah.”

Di antara fitnah yang paling berbahaya adalah fitnah yang ditimbulkan oleh wanita.

Baca Juga: Hukum Jihad Bagi Wanita

Allah memberikan fitrah kepada manusia (laki-laki) dengan kecintaannya kepada wanita, anak-anak dan harta benda, sebagaimana Allah berfirman,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّـهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ 

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. ali-Imron:14)

Islam menetapkan batasan bagaimana berhubungan dengan wanita, bagaimana menyalurkan kecintaannya kepada wanita. Siapa yang sesuai dengan ketetapan ini, ia akan terhidar dari fitnahnya dan siapa yang mengabaikan ketetapan ini, ia akan terjerumus dalam fitnah.

Fitnah yang ditimbulakn wanita banyak macamnya, diantaranya sebagai berikut,

1.Kecintaan yang haram, yaitu cinta yang berlebihan dan melewati batas.

2.Melihat wanita yang bukan mahram.

3.Perbuatan terlarang yang dilakukan kepada wanita ajnabi (bukan mahram), seperti; zina, memegang dan berbicara secara langsung.

4.Melewati batas syar’I dalam mencintai istri.

5.Melihat aurat wanita dalam alat komunikasi maupun media sosial dan beralasan bahwa hal tersebut hanyalah gambar bukan wanita sebenarnya.

6.Tidak menunaikan hak istri, anak-anak dan kerabat perempuan.

Fitnah bagi para lelaki banyak macamnya, dan fitnah wanita inilah yang paling berbahaya, sebagaimana Nabi bersabda,

“ما تركتُ بعدي في النَّاس فِتنة أضرّ على الرجال مِن النِّساء.”

“Tidak aku tinggalkan fitnah kepada manusia yang paling berbahaya kepada para lelaki melainkan fitnah wanita.“ (Muttafaq ‘alaih)

Kebanyakan orang masuk neraka karena wanita. Suatu ketika Nabi ditanya, “Apa yang paling banyak menyebabkan orang masuk neraka?” beliau bersabda, “dikarenakan dua lobang, yaitu mulut dan kemaluan.” Disebabkan karena fitnah wanita, banyak orang yang terjerumus kedalam perbuatan zina.

Beberapa perbuatan wanita yang mengundang fitnah pada hari ini diantaranya:

1.Tabaruj, para wanita melepas hijabnya dan memperlihatkan beberapa lekukan tubuhnya.

2.Ikhtilat, antara wanita dan laki-laki bercampur dan dianggap lumrah. Siapa yang tidak mau bercampur dianggap kuno dan ketinggalan jaman.

3.Berlebihan dalam berhias, dengan mengenakan berbagai macam make up dan penghias mata, rambut, high heel dan lain sebagainya.

4.Memposting gambar dan menyebarkannya, banyak wanita yang sengaja memajang foto-fotonya di media sosial.

5.Video wanita di berbagai media komunikasi, yang menampilkan gerakan dan mengumbar suara.

Dan masih banyak fitnah yang didendangkan wanita untuk menggoda manusia.

Peran akidah dalam membendung fitnah wanita

1.Peran Iman kepada Allah Azza wa Jalla

 Keimanan dan kecintaan kepada Allah ta’ala akan membuat seseorang mecintai apa yang dicintai-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang oleh-Nya. Bagi seorang wanita yang beriman,ia akan beriltizam mengenakan hijab sebagai tanda keimanannya kepada Allah dan kecintaan pada-Nya. Sebagaimana seorang mukmin yang laki-laki dan wanita akan senantiasa  menundukkan pandangan mereka lantaran iman sebagaimana Allah bersabda,

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ * وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya.” (QS. an-Nur; 30-31)

Disamping itu, dengan rasa khasyah seseorang kepada Allah, akan membuatnya takut akan azab Allah dan menjauhi segala hal menyebabkan murka Allah.

2.Peran Iman kepada Rasulullah SAW

Iman kepada Nabi Muhammad adalah salah satu cara membendung diri dari fitnah ini. Beriman kepadanya mencangkup; percaya kepada apa yang beliau sampaikan, mengikuti risalah beiau dan menjadikan beliau tauladan dalam hidup.

Rasulullah memperingatkan kaum muslimin dari fitnah wanita dan memerintahan umatnya untuk menghindari apa saja yang menggiring seseorang terkena fitnah wanita.

Baca Juga: Agar Iman Tak Goyah di Zaman Fitnah

Dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh ibunda ‘Aisyah beliau berkata, “suatu ketika saat Nabi duduk di masjid, ada seorang perempuan dari Muzainah masuk dengan menjulurkan perhiasannya di masjid. Lalu Nabi bersabda, “Wahai para manusia, laranglah wanita-wanita kalian memakai perhiasan dan menyombongkan diri di masjid, karena sesungguhnya Bani Israil tidak melarang wanita-wanita mereka berhias dan menyombongkan diri saat ke majid.” (HR. Ibnu Majah: 1326/2)

Selain dengan keimanan kepada Allah dan rasul-Nya, fitnah bisa dibendung dengan akal pikiran yang sehat. Ketika nafsu syahwat membuncah, pakailah akal untuk berfikir bahwa tidak ada seorangpun yang menghendaki istrinya, anak-anaknya dan kerabatnya untuk dijadikan pelampiasan, sebagaimana hadits dari Abi Umamah ketika ada seorang yang ijin kepada Nabi untuk berzina. 

Demikian peran akidah dalam membendung fitnah yang ditimbulkan oleh wanita. Semoga Allah memudahkan kita untuk berbuat kebaikan dan menampakkan kepada kita yang haq itu haq dan yang batil itu batil. Aamiin

(arrisalah/al-Akidah al-Islamiyah wa atsaruha fin najati minal fitan al-mu’ashirah/Akidah)

 

Tema Terkait: Akidah, Wanita, Fitnah 

Khilafah & Syari’ah Islam

Saat revolusi IT dan dunia informasi mulai terasa pengaruhnya, penulis membayangkan, transparansi informasi dan obyektivitas data akan mengalami perubahan menuju ke arah yang lebih jujur dan makin menjauh dari kebohongan. Harapan itu bertumpu pada dirambahnya hampir seluruh sudut bumi oleh jangkauan informasi dan pemberitaan dengan kecepatan live, hampir tidak ada delay antara kejadian dengan sampainya informasi. Ketika kemudian muncul informasi dengan genre hoax, penulis menyadari, obyektivitas dan transparansi tidak bertumpu pada jangkauan, akurasi dan kecepatan transmisi alat, tetapi kepada sikap mental operator alat dan sarana.

Di alam demokrasi, penyebaran gagasan dan ide merupakan perkara esensial asas tempat berpijak paham demokrasi, dan hal itu dilindungi dengan regulasi. Seharusnya itu menjadi lahan subur mendidik masyarakat untuk lebih bersikap akademik, membuka pikiran untuk menerima pendapat yang berbeda. Jauh dari ekspektasi itu, ternyata ketika gagasan yang diperkenalkan kepada masyarakat berbeda dengan platform yang dipegangi oleh penguasa, sementara gagasan itu mendapatkan respon positif dari masyarakat, pemikiran berkembang dan diterima, penguasa cenderung menggunakan abuse of power, menggunakan pendekatan kekuasaan untuk memberangus pemikiran. Suatu tindakan yang bertentangan dengan sendi dasar ajaran demokrasi yang mereka pegangi.

Fakta Historis Khilafah

Syari’at Islam dan Khilafah merupakan discourse akademik yang terbuka untuk didekati dengan studi sejarah. Jika dilakukan studi sejarah secara obyektif, siapa pun tidak akan kesulitan untuk menemukan fakta-fakta ilmiah mengenai eksistensi dan peran institusi khilafah dalam meng-implementasikan syari’at Islam di tengah umat Islam. Adapun fakta bahwa kualitas penerapan prinsip-prinsip tersebut dari waktu ke waktu fluktuatif, hal itu juga tidak bisa diingkari. Sebab, meskipun khilafah dan syari’at Islam merupakan ajaran yang bersumber dari Al-Qur’aan dan As-Sunnah, akan tetapi pelaksanaannya merupakan hasil ijtihad manusia yang tidak terlindungi dari kemungkinan salah, pelaksananya bukan Nabi, tidak ma’shum. Tetapi pernyataan bahwa khilafah tidak pernah ada dan utopis seperti yang banyak dikatakan oleh para politisi dan penyelenggara pemerintahan dari kalangan orang Islam, merupakan pernyataan ahistoris dan berpotensi menjadi intelectual abuse.

Bagaimana tidak, para sejarawan muslim maupun non-muslim mencatat Khilafah Rasyidah setelah Rasulullah hingga 30 tahun setelah beliau wafat, kemudian Bani Umayyah, Bani ‘Abbasiyah, dll. Khilafah ‘Utsmaniyah yang mengalahkan dominasi Romawi Timur bukanlah kabar bohong, kota Konstantinopel berganti nama menjadi Islambul, yang kemudian dikenal dengan Istanbul, pemerintahannya berdiri lebih dari 500 tahun. Bahwa implementasi syari’at Islam di dalamnya mengalami pasang-surut, hal itu tidak kemudian menafikan eksistensinya. Sebagaimana hal yang sama terjadi pada sistem yang lain, bahkan lebih buruk.

Tersebarnya Islam di negara dengan penduduk muslim terbesar ini juga tidak lepas dari peran kekhalifahan tersebut dari waktu ke waktu dalam mengirim para ulama sebagai delegasi du’aat. Spirit, keberanian dan pengorbanan untuk melawan penjajah Portugis, Inggris, Belanda maupun Jepang tidak mungkin dilepaskan dari peran para ulama yang terus menerus menginspirasi dan memimpin umat. Sulit dibayangkan para pemeluk Nashrani (misalnya) akan melawan penjajah tersebut, sedang mereka memeluk agama tersebut karena terkena ajakan ‘dakwah’ mereka. Kesultanan Aceh dalam menghadapi Portugis di Malaka juga melibatkan para penembak meriam dari Turki Utsmaniy (1567), dibantu oleh kerajaan Demak dan Calicut (India). Ini merupakan peran nyata Khilafah pada zamannya.

Baca Juga: Memaknai Islam Sebagai Rahmatan lil ‘alamin

Para Wali lokal seperti Sunan Kalijaga yang dipuji dan dibanggakan oleh penduduk muslim di tanah Jawa maupun Indonesia pada umumnya tidak lahir langsung pintar, tetapi hasil dakwah dan didikan para ulama delegasi kekhalifahan tersebut. Prestasi keulamaan global seperti Imam Nawawi al-Jawiy al-Bantaniy yang menjadi Imam Masjid al-Haram (kakek buyut KH Ma’ruf Amin), yang juga merupakan ulama’ penulis yang sangat produktif pada zamannya, tidak dapat dilepaskan dari peran para pendakwah sebelumnya. Beliau masih keturunan Syarif Hidayatullah yang menginisiasi banyak perlawanan jihad menghadapi Portugis hingga kolonialisme Belanda, merebut dan mengalahkan Portugis dari Sunda Kelapa dan mengganti namanya dengan Jayakarta (Jakarta).

Semua itu merupakan fakta sejarah tidak terbantahkan. Menafikan peran Khilafah, merupakan tindakan ‘bunuh diri sejarah’. Islam dan umat Islam Indonesia tidak mungkin dapat dilepaskan dari peran Khilafah Islamiyah pada zamannya. Apakah mereka membanggakan para sesepuh dalam melahirkan nation state Indonesia, sementara mereka memotong sejarah nenek moyang mereka yang lebih jauh, yang tersambung langsung dengan kekhalifahan dan para Khalifah/Sultan.

Nubuwah Nabi tentang Khilafah di Atas Sistem Kenabian

Mengenai nubuwah Nabi tentang akan kembalinya khilafah ‘ala manhaj an-nubuwwah di akhir zaman, ketum PKB dalam acara ‘Menangkal yang Radikal’-nya Metro TV, Rabu malam 24/5/2017 menyatakan bahwa hadits tentang adanya Khilafah di akhir zaman, merupakan hadits dlo’if yang tidak dapat dijadikan argumentasi. Pernyataan tersebut melampaui kapasitas dirinya sebagai politisi dan memasuki wilayah yang bukan otoritasnya, apalagi tanpa menyertakan sumber rujukan yang mendasari statement-nya. Padahal pakar hadits modern Syaikh Nashiruddin al-Albaniy dalam kitab beliau As-Silsilah ash-Shohihah mengatakan bahwa hadits tentang Al-Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah merupakan hadits shahih.

Pernyataan itu juga menyalahi kultur basis konstituen partainya yang menghargai ulama’ serta meyakini kuat terhadap nubuwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebelumnya politisi tersebut juga telah membuat blunder dukungan kepada calon pemimpin non-muslim dalam kasus pilkada DKI.

Khatimah

Kita tidak menafikan bahwa perdebatan tentang Khilafah pada hari ini diwarnai oleh banyak hal yang membuat sebagian besar publik kehilangan jejak dan obyektivitas. Munculnya kelompok Islamic State di Iraq dan simpatisannya di semua tempat, seruan Hizbut Tahrir untuk kembali kepada Khilafah menurut konsepnya, serangan-serangan bersenjata dan pemboman baik lokal maupun global dengan mengatasnamakan Khilafah turut mempengaruhi suasana perbincangan tentang khilafah ini.

Baca Juga: Khilafah Rasyidah Mahdiyah

Beragam metode untuk kembali memunculkan khilafah seperti yang dilakukan beberapa golongan, seharusnya tidak menjadikan pembahasan ilmiah tentang Khilafah kehilangan obyektivitas-nya. Sebab boleh jadi kemunculannya tidak seperti yang diteorikan oleh HT, atau jalan penuh kekerasan yang ditawarkan Al-Adnaniy, tetapi juga tidak seperti yang dikehendaki oleh Demokrasi. Sistem demokrasi selalu berbuat curang tatkala Khilafah atau syari’at Islam menempuh jalur konstitusional seperti pengalaman di Aljazair pada era 90-an, maupun Mesir dengan terpilihnya Muhammad Mursi sebagai presiden. (Redaksi/Fikrah/Juli 2017)

 

Tema Terkait: Rahmatan lil ‘alamin, Khilafah, Akidah

Menghindari Sebab-Sebab Yang Mengurangi Iman

Nikmat terbesar yang Allah Anugrahkan kepada orang-orang beriman adalah nikmat iman, kelezatan Iman hanya dirasakan oleh mereka yang mengecap ketaatan dan menghindari kemaksiatan, disamping itu Allah menjadikan keimanan sebagai pondasi seorang mukmin. jika diibaratkan manusia tanpa iman bagaikan jasad tanpa ruh bahkan seperti seonggok mayit. yah seperti itulah pentingnya iman. Allah membedakan manusia bukan dari penampilan yang menarik, harta yang melimpah atau jabatan setinggi langit. Semua itu akan hancur dihari kiamat kelak, tinggalah iman yang penuh ketaatan kepada Rabb semesta Alam yang tersisa. Allah banyak menyebutkan janji yang terbaik bagi seorang yang memiliki iman bahwa ia akan dimasukan kedalam surga dengan penuh keridhaan.

Sebagaimana firman nya:

وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا

Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun. (An-Nisa’: 124)

Begitu juga Allah menjanjikan kebahagian dunia dan balasan di akhirat bagi orang beriman dan beramal shalih baik dia laki-laki atau perempuan. Sebagaimana firmanya:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.(An-Nahl: 97).

sudah sepantasnya bagi seorang mukmin agar senantiasa menjaga keimanannya sebagai modal dia di dunia dan tetap mempertahankanya sampai akhir hayatnya.karna iman itu naik turun, terkadang seseorang sangat giat dalam beribadah ini menandakan imannya sedang naik dan terkadang seseorang diliputi rasa malas untuk beribadah ini menunjukan bahwa imannya sedang turun Ahlu Sunnah wal Jamaah berkeyakinan bahwa  Iman adalah apa yang ditetapkan oleh hati, yang diucapkan dengan lisan dan diamalkan dalam perbuatan, dia bertambah dengan ketaatan dan berkurang karna kemaksiatan.

Baca juga : Sok Tahu, Bukan Adab Insan Beriman

Dari definisi ini maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Iman akan terus Bertambah jika seseorang melakukan amal ketaatan. dan sebaliknya iman akan berkurang jika seseorang melakukan amal kemaksiatan. bahkan iman akan terus berkurang dan dapat merusak pondasi iman jika manusia melakukan amal kemaksiatan yang bentuknya sebuah kekafiran. jika seperti itu jadilah manusia makhluk yang paling rugi di dunia dan diakhirat.

Penyebab berkurangnya Iman

Maka untuk menghindari hal itu, diperlukan ilmu pengetahuan tentang sebab-sebab mengapa iman berkurang, setidaknya dari penuturan para ulama ada 4 hal  yang menyebabkan Iman seseorang berkurang,

Pertama,bodoh terhadap nama-nama allah dan sifatnya, hal ini menjadi sebab terbesar seseorang dapat berkurang imanya, karna ketika manusia berkurang pengenalanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala maka berkurang pula kadar imanya. Karna salah satu rukun iman adalah beriman kepada allah yaitu percaya/ meyakini keberadaan dan keesaan Allah subhanahu wa tala dengan konsekwensi mengenal Nama-Nama Allah yang baik (al-Husna) dan sifat-sifatnya yang mulia. Ketika seorang mengetahui rashasia dari nama-nama Allah maka akan timbul pengagungan yang luar biasa kepadanya dan semakin memantapkan imannya dan sebaliknya bodoh terhadap Allah dan tidak mengenal nama-nama dan sifatnya dapat mengurangi keimanan seseorang.

Kedua, lalai dari memikirkan ayat-ayat Allah subhanahu wa ta’ala. Baik itu ayat yang tersurat yang termaktub di dalam al-Quran maupun ayat yang tersirat di alam-alam ini. Yang pertama, iman akan bertambah jika manusia membaca, memikirkan bahkan merenungi ayat-ayatnya di dalam al-Quran. Kedua, manusia akan bertambah keimanannya jika selalu merenungi kekuasaannya yang berada di langit dan dibumi. Dan Salah satu sifat orang-orang beriman adalah selalu bertafakur atas semua fenoman yang ada di langit dan dibumi. Allah menyebutkan sifat orang-orang beriman yang selalu memikirkan ciptaanya. Allah ta’ala berfirman:

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. ( Ali-‘Imran : 191).

Sebaliknya orang yang lalai dari al-Quran. ia tidak membaca dan merenungi al-Qur’an. bahkan al-Qur’an yang berisi petunjuk hanya dijadikan hiasan yang diletakan di rumah-rumah saja. Ini berkonsekwensi pada iman seseorang, jika hati ini tidak di isi dengan petunjuk pastilah ia akan diisi dengan kesesatan. Begitu juga orang yang lalai dari memikirkan alam dan segala fenomena yang terjadi, hal ini dapat mengurangi keimanan dan pengagungannya kepada Allah ﷻ.

Ketiga, selalu melakukan kemaksiatan. Pengaruh maksiat pada iman seseorang sangatlah sangat lah besar. Rasulullah ﷺ bersabda:

Tidaklah seorang pezina ketika dia berzina ia seorang yang beriman (HR Bukhari no 6810)

Ibnul Qayyim berkata: diantara dampak jelek dosa adalah merasa jauh dari Allah yang menyelimuti hati pelaku maksiat. yang tidak mungkin digantikan dan ditutupi oleh kelezatan apa pun. walau terkumpul seluruh kelezatan dunia tidak akan sanggup menghilangkan perasaan jauh tersebut. akan tetapi perasaan jauh ini tidak akan dirasakan oleh orang yang hatinya masih ada kehidupan. karna tidaklah luka dapat menyakiti mayit. maka kalaulah dosa-dosa dapat ditinggalkan keuali khawatir muncul perasaan jauh dari Allah tersebut. sudah sepantasnya bagi seorang yang berakal untuk meninggalkanya.(jawaabul kaafi hal:52) dengan kata lain maksiat mengurangi keimanan dan kedekatanya kepada Allah Ta’ala

Keempat, meninggalkan ketaatan. jika iman dapat bertambah dengan amalan ketaatan maka sebaliknya dia akan berkurang ketika kita meninggalkanya.

Syaikh Utsaimin menjelaskan: seandainya ketaatan itu adalah suatu yang wajib dan meninggalkannya tanpa udzur, maka imannya berkurang dan pelakunya berdosa. Tetapi jika ketaatan tersebut wajib atau tidak wajib tetapi  ia meninggalkan karna udzur/alasan yang dibolehkan,imanya menjadi berkurang dan berdosa, maka dari itu mengapa Rasulullah menyebut perempuan itu kurang aqal dan agamnya, sebab kurang agamnya adalah karena perempuan ketika mengalami haid dia tidak melakukan shalat dan tidak melakukan puasa, walaupun ia tidak dicela karena meninggalkan keduanya bahkan mereka diperintahkan untuk meninggalkanya. Hal ini pun terjadi ketika seseorang meninggalkan ketaatan. (Majmu Fatawa dan Risalah Syaikh Utsaimin Hal 21).

Jadilah seorang mukmin sejati.

mari kita berkaca dan berinstropeksi, sudahkah kita menghindari hal-hal yang dapat mengurangi iman kita. Dan kita mendatangkan sebab-sebab yang dapat menambah iman. Kita juga berusaha agar senantiasa menjadi sebenar-benarnya Mukmin, yang bergetar apabila disebut nama Allah dan bertambah imanya ketika dibacakan ayat-ayatnya sebagaimana firman Allah Ta’ala ﷻ:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُون (2) الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ.(3) أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ(4)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang melaksanakan shalat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami Berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhan-nya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.

(al-Anfal:2-4).

Itulah empat hal yang dapat menyebabkan iman seseorang berkurang, mudah-mudahan kita dapat menghindarinya dan senantiasa melazimi ketaatan sehingga kita dapat menjadi seorang mukmin sejati. Wallahu’alam Bis Shawwab.

Iman, Butuh Bukti Bukan Sekedar Teori

Sekte Murjiah menyatakan bahwa iman itu konstan. Iman sifatnya tetap, tidak berkurang tidak pula bertambah. Perbuatan maupun ucapan tidak ada hubungannya dengan iman. Seseorang bisa saja mengucapkan atau melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan apa yang dia percayai, tapi hal itu tidak mengurangi kepercayaannya sedikitpun. Jadi, menurut murjiah, maksiat itu tidak mengurangi iman sama sekali. Asalkan masih yakin kepada Allah, berarti iman masih utuh.

Wajar saja jika murjiah beranggapan demikian. Mereka memaknai iman hanya sebagai kumpulan persepsi dan pengetahuan yang dipercayai benar. Sekadar kepercayaan tentu tidak akan berubah selagi tidak ada faktor yang merusak kepercayaan tersebut. Ucapan dan perbuatan manusia tidak ada kaitannya dengan kepercayaan ini. Masalahnya, iman bukanlah sekadar pengetahuan yang telah direkam dalam pikiran semata. Iman adalah sebuah kesatuan antara pengetahuan yang dibenarkan dan diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan dan segala konsekuensi dari keyakinan ini diimpelemntasikan oleh perilaku dan sikap (anggota badan).

Beriman bahwa Allah Mahakuasa dan Maha peberi Rezeki dan Allah akan memberi ganti yang lebih baik bagi siapapun yang meninggalkan sumber rezeki haram demi mencari ridho-Nya, Allah akan beri ganti sumber rezeki yang halal dan baik. Iman kepada hal ini butuh bukti. Buktinya dengan meninggalkan pekerjaan yang bersumber dari harta ribawi dan yakin ada usaha lain yang lebih berkah. Berhenti membohongi pelanggan dan berbuat jujur serta yakin bahwa jujur pasti mujur. Meninggalkan jual beli barang haram dan percaya bahwa jual beli yang halal jauh lebih menenangkan.

Jika ada yang mengaku beriman bahwa rezeki ada di tangan Allah dan Allah melarang mencari rezeki haram, tapi nekat mencari rezeki haram, kepercayannya layak dipertanyakan. Mengapa dia nekat padahal katanya percaya rezeki di tangan Allah dan beriman kepada syariat-Nya? jawabannya hanya akan berputar pada dua hal; pertama, dia tidak benar-benar yakin bahwa setelah meninggalkan yang haram dia akan mendapat ganti yang nilainya setara atau lebih baik. Jikae demikian, bukankah berarti kepercayaan dan keyakinannya kepad akekuasaan Allah tidak utuh? Atau bahkan hilang?  Kedua, dia yakin akan mendapat ganti enggan untuk berganti dari yang haram menuju yang halal. Jika demikian, bukankah berarti keyakinannya pada syariat Allah tidak utuh atau bahkan hilang?

Sebuah kepercayaan itu harus diuji dan dibuktikan. Seseorang tentu saja tidak bisa menyatakan percaya lalu layak dipercaya dan mendapat kepercayaan. Menyatakan beriman lalu dibiarkan begitu saja berbuat sesukanya tanpa berusaha membuktikan keimanannya. Tanpa bukti, kepercayan dan keyakinan yang diklaim bisa jadi tidaklah utuh adanya atau bahkan hanya omong kosong belaka.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS: al-‘Ankabuut Ayat: 2)

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”(QS: al-‘Ankabuut Ayat: 3)

Ada kisah unik tentang bahwa iman itu bukan sekadar sekumpulan pengetahuan yang dipercayai tapi keyakinan yang memang bisa dibuktikan. Doktor Saad Syarief menceritakan kisahnya saat di Afghanistan, “ Saat itu, waktu maghrib tiba. Saya shalat di Afghanistan sebagai imam. Lalu datanglah pesawat melintas di atas kami dan menjatuhkan bom di area dekat tempat shalat kami. Melihat jatuhnya bom tersebut, saya langsung tiarap. Namun rupanya, tak satupun orang-orang Afghan yang menjadi makmum bergerak. Bahkan salah satu dari mereka maju menggantikan saya dari posisi imam, lalu menyelesaikan shalat jamaah. Saya merasa sangat malu. Imam yang tadi menggantikan saya, selesai shalat maghrib bangun dan menjama’ dengan shalat Isya, padahal pesawat masih terus berseliweran di atas kami. Orang-orang itu masih bergeming dari tempatnya, dan seperti tidak merasa terganggu padahal kepulan debu bom membumbung di atas kepala mereka. Mereka menyelesaikan shalat, membaca tasbih dan masih menjalankan shalat sunnah. Mereka mencela saya, “Anda berdiri di hadapan Allah, mengapa masih takut dengan apa yang ada di hadapan manusia?” (Fie Qolbi bin Ladin ar Rajul wal Ailah, Mustofa al Anshari)

Sang Doktor diangkat sebagai imam karena pengetahuannya mengenai ilmu agamanya lebih banyak dan lebih mendalam daripada penduduk Afghanistan. Soal bagaimana seseorang harus mempercayai bahwa Allah memiliki nama dan sifat “Maha kuasa”, “Maha Penolong” dan “Maha Selamat “, sang Doktor tentu lebih tahu. Bahkan tahu detail sekaligus tentu saja percaya seutuhnya. Tapi lihatlah ketika kepercayan itu hrus diuji. Terbukti, kumpulan pengetahuan dan kepercayaan dalam hati tidak menjamin kemantapan iman seseorang. Inilah pelajaran yang ingin Beliau sampaikan melalui kisah ini.

Baca juga : Turun Ke Langit Dunia Di Akhir Malam Yang Sepertiga

Masih bersama mujahidin Afghan, mereka membuktikan betapa kuatnya iman mereka terhadap kebesaran dan pertolongan Allah. DR Abdullah Azzam dalam bukunya Tarbiyah Jihadiyah menuturkan,

“Pada waktu mereka (orang Afghan) menghadapi tentara komunis Rusia, kami tanyai mereka: “Bagaimana kalian menghadapi tentara Rusia? Apa kalian kira mampu mengalahkan mereka?”.  Mereka menjawab: “Kami akan mengalahkan mereka, Insya Allah”. “Bagaimana kalian bisa seyakin itu?”Tanya kami lagi. “Siapa yang lebih kuat? Allah ataukah Rusia?” Mereka balik bertanya. “Allah yang lebih kuat.” Jawab kami. Lalu mereka berkata, “Kami beserta Allah, maka kami akan mengalahkan Rusia!”

Allah itu Maha Kuat, maka dari itu Dia tidak akan kalah. Rusia yang akan kalah. Itulah keyakinan Muhammad Umar, sebagaimana diceritakan oleh Muhammad Siddiq, “Pesawat tempur Rusia membombardir kami, lalu kami semua berlindung ke parit-parit pertahanan kecuali seorang lelaki tua. Dia menengadah ke langit seraya berkata, “Ya Rabbi, ya Rabbi, siapa yang lebih kuat? Engkau ataukah pesawat tempur yang membombardir tentara-Mu? Siapa yang lebih besar? Engkau ataukah pesawat tempur itu?” Sementara pesawat tempur musuh menghujani mereka dengan bom. Belum sampai dia menurunkan tangannya, pesawat tempur itu telah jatuh ke bumi. Inilah tauhid yang sebenarnya dikehendaki Allah dari kita.”

Jika iman hanya sebatas pengetahuan dan kepercayan dalam hati tanpa bukti, siapapun akan memilih lari daripada melawan Rusia. Secara logika, mewalan negeri Beruang merah sama saja dengan bunuh diri. Peluang menangnya, menurut hitungan logika, boleh dibilang nol. Rusia punya senjata berat plus amunisinya tentu, logistik, personel dan dukungan negeri komunis lain. Sementara mujahidin Afghan? Senjata, amunisi, logistik, personel semuanya benar-benar tak berimbang. Tapi mereka tetap fight dan akhirnya Rusia harus mengakui kedigdayaan pejuang Afghanistan.

Dari sinilah para ulama ahlus sunah menyatakan, iman itu bisa bertambah dan berkurang. Surut dan pasang. Iman bertambah, kuat dan membesar jika dibuktikan dengan ketaatan. Sementara iman akan surut, mengecil dan mengkerut saat lisan dan tindakan tak mampu membuktikan dan memilih apa kata nafsu dan setan.

Iman menuntut bukti. Apa yang sudah kita lakukan untuk membuktikan poin-poin iman yang kita yakini? Apa buktinya bahwa kita mengimani bahwa Allah Maha Pemberi Rezeki? Relakah kita meninggalkan cara-cara haram dalam mencari rezeki? Atau jangan-jangan kita masih ragu kalau-kalau setelah itu akan jatuh miskin?

Apa buktinya bahwa kita mengimani bahwa syariat Allah adalah hukum yang paling adil dan paling layak diterapkan dalam kehidupan? Atau jangan-jangan kita meragukan kesempurnaan syariat-Nya dan relevansinya di jaman ini hingga menggantinya dengan hukum buatan manusia?

Apa buktinya bahwa kita mengimani bahw akhirat itu ada? Adakah kita sudah mempersiapkannya?

Dan masih banyak poin-poin keimanan lain yang menanti pembuktian. Jika kita tidak berupaya membuktikannya dengan ketaatan pada-Nya, Allah akan tetap mendatangkan ujian yang akan membuktikan seberapa besar iman kita kepada-Nya. Semoga Allah senantiasa memudahkan kita dalam menjaga iman dan membuktikan tuntutan-tuntutannya. Aamiin.

 

Wasathiyah Dalam Al Quran

Salah satu kenikmatan besar dan bentuk kemuliaan yang diberikan Allah kepada umat Islam adalah menjadikan umat ini sebagai umat pertengahan (washatan), yang paling baik (khiyaran), dan yang paling adil (adulan). Sebagaimana firman Allah:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا

“Dan begitulah kami jadikan kalian umat pertengahan.” (QS. Al Baqarah: 143)

Ada beberapa penjelasan tentang kata wasathan dalam ayat tersebut. Fakhruddin ar-Razi menyebutkan ada beberapa makna yang maknanya saling mendekati.

Pertamawasath berarti adil. Makna ini didasarkan pada ayat-ayat yang semakna, hadis nabi, dan beberapa penjelasan dari sya’ir Arab mengenai makna ini. Berdasarkan riwayat Al-Qaffal dari Al-Tsauri dari Abu Sa’id Al-Khudry dari Nabi Saw. bahwa ummatan wasathan adalah umat yang adil.

Keduawasath berarti pilihan. Al-Râzi memilih makna ini dibandingkan dengan makna-makna lainnya, karena beberapa alasan antara lain: kata ini secara bahasa paling dekat dengan makna wasath dan paling sesuai dengan ayat yang semakna dengannya yaitu ayat, “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan ke tangah manusia…” (QS Ali Imrân [3]: 110).

Ketigawasath berarti yang paling baik.

Keempatwasath berarti orang-orang yang dalam beragama berada di tengah-tengah antara ifrâth (berlebih-lebihan hingga mengada-adakan yang bbaru dalam agama) dan tafrîth (mengurang-ngurangi ajaran agama). (Tafsîr Al-Rârî, Jil. II hal. 389-390).

Makna-makna di atas tidak bertentangan satu sama lain. Oleh sebab itu, Al-Sa’di menyimpulkan bahwa ummat wasath yang dimaksud adalah umat yang adil dan terpilih. Allah Subhanahu Wata’ala telah menjadikan umat ini pertengahan (wasath) dalam segala urusan agama (dibanding dengan agama-agama lain) seperti dalam hal kenabian, syari’at, dan lainnya.

Salah satu penjelasan dari umatan wasathan adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia. Sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam surat Ali Imron ayat 110:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”

Kemudian Allah mengutus dari sebaik-baik umat itu seorang Nabi yang paling baik dan paling pertengahan di antara mereka secara nasab dan tempat. Allah berfirman:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 128)

Ia juga dibekali dengan sebuah kitab pedoman yang paling mulia, guna meluruskan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Kandungannya menyeluruh tanpa cacat. Allah berfirman mengenai ini:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu…” (QS. Al-Maidah: 48).

Dengan mengikuti Rasulullah dan mengamalkan Al-Qur’an, kita senantiasa akan menjadi umat mulia dan umat pilihan. Sebagiamana telah dicontohkan oleh pendahulu kita, para sahabat, kemudian para tabi’in dan tabiut tabi’in. Mereka merupakan generasi unggulan dari umat ini karena selalu ber ittiba’ kepada Rasul dan mengamalkan apa yang terkandung dalam Al-Qur’an. Merekalah tiga generasi emas agama ini, sebagaimana yang di sabdakan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam:

“خيرُ أمَّتي قَرني، ثمَّ الذين يَلونهم، ثمَّ الذين يَلونهم”

“Sebaik-baik umatku adalah pada generasiku, kemudian yang mengikuti setelahnya dan setelahnya.”

Para salafus shalih, merupakan generasi terbaik dari umat ini kemudian dilanjutkan oleh generasi setelah mereka. Semakin kebelakang, kualitas umat ini semakin menurun. Sepeninggal Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam dan masa kepemimpinan khulafa’u rosyidin, di akhir kepemimpinan Ali bin Abi Thalib, mulai muncul banyak perpecahan dan perbedaan di antara kaum muslimin. Setelah perpecahan itu bermunculan, datanglah sekte-sekte melenceng yang mengusung bid’ah dan ghuluw seperti Khawarijj dan Syi’ah. Tidak bisa dipungkiri setelah itu persatuan umat semakin goyah disebabkan banyaknya paham-paham melenceng yang jauh dari sifat asli agama Islam sebagaimana yang telah digariskan oleh Nabi Muhammad, yaitu adil dan pertengahan.

BACA JUGA : Turun Ke Langit Dunia Di Akhir Malam Yang Sepertiga

Bila kita melihat realitas saat ini, kita akan melihat berapa banyak penyimpangan dan perpecahan yang jauh dari kesatuan umat. Kita dapati banyak sekali orang-orang yang berlebihan dalam menjalankan syariat dan ada juga yang jauh meremehkannya. Ketika melihat realitas yang menyakitkan ini, para pendakwah bergegas mencari solusi, menyetop arus kemungkaran ini guna menyelamatkan akidah umat dan mereka kembali berpegang teguh dengan ajaran yang sesuai kaidah.  Hari ini umat terbagi menjadi dua bagian, ada yang berlebihan dan sebagian yang lain justru sangat meremehkan. Satu ke barat satu ke timur. Mereka seperti apa yang dilakukan kaum dulu. Sejak itulah para du’at dan pemikir tentang umat mulai sedikit dan hilang. Dan akhirnya umat kehilangan jatidiri bahkan akidah mereka juga ikut tergerus. 

Diantara banyaknya umat yang semakin hari memburuk akidahnya, akan nampak jelas bahwa kebutuhan terhadap akidah sohihah dan manhaj yang lurus sangat diharapkan. Yang akan menggiring umat menuju shiratal mustaqim. Para salafus salaf mereka membuang jauh-jauh para pelaku ghuluw dari agama islam ini, begitu juga orang-orang yang malas beribadah (mufrith), dan para penyebar fitnah. Dengan begitu umat sangat membutuhkan petunjuk agar mereka mampu bertahan dari fitnah yang menghancurkan dan membuat sakit akidah umat. para duat (dai) mereka berperan penting untuk mengingatkan umat agar  memahami manhaj salaf yang benar dan jelas. Allah berfirman :

 

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia.” (QS. Al-An’am: 153).

Kebutuhan umat manhaj yang washatiyah sangat di tekankan mengingat fitnah ghuluw begitu cepat menyebar dan menjangkiti. Al quran sebagai petunjuk bagi manusia sudah menjelaskan semuanya, bagimana manhaj yang benar. Dalam aspek ibadah maupun muamalah, dalam amalan maupun perilaku dan dalam konteks ushul maupun furu’. Al quran menjelaskan bahwa washitiyah memiliki beberapa pembagian yang tiap-tiap dai harus mengetahuinya, diantaranya tentang ghuluw dan ifrath, jafa’ (enggan beramal) dan tafrith, dan yang terakahir mengenai shirathal mustaqim.

Siapa saja yang hendak mengetahui tentang washitiyah maka dia harus mengetahui beberapa perkara diatas. Shiratal mustaqim yaitu jalan pertengahan antara ghuluw dan enggan, atau antara ifrath dan tafrith, sebagaimana kebaikan maknanya sudah jelas. Shiratal mustaqim memilik dua hal yang menjadikannya washitiyah, yaitu khairiyah : kebaikan dan bayaniyah : kejelasan. Sebagaimana yang tertulis dalam Al qura’an, washitiyah mempunyai suatu corak atau ciri khusus yang terkandung. Yang menjadikan washitiyah berbeda dengan yang lain. Dan menjadikan umat ini berbeda dengan umat lainnya. Ciri khas washitiyah sudah di tetapkan berdasarkan nash-nash yang terkandung dalam Al qur’an.

Penetapan ciri khas washitiyah ini sangat penting bagi seorang muslim yang menyeru kepada manhaj salaf. Agar menutup kemungkinan terbukanya fitnah syahwat dan mengikuti hawa nafsu. Wasahatiyah begitu agung derajatnya dan mahal harganya, karena merupakan corak dari umat ini. Yang menjadikannya berbeda dari umat-umat yang lainnya. Allah juga telah mengkhususkan umat ini dengannya sebagia bentuk kemuliaan dan kelebihan. Allah berfirman :

ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Maidah: 54).

Turun Ke Langit Dunia Di Akhir Malam Yang Sepertiga

Rasul shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Rabb kita -Tabaaraka wa Ta’ala- turun di setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan berfirman: “Siapa yang berdo’a kepadaKu pasti Aku kabulkan dan siapa yang meminta kepadaKu pasti Aku penuhi dan siapa yang memohon ampun kepadaKu pasti Aku ampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nuzul (turun) termasuk dari sifat af’aliyah (sifat yang berkaitan dengan perbuatan) yang Allah akan berbuat demikian jika menghendaki. Wajib bagi setiap muslim untuk menetapkan sifat af’aliyah Allah berupa nuzul, dan Allah turun setiap malam pada seprtiga malam yang akhir. Ahlus sunnah wal jama’ah dalam masalah ini adalah tasbit  bila tamsil dan tanzih bila ta’thil. Maknanya, menetapkan sifat af’aliyah Allah yang nuzul tanpa menyerupakan turunnya Allah dengan turunnya makhluk dan mensucikan Allah Ta’ala dengan menetapakan secara hakiki tanpa memalingkan dengan makna yang menyimpang.

Sesat Dengan Mentamtsil Dan Menta’thil

Sifat nuzul ini sebagaimana sifat af’aliyah yang lain yang layak bagi Allah Azza wa Jalla bukanlah seperti turunnya makhluk, kita tidak mengetahui tata cara Allah turun, tetapi kita menetapkan sebagaimana khabar yang shahih dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, mengimaninya dan tidak mentakwilkan (menyelewengkan maknanya) dan tidak memisalkan turunnya Allah dengan turunnya makhluk.

Kelompok yang menyimpang dalam masalah ini adalah dengan mentakwilkan nuzulnya Allah dengan makna yang turun adalah perintahNya, bukan Allah Ta’ala’yang turun, ada juga yang metakwilkan yang turun adalah malaikat Allah. Hal ini tidaklah sejalan dengan hadits Rasulullah yang shahih yang menyatakan ketika Allah turun kelangit dunia, Allah berfirman : “Siapa yang berdo’a kepadaKu pasti Aku kabulkan dan siapa yang meminta kepadaKu pasti Aku penuhi dan siapa yang memohon ampun kepadaKu pasti Aku ampuni.”

Jika yang turun adalah perintah Allah atau malaikat Allah, maka sangatlah tidak layak bagi malaikat Allah dan perintah Allah berkata : siapa yang memohon ampun kepadaku maka aku ampuni, siapa yang meminta kepadaku maka akan aku beri. Maka ini adalah takwilan yang batil. Yang benar adalah bahwa Allah lah yang turun dan hanya Allah lah yang bisa mengampuni, memberi dan mengabulkan.

Kemudian ada juga yang memberikan syubhat kepada setiap muslim dengan perkataan : bagaimana mungkin Allah turun pada setiap malam, padahal di bumi yang kita huni ini ketika satu daerah mengalami malam maka akan di susul pada tempat-tempat yang lain, maknanya Allah terus menerus selalu turun.

Hal ini sangatlah mudah untuk di jawab, yaitu dengan jawaban bahwa Allah lah yang menciptakan langit dan bumi, menciptakan malam dan siang, akan tetapi Allah tidaklah terikat dengan hukum cipataanNya, berbeda dengan manusia yang diciptakan di dunia, maka ia akan tunduk dan terhukumi dengan hukum ciptaanNya yang berupa malam dan siang.

Mereka yang mempunyai pemikiran dan perkataan batil tersebut hendak menyamakan Allah dengan penciptaanNya yang mereka semua terhukumi dengan siang dan malam, Maha Suci Allah dari terhukumi oleh makhluknya, tapi Allah lah yang meliputi dan menguasai semua ciptaanNya termasuk siang dan malam.

BACA JUGA : Wajib Berjamaah Haram Berfirqah

Allah Ta’ala berfiman :

“Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui.” (QS. Al An’am : 18)

Maka kita katakan kepada setiap orang yang hendak merusak aqidah islam, dengan perkataan yang semisal dengan perkataan imam malik, an nuzulu ma’luum  wal kaifiyatu majhul (turunnya Allah adalah suatu yang maklum, dan tata caranya adalah suatu yang tidak mampu kita ketahui).

Sepertiga Malam Yang Akhir

Mengetahui aqidah yang benar dalam pembahasan Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang akhir, melazimkan seorang muslim untuk menindak lanjuti pemahamanya dengan amal shaleh. Yaitu menghidupkan malam dengan berdiri mengerjakan qiyamul lail, bedoa  dan memohon ampun kepada Allah Ta’ala.

Allah subhanahu wata’ala menciptakan langit berlapis-lapis, sebagaiman firmaNya :

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?” (QS. Nuh : 15)

Dan pada malam itu, Allah Subhanahu wata’la turun ke langit yang paling dekat dengan dunia, kemudian berfirman dalam hadits qudsi :

مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Siapa yang berdo’a kepadaKu pasti Aku kabulkan dan siapa yang meminta kepadaKu pasti Aku penuhi dan siapa yang memohon ampun kepadaKu pasti Aku ampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah waktu yang mustajab bagi setiap hamba yang mendamba keampunan, pemenuhan hajat dan permintaan rizki, dan siapakah yang tidak butuh ampunan Allah dan pengabulan doa?. Allah Ta’ala menerima taubat dan ampunan hamba pada setiap waktu, namun terdapat waktu dan keadaan khusus yang mustajab, diantaranya adalah sepertiga malam yang akhir, waktu di hari jum’at dan pada saat sujud di waktu shalat.

Agar terbantu untuk bangun malam Sebaiknya seorang muslim tidur lebih awal, dan ini adalah suatu hal yang harus dibiasakan, karena kemudahan bangun malam akan datang dengan pembiasaan setelah rahmat dari Allah kepadanya. Apalah keuntungan dari melebihkan jam tidur bagi muslim, yang ada adalah kerugian dan pengharaman terhadap kebaikan yang banyak atas dirinya sendiri.

Dengan bangun malam, maka seseorang dapat beristighfar di waktu sahur, karena istighfar di waktu sahur mempunyai kekhususan tersendiri, bahkan ini termasuk sifat hamba Allah yang bertaqwa, sebagaimana difirmankan Allah :

“Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.” (QS. Adz Dzariat : 17-18)

Cukuplah dengan keyakinan bahwa Allah turun kelangit dunia pada sepertiga malam yang akhir dan dua nash di atas menjadikan dirinya lebih semangat untuk menghidupkan malam-malamnya. Ya Rab..mudahkanlah kepada kami untuk bangun malam dan bermunajat kepadaMu.

Hadits Mutawatir

Hadits yang diriwayatkan imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah tentang turunnya Allah kelangit dunia pada sepertiga malam yang akhir merupakan hadits yang mutawatir, yaitu hadits yang banyak diriwayatkan oleh sahabat Nabi, dan sahabat Nabi adalah suatu masyarakat terbaik yang dipilih Allah untuk menemani Nabi dalam menyampaikan risalah Islam. Tidak mungkin mereka bersepakat untuk berbohong atas nama Nabi.

Mereka mempunyai hati yang terbaik setelah hatinya para Nabi dan Rusul. Sekian banyak sahabat yang meriwayatkan hadits ini, atau yang mendengar hadits ini tidak ada yang memahami sebagaimana para pengikut sesat yang mentamtsil dan menta’thilkan sifat af’aliyah Allah.

Wajib bagi setiap muslim untuk mengikuti pemaham para sahabat dan menjauhi kelompok-kelompok yang menyimpang dan menyesatkan, apalagi menjadi corong penyebar kesesatan, iyadzan billah. Selain berdosa atas perbuatannya, di tambah lagi dengan dosa orang yang mengikutinya, ini telah di sabdakan Nabi shallallahu’alaihi wasallam :

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk / kebenaran maka ia mendapat pahala seperti pahala-pahala orang yang mengerjakannya dengan tidak mengurangi pahala-pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka ia mendapat dosa seperti dosa-dosa orang yang mengerjakannya dengan tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun” (HR. Muslim)

Wara’, Tanda Kematangan Jiwa

Oleh Brilly El-Rasheed, S.Pd.

Nilai seseorang bergantung kematangan jiwanya. Jika jiwa yang bersemayam dalam dirinya sudah matang, tinggilah nilai dirinya. Kematangan jiwa tidak diukur dari sekedar kerapian, ketelitian, kewaspadaan dan ketenangan semata. Kematangan jiwa diukur dari kemampuan bersikap wara’. Secara sederhana, wara’ adalah sikap mental yang menghambat dari tindakan maksiat. Secara kompleks, wara’ adalah kemampuan memilah sikap-sikap yang harus diambil dan tidak dengan berlandaskan pada khasy-yah dan khauf kepada Allah Al-Hamid dengan harapan bisa terbebas dari potensi maksiat yang disadari atau tidak.

Tanpa wara’, kita akan mudah terperangkap bujuk rayu syaithan. Tanpa wara’, kita akan mudah terjerat nafsu syahwat. Tanpa wara’, kita akan mudah terperosok dalam jurang maksiat. Tanpa wara’, kita menjadi sangat jauh dari kedewasaan. Tanpa wara’, semua aturan Allah Al-‘Alim menjadi sangat terasa berat dan menyusahkan. Tanpa wara’, kita menjadi sangat sulit mengambil sikap bahkan cenderung salah sikap.

Rasulullah pernah menyampaikan nasehat berharga pada Abu Hurairah,

يَا أَبَا هُرَيْرَةَ كُنْ وَرِعًا تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ وَكُنْ قَنِعًا تَكُنْ أَشْكَرَ النَّاسِ وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا وَأَحَسِنْ جِوَارَ مَنْ جَاوَرَكَ تَكُنْ مُسْلِمًا وَأَقِلَّ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

“Wahai Abu Hurairah, jadilah orang yang wara’, maka engkau akan menjadi sebaik-baiknya ahli ibadah. Jadilah orang yang qana’ah (selalu merasa cukup dengan pemberian Allah), maka engkau akan menjadi orang yang benar-benar bersyukur. Sukailah sesuatu pada manusia sebagaimana engkau suka jika ia ada pada dirimu sendiri, maka engkau akan menjadi seorang mu`min yang baik. Berbuat baiklah pada tetanggamu, maka engkau akan menjadi muslim sejati. Kurangilah banyak tertawa karena banyak tertawa dapat mematikan qalbu.” [Sunan Ibnu Majah no. 4217] Nasehat Rasulullah ini bukan hanya untuk Abu Hurairah, tapi untuk kita semua.

Wara’ bersumber dari malu (haya`), bukan gengsi (‘ujub) dan bukan pula minder (khajal). Pemilik wara’ merasa dirinya tidak pantas merespon sesuatu secara tidak terhormat. Kehormatan bagi pemilik wara’ seumpama permata. Bukan kehormatan dalam standar manusia biasa, tapi kehormatan dalam konsep Al-Qur`an dan As-Sunnah. Wara’ juga berasal dari hilm, ta`anni, sabar dan taqwa.

Ciri mendasar pada seseorang yang bersifat wara’ adalah kemampuannya meninggalkan sesuatu yang hanya semata-mata mengandung keraguan (wahm) atau syubhat, seperti yang dikatakan oleh Al-Khaththabi, “Semua yang engkau merasa ragu padanya, maka sifat wara’ adalah menjauhinya.” [Fat-h Al-Bari 4/293]

Tak ayal, karakter wara’ sulit dimiliki orang-orang yang terbiasa berperilaku sembrono (tasahhul) dan mengabaikan sinyal-sinyal nurani. Nurani yang masih bersih dan terjaga tetap jernih memperingan kerja otak dalam menilai dan mengambil sikap.

Nurani yang diacuhkan akan kehilangan powernya sehingga manusia berubah bak satwa pemangsa segala. Maka, tuntunan Islam bagi kita untuk mencapai kehormatan yang tinggi dan martabat yang mulia adalah hendaknya kita sangat peka terhadap keputusan nurani yang sejuk dan tunduk. Kita tidak berhak mengesampingkan fungsi nurani karena nuranilah yang membantu kita bersikap wara’ dan kita pun menjadi pribadi yang berjiwa matang.

Rasulullah bersabda,

البِرُّ مَا سَكَنَتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَاْلإِثْمُ مَالَمْ تَسْكُنْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَلَمْ يَطْمَئِنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ –وَإِنْ أَفْتَاكَ الْمُفْتُوْنَ

“Kebaikan adalah sesuatu yang jiwa merasa tenang dan qalbu merasa tenteram kepadanya, sedangkan dosa adalah sesuatu yang jiwa tidak merasa tenang dan qalbu tidak merasa tenteram kepadanya, sekalipun orang-orang yang terfitnah memberikan berbagai komentar kepadamu.” [Shahih Al-Jami’ no. 2881]

Oleh karena itulah, dikatakan oleh Dr. Mahmud Al-Khazandar dalam Hadzihi Akhlaquna, diantara tanda yang mendasar bagi orang-orang yang wara’ adalah kehati-hatian mereka yang luar biasa dari sesuatu yang haram dan tidak adanya keberanian mereka untuk maju kepada sesuatu yang bisa membawa kepada yang haram. Dan dalam hal itu, Rasulullah bersabda,

إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَيَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ, فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدْ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ.

“Sesungguhnya yang halal dan yang haram itu jelas. Dan di antara keduanya banyak hal-hal syubhat yang kebanyakan orang tidak mengetahuinya. Barangsiapa yang menjaga diri dari hal-hal yang syubhat maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya.” [Shahih Al-Bukhari no. 52; Shahih Muslim no. 1599]

Dan barangsiapa yang bertindak berani di tempat-tempat yang diragukan, niscaya bertambahlah keberaniannya terhadap sesuatu yang lebih berat (yaitu dosa)… Orang-orang yang memiliki kedudukan yang tinggi selalu bersikap preventif untuk diri mereka sendiri dengan berhati-hati dari sebagian yang halal yang bisa membawa kepada sesuatu yang makruh atau haram. Diriwayatkan dari Rasulullah, beliau bersabda,

لاَيَبْلُغُ الْعَبْدُ أَنْ يَكُوْنَ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ حَتَّى يَدَعَ مَالاَبَأْسَ بِهِ حَذَرًا مِمَّا بِهِ بَأْسٌ

“Seorang hamba tidak bisa mencapai derajat taqwa sehingga dia meninggalkan yang tidak dilarang karena khawatir dari sesuatu yang dilarang.” [Jami’ At-Tirmidzi]…

Dan diantara hasil yang nampak bagi sikap wara’ bahwa ia memelihara pelakunya dari terjerumus (dalam hal yang dilarang), karena itulah engkau menemukan, barangsiapa yang melakukan yang dilarang, ia menjadi gelap hati karena tidak ada cahaya wara’, maka ia terjerumus dalam hal yang haram, kendati ia tidak memilih untuk terjerumus padanya.

Rasulullah bersabda,

خَيْرُ دِيْنِكُمْ الوَرَعُ

“Dan sebaik-baik agama kalian adalah wara’.” [Al-Mu’jam Al-Ausath li Ath-Thabrani. Shahih Al-Jami’ no. 3308]

Ibnu Hajar berkata, “…barangsiapa yang tidak menjaga diri dari yang syubhat dalam usaha dan kehidupannya, berarti ia telah menawarkan dirinya untuk mendapat celaan. Dan dalam hal ini menjadi isyarat untuk memelihara perkara-perkara agama dan menjaga muru’ah (kehormatan).” Maka sesungguhnya banyak para sahabat yang takut dari sifat nifaq terhadap diri mereka, dan Ibnu Hajar menyebutkan alasannya, “Rasa takut mereka dari sifat nifaq tidak  berarti adanya sifat itu pada diri mereka, bahkan hal itu merupakan sikap wara’ dan taqwa yang luar biasa dari mereka.”

Karakter wara’ baru akan terinstall dalam qalbu dan tabiat kita apabila kita benar-benar melatihnya. Kebiasaan mempraktekkan sikap wara’ menjadi syarat wajib bagi siapa yang sedang mendaki tebing taubat. Para tabiin saja membutuhkan waktu selama 40 tahun dalam meninggalkan dosa. Hal ini disampaikan Ibnu Rajab sebagaimana yang dikatakan sebagian tabi’in, “Aku meninggalkan dosa selama 40 tahun lamanya. Akhirnya, aku mendapati sifat wara.” [Fat-h Al-Bari, 1/51]

Di samping itu doa sebagai penjamin keberhasilan usaha tersebut. Rasanya, latihan dan doa bukan hal yang berat bagi ahli ibadah. Dengan wara’lah, kualitas taqwa semakin meningkat, dan dosa semakin terhambat.

Jangankan nifaq, jangankan zindiq, jangankan syirik, jangankan kufuq, mereka yang wara’ lebih terbentengi dari maksiat-maksiat kecil. Karena wara’ adalah benteng, seumpama puasa. Dan wara’ sekaligus menjadi bahan bakar para ‘abid (ahli ibadah). Berbeda dengan badzadzah (bersahaja), zuhud, dan qana’ah yang mirip dengan wara’ namun ketiganya lebih bersifat protektif semata sementara wara’ bersifat proaktif. Lebih dari itu, orang yang wara’ mudah terhindar dari hal-hal mubah yang mengarah kepada hal sia-sia yang bermuatan haram dan kerap berbalur tana’’um (hedonisme).

Ibnul Qayyim menjelaskan,

“Nabi telah menghimpun makna wara’ dalam satu kalimat yaitu dalam sabda beliau, “Diantara tanda kebaikan Islam seseorang yaitu meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” Hadits ini dimaksudkan untuk meninggalkan hal yang tidak bermanfaat yaitu mencakup perkataan, pandangan, mendengar, bertindak anarkis, berjalan, berpikir, dan aktivitas lainnya baik lahir maupun batin. Hadits tersebut sudah mencukupi untuk memahami arti wara’.”

Ibrahim bin Adham berkata,

“Wara’ adalah meninggalkan setiap perkara syubhat (yang masih samar), termasuk pula meninggalkan hal yang tidak bermanfaat untukmu, yang dimaksud adalah meninggalkan perkara mubah yang berlebihan.” [Madarij As-Salikin, 2/21]

Kedewasaan semakin bersinar semenjak wara’ terpancar dan berpendar. Wara’ bukan kebutuhan ahli ibadah saja. Wara’ juga sangat dibutuhkan para eksekutif, para legislator, para entrepreneur, para edukator dan lain sebagainya sebagai motor menuju puncak kesuksesan.

Percaya Adanya “ Penampakan Hantu ”, Syirikkah?

“ Penampakan hantu ” di sini maksudnya seseorang melihat jin dengan mata kepala dan dalam kondisi sadar. Adapun hantu yang dimaksud adalah jin yang menampakkan diri dalam wujud yang menakutkan. Muncullah kontroversi, sebagian percaya karena telah mengalami, sementara sebagian lain tidak percaya karena belum mengalami. Orang yang telah melihat penampakan pun, ada yang tetap tidak percaya dan meyakini bahwa penampakan yang ia lihat hanyalah ilusi belaka. Bahkan ada sebagian kelompk yang menyatakan bahwa jin itu tidak ada, setan hanyalah watak dan hasrat buruk manusia.

Menjawab hal ini, ada beberapa poin yang perlu dijelaskan.

Pertama mengenai keberadaan jin. Mengimani adanya jin merupakan bagian dari keimanan kepada al Quran dan as Sunah. Al Quran telah menegaskan bahwa Allah telah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada Allah.

“”Dan tidaklah aku ciptkan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat: 56)

Percaya Adanya “ Penampakan Hantu ”

Meyakini bahwa setan dan jin hanyalah sifat tidak sesuai dengan pemahaman ayat di atas. Dalam ayat di atas, jin dan manusia disebut sebagai dua buah objek (makhluk) yang diciptakan Allah (khalaqtu) dengan tujuan yang jelas: beribadah. Jika jin dan setan hanyalah sifat atau karakter buruk manusia, penyebutan jin dalam ayat akan kehilangan makna. Penyebabnya, karakter yang diciptakan Allah bersama manusia tidak hanya yang karakter jahat, tapi juga karakter baik. Dan, karakter atau sifat atau nafsu manusia tidak dibebani dengan ibadah karena merupakan bagian dari manusia. Manusia secara utuhlah yang dibebani ibadah.

Jika jin hanya dipahami sebagai sifat, maka ayat itu akan bermakna, “Dan tidaklah aku ciptakan manusia dan sifat buruknya, melainkan keduanya harus beribadah kepada-Ku.” Bagaimana sifat buruk akan beribadah? Bukankah saat manusia melaksanakan ibadah dengan baik, sifat buruk tidak sedang bersamanya? Pemaham ini sangatlah rancu dan tidak masuk akal. Dan masih banyak ayat-ayat lain yang menjelaskan eksistensi jin sebagai makhluk

Jadi, jin itu ada. Jin adalah makhluk Allah yang diciptakan dari unsur api. Hidup di dimensi lain yang berbeda dari manusia. Manusia tidak bisa melihat, namun dua dimensi ini tetap memiliki simpul hubungan. Bisa saling berinteraksi dan memengaruhi. Hal ini bisa kita ketahui melalui hadits-hadits Rasulullah misalnya hadits tentang larangan menyiram dengan air panas atau buang air sembarangan di suatu lubang karena bisa jadi itu tempat tinggal jin. Perintah menutup pintu saat maghrib dan menutup bejana karena saat sore hari setan berkeliaran. Menyisakan tulang saat makan daging sebagai bekal jin muslim dan beberapa hadits lain. Ini menunjukkan bahwa dunia manusia dapat memengaruhi dimensi dunia jin dan sebaliknya.

Kedua mengenai adakah jin bisa menampakkan diri? Bukankah Allah berfirman, “Sesungguhnya ia (jin) dan pengikutnya melihat kamu (manusia) dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka (Q.S. Al-A’raaf : 27)?

Jin Sama Sekali Tidak Dapat Menampakkan Wujud

Sebagian ulama madzhab Dzahiri menyatakan bahwa jin sama sekali tidak bisa menampakkan wujud kepada manusia. mam Al-Qusyairi menyatakan, “Allah SWT sudah menetapkan (mengikut hukum alam) bahwa anak cucu Adam tidak akan dapat melihat syaitan di dunia.” An Nuhhas berkata : Jin itu tidak bisa dilihat kecuali pada masa Nabi saja sebagai bentuk pemuliaan masa Nabi. Ibnu Hazm Azh-Zhahiri (Aliran zhahiriyah yang menerjemahkan ayat secara arti zhohirnya) berkata : Kalau Allah memberitakan kepada kita bahwa kita tidak dapat melihatnya maka barang siapa mengklaim diri telah melihat mereka, maka dia telah berdusta, kecuali dia seorang nabi sebab para nabi melihat jin adalah sebagai mukjizat (Al Fishal fo Al Milal wa An Nihal Juz V/12).

Namun demikian, beberapa dalil lain menjelaskan bahwa jin bisa dilihat dengan mata kepala. Yaitu jika jin menampakkan diri kepada manusia. Jin menyamakan dimensinya dengan dimensi manusia sehingga mata bisa melihat pantulan cahaya dari tubuh (objek) jin. Ada bberapa dalil dari hadits yang menyatakan bahwa para shahabat bisa menyaksikan penampakan jin.

Dari Abu SA’id Al Khudri Rasulullah SAW melaksanakan shalat subuh dan Abu Sa’id bermakmum di belakang Beliau. Tiba-tiba bacaan Beliau keliru. Sesudah selesai melaksanakan shalat Beliau berkata : “Kalau engkau bisa melihat aku dengan Iblis, maka dia (Iblis) menarik-narik lenganku. Aku terus  menerus mencekiknya sampai aku dapat menjadikan permainan di antara jari-jariku ini (ketika Beliau mengatakan ini Nabi mengisyaratkan dengan ibu jari dan jari telunjuknya). Kalaulah aku tidak ingat doa saudaraku Sulaiman niscaya Iblis itu akan tetap terikat di salah satu pagar masjid untuk dijadikan mainan anak-anak kota Madinah.…”  (H.R. Ahmad).

Jika Nabi SAW mau, iblis tersebut kan diikat di tiang masjid dan bisa dijadikan mainan anak-anak. Artinya bisa dilihat bahkan disentuh. Dalam hadits tersebut pun, Rasulullah bisa menyentuh dan mencekik Iblis.

Utsman bin al-Ash pernah datang ke pada Rasulullah Saw sambil berkata: “Ya Rasulullah,sesungguhnya syaithan telah menghalang-halangi antara saya dengan shalat dan membaca (al-Qur’an) saya, dengan cara menjelma dalam wujud Ali”. Mendengar hal itu Rasulullah SAW bersabda: “Syaithan yang mengganggu kamu itu bernama Khinzib. Apabila kamu merasakan datangnya, maka berlindunglah kepada Allah dari godaannya dan meludahlah ke sebelah kiri sebanyak tiga kali”. Utsman berkata: “Lalu aku melaksanakan petunjuk Rasulullah Saw tadi, sehingga Allah mengusir syaithan itu dari saya” (H.R. Muslim).

Demikian pul hadits panjang yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya nomor 2311. Dikisahkan bahwa Abu Hurairah menangkap jin yang hendak mencuri harta zakat lalu dilepaskan. Kejadian itu berulang tiga kali. Dan pada kali ketiga, Abu Hurairah tak mau melepaskan hingga setan tersebut mengatakan satu rahasia kepadanya  gar jika hendak tidur hendaknya membac ayat kursi. Dengan bacaan itu, manusia tidak akan diganggu selama tidurnya. Abu Hurairah melepaskan dan melaporkan kejadian itu kepada Rasulullah. Rasulullah membenarkan dan mengatakan bahwa setan itu berkata jujur saat itu meski dia adalah pendusta.

Selain itu, fakta-fakta bahwa banyak orang telah melihat penampakan hantu baik dengan mata telanjang maupun melalui kamera bisa menjadi pendukung keberadaan jin dan kemampuan mereka menampakkan diri. Tidak semua kisah penampakan jin benar, sebagian hanyalah kisah fiktif untuk membuat sensasi. Namun ‘ala kulli hal, sebagai seorang mukmin kita wajib percaya adanya makhluk bernama jin. Kita juga wajib percaya bahwa dunia mereka memiliki persinggungan dengan dunia manusia. Mereka juga memiliki kemampuan menampakkan diri. Semua itu didasarkan pada hadits-hadits yang shahih.

Alasan mereka menampakkan diri bisa jadi karena ingin mendapatkan penghormatan dari manusia. Dengan menampakkan diri, sebagian manusia akan takut bahkan ada yang takutnya menjerumuskannya ke dalam syirik. Percaya adanya jin dan kemampuannya menampakan diri adalah bagian dari iman. Sementara takut kepada jin dan melakukan perbuatan syirik berupa menyembah jin dengan sesaji dan lain lain adalah perbuatan yang bisa merusak keimanan.

Jadi, percaya akan adanya penampakan jin atau biasa disebut hantu merupakan bagian dari iman. Sebaliknya, tidak percaya adanya jin merupakan kekufuran terhadap ayat dan hadits tentang hal tersebut. Soal bagaimana menyikapi adanya penampakan, hendaknya kita berlindung kepada Allah, membaca ayat kursi dan bertawakkal kepada-Nya.

baca juga: Mental Syirik

Satu hal sebagai catatan, hantu adalah jin yang menampakkan diri, bukan arwah leluhur. Arwah manusia setelah mati berada di alam kubur. Sebagian mendapat nikmat dan sebagian lagi disiksa malaikat. Tidak ada yang dibiarkan gentayangan. Wallahua’lam. (taufikanwar)

 

# penampakan hantu # penampakan hantnu # penampakan hantu # penampakan hantu

 

Al-Ahad Yang Maha Esa

Syarah Sullamul Wushul Seri 04

oleh: Abu Zufar Mujtaba

الأحَدُ الفَرْدُ الْقَدِيرُ الأزَليّ الصَّمَدُ الْبَرُّ الْمُهَيْمِنُ العَلِيّ

(Allah adalah) al-Ahad, al-Fard, al-Qadir, ash-Shamad, al-Barr, al-Muhaimin, dan al-‘Ali.

 

Nazham yang kita bahas pada edisi ini masih berkenaan dengan nama-nama Allah, al-Asma`ul Husna. Ada 8 nama yang dibahas pada nazham kali ini. Kedelapan nama itu adalah al-Ahad (Yang Esa), al-Fard (Yang Tunggal), al-Qadir (Mahakuasa), ash-Shamad (Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya), al-Barr (yang Mahabaik), al-Muhaimin (Yang Memelihara), dan al-‘Ali (Yang Maha Tinggi). Insya Allah kita akan memakrifahinya satu demi satu.

 

Al-Ahad

Nama al-Ahad atau dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan dengan Yang Maha Esa termasuk nama Allah yang paling sering kita sebut dan kita kenal sejak kanak-kanak. Tidak ada anak SD yang mendapatkan tarbiyah Islam yang baik yang tidak hapal surat al-Ikhlash. Nama al-Ahad disebut oleh Allah dalam surat al-Ikhlash ayat yang pertama.

“Katakanlah (hai Muhamad), ‘Dialah Allah al-Ahad (Yang Maha Esa).’.” (QS. Al-Ikhlash: 1)

Dan tidak ada penyebutan di surat yang lain.

Selain nama al-Ahad, ada nama Allah lain yang maknanya berdekatan dengan nama al-Ahad ini. Yakni nama al-Wahid yang berarti Yang Satu. Jika al-Ahad disebut hanya pada satu ayat al-Quran, al-Wahid disebut pada lebih dari 15 ayat al-Quran yang mengabarkan nama dan sifat Allah. Yaitu:

“Hai kedua penghuni penjara, manakah yang lebih baik, tuhan-tuhan yang disembah bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Satu lagi Maha Perkasa?” (QS. Yusuf: 39)

“Katakanlah, ‘Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Yang Satu lagi Maha Perkasa.’.” (QS. Ar-Ra’du: 16)

“Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah Yang Satu lagi Maha Perkasa.” (QS. Ibrahim: 48)

“Dan sekali-kali tidak ada yang berhak disembah selain Allah Yang Satu dan Maha Mengalahkan.” (QS. Shad: 65)

“Maha Suci Allah. Dia-lah Allah Yang Satu lagi Maha Mengalahkan.” (QS. Az-Zumar: 4)

“(Lalu Allah berfirman), ‘Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?’ Kepunyaan Allah Yang Satu lagi Maha Mengalahkan.” (QS. Al-Mukmin: 16)

“Dan ilah kalian adalah Ilah yang satu; tidak ada yang berhak diibadahi selain Dia, yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 163)

“Sesungguhnya ilahmu adalah Satu, Rabbnya langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dan Rabbnya tempat-tempat terbit matahari.” (Ash-Shaffat: 4-5)

Makna al-Ahad dan al-Wahid

Dua nama Allah: al-Ahad dan al-Wahid sama-sama menunjukkan ke-Esaan-Nya. Maksudnya hanya Allah sajalah yang memiliki sifat mulia, agung , besar dan bagus. Tidak ada yang mirip dengan-Nya dan tidak ada yang menyerupai sifat-Nya. Tidak ada sekutu dan pembantu dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Allah satu-satunya ilah yang berhak untuk diibadahi, tidak boleh dipersekutukan dalam hal cinta dan pengagungan. Sikap merendahkan diri dan tunduk hanya kepada-Nya saja. Dialah Allah, Dzat yang agung sifat-Nya, sehingga hanya Dia yang layak untuk menyandang segala kesempurnaan. Tidak ada satu makhluk pun yang mengetahui sifat Allah atau sebagian dari sifat-Nya dengan sempurna. Maka, tak mungkin seseorang akan dapat menyerupai sebagian dari sifat-Nya.

Kewajiban setiap hamba yang mengetahui semua itu adalah mentauhidkan Allah, baik dengan keyakinan, perkataan maupun perbuatan. Hendaknya mengakui pula keutamaan dan ke-Esaan Allah yang mutlak serta mentauhidkan-Nya dalam semua bentuk peribadatan.

Allah Maha Tunggal dalam Rububiyyah-Nya, sehingga tiada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya, tidak ada yang dapat melawan dan mengalahkan-Nya. Dia Maha Tunggal dalam Dzat, nama, dan sifat-sifat-Nya. Tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya. Dia Maha Tunggal dalam Uluhiyah-Nya sehingga tiada sesuatu pun yang berhak diibadahi kecuali Dia, dan tidak ada yang berhak mendapatkan ibadah kecuali Dia.

 

BACA JUGA: Al-Barr Yang Maha Baik

 

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata, “Al-Ahad yakni yang menyendiri dengan segala kesempurnaan, keagungan, kebesaran, keindahan, pujian, hikmah, rahmat dan selainnya dari sifat-sifat kesempurnaan. Sehingga tidak ada yang menyerupai dan menyamai-Nya dalam satu sisi pun dari sisi-sisi yang ada. Maka Dia Yang Maha Tunggal dalam kehidupan-Nya, sifat qayyumiyah-Nya, ilmu-Nya, kekuatan-Nya, kebesaran-nya, keindahan-Nya, pujian terhadap-Nya, hikmah-Nya, rahmah-Nya, dan sifat-sifat lain. Dia memiliki sifat-sifat itu pada puncak kesempurnaan.”

Al-Baihaqi berkata, “Al-Wahid artinya Yang Maha Tunggal atau Esa, yang tetap menyendiri dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dikatakan pula artinya yang tidak terbagi dalam Dzat-Nya, tidak ada yang menyerupainya dan tiada sekutu bagi-Nya. Dan ini merupakan sifat yang dengan Dzat-Nya Allah berhak memilikinya.”

 

Hikmah Penetapan Dua Nama

Dengan mengakui dan menetapkan dua nama Allah: al-Ahad dan al-Wahid, maka kita telah meyakini beberapa hal penting berikut:

  1. Bahwa tidak ada yang menyamai dan menandingi Allah, serta tidak ada yang setara dengan-Nya dalam segala segi. Allah Maha Suci dan Maha Tinggi, tidak ada yang menyamai-Nya dan tidak ada pula yang manandingi-Nya.

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

  1. Batilnya pemahaman takyif yaitu, usaha seseorang dengan akalnya yang lemah untuk mengetahui bagaimana sifat-sifat Allah. Usaha semacam itu tidak mungkin bisa terwujud. Sebab Allah adalah satu-satu-Nya yang memiliki sifat sempurna, agung dan mulia, maka tidak ada satu dzat pun yang bisa menjadi serikat-Nya, tidak ada yang dapat menyerupai-Nya.
  2. Penetapan seluruh sifat Allah yang sempurna, tidak ada satu sifat yang menunjukkan kemuliaan dan keindahan melainkan sifat tersebut telah dimiliki Allah.
  3. Bahwa semua sifat yang Allah miliki merupakan sifat-sifat paling agung yang berada pada puncak keagungan. Allah berfirman, “Dan bahwasanya kepada Rabbmulah puncak (segala sesuatu).” (QS. An-Najm: 42)
  4. Allah Mahasuci dari segala kekurangan dan aib. Karena kekurangan dan aib merupakan sifat para makhluk, sementara Allah adalah Dzat yang memiliki sifat sempurna, agung dan mulia tanpa ada satu makhluk pun yang semisal dengan-Nya.
  5. Wajibnya berikrar (menyatakan) bahwa Allah memiliki kesempurnaan sifat yang mutlak, baik dalam Dzat, sifat-sifat maupun perbuatan-perbuatan-Nya. Dan keyakinan itu hendaknya tertanam dalam hati.
  6. Wajibnya meng-Esakan Allah dan ikhlas dalam beribadah, serta meyakini bahwa Allah satu-satunya Pencipta dan Pemberi rizki yang dapat memberi maupun menahannya, dapat merendahkan serta mengangkat derajat hamba-Nya, dan dapat menghidupkan serta mematikan. Oleh karena itu wajib meng-Esakan Allah dalam semua sisi peribadatan.
  7. Ini merupakan bantahan terhadap orang-orang musyrik dan semua aliran sesat yang sama sekali tidak menghormati dan mengagungkan Allah dengan penghormatan dan pengagungan yang semestinya. Mereka yang tidak mengakui ke-Esaan, sehingga mereka membuat sekutu-sekutu bagi Allah, membuat perumpamaan-perumpamaan bagi Allah, berburuk sangka kepada Allah, mencela serta meremehkan Rububiyah Allah dan melakukan pelanggaran terhadap tujuan diciptakannya manusia; yaitu mentauhidkan (mengesakan) Allah, tunduk dan patuh dengan melaksanakan semua peribadatan kepada Allah.

 

Al-Fard

Nama al-Fardu yang berarti Yang Maha Tunggal disebut oleh al-Qurthubi dalam al-Asna fi Syarhi Asma`illahi al-Husna, hal 138-141. Dasarnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bayhaqiy yang beliau muat dalam kitab al-Asma` wash Shifat, halaman 116. Hanya, hadits tersebut tidak shahih.

Lantaran penetapan nama dan sifat Allah bersifat tauqifiy, maka lebih baik kita tidak memasukkan al-Fardu ke dalam nama-nama Allah. [Bersambung, insya Allah]

 

 

dibuka peluang menjadi agen dikota anda,
info dan pemesanan majalah islam Arrisalah
hubungi:

Tlp: 0813-9103-3330 (klik untuk chat)

facebook: @majalah.arrisalah

Instagram: majalah_arrisalah

Website: arrisalah.net

Allah Yang Pertama dan Yang Terakhir

Syarah Sullamul Wushul Seri 03

oleh: Abu Zufar Mujtaba

 

الأوَّلُ الْمُبدِي بِلاَ ابْتِدَاءِ والآخِرُ الْبَاقِي بِلاَ انْتِهَاءِ

(Allah adalah) al-Awwal, al-Mubdi tanpa permulaan… Al-Akhir, al-Baqi tanpa berakhir

 

Pada edisi yang lalu, kita telah dikenalkan oleh Syaikh Hafizh Ahmad al-Hakami tentang nama-nama Allah yang maknanya berdekatan, seputar penciptaan. Kita sudah dikenalkan dengan nama al-Khaliq, al-Bari, dan al-Mushawwir. Pada nazham berikutnya ini, kita dikenalkan dengan nama-nama Allah yang secara makna menunjukkan keazalian dan keabadian Allah. Nama itu adalah al-Awwal dan al-Akhir.

 

Al-Awwal dan al-Akhir

Al-Awwal berarti yang tidak didahului oleh apapun, sedangkan al-Akhir berarti yang terakhir, yang tidak ada sesuatu pun setelahnya. Allah memang sudah ada sejak zaman azali dan akan ada abadi selamanya. Allah tidak akan tiada dan tidak akan binasa. Sementara yang lain hanyalah makhluk dan hamba-Nya. Allah menciptakan mereka dari tiada, dan mereka pun mengalami rusak-binasa.

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (الحديد:3)

“Dialah al-Awwal (Yang Pertama), al-Akhir (Yang Terakhir), azh-Zhahir (Yang paling Tampak), al-Bathin (Yang paling Tersembunyi) dan Dia Mahatahu atas segala sesuatu.” (QS. Al-Hadid: 4)

Al-Khaththabi berkata, “Al-Awwal berarti yang mendahului segala sesuatu, yang ada dan sudah ada sebelum adanya makhluk. Karena keberadaan-Nya itu Dia berhak menyandang predikat pertama yang tidak didahului atau dibarengi oleh apapun. Sedangkan al-Akhir berarti yang tersisa setelah kebinasaan semua makhluk. Makna al-Akhir bukan berarti sesuatu yang punya titik akhir, seperti halnya makna al-Awwal yang bukan berarti sesuatu yang punya titik permulaan.” (Sya`nud Dunya, 87)

Sedangkan menurut al-Bayhaqi, “Al-Awwal berarti yang keberadaannya tidak ada permulaannya. Sedangkan al-Akhir berarti yang keberadaannya tidak ada akhirnya.” (Al-Iqtida`: 63)

Menurut az-Zajjaj, “Allah adalah yang awal, karena memang Dia ada sebelum segala sesuatu. Allah adalah yang awal, karena tidak didahului oleh apapun. Dan Allah adalah yang terakhir, karena hanya Dia yang tersisa saat segalanya telah binasa.” (Isytiqaqu Asma`illaahil Husna, 355)

Menurut Ibnu Jarir ath-Thabari, “Dia adalah yang awal sebelum segala sesuatu, sebelum tanpa permulaan; dan yang terakhir setelah binasanya segala sesuatu, terakhir dengan tanpa penghujung. Mengapa demikian? Karena Dia sudah ada sebelumnya, tidak ada sesuatu pun yang lain, dan tetap ada setelah kebinasaan segala sesuatu. Dia berfirman, ‘Tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali Allah.’ (QS. Al-Qashash: 88)” (Tafsir ath-Thabariy, 27/215)

 

Al-Mubdi`

Al-Mubdi` berasal dari kata abda`a yang berarti memulai. Al-Mubdi` berarti Yang Memulai. Syaikh Hafizh memaksudkan al-Mubdi` di sini adalah yang memulai penciptaan seluruh makhluk dan kemudian mengembalikannya. Beliau menyatakan hal itu dengan bersandar pada:

Katakanlah, “Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali?” Katakanlah, “Allah-lah yang memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali; maka bagaimanakah kamu dipalingkan (kepada menyembah yang selain Allah)?” (QS. Yunus: 34)

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Katakanlah, “Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi.” Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. al-’Ankabut: 19-20)

 

Penciptaan Alam

Dalam al-Quran, Allah memberikan keterangan tentang proses penciptaan alam semesta secara global dan memerinci pada beberapa bagiannya. Bagi seorang muslim, mencukupkan diri dengan keterangan dari Allah, baik yang global maupun yang rinci, tanpa menggali yang lebih rinci sudah cukup.

Allah berfirman, “Aku tidak menghadirkan mereka untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri (QS. al-Kahfi: 51)

Secara global Allah menegaskan bahwa Dia menciptakan langit dan bumi selama 6 hari. Allah tegaskan hal ini di 7 ayat dalam al-Quran. Di antaranya,

“Sesugguhnya Rabb kalian, yaitu Allah, Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam 6 hari, kemudian Dia beristiwa` di atas Arsy.” (QS. al-A’raf: 54).

“Sungguh Aku telah menciptakan langit dan bumi serta segala yang ada di antara keduanya dalam 6 hari, dan Aku tidak merasa capek.” (QS. Qaf: 38).

Keterangan lainnya Allah sebutkan di surat Yunus: 3, Hud: 7, al-Furqan: 59, as-Sajdah: 4, dan al-Hadid: 4.

Secara rinci, Allah juga memberikan penjelasan. Dia berfirman,

“Katakanlah, ‘Sungguh, patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua hari dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam. Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan penghuninya dalam empat hari. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, ‘Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.’ Keduanya menjawab, ‘Kami datang dengan suka hati.’ Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua hari. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya.’ Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS. Fushilat:9-12).

Karena itulah ulama berbeda pendapat dalam memahami kata ‘hari’ terkait proses penciptaan alam semesta. Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan perbedaan pendapat ulama tentang makna ‘hari’ dalam ayat di atas. Beliau menyatakan ada dua pendapat ulama tentang makna kata ‘hari’ terkait penciptaan langit dan bumi.

Pendapat Pertama, maknanya sebagaimana makna hari yang dikenal manusia, dimulai sejak terbit matahari hingga terbenamnya matahari. Pendapat Kedua, bahwa satu hari dalam proses penciptaan alam semesta itu seperti 1000 tahun dalam perhitungan manusia. Ini merupakan pendapat yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, Mujahid, adh-Dhahak, Ka’ab al-Ahbar, dan pendapat yang dipilih oleh Imam Ahmad sebagaimana keterangan beliau dalam ar-Radd ‘ala al-Jahmiyah. Pendapat ini pula yang dinilai kuat oleh Ibnu Jarir at-Thabari. (al-Bidayah wa an-Nihayah, 1/15).

Di antara ulama yang berpendapat bahwa satu hari sama dengan seribu tahun adalah al-Qurthubi. Beliau mengatakan dalam tafsirnya, “Dalam waktu 6 hari, maksudnya adalah hari di akhirat, bahwa satu hari sama dengan 1000 tahun, karena besarnya penciptaan langit dan bumi.” (Tafsir al-Qurthubi, 7/219)

Al-Baqi

Al-Baqi berarti yang abadi dan tidak pernah tersentuh kerusakan, kematian, kehancuran, dan kebinasaan. Berbeda dengan makhluk-makhluk-Nya yang semua mengalami salah satu dari kerusakan, kematian, kehancuran, dan kebinasaan.

“Janganlah kamu seru di samping (menyembah) Allah, ilah apapun yang lain. Tidak ada ilah (yang berhak diibadahi) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya-lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (QS. Al-Qashash: 88)

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal wajah Rabb-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (QS. Ar-Rahman: 26-27).

Wallahu a’lam.

Tauhid Rububiyah

 Syarah Sullamul Wushul

oleh: Abu Zufar Mujtaba

أَوَّلُ وَاجِبٍ عَلَى الْعَبِيدِ … مَعْرِفَةُ الرَّحْمَنِ بِالتَّوْحِيدِ

إِذْ هُوَ مِنْ كُلِ الْأَوَامِرِ أَعْظَمُ … وَهْوَ نَوْعَانِ أَيَا مَنْ يَفْهَمُ

إِثْبَاتُ ذَاتِ الرَّبِّ جَلَّ وَعَلَا … أَسْمَائِهِ الْحُسْنَى صِفَاتِهِ الْعُلَى

وَأَنَّهُ الرَّبُّ الْجَلِيلُ الْأَكْبَرُ … الْخَالِقُ الْبَارِئُ وَالْمُصَوِّرُ

بَارِي الْبَرَايَا مُنْشِئُ الْخَلَائِقِ … مُبْدِعُهُمْ بِلَا مِثَالٍ سَابِقِ

Kewajiban pertama atas seorang hamba… Adalah bermakrifah kepada ar-Rahman dengan mentauhidkan-Nya.

Tauhid adalah perkara yang terbesar di antara semua perkara… Dan ia ada dua, wahai orang yang hendak memahami.

Menetapkan Dzat Allah Yang Mahamulia dan Mahatinggi… Juga nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi.

Dan bahwa Dia adalah Rabb yang Mahamulia lagi Mahabesar… Yang Maha Pencipta Maha Mengadakan dan Maha Membentuk.

Mengadakan segala yang ada, menciptakan segala makhluk… Memulai penciptaan tanpa ada misal sebelumnya.

 

Syaikh Hafizh bin Ahmad al-Hakami memulai matan akidahnya dengan pembahasan tauhid. Pembahasan yang apabila seorang muslim tidak mewujudkannya dalam dirinya—akal, hati, dan perbuatan, maka Islamnya tidak benar. Pun apakah ia akan selamat dari ancaman neraka dan dimasukkan ke dalam surga sangat tergantung kepada kebenarannya dalam bertauhid.

Syaikh Hafizh tegas menyebut tauhid sebagai kewajiban pertama. Tauhid benar-benar kewajiban pertama. Apabila seseorang melaksanakan kewajiban kedua dan seterusnya tetapi salah dalam melaksanakan kewajiban yang pertama ini, sia-sialah semua yang dikerjakannya.

“Jika kamu berbuat syirik, niscaya amal-amalmu akan batal dan kamu benar-benar menjadi golongan yang merugi.” (Az-Zumar: 65)

 

Dua Macam Tauhid

Tauhid ada dua macam, dua-duanya harus dipenuhi. Pertama, tauhid ‘ilmi khabari i’tiqadi—demikian Syaikh Hafizh menyebutnya dalam Ma’ariju Qabul. Tauhid ini meliputi penetapan sifat-sifat yang menunjukkan kesempurnaan Allah, serta menyucikan Allah dari tasybih, tamtsil, takwil, ta’thil dan menyucikan-Nya dari sifat-sifat yang menunjukkan kekurangan. Ini meliputi tauhid rububiyah dan tauhid asma’ wa shifat.

Tauhid rububiyah dan tauhid asma’ wa shifat disebut tauhid ‘ilmi, tauhid yang bersifat ilmu, lantara keduanya memang menuntut untuk diilmui. Berhenti sampai diilmui. Jika dilanjutkan dengan amal—baik amal hati maupun amal anggota badan, itu sudah wilayah tauhid macam yang kedua.

Disebut dengan khabari, bersifat kabar, karena memang semua bagiannya merupakan kabar tentang Allah dimana umat Islam dituntut untuk meyakininya. Berhenti di meyakininya. Karena berhenti di meyakini pula tauhid ini disebut tauhid i’tiqadi, bersifat keyakinan.

Kedua, tauhid thalabi, qashdi, iradi. Ini adalah tauhid ibadah yang meliputi pemurnian kecintaan kepada-Nya, ikhlash karena-Nya, khauf, raja, tawakal kepada-Nya, serta ridha terhadap-Nya sebagai Rabb, Ilah, dan Wali. Ini masih harus ditambah dengan tidak menjadikan sesuatu sebagai tandingan-Nya.

Tauhid macam ini disebut juga tauhid ilahiyah atau tauhid uluhiyah. Tauhid ini disebut oleh Syaikh Hafizh dengan tauhid thalabi, bersifat tuntutan karena esensi tauhid ini adalah tuntutan. Tuntutan dari Allah agar kita beribadah kepada-Nya. Disebut juga dengan tauhid qashdi, bersifat maksud dan iradi, bersifat kehendak, karena tauhid ini menuntut kita untuk memurnikan maksud dan kehenda

hid ilmi, khabk kita; menundukkan keduanya kepada-Nya. Tidak bermaksud dan tidak berkehendak kecuali untuk sesuatu yang diridhai-Nya.

“Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling? Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (kami) kepada orang-orang yang mengetahui. Dan dialah yang menciptakan kamu dari seorang diri. Maka (bagimu) ada tempat tetap dan tempat simpanan. Sesungguhnya telah kami jelaskan tanda kebesaran kami kepada orang-orang yang mengetahui. Dan dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka berbohong (dengan mengatakan), ‘Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan,’ tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana dia mempunyai anak padahal dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan dia mengetahui segala sesuatu. (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Rabb kamu; tidak ada Ilah selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka beribadahlah Dia; dan dia adalah pemelihara segala sesuatu.” (Al-An’am: 95-102)

 

Al-Qur`an Kitab Tauhid

Al-Qur`an, dari awal hingga akhir penuh dengan penetapan kedua macam tauhid ini. Karena al-Qur`an berisi kabar tentang eksistensi Allah dan sifat-sifat yang harus ditetapkan atau dinegasikan. Juga tentang bukti-bukti rububiyah-Nya. Ini adalah tauhid ‘ilmi khabari i’tiqadi. Juga berisi seruan untuk beribadah kepada-Nya dan menjauhi ibadah kepada selain-Nya.

Atau larangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu. Ini adalah tauhid thalabi qashdi iradi. Ada juga ayat-ayat yang memerintahkn kita untuk mengerjakan berbagai amalan dan menjauhi yang lain. Ini adalah konsekuensi dari tauhid thalabi. Ada juga ayat-ayat yang mengisahkan umat terdahulu, baik yang bertauhid atau pun yang enggan menjawab seruan Nabi untuk itu, termasuk apa yang mereka terima sebagai buah dari pilihan hidup mereka di dunia.

BACA JUGA : Keterbatasan dan Peran Akal

Kemudian juga ada ayat-ayat yang berbicara tentang kesudahan mereka yang bertauhid dan yang tidak bertauhid. Kesudahan di akhirat. Sudah, tidak tersisa lagi pembahasan lain di dalam al-Qur`an. Al-Qur`an adalah Kitab Tauhid yang paling agung.

Allah, tidak ada ilah (yang berhak diibadahi) selain Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya. Dia menurunkan al-Kitab (al-Qur`an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan Kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil, sebelum (al-Qur`an), sebagai petunjuk bagi manusia.” (Ali ‘Imran: 2-4)

“Sesungguhnya kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata, ‘Wahai kaumku, beribadahlah kepada Allah, sekali-kali tidak ada ilah bagimu selain-Nya.’ Sesungguhnya (kalau kamu tidak be

Syarah Sullamul Wushul Abu Zufar Mujtaba

Biografi Syaikh Hafizh bin Ahmad al-Hakami
Penulis Matan Sullamul Wushul

Pengantar Redaksi:
Dengan izin Allah, mulai edisi ke-175 ini, kami akan menyajikan syarah kitab “Sullamul Wushul ila ‘Ilmil Ushul fit Tauhid”. Sebuah kitab kecil yang memuat matan akidah Ahlussunnah wal Jamaah, ditulis secara nazham oleh Syaikh Hafizh bin Ahmad al-Hakami (1342-1377 H). Syarah akan ditulis oleh Ustadz Abu Zufar Mujtaba yang biasanya menulis Syarah Akidah Thahawiyah dan sudah selesai pada edisi ke 165. Semoga Allah memudahkan kami semua untuk ini.

Syaikh Hafizh bin Ahmad al-Hakami dilahirkan pada tanggal 24 Ramadhan 1342 H di desa Salam, Jazan. Al-Hakami adalah nisbat kepada al-Hakam bin Sa’ad al-‘Asyirah, salah satu kabilah termasyhur dan terbesar di tanah Arab.
Syaikh Hafizh masih kanak-kanak saat ayahnya mengajaknya dan saudara-saudaranya bermigrasi ke desa Jadhi’ Bani Syubail. Di sinilah Hafizh kecil menghabiskan masa kanak-kanaknya. Pekerjaan sehari-harinya adalah menggembala kambing orang tuanya. Pekerjaan yang ditekuninya sampai ia dewasa.
Saat berumur 7 tahun ia dan kakaknya yang paling besar dimasukkan ke sekolah pengajaran al-Qur`an di desa itu. Hafizh menyimakkan 2 juz, yakni juz 30 dan 29 kepada guru ngajinya, dan setelah itu ia menyelesaikan seluruh al-Qur`an dengan menyimakkannya kepada sang kakak tertua, Muhammad bin Ahmad al-Hakami. Dia masih menggembala kambing sembari belajar sampai pemahamannya baik. Hafizh muda juga belajar menulis dan tulisannya indah. Dia tumbuh di tengah-tengah keluarga yang terkenal shalih dan baik. Dan tak lama kemudian ia sudah hapal al-Qur`an. Ia juga membaca buku-buku fikih, faraidh, tafsir, hadits, dan tauhid.

Kedatangan Syaikh al-Qar’awi
Saat Hafizh menginjak usia yang ke-16 yakni pada tahun 1358 datanglah Syaikh Abdullah bin Muhammad al-Qar’awi  ke wilayah selatan Arab Saudi, dekat tempat tinggal Hafizh muda. Syaikh Abdullah mendengar di wilayah selatan tidak ada juru dakwah yang menyeru kepada ajaran Islam yang benar. Oleh karena itu beliau bernadzar untuk berdakwah di sana, menyebarkan akidah yang benar, membenahi masyarakat dan membersihan bid’ah dan khurafat.
Kedatangan Syaikh al-Qar’awi menjadi keberkahan tersendiri bagi Hafizh muda. Hafizh muda mulai berkenalan dengan Syaikh al-Qar’awi. Semula Hafizh masih belajar sambil menggembala kambing. Jika karenanya ia ketinggalan pelajaran, ia bertanya kepada kawan-kawannya serta meminjam catatan mereka. Barulah pada tahun 1360 Hafizh memfokuskan diri untuk menuntut ilmu. Hapalannya luar biasa. Sering kali Syaikh al-Qar’awi dibuat kagum olehnya. Pernah suatu hari Syaikh Abdullah al-Qar’awiy mendiktekan kitab Tuhfatul Athfal. Majlis ilmu hari itu diakhiri dan didapati Hafizh telah menghapal kitab tersebeut. Sering kali pula Syaikh al-Qar’awi menyampaikan materi, setelah selesai ia meminta Hafizh untuk mengulangnya. Dia mengulangnya persis seperti yang Syaikh sampaikan. Seperti rekaman yang diputar ulang. Hapalannya benar-benar luar biasa.
Pada bulan Rajab tahun itu, ibu Hafizh wafat. Lalu pada bulan haji, ia menunaikan haji bersama ayah, dan sebagian saudaranya. Saat dalam perjalanan pulang ayahnya sakit dan wafat. Setelah itu ia fokus dalam menuntut ilmu siang dan malam. Hafizh muda rajin sekali belajar.  Hanya dalam waktu kurang dari 3 tahun, ia sudah unggul dalam banyak cabang ilmu syar’i. Banyak yang tidak percaya. Hanya orang-orang yang mengenalnya dan pernah hidup dengannya yang percaya.

Mulai Menulis
Di usia Hafizh yang ke-19 Syaikh al-Qar’awi memintanya untuk menyusun sebuah kitab berkenaan dengan tauhid—meliputi akidah as-Salafush Shalih. Hafizh diminta menyusunnya berupa nazham (semacam syair) agar mudah dihapal. Tulisan ini menjadi ujian bagi Hafizh setelah sekian lama belajar bermulazamaah kepada beliau. Penulisannya selesai pada tahun 1362. Sullamul Wushul ila ‘Ilmil Ushul fit Tauhid, demikian judul yang diberikan Hafizh untuk karya pertamanya.
Syaikh al-Qar’awi dan para ulama pada masa itu yang membaca Sullamul Wushul kagum terhadapnya. Setelah itu ia diminta untuk menulis beberapa buku lainnya dalam berbagai disiplin ilmu. Syaikh Hafizh benar-benar menjadi teladan bagi siapa saja yang ingin memiliki produktivitas ilmiah dan ilmu yang bermanfaat.
Syaikh al-Qar’awi mengakui kehebatan Hafizh dan berkata, “Hafizh tidak ada duanya dalam produkivitas ilmiah, penyusunan buku, pengajaran dan manajemen. Semua diuasainya dalam waktu singkat.”
Syaikh Hafizh tidak hanya menguasai ilmu akidah. Beliau juga pakar dalam hadits, musthalah hadits, fikih, ushulfikih, faraidh, tarikh, sirah, dan sastra arab.
Di antara karya beliau:
Sullamul Wushul ila ‘Ilmil Ushul fi Tauhidillah wa Ittiba’ir Rasul..
Ma’arijul Qabul Syarah Sullamul Wushul
Nailus Suul fi Tarikhil Umami wa Siratur Rasul
Wasilatul Hushul ila Muhimmatil Ushul (dalam Ushulfiqh)
As-Subulus Sawiyyah fi Fiqhis Sunan al-Marwiyah (dalam Ushulfiqh)
An-Nurul Faidh in Syamsil Wahyi (dalam ilmu Faraidh)
Dalilu Arbabil Falah fi Thqiqi fannil Ishthilah (Dalam Mushthalah hadits)
Al-Lu’lu al-Maknun fi Ahwalil Asanid wal Mutun (dalam Mushthalah hadts)
Al-Lamiyah fin Nasikh wal Mansukh (dalam Ushulfiqh)
Nashihatul Ikhwan ‘an Ta’athi al-Qaat wasy Syamah wad Dukhan.
Guru Syaikh Hafizh hanya hanya satu, Syaikh ‘Abdullah al-Qar’awi di kota Shamitha, dekat desa tempat tinggalnya bersama orang tuanya dulu. Syaikh Hafizh tidak pernah belajar ke kota lain—apalagi luar negeri. Hanya, ketika Syaikh ‘Abdullah memintanya untuk pergi ke Mekah dan menikahkannya dengan salah satu putri beliau pada tahun 1367, selama di Mekah beliau belajar ke Syaikh ‘Abdurrazzaq ‘Afifi di masjid al-Haram.

Komitmen dan Akhlak Syaikh Hafizh
Kakaknya yang paling besar, Muhammad bin Ahmad yang juga guru al-Qur`an Hafizh berkata, “Hampir seluruh waktunya dia habiskan untuk membaca al-Qur`an, menelaah buku-buku ilmiah, mengajar, menyusun buku dan mengulang-ulang pelajaran.”
“Dia juga rendah hati, senang berolah raga dan senang bercanda dengan kawan-kawannya dan mereka yang mengunjunginya. Inilah yang membuat banyak orang senang bermajlis dengannya dan mengambil faidah darinya,” sambungnya.
Setiap bulan Ramadhan, selepas shalat Zhuhur ia membaca al-Qur`an sebanyak 1 juz yang dijadikannya bacaan shalat Tarawih di masjid. Dia menjadi imam untuk para pelajar yang shalat di masjid al-Asyraf Harah ar-Rahah.
Syaikh Hafizh adalah seorang yang zuhud terhadap dunia. Hampir seluruh waktunya dihabiskannya untuk menuntut ilmu dan mengajarkannya kepada masyarakat dan penuntut ilmu. Beliau sama sekali tidak tertarik dengan dunia ataupun harta dan kemewahan. Saat beliau ditunjuk menjadi salah satu pengurus di Ma’had, beliau mendapat gaji 150 riyal Saudi (sekitar 500.000 rupiah). Uang yang beliau terima beliau habiskan untuk diberikan kepada para pelajar. Pun ketika ditunjuk sebagai mudir, gaji beliau beliau habiskan untuk memenuhi keperluan keluarga, para pelajar, dan orang-orang fakir.

BACA JUGA : Tauhid Rububiyah

Pendek Usia Panjang Berkahnya
Pada tahun 1373 Syaikh Hafizh menunaikan ibadah haji bersama Syaikh ‘Abdullah al-Qar’awi dan beberapa orang. Di perjalanan Syaikh Hafizh sakit, dan akhirnya meninggalkan alam fana ini untuk selama-lamanya pada tanggal 18 Dzulhijjah setelah menunaikan seluruh rangkaian manasik haji. Usianya baru 35 tahun.
Beliau wafat meninggalkan 4 anak laki-laki dan 3 anak perempuan. Putra-putra beliau adalah Ahmad bin Hafizh Ahmad al-Hakami, ‘Abdullah bin Hafizh Ahmad al-Hakami, Muhammad bin Hafizh Ahmad al-Hakami, dan ‘Abdurrahman bin Hafizh Ahmad a-Hakami.
Syaikh Hafizh adalah satu dari banyak orang yang mendapatkan keberkahan pemberian nama yang baik. Ayahnya memberinya nama Hafizh dan ia pun benar-benar menjadi hafizh. Mari memberi nama yang baik untuk anak-anak kita.

5 Hal yang Meneguhkan Akidah

Akidah merupakan pokok urusan agama. Fondasi yang akan menentukan kokoh tidaknya bangunan agama di atasnya. Fondasi yang benar dan kuat akan membuat bangunan di atasnya stabil dan aman. Adapun pondasi yang miring dan rapuh akan membuat bangunan goyah dan runtuh.

Oleh karenanya, generasi salaf: shahabat, murid-murid mereka dan generasi sudahnya sangat menjaga dan memerhatikan urusan ini. Mereka memiliki keteguhan dan kesamaan dalam akidah. Teguhnya keyakinan mereka berasal dari keimanan yang kuat terhadap al quran dan as sunah. Dan kesamaan akidah mereka terwujud karena mereka selalu mengambil ilmu dari generasi penerima wahyu.

Dan secara rinci, ada beberapa hal yang membuat akidah generasi salaf teguh, bersih dan senafas, di antaranya:

Pertama, mengimani semua isi kitab dan as sunah tanpa terkecuali. Mereka benar-benar yakin terhadap al Quran dan as Sunah hingga perkara detail. Tidak ada keraguan sedikitpun. Keimanan yang utuh dan tanpa sedikitpun celah ragu. Dan ini adalah ciri mukmin sejati. Allah berfirman yang artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS Al Hujrat: 15).

Sebagian salaf berkata, “ Risalah Dari Allah, Rasul menyampaikan dan tugas kita mengimani.” Al Imam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa hal yang membedakan antara jalan selamat dengan jalan sesat adalah meyakini bahwa apa yang diturunkan Allah keapda Rasul-Nya adalah al haq yang wajib diikuti. Adapun perkataan manusia harus diteliti, jika selaras dengan al Quran dan as Sunah berati benar dan jika menyelisihi berarti bathil.

BACA JUGA : Akidah Khawarij tentang Iman

Dan karena al Quran dan as Sunah berisi kebenaran secara menyeluruh, maka keduanya menjadi dalil, landasan argumen yang haq. Imam Ibni taimiyah Rahimahullah berkata:

“Sesiapa yang memisahkan diri dari dalil akan tersesat dan tidak ada dalil selain dari apa yang disampaikan Rasulullah SAW.”

Kedua, keyakinan bahwa al Kitab dan as Sunah telah menjelaskan semua yang dibutuhkan manusia dalam hal agama mengenai akidah, ibadah, muamalah dan akhlak.

Allah berfirman yang artinya, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS Al Maidah 3).

Rasulullah SAW berkat:, “Sesungguhnya tidak ada Nabi sebelumku melainkan pasti telah menyampaikan kebaikan dari apa yang diajarkan kepada umatnya dan memperingatkan segala marabahaya dari berbagai hal yang telah disampikan kepada mereka.” (HR Muslim)

Al Quran dan as Sunah merupakan petunjuk sempurna yang menjelaskan hal –hal besar seperti akidah dan ibadah bahkan hal-hal detail seperti adab buang air besar. Jika adab buang air saja dijelaskan, mustahil hal-hal besar semisal urusan keyakinan dan ibadah ada yang dilewatkan. Oleh karenanya, generasi salaf tak lagi butuh hal lain selain al Quran. Inilah yang membuat iman mereka semakin istimewa.

Adapun orang-orang jaman ini, tidak sedikit yang terpesona dengan pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh yang buta terhadap al Quran tapi memandang rendahpara ulama yang berpegang teguh kepada al Kitab dan as Sunah.

Ketiga, senantiasa merujuk dan kembali kepada al Kitab dan as Sunah tatkala menghadapi berbagai macam perselisihan. Baik perselisihan mengenai akidah, ibadah dan muamalah.

Allah berfirman yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya..”

(QS An nisa: 59).

Mereka meyakini bahwa solsui dari semua perselisihan ada dalam al Quran dan as Sunah. Keduanya adalah hakim pemutus dalam perkara yang diperselisihkan. Mengandalkan akal-akal dan pemikiran manusia hanya akan menambah runyam karena setiap orang memiliki pemikiran sendiri-sendiri. Sisi pandang subjektif yang berbeda-beda dan keinginan hati yang tak sama. Dengan ini, mereka selalu memiliki ‘rumah’ tempat kembali manakala manusia yang lain bingung dan mencari-cari.

Keempat, tidak mendahulukan akal di atas dalil. Karena akal memiliki batas. Akal harus diposisikan mengikuti dalil. Ada dua sisi ekstrim yang dilakukan manusia perihal akalnya. Yang pertama adalah yang menempatkan akal di atas segalanya. Seakan dia berkata, “Aku bersaksi bahwa akal adalah utusan Allah.” Bukan rasul. Orang-orang ini akan menganggap bahwa semua hal yang tidak bisa dinalar berarti bukan merupakan kebenaran. Tak peduli apakah hal itu ada dalam al Quran, as Sunah bahkan bibel, taurat atau apapun. Padahal ada banyak hal yang tak bisa dijangkau nalar dan hanya bisa diimani tanpa bisa dinalar.

Yang kedua adalah membuang akalnya dan mengosongkan pikirannya. Akibatnya, mereka selalu menelan mentah-mentah segala macam kebodohan. Contohnya adalah orang-orang sok sufi yang memercayai segala hal secara ajaib tanpa mau menalar sama sekali.

Adapun generasi salaf adalah generasi yang senantiasa berusaha menyesuaikan akal mereka dengan apa yang disampaikan rasulullah SAW. Mereka tunduk terhadap apa-apa yang harus diimani dan membantah berbagai hal tak amsuk akal yang menyelisihi kebenaran. Dengan ini, keimana mereka senantiasa teguh dan utuh.

Kelima, selalu menjaga hubungan yang baik kepada Allah dengan ibadah yang benar dan ikhlas. Inilah ciri khas mereka yang membedakan dengan ahlul bathil. Agama bagi mereka bukan sekadar identitas atau bahan diskusi belaka, tapi jalan hidup dan ajaran yang harus dijalankan sepenuh hati.

Hari ini, muncul orang-orang liberal yang bersikap sok kritis terhadap agama tapi lemah dalam pelaksanaannya. Mereka tajam dalam mengkritik pemikiran dan cara beragama orang lain tapi kelu dalam dzikir dan ibadah. Seperti singa di ruang diskusi keagamaan, tapi menjadi rubah yang menyelinap pergi dari masjid dan waktu-waktu ibadah. Bagaimana mungkin mengambil agama dari orang-orang seperti ini?

Generasi salaf adalah generasi terbaik dalam hal melaksanakan agama. Kita bisa membaca bagaimana keistiqomahan mereak dalam ibadah. Bagaimana kekhusyukan mereka dalam shalat, kesungguhan mereka dalam mengamalkan sunah dan keberanian mereka dalam membela kebenaran serta pengorbanan total mereka dalam jihad demi menegakkan syariat Allah.

Jika lebih dirinci, masih ada banyak faktor lain yang membuat akidah generasi salaf menjadi teguh dan kuat. Semoga Allah mengaruniakan kepada kita apa yang telah Allah karuniakan kepada generasi salaful ummah. Karena umat ini mustahil bisa menjadi baik kecuali dengan sesuatu yang telah membuat generasi pertama menjadi baik. Aamiin. (taufik anwar)

 

Mengenal Firqah Khawarij (Bagian 1)

Dewasa ini berkembang pemikiran, setiap orang yang mengangkat senjata, memberontak, dan melawan penguasa adalah Khawarij. Bahkan meskipun yang melawan adalah orang-orang yang berkomitmen penuh kepada manhaj dan akidah Ahlussunnah wal Jamaah—termasuk sikap mereka terhadap penguasa. Bahkan meskipun penguasa yang dilawan adalah penguasa yang menolak pemberlakuan hukum Islam dimana para ulama telah sepakat mengenai kewajiban memerangi mereka. Bahkan jika mereka adalah para penguasa kafir. Untuk itulah penting bagi kita untuk mengenal Firqah Khawarij dan pemikirannya, agar kita dapat menyikapi segala sesuatu secara proporsional.

Definisi Khawarij

Secara bahasa “khawarij” adalah bentuk jamak (plural) dari “kharij” yang berarti “orang yang keluar.” Secara istilah, para ulama berbeda pendapat dalam mendefinikannya.

Az-Zubaidiy berkata, “Mereka adalah golongan Haruriyah. Kharijiyah adalah salah satu kelompok mereka. Mereka terdiri dari 7 golongan.”

Asy-Syahrastani berkata, “Siapa saja yang keluar dari imam yang benar, imam yang disepakati oleh al-Jamaah, ia disebut dengan seorang Khawarij, baik ia keluar pada masa al-khulafa` ar-rasyidun ataupun setelah masa mereka, dan para imam sampai akhir zaman.” (Al-Milal wan Nihal, 1/114)

Ada pula ulama yang mengkhususkan Khawarij sebagai kelompok yang keluar dari ‘Ali bin Abu Thalib. Al-Asy’ariy berkata, “Sebab dari mereka disebut Khawarij adalah karena mereka keluar dari ‘Ali bin Abu Thalib.” (Maqalatul Islamiyin, 1/207)

Ibnu Hazm menambahkan, nama khawarij disematkan juga kepada orang-orang yang melakukan tindakan yang sama dengan yang khawarij lakukan kepada ‘Ali bin Abu Thalib pada zaman mana pun.

Dr. Nashir bin ‘Abdulkarim al-‘Aql mendefinisikan Khawarij dengan, “mereka adalah orang-orang yang mengkafirkan orang lain karena kemaksiatan dan keluar dari imam kaum muslimin dan jamaah mereka.” [al-Khawarij, 28]

Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam mendefinisikan Khawarij, para ulama firaq berbeda pendapat menjadi tiga:

  • Orang-orang yang keluar dari ketaatan kepada imam yang benar pada zaman manapun.
  • Orang-orang yang keluar dari ketaatan kepada ‘Ali bin Abu Thalib dan mereka yang setuju dengan pandangan mereka.
  • Orang-orang yang keluar setelah masa ‘Ali bin Abu Thalib dari kalanga Azariqah.

Ada juga pendapat lain tetapi bukan pendapat Ahlussunnah.

Hanya Sebagian yang Khawarij

Sejarah mencatat, mereka yang keluar dari ketaatan kepada imam tidak semuanya Khawarij. Ada yang keluar dari ketaatan karena imam yang zhalim dan meninggalkan sunnah. Ini seperti keluarnya al-Husain bin ‘Ali, penduduk Madinah dalam peristiwa Hurrah, dan Zaid bin Ali Zainul ‘Abidin. Para ulama berbeda pendapat mengenai bolehnya keluar seperti ini. Ada yang membolehkannya dan bahkan menganggapnya sebagai jihad dan ada pula yang tidak membolehkannya disebabkan mafsadat yang lebih banyak daripada manfaatnya. Ini adalah pandangan kebanyakan ulama Ahlussunnah, [al-Imamatul ‘Uzhma ‘inda Ahlissunnah wal Jamaah, ‘Abdullah ad-Dumayjiy, 502, 518, 547].

Ada yang keluar kepada pemegang kekuasaan dengan takwil yang masih dapat diterima. Ini seperti yang dilakukan oleh mereka yang keluar dalam perang Jamal dan Shifin. Mereka keluar dari ‘Ali bukan karena membelot dan hendak merebut kekuasaan. Mereka melakukannya lebih karena mengikuti pendapat atau ijtihad mereka. (Majmu’ Fatawa, 28/ 266, 275)

Ada yang keluar karena menginginkan kekuasaan saja. Peperangan mereka semata-mata karena dunia. Mereka ini adalah bughat yang sebenarnya. (Fathul Bari, 12/286)

Ada pula yang keluar dari ketaatan kepada imam dan dari jamaatul muslimin dan mereka menyeru orang lain untuk mengikuti pendapat mereka. Mereka keluar lantaran mereka menyelisihi prinsip Aswaja. (Fathul Bari, 12/285).

Yang disebut terakhir inilah orang-orang yang berlaku pada mereka hadits-hadits Nabi tentang orang-orang Khawarij; tentang perintah untuk memerangi mereka. Ibnu Taymiyah berkata, “Para sahabat dan para ulama sesudah mereka sepakat mengenai wajibnya memerangi mereka.” [Minhajus Sunnah an-Nabawiyah, 5/ 243]

 Beda Pendapat yang Lain

Para ahli tarikh berbeda pendapat mengenai awal kemunculan kelompok Khawarij. Ada yang berpendapat, mereka sudah muncul sejak zaman Nabi saw. ada yang berpendapat mereka muncul pada masa ‘Utsman bin ‘Affan, dan apa pula yang berpendapat Khawarij muncul pada masa ‘Ali bin Abu Thalib, yakni ketila Thalhah dan Zubair keluar terhadap ‘Ali—ada pula yang menyatakan bahwa Khawarij muncul pasca peristiwa tahkim. Pendapat yang rajih adalah pendapat yang terakhir ini.

Pendapat pertama, bahwa Khawarij muncul pada masa Nabi, yakni Dzul Khuwayshirah atau ‘Abdullah bin Dzul Khuwayshirah at-Tamimiy yang keluar pertama kali terhadap Nabi saw saat beliau membagi harta Fa’i dimana ia menuduh Nabi saw tidak adil. Peristiwa itu dikabarkan dan dimuat oleh Imam al-Bukhari dalam kitab Shahih beliau. Abdullah inilah kharij pertama (kharij, bentuk tunggal dari khawarij). Di antara mereka yang berpendapat bahwa Dzul Khuwayshirah adalah khawarij pertama adalah Ibnul Jawzi, Ibnu Hazm, asy-Syahrastani.

Pendapat kedua, pendapat Ibnu Abil ‘Izz—pensyarah Aqidah Thahawiyah. Beliau menyatakan bahwa khawarij muncul pada masa ‘Utsman, yakni masa fitnah yang berakhir dengan terbunuhnya ‘Utsman. Ini disebut dengan fitnah pertama. Ibnu Abul ‘Izz berkata, “Khawarij dan Syi’ah muncul pada masa fitnah yang pertama.” (Syarh Akidah Thahawiyah, 472)

Ibnu Katsir juga menamai mereka yang memberontak terhadap ‘utsman dan membunuhnya sebagai orang-orang Khawarij. Beliau menulis, “Maka datanglah orang-orang Khawarij, mereka mengambil harta dari baitulmal, padahal di sana ada harta yang banyak sekali.” (Al-Bidayah wan Nihayah, 7/189)

Ketiga adalah pendapat yang menyatakan bahwa Khawarij muncul pasca mundurnya sejumlah pasukan dari tentara ‘Ali bin Abu Thalib dan mereka keluar darinya, yakni setelah peristiwa tahkim. Ini adalah pendapat kebanyakan ulama Ahlussunnah. Di antara mereka adalah Abul Hasan al-Asy’ariy—orang pertama yang mencatat sejarah Khawarij. Al-Asy’ariy berkata, “Sebab mereka dinamai Khawarij adalah karena mereka keluar dari ‘Ali bin Abu Thalib,” (Maqalatul Islamiyyin, 1/207).

Kesimpulan al-Asy’ariy diamini oleh al-Baghdadi dimana ia memulai tarikh Khawarij dengan menyebut tentang orang-orang yang keluar dari ‘Ali, (Al-Ibadhiyah baynal Firaq al-Islamiyah, hal. 377).

Demikian pula pendapat Abul Husain al-Malthiy yang menyatakan bahwa kelompok pertama dari Khawarij adalah al-Muhakkimah, (at-Tanbih war Radd, hal. 15)

Pendapat terakhir ini pula yang banyak diikuti oleh para ahli sejarah kontemporer seperti Ahmad Amin, Syaikh Abu Zahrah, dan al-Gharabi.

Syaikh Abu Zahrah menulis, “Kemunculan kelompok ini—yakni Khawarij—diikuti dengan kemunculan kelompok Syi’ah. Keduanya muncul sebagai firqah pada masa ‘Ali bin Abu Thalib setelah sebelumnya mereka berpihak dan menjadi pasukan ‘Ali, (Tarikhul Madzahib al-Islamiyah, 1/65).

Demikianlah, benih ketidaktaatan telah muncul pada masa Nabi, namun ini masih merupakan sikap pribadi, bukan kelompok atau firqah.

Masa kenabian berlalu. Demikian pula dengan masa Abu Bakar dan ‘Umar bin Khattab. Tak sekalipun disebut tentang penentangan Dzul Khuwayshirah selain pada kasus pembagian harta Fa’i. tidak disebut pula adanya orang-orang yang sepaham dengannya. Tidak disebutkan Dzul Khuwayshirah menyebarkan pemikiran khusus. Tidak disebut pula Dzul Khuwayshirah termasuk mereka yang memberontak pada masa ‘Utsman. Tidak pula disebut di antara mereka ada anak-anak atau keturunan Dzul Khuwayshirah.

Mereka yang memberontak terhadap ‘Utsman jelas merupakan satu kelompok orang yang tidak taat kepada imam yang sah. Hanya, mereka tidak memiliki keyakinan/akidah yang berbeda secara spesifik dengan kaum muslimin pada masa itu.

Sebagai satu kelompok/firqah yang memiliki pemahaman/akidah secara spesifik, orang-orang yang keluar dari ketaatan kepada pasca peristiwa tahkim, merekalah yang disebut sebagai Khawarij.

Semoga Allah menjaga kita dari pemikiran sesat Khawarij.

 

Bara’ terhadap Aliran Sesat

Syarah Akidah Thahawiyah
(Matan Terakhir)

فَهَذَا دِيْنُنَا وَاعْتِقَادُنَا ظَاهِراً بَاطِنًا وَنَحْنُ بَرَاءٌ إِلَى اللهِ مِنْ كُلِّ مَنْ خَالَفَ الَّذِي ذَكَرْنَاهُ وَبَيَّنَّاهُ وَنَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى أَنْ يُثْبِتَنَا عَلَى اْلإِيْمَانِ وَيَخْتِمَ لَنَا بِهِ وَيَعْصِمَنَا مِنَ اْلأَهْوَاءِ الْمُخْتَلِفَةِ وَاْلآرَاءِ الْمُتَفَرِّقَةِ وَالْمَذَاهِبِ الرَّدِيَّةِ مِثْلُ الْمُشَبِّهَةِ وَالْمُعْتَزِلَةِ وَالْجَهْمِيَّةِ وَالْجَبْرِيَّةِ وَالْقَدَرِيَّةِ وَغَيْرِهِمْ مِنَ الَّذِيْنَ خَالَفُوا السُنَّةَ وَالْجَمَاعَةَ وَحَالَفُوا الضَّلاَلَةَ وَنَحْنُ مِنْهُمْ بَرَاءٌ وَهُمْ عِنْدَنَا ضُلَّالٌ وَأَرْدِيَاءٌ وَبِاللهِ الْعِصْمَةُ وَالتَّوْفِيْقُ

Inilah agama dan akidah kita—lahir dan batin. Kita bara` kepada Allah dari semua yang menyelesihi semua perkara yang telah kita sebut dan kita jelaskan. Kita memohon kepada Allah ta’ala agar Dia meneguhkan kita di atas iman dan menutup usia kita dengan iman pula serta memelihara kita dari berbagai hawa, pendapat, dan aliran yang sesat seperti Musyabbihah, Mu’tazilah, Jahmiyah, Jabriyah, Qadariyah, dan yang lain; yakni mereka yang menyelisihi sunnah dan jamaah. Mereka yang bersekutu dengan kesesatan. Kita bara` dari mereka dan menurut kita mereka adalah orang-orang yang sesat dan hina. Keterpeliharaan dan taufik hanya datang dari Allah.

Abu Ja’far ath-Thahawiy menutup matan Akidah Thahawiyah dengan pernyataan yang lugas dan tegas bahwa Islam meliputi lahir dan batin. Bahwa semua yang telah beliau urai pada matan-matan sebelumnya adalah bagian dari Islam. Sebagiannya perkara lahir dan sebagian yang lain perkara batin. Islam tidak memisahkan antara lahir dan batin. Allah berfirman,

“Tinggalkan dosa-dosa lahir dan batin!” (Al-An’am: 120)

Ada dosa-dosa lahir dan ada dosa-dosa batin. Amal pun seperti itu.

Menganggap Islam hanya yang lahir atau hanya yang batin adalah kesalahan. Termasuk kesalahan pula pernyataan bahwa masyarakat awam dibebani dengan yang lahir, sedangkan masyarakat khusus dibebani dengan yang batin.

Kenapa Firqah Sesat

Ahlussunnah berbara` (antiloyal) kepada siapa saja yang menyelisihi perkara-perkara prinsip—bukan perkara-perkara cabang/hasil ijtihad—yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Mereka melempar al-Qur`an ke belakang punggung dan lebih memilih untuk mengikuti hawa nafsu mereka sendiri. Mereka meninggalkan Jamaatul Muslimin dan mengutamakan jalan kesesatan.

Sedangkan orang-orang yang menyelisihi perkara cabang/hasil ijtihadi, maka Ahlussunnah tidak bara` terhadap mereka. Meskipun pendapat yang diikuti adalah pendapat yang marjuh (tidak kuat), selama pendapat itu adalah pendapat para ulama terdahulu.

Selanjutnya Abu Ja’far menyebut beberapa firqah atau aliran sesat yang Ahlussunnah bara` terhadap mereka.

Musyabbihah

Musyabbihah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya dan atau menyerupakan makhluk dengan Allah. Paham tasybih dalam Islam pertama kali dikemukakan oleh Abdullah bin Saba’, seorang rahib Yahudi yang berpura-pura masuk islam dan akhirnya merusak Islam dari dalam.

Imam Ahmad berkata, “Musyabbihah adalah orang yang mengatakan: pendengaran Allah seperti pendengaranku, penglihatan Allah seperti penglihatanku, tangan Allah seperti tanganku.”

Ishaq bin Rahawaih—guru dari Imam Bukhari dan Imam Muslim—berkata, “Tasybih itu terjadi ketika seseorang mengatakan, ‘Tangan (Allah) seperti tanganku, pendengaran (Allah) seperti pendengaranku.’ Inilah yang dinamakan Tasybih. Adapun jika seseorang menyifati Allah dengan seperti yang Dia firmankan, ’Tangan, pendengaran, penglihatan,’ kemudian ia tidak mengatakan, ’Bagaimana’ dan ’Seperti,’ maka itu tidak termasuk tasybih. Allah berfirman, ‘Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.’ (Asy-Syura:11).”

Mu’tazilah

Mu`tazilah adalah aliran sesat yang pernah menggemparkan dunia Islam selama lebih dari 300 tahun akibat fatwa-fatwa mereka yang menghebohkan. Selama waktu itu pula kelompok ini telah menumpahkan ribuan darah kaum muslimin terutama para ulama Ahlussunnah yang bersikukuh dengan pedoman mereka.

Sejarah munculnya aliran Mu’tazilah oleh para kelompok pemuja aliran Mu’tazilah tersebut muncul di kota Basrah Irak pada abad ke 2 Hijriyah antara tahun 105 – 110 H, tepatnya pada masa pemerintahan khalifah Abdul Malik bin Marwan dan khalifah Hisyam bin AbdulMalik. Pelopornya adalah seorang penduduk Basrah mantan murid Hasan al-Basri yang bernama Washil bin ‘Atha.

Abu Hasan Al-Kayyath di dalam kitabnya Al-Intisar berkata, “Tidak ada seorang pun yang berhak mengaku sebagai penganut Mu`tazilah sebelum ia mengakui al-Ushul al-Khamsah (Lima Pondasi) yaitu Tauhid, Adil, Wa`ad wal Wa`id, Manzilah baina Manzilatain, dan Amar Ma’ruf Nahyi Munkar.”

Yang mereka maksudkan dengan Tauhid adalah menegasikan sifat-sifat Allah. Yang mereka maksud dengan Adil adalah bahwa Allah akan menyiksa dan memberi pahala untuk para hamba-Nya atas apa yang mereka kerjakan, dan karena itu mereka bebas—tidak terkait dengan kehendak-Nya. Adil versi Mu’tazilah sama dengan akidah Qadariyah.

Yang mereka maksud dengan Wa’ad wal Wa’id adalah bahwa Allah tidak akan mengingkari janji; baik janji akan memasukkan seseorang ke dalam surga ataupun ke dalam neraka. Maknanya, tidak ada yang namanya syafaat atau ampunan Allah di akhirat. Sebab dengan begitu berarti Allah tidak menepati janji. Yang mereka maksud dengan Manzilah baina manzilatain adalah bahwa pelaku dosa besar itu tidak lagi mukmin tetapi juga tidak kafir. Hanya saja tempat mereka kelak adalah di neraka bersama orang-orang kafir.

Dan yang mereka maksud dengan Amar Makruf Nahyi Munkar adalah kebolehan mengangkat senjata dan memerangi penguasa muslim yang memberlakukan al-Qur`an dan as-Sunnah lantaran ia melakukan suatu dosa besar.

Jahmiyah

Nama Jahmiyyah dinisbatkan kepada tokoh pengusungnya, Jahm bin Shafwan yang berasal dari Khurasan dan muncul pada abad kedua Hijriyah. Jahm dikenal sebagai orang yang suka dan banyak berdebat. Hanya saja, ia tidak memiliki pemahaman dan perhatian kepada ilmu hadits.

Jahmiyah lebih parah daripada Mu’tazilah. Jahmiyah mengingkari seluruh nama-nama Allah dan sifat-sifatNya serta menganggap nama-nama sebagai majas. Dalam masalah iman, mereka berpaham irja`, bahwa iman itu cukup dengan mengenal Allah dan selainnya tidak harus ada. Oleh karenanya, menurut Jahmiyah, Iblis adalah makhluk Allah yang beriman, sebab Iblis mengenal Allah.

Jahmiyah juga mengingkari sebagian besar perkara yang berkait dengan hari Kiamat, seperti shirat (jembatan di atas Jahannam), mizan (timbangan), melihat Allah pada hari Kiamat, dan adanya azab kubur. Mereka juga berpendapat bahwa surga dan neraka tidak kekal.

Jabriyah

Jabariyah adalah aliran sesat yang berpandangan bahwa manusia itu di dalam perbuatannya serba terpaksa (majbur). Perbuatan mereka itu pada hakikatnya adalah perbuatan Allah. Oleh karena itu mereka berpaham, manusia tidak bersalah dan tidak berdosa. Sebab ia hanya digerakkan oleh kekuatan di atasnya dimana ia tidak lain laksana robot, yang mati tidak berarti. Mereka tidak mempunyai kekuasaan, kehendak, dan kebebasan memilih. Menurut mereka, manusia sama seperti sehelai bulu yang diterpa angin.

Qadariyah

Qadariyah adalah kebalikan dari Jabriyah. Menurut Qadariyah, seluruh tindakan manusia tidak ada yang diintervensi oleh Allah. Aliran ini berpendapat, setiap orang adalah pencipta bagi segala perbuatannya, ia dapat berbuat sesuatu atau meninggalkannya atas kehendaknya sendiri. Semua terbebas dari kehendak Allah. Masih menurut mereka, tidak adil jika Allah mengintervensi perbuatan hamba baik dengan membantunya atau menghalanginya, lalu Allah memberi pahala atau mengadzab mereka karenanya.

Penutup

Abu Ja’far ath-Thahawiy menutup matan Akidahnya dengan kalimat yang menunjukkan kelurusan akidahnya. Bahwa manusia wajib berusaha mencari jalan kebenaran. Dalam menjalaninya, keterpeliharaan dari berbagai kesalahan dan hidayah taufik hanya datang dari Allah. Wabillahit taufiq wal ‘ishmah.