Hukum Membaca Al-Qur’an Tanpa Tahu Artinya

Konsultasi: 

Assalaamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh. Ustadz, Apakah membaca al-Qur’an harus dengan memahami artinya? Apakah keutamaan mengkhatamkan Al-Qur’an itu harus dengan mentadaburi ayat-ayatnya? Ada teman yang mengatakan bahwa baca Al-Qur’an akan sia-sia bila tanpa mentadaburi artinya.  Jazaakumullahkhairan. Wassalaamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Ibnu Mabruri, Bumi Allah

Jawab:

Memahami ayat-ayat dari Al-Qur’an dan mentadaburinya sebuah keniscayaan bagi seorang muslim, karena ia diturunkan sebagai petunjuk bagi seluruh manusia. Allah Ta’ala berfirman, ”Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shaad: 29)

Bahkan Allah mencela orang-orang yang tidak mentadaburi ayat-ayatnya.

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci.” (QS. Muhammad: 24)

Walau demikian, dibolehkan hanya membaca tanpa memahami maknanya dengan tujuan mendapatkan pahala membaca, sebagaimana keumuman hadits Nabi SAW,

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan akan dilipatgandakan dengan sepuluh kali lipat.” (HR. Tirmidzi)

Dari Abdullah bin Amru, Rasulullah SAW bersabda,

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُ بِهَا

Dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an, bacalah dan tingkatkan, tartillah dalam menbacanya (di jannah) sebagaimana kamu membaca di dunia. Sesungguhnya tempat (kembalimu) pada akhir ayat yang kamu baca.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud dan Ahmad)

Al-Khattabi berkata, ”Disebutkan dalam sebuat atsar, sesungguhnya jumlah ayat-ayat Al-Qur’an itu sesuai dengan tingkatan jannah. Maka dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an, naiklah di tingkatan jannah sesuai dengan jumlah bacaanmu. Barangsiapa yang menyempurnakan bacaan seluruh Al-Qur’an maka dia memiliki puncak tertinggi tingkatan jannah, dan barangsiapa yang membaca satu juz maka dia memiliki tingkatan jannah sesuai bacaan tersebut, maka endingnya pahala itu ketika di penghujung bacaan.” (Lihat: Tuhfatul Al-Ahwadzi: 7/232, Tadabburul Al-Qur’an: 24)

Redaksi | Konsultasi

 

Zakat Mal Ke Lembaga Sosial

Bolehkah membayarkan zakat mal (harta benda) pada lembaga sosial, untuk dibelanjakan sapi-sapi yang akan disembelih pada hari Raya idul adha dan akan dibagikan kepada para fakir miskin?

Alhamdulillahirabbil’alamin

Pertama:

Diwajibkan mengeluarkan zakat tepat pada waktunya dan tidak boleh diakhirkan, kecuali untuk kemaslahatan yang rajih dan dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Kedua:

Dibolehkan membayarkan zakat pada lembaga sosial yang dikenal amanah dan dapat dipercaya, jika dia akan membagikan harta zakat kepada yang berhak menerimanya sesuai dengan petunjuk syari’at.

Baca Juga: Bolehkah Bersedekah Kepada Non Muslim? 

Syeikh Ibnu Utsaimin –rahimahullah- pernah ditanya:

“Di daerah kami ada sebuah cabang dari lembaga sosial, apakah saya boleh membayarkan sebagian zakat saya kepada mereka ?”

Beliau menjawab:

“Jika cabang dari lembaga sosial tersebut termasuk lembaga yang bisa dipercaya dalam hal agama dan keilmuan mereka, maka tidak masalah anda membayarkan sebagian zakat anda kepada mereka, dan anda jelaskan bahwa yang anda bayarkan adalah zakat, sehingga tidak dibagikan pada jalur sedekah secara umum”.

Adapun jika anda tidak mengenali mereka, maka yang lebih utama anda salurkan zakat anda sendiri, bahkan secara umum sebaiknya anda salurkan sendiri zakat anda; karena seseorang yang secara langsung menyalurkan zakatnya sendiri akan merasa tenang karena benar-benar sampai kepada yang berhak menerimanya, dia juga akan diberi pahala dari kepenatan untuk menyampaikan zakatnya, tentu hal ini lebih utama dari pada dia wakilkan kepada orang/lembaga untuk menyalurkannya”. (Fatawa Nur ‘Ala Darb dengan sedikit perubahan: 7/408)

Ketiga:

Tidak sah membayarkan zakat kepada lembaga sosial untuk dibelikan beberapa ekor sapi yang akan disembelih pada hari raya untuk dibagikan kepada fakir miskin; karena hukum asal dari zakat adalah agar dibayarkan sesuai dengan harta yang dizakati, maka zakatnya uang dibayarkan dengan uang, zakatnya hasil pertanian dibayarkan dengan hasil pertanian pula.

Para fakir miskin diberikan zakat kepada mereka, lalu mereka sendirilah yang membelanjakannya sesuai kebutuhan mereka, seperti daging atau yang lainnya; karena harta zakat tersebut telah menjadi haknya, dan tidak boleh menggunakan harta orang lain tanpa persetujuan pemiliknya.

Baca Juga: Zakat Mobil & Rumah

Yang diwajibkan pada zakat mal adalah dibayarkan dengan uang, tidak boleh dibayarkan dengan daging atau sembako. Seorang yang fakir dia lebih mengetahui kebutuhannya sendiri dan lebih tahu apa yang lebih dia butuhkan, secara umum bahwa uang akan lebih bermanfaat baginya, bisa jadi dia mempunyai hutang yang ingin dia bayar atau kemaslahatan tertentu yang tidak bisa diraih kecuali dengan uang.

Syeikh Ibnu Utsaimin –rahimahullah- pernah ditanya:

“Apakah boleh merubah harta zakat menjadi sembako atau barang yang lain, kemudian baru dibagikan kepada fakir miskin?”

Beliau menjawab:

“Tidak boleh, zakat harus dibayarkan dengan uang”. (Al Liqo asy Syahri: 41/12). (arrisalah/islamqa.info/fatwa)

 

Hukum Menghadiri Walimah Orang Kafir

Pengertian Walimah

Walimah secara bahasa berasal dari al-Walmah yang berarti sesuatu yang telah sempurna dan terkumpul. (Majma’ al-Lugah al-‘Arabiyah, al-Mu’jam al-Washith, 2/1057) Makanan dalam pernikahan disebut walimah, karena kedua pasangan suami istri berkumpul dan telah menyempurnakan agamanya.

Adapun makna walimah secara istilah adalah setiap makanan yang disediakan karena pernikahan. Berkata Imam Syafi’i: “ Walimah bisa digunakan untuk setiap makanan yang disediakan karena peristiwa yang menggembirakan “ (Ibnu Qasim al-Ghazzi, Fathu al-Qarib, hal. 76)

Menurut pendapat Imam Syafi’i di atas, walimah mencakup walimah nikah, walimah khitan, walimah safar, walimah karena menempati rumah baru, walimah karena khatam al-Qur’an dan seterusnya. 

Hukum Menghadiri Walimah

Hukum menghadiri walimah pernikahan menurut madzhab syafi’i hukumya fardhu ain kecuali terdapat udzur. Adapun menghadiri walimah selain pernikahan seperti walimah khitan, walimah safar, hukumnya mustahab.  ( lihat al-Khatib asy-Syarbini, al-Iqna’, 2/427 )

Dalilnya adalah hadist Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda,

إِذَا دُعِىَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْوَلِيمَةِ فَلْيَأْتِهَا

“Jika salah satu di antara kalian diundang untuk menghadiri walimah, maka hendaknya dia hadir.” (HR. Bukhari no. 4878 dan Muslim no. 1429).

Yang dimaksud walimah pada hadits di atas adalah walimah pernikahan. Pada hadits tersebut terdapat perintah dan hukum asal dari perintah adalah wajib.

Baca Juga: Pesta Pernikahan Tidak Islami

Ini dikuatkan dengan hadist Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

            شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ ، يُمْنَعُهَا مَنْ يَأْتِيهَا ، وَيُدْعَى إِلَيْهَا مَنْ يَأْبَاهَا ، وَمَنْ لَمْ يُجِبِ الدَّعْوَةَ ، فَقَدْ عَصَى اللهَ وَرَسُولَهُ

“Sejelek-jelek makanan adalah makanan pada walimah yang datang dicegah, dan justru yang tidak mau datang malah diundang. Siapa yang tidak mendatangi undangan tersebut, maka ia telah mendurhakai Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari no. 5177 dan Muslim no. 1432 dan lafadh di atas adalah miliknya).

Hukum Menghadiri Walimah Orang Kafir

Perayaan atau pesta yang diselenggarakan orang kafir, terbagi menjadi dua bagian,

Pertama: Perayaan Keagamaan, seperti perayaan hari Natal (Kristen), Nyepi ( Hindu), Waisak ( Buddha), Imlek (Cap Go Meh) , maka tidak boleh menghadirinya, bahkan tidak boleh juga mengucapkan selamat untuk acara tersebut.

Berkata Ibnu Qayyim (w.751) di dalam Ahkam Ahli adz-Dzimmah (3/211): “Adapun mengucapkan selamat untuk hari raya agama orang kafir, hukumnya haram menurut kesepakatan ulama.”

Kesepakatan ini juga disampaikan oleh Imam adz-Dzahabi (w. 748) di dalam Tasyabbuh al Khasis bi Ahli al-Khamis (hal. 28)

Kedua: Perayaan khusus untuk pribadi mereka, seperti pernikahan, kelahiran anak, kesembuhan dari penyakit dan yang sejenisnya.

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum mendatangi walimah pernikahan orang kafir, 

Pendapat Pertama, mengatakan tidak boleh menghadiri undangan walimah orang kafir. Ini pendapat sebagian ulama Syafi’iyah dan ini yang dipilih oleh Abu Bakar al-Hishni di dalam Kifayatu al-Akhyar (hal. 376). Mereka beralasan bahwa mendatangi walimah orang kafir termasuk dalam katagori mencintai mereka. Hal ini dilarang, sebagaimana firman Allah, 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ

“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang. “( Qs.al-Mumtahanah:1)

Begitu juga firman Allah,

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, ( Qs.al-Mujadilah: 22 )

Begitu juga hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu  bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا، وَلاَ يَأْكُلُ طَعَامَكَ إِلاَّ تَقِيٌّ

“Janganlah bersahabat kecuali dengan orang beriman. Janganlah yang memakan makananmu melainkan orang bertakwa.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Hadist ini Hasan sebagaimana di dalam Shahih al Jami’ : 2/7341)

Pendapat Kedua, mengatakan tidak wajib menghadiri undangan walimah orang kafir. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Berkata Abu Bakar al-Hishni di dalam Kifayatu al-Akhyar  hal. 376 : “  Syarat ke tujuh : hendaknya yang mengundang adalah seorang muslim. Jika yang mengundang orang kafir dzimmi, maka tidak wajib untuk mendatanginya, sebagaimana pendapat mayoritas ulama. “

Kemudian mereka berselisih tentang hukumnya, apakah boleh atau makruh ?

Sebagian mengatakan bahwa menghadiri undangan walimah orang kafir hukumnya makruh. Ini pendapat madzhab Hanbali. (al-Mardawai, al-Inshaf : 8/236)

Sebagian yang lain mengatakan bahwa menghadiri walimah orang kafir hukumnya boleh, bahkan menjadi sunnah jika diharapkan keislamannya dengan syarat hatinya tidak boleh cenderung kepadanya. Ini madzhab Syafi’iyah (Ar-Ramli, Nihayatul Muhtaj, 6/371)

Syarat-syarat Kebolehan

Adapun syarat-syarat kebolehan menghadiri walimah orang kafir sebagaimana disebutkan para ulama adalah sebagai berikut,

Pertama: Berniat untuk berdakwah

Kedua: Tidak ada kemungkaran atau acara maksiat, seperti dangdutan, menampilkan wanita-wanita yang membuka aurat, bercampur baur laki-laki dan wanita dan lain-lain, kecuali jika datang sebelum acara dimulai atau sesudah acara selesai.

Ketiga: Tidak boleh mendoakan mereka dengan berkah tetapi mendoakan agar mereka mendapatkan hidayah dari Allah.

Keempat: Dihindari untuk mendatangi undangan pendeta atau tokoh agama tertentu, karena sulit untuk mendakwahi mereka, bahkan kedatangan seorang muslim pada acara mereka, merupakan kebanggaan dan kemenangan mereka.

Jika dikatakan, bukankah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjunguk orang Yahudi ketika sedang sakit untuk mendakwahinya.

Baca Juga: Harga Mati Keshalihan Pasangan

Jawabannya, bahwa beliau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk anak kecil Yahudi yang pernah membantu beliau, sehingga lebih mudah untuk didakwahi dan terbukti beliau berhasil. Ini berbeda jika menghadiri para pendeta atau tokoh agama mereka. ( Majmu’ al-Fatawa Syekh al-‘Utsaimin 3/47)

Kesimpulan

Menghadiri walimah orang muslim, hukumnya wajib, barang siapa yang tidak mendatanginya, dia berdosa, kecuali  ada udzur. Jika di dalam walimah tersebut terdapat kemungkaran dan maksiat atau walimah hanya dikhususkan orang-orang kaya saja, maka tidak wajib hadir. Begitu juga jika walimahnya berlangsung lebih dari satu hari.

Adapun menghadiri walimah orang kafir, jika diniatkan untuk berdakwah dan muamalat, hukumnya boleh dengan syarat-syarat tertentu yang disebutkan di atas.

Jika mengadiri walimah orang kafir tidak ada niat dakwah dan muamalat, hukumnya haram, karena termasuk di dalam katagori mencintai mereka. Selain itu akan lebih banyak mendatangkan kemadharatan daripada kemaslahatan. Wallahu A’lam. 

Dr. Ahmad Zain An-Najah, MA

Pasar Kecapi, 9 Rajab 1438 H/ 6 April 2017 M

 

Tema  Terkait: Pernikahan, Fikih Kontemporer, Akidah

 

 

.

 

 

Apakah Shalat Wanita Disamping Laki-laki Dengan Ada Pembatas Itu Sah?

Di negara kami ada masjid, wanitanya shalat di samping laki-laki tapi diantara keduanya ada pembatas tembok. Apakah prilaku ini sah ataukah wanita shalatnya harus dibelakang laki-laki?

Jawab :

Alhamdulillah

Wanita yang shalat sejajar (disamping) laki-laki dan diantara keduanya ada pembatas baik dinding atau tempat kosong memungkinkan untuk shalat, maka shalatnya sah menurut kebanyakan ahli ilmu dari Madzhab Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah dan Hanabilah.

Namun ada perbedaan diantara mereka manakala wanita shalat di samping lelaki tanpa ada pembatas, yang berpendapat tidak sah shalatnya merupakan madzhab yang lemah hujjahnya, sehingga menurut kami bahwa shalatnya tetap sah sampai ada dalil yang shohih yang menjelaskan keadaan tersebut bisa membatalkan shalat.

Sementara kalau ada penghalang, madzhab Hanafi dan mayoritas ulama’ bersepakat bahwa shalatnya tidak ada yang batal salah satu diantara keduanya, sebagaimana di kitab ‘Tabyinul Haqoiq, 1/138.

Tidak diragukan bahwa yang sesuai sunnah adalah shaf para wanita dibelakang para lelaki. Sebagaimana dipraktekkan di zaman Nabi Muhammad sallallahu’alaihi wa sallam.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu bahwa neneknya mengundang Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam untuk jamuan makan yang telah dibuatnya. Kemudian (beliau) mengatakan, berdirilah kamu semua untuk menunaikan shalat bersama kamu. Anas berkata: “Saya berdiri di atas tikar yang sudah menghitam dikarenakan lama dipakai, dan kami perciki air. Maka Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam berdiri sementara saya dan anak yatim membuat shaf dibelakangnya. Dan orang tua (nenek) dibelakang kami. Maka Rasulullah sallallahu’alaih wa sallam shalat bersama kami dua rakaat kemudian pulang.

Al-Hafidz (Ibnu Hajar) mengomentari dalam kitab Fathu al baari, hadits ini banyak  faedahnya, diantaranya; (Shaf) wanita berada di belakang shaf para lelaki; dan bolehnya wanita berdiri sendirian dalam shaf dikala tidak ada wanita lainnya.

Adapun kejadian yang anda tanyakan, bahwa para wanita shalatnya sejajar dengan para lelaki dengan pembatas tembok diantara mereka, maka shalatnya sah wal hamdulillah.

Wallahu’alam .

Diringkas dari fatwa syaikh sholeh munajjid, islamqa, Islam soal dan jawab.

Puasa dan Zakat

Berzakat Atas Nama Pembantu Rumah Tangga

Pertanyaan :

Apakah wanita yang berprofesi menjadi pembantu rumah tangga diwajibkan mengeluarkan zakat fitri?

Jawab :

Wanita pembantu rumah tangga diwajibkan untuk mengeluarkan zakat fitri karena ia juga seorang muslimah, akan tetapi apakah yang menanggung dirinya sendiri atau boleh ditanggung oleh tuan rumahnya?, maka pada dasarnya zakat firti wanita itu dikeluarkan oleh dirinya sendiri, akan tetapi jika tuan rumahnya mengeluarkan zakat fitri untuk pembantunya tersebut, maka hal ini dibolehkan.

Durus wa fatwa al haram al makki, syaikh ibnu Utsaimin, dinukil dari fatwa fatwa wanita, Darul Haq hal 223.

Berzakat (Mal) Kepada Saudara Perempuan Yang Fakir Yang Telah Menikah

Pertanyaan :

Jika seorang wanita memiliki saudara perempuan, dan saudarnya itu sudah menikah tapi dalam keadaan fakir, bolehkah ia memberikan zakat malnya kepada saudaranya itu?

Jawab :

Nafkah seorang wanita adalah kewajiban bagi suaminya, dan jika suami itu seorang yang fakir maka bagi saudara saudara istrinya hendaklah memberikan zakatnya kepada saudara perempuannya itu, agar ia mendapat nafkah untuk dirinya sendiri dan untuk suaminya serta untuk anak-anaknya.

Bahkan jika istri ini memiliki harta yang wajib dizakati, maka hendaknya ia mengeluarkan zakat hartanya itu kepada suaminya agar suaminya dapat memberi nafkah kepada orang orang yang menjadi tanggungannya.

Majalah al Buhuts al islamiyah, dinukil dari fatwa fatwa wanita, Darul Haq hal 220.

 

Mengqadha Enam Hari Puasa Ramadhan Di Bulan Syawal, Apakah Mendapat Pahala Puasa Syawal Enam Hari Yang Sunnah?

Pertanyaan :

Jika seorang wanita berpuasa enam hari di bulan syawal untuk mengqadha puasa Ramadhan, apakah ia mendapatkan pahala puasa sunnah enam hari di bulan syawal?

Jawab :

Disebutkan dalam hadist, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan kemudian diikuti dengan puasa enam hari di bulan syawal maka ia seperti berpuasa setahun.”

Hadits ini menunjukkan bahwa, wajib menyempurnakan puasa Ramadhan yang merupakan puasa wajib, kemudian ditambah dengan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal untuk mendapatkan pahala puasa setahun. Dalam hadtis lain disebutkan:

“Puasa Ramadhan sama dengan sepuluh bulan dan puasa enam hari di bulan syawal sama dengan dua bulan.”

Yang berarti bahwa satu kebaikan mendapat sepuluh kebaikan, maka berdasarkan hadits ini, barang siapa yang tidak menyempurnakan puasa Ramadhan dikarenakan sakit, safat, nifas atau haidh hendaknya ia menyempurnakan puasa Ramadhan, yaitu dengan mendahulukan qadha puasa Ramadhan terlebih dahulu, baru kemudian melaksanakan puasa sunnah di bulan syawal agar mendapat pahala atau kebaikan yang dimaksud. Adapun puasa wajib yang diqadha dibulan syawal yang dilakukan oleh penanya tidaklah berstatus (tidak mendapat pahla) sebagai puasa sunah di bulan syawal.

Fatwa syaikh Abdullah jibrin, dinukil dari fatwa fatwa wanita, Darul Haq hal 270.

 

BACA JUGA: Zakat Mal ke Lembaga Sosial

Memulai Perayaan Tertentu dan Seminar Dengan Pembacaan Ayat Suci Al Qur’an

Apa hukum memulai perayaan, seminar dan perkumpulan dengan membaca (beberapa ayat) dari Al-Qur’an?

Alhamdulillah

Bukan termasuk sunnah, karena bukan bagian dari petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya –menurut sepengetahuan kami-. Terus menerus melakukan hal tersebut termasuk mengamalkan bid’ah dalam agama dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: “Bahwa lembaga pendidikan tertentu ingin memulai siaran radio hariannya dengan membaca beberapa ayat dari al Qur’an.”

Beliau menjawab:

“Sebaiknya tidak menjadikan hal itu menjadi sunnah yang terus menerus, maksud saya: memulai dengan membaca al Qur’an pada awal pembukaan radio tersebut; karena membuka dengan membaca al Qur’an adalah ibadah, sedangkan ibadah membutuhkan tuntunan dari syari’at.

Saya tidak mengetahui bahwa syari’at mensyari’atkan kepada ummat untuk memulai tulisan dan perkataannya dengan al Qur’an yang mulia, namun jika seseorang memulai ceramahnya dengan membaca beberapa ayat yang sesuai dengan temanya sebagai kalimat pembuka, hingga ada gambaran bahwa pembicara tersebut akan menyampaikan arti dari ayat yang telah dibacanya tersebut, maka hal itu baik tidak masalah.

Contohnya jika tema ceramahnya tentang puasa, lalu ada salah seorang yang membacakan ayat-ayat puasa sebelum memulai ceramahnya, atau tema ceramahnya tentang haji misalnya, sebelum dimulai ada seseorang yang membaca ayat-ayat haji, maka hal ini tidak masalah; karena ada kesesuaian, hingga seakan menjadi kalimat pembuka dari ceramah tersebut.

Adapun menjadikannya sunnah yang terus menerus dilakukan sebelum memulai ceramah, atau setiap kali akan berbicara selalu membaca al Qur’an terlebih dahulu, maka hal ini bukan termasuk sunnah.”

Hukum Mengucapkan, “Saudaraku ….

Pertanyaan :
Apa hukum mengucapkan kepada orang kafir dengan ucapan ‘saudaraku’, juga ucapan ‘kawanku’ atau ‘temanku’ serta apa hukum tersenyum kepada mereka untuk meraih simpatinya?

jawab :

Ucapan saudaraku kepada orang kafir hukumnya haram, tidak boleh diucapkan kecuali kepada seseorang yang memang saudaranya berdasarkan garis keturunan atau karena susuan. Demikian ini, karena jika tidak ada tali persaudaraan secara garis keturunan atau susuan maka tidak ada lagi tali persaudaraan kecuali persaudaraan karena agama. seorang kafir bukan saudara bagi seorang mukmin dalam agamanya.

Allah pun mengingkari ucapan Nabi Nuh dalam hal ini, sebagaimana firmanNya :

“dan Nuh berseru kepada Rabnya sambil berkata: “Ya Rabku, Sesungguhnya anakku Termasuk keluargaku, dan Sesungguhnya janji Engkau Itulah yang benar. dan Engkau adalah hakim yang seadil-adilnya. Allah berfirman: “Hai Nuh, Sesungguhnya Dia bukanlah Termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan).”

BACA JUGA : Shalat Tanpa Wudu Karena Lupa

Adapun ucapan ‘kawanku’ atau ‘temanku’ atau yang serupa ini, jika yang dimaksud hanya sebagai sapaan kaena tidak mengetahui namanya, maka ini tidak apa-apa, tapi jika yang dimaksud adalah karena kecintaan dan merasa dekat dengan mereka, maka Allah telah berfirman :

“kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, Sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.”

Maka setiap ungkapan halus yang bermaksud kecintaan tidak boleh dilontarkan oleh seorang mukmin kepada orang kafir, Demikian juga tersenyum kepada mereka untuk meraih simpati di kalangan mereka.

Fatawa al ‘aqidah, syaikh Ibnu Utsaimin. dinukil dari fatwa-fatwa terkini, Darul Haq, hal 378-379 .

Menghimpit Orang Kafir Ke Pinggir Jalan

Pertanyaan :

Disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “jika kalian menjumpai salah seorang mereka di suatu jalan, himpitlah ia ke pinggir.” bukankah hal ini akan membuat mereka enggan untuk masuk Islam?

jawab :

Harus kita ketahui, bahwa sebaik-baik pendakwah dan pembimbing ke jalan Allah adalah Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam. jika kita mengetahui itu, maka pemahaman apapun yang kita pahami dari ucapan Rasulullah yang ternyata bertentangan dengan hikmah, harus kita akui bahwa pemahaman kita itu patut dikoreksi, dan hendaknya kita ketahui, bahwa pemahaman kita tersebut keliru.

Arti dari hadits tersebut, adalah janganlah kalian berlapang-lapang untuk mereka saat berjumpa sehingga mereka mendapat lahan lebih luas dan kalian lebih sempit, tetapi teruslah berjalan pada arah kalian dan biarkanlah kesempitan terjadi pada mereka. hal ini bukan berarti bila melihat orang kafir langsung memepetkannya ke dinding hingga menyentuhnya, karena Nabi tidak pernah melakukan hal ini terhadap kaum yahudi di Madinah, begitu pula para sahabat juga tidak pernah melakukannya setelah pembebasan berbagai wilayah.

hadits ini tidak berarti membuat mereka lari dari Islam (enggan memeluk Islam), tapi justru ini menunjukkan kemualian seorang muslim, dan bahwa seorang muslim tidak menghinakan dirinya kepada orang lain kecuali pada Rabnya.

Majmu’ah Fatawa wa Rasail, Syaikh Ibnu Utsaimin, dinukil dari fatwa-fatwa terkini, Darul Haq, hal 406-407.

Hukum Taat Kepada Penguasa

Syaikh Ibn Utasimin ditanya tentang apakah hukum taat kepada penguasa yang tidak berhukum kepada kitabullah dan sunnah RasulNya shallallahu’alaihi wasallam?

jawab :

Ketaatan kepada penguasa yang tidak berhukum kepada kitabullah dan sunnah rasulNya hanya wajib dilakukan pada selain berbuat maksiat kepada Allah dan RasulNya, namun tidak wajib memeranginya karena hal itu. bahkan tidak boleh kecuali bila sudah mencapai batas kekufuran. maka ketika itu, wajib menentangnya dan dia tidak berhak ditaati kaum muslimin.

berhukum kepada selain apa yang diturunkan dalam kitabullah dan sunnah RasulNya akan mencapai tingkat kekufuran bila mencukupi dua syarat :

pertama, ia mengetahui hukum Allah dan RasulNya, jika dia tidak mengetehauinya maka tidak kafir karena menyelisihinya.

BACA JUGA: Menaati Penguasa Zhalim (Bukan Kafir)

kedua, faktor yang mendorong ia berhukum kepada selain apa yang diturunkan Allah adalah keyakinan bahwa syaiat islam tidak relevan dengan masa kini, dan yang selain syariat islam itu lebih relevan dan lebih berguna bagi manusia.

dengan dua syarat ini, berhukum kepada selain apa yang diturunkan Allah adalah merupakan kekufuran yang mengeluarkan dari agama ini. hal ini berdasarkan firmanNya :

“Barang siapa tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” (Al Maidah: 44)

wewenangnya sebagai penguasa menjadi batal, manusia tidak boleh lagi taat kepadanya, wajib memerangi dan mendongkel kekuasaannya.

Sedangkan bila dia berhukum kepada apa yang diturunkan Allah sementara dia meyakini bahwa berhukum kepadanya adalah wajib dan lebih memberikan maslahat bagi para hambaNya akan tetapi dia menyelisihi karena terdorong hawa nafsu atau ingin berbuat kedhaliman terhadap orang yang dijatuhi hukuman; maka dia bukan kafir akan tetapi sebagai oang yang fasiq atau dhalim, wewenangnya masih berlaku, menaatinya pada selain berbuat masiat masih wajib, tidak boleh memerangi dan mendongkel kekuasaannya dengan paksa (kekuatan) dan tidak boleh pula membangkang terhadapnya karena Nabi melarang pembangkangan terhadap para pemimpin umat kecuali kita melihat kekufuran yang nyata sementara kita memiliki bukti berdasarkan syariat Allah Ta’ala.

Majmu’ fatawa wa rasail syaikh Ibn Utsaimin, dinukil dari fatwa-fatwa terkini, darul haq 2/174-175

Sikap Kita Terhadap Peradaban Barat

Apakah kita mesti menerima peradaban barat dengan akal yang bersinar-sinar demi untuk merealisasikan kebangkitan besar Islam?

jawab :

sekarang ini, banyak sekali penemuan-penemuan baru yang dimiliki negara-negara barat, tidak dimiliki kaum muslimin, namun mereka juga memiliki hal-hal negatif yang amat banyak. Oleh karena itu, saya berpendapat bahwa kaum muslimin tidak boleh mengadopsi semua yang dimiliki barat, ataupun menolak semuanya. Akan tetapi kewajiban mereka adalah menyeleksi dan mengambil hal yang bermanfaat sesuai dengan ajaran agama dan petunjuk kitab kita serta meninggalkan apa yang diperingatkan dan dilarang agama kita.

silsilah kitab ad da’wah, syaikh al Fauzan. dinukil dari fatwa-fatwa terkini, darul haq 2/177

 

Dzikir-Dzikir Wudhu’

Amalan apakah yang dianjurkan ketika berwudhu’, dan apakah doa yang mesti diucapkan setelahnya?

Jawab :

Alhamdulillah, tatacara wudhu’ menurut syariat adalah sebagai berikut: Menuangkan air dari bejana (gayung) untuk mencuci telapak tangan sebanyak tiga kali. Kemudian menyiduk air dengan tangan kanan lalu berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung dan mengeluarkannya sebanyak tiga kali. Kemudian membasuh wajah sebanyak tiga kali. Kemudian mencuci kedua tangan sampai siku sebanyak tiga kali. Kemudian mengusap kepala dan kedua telinga sekali usap. Kemudian mencuci kaki sampai mata kaki sebanyak tiga kali. Ia boleh membasuhnya sebanyak dua kali atau mencukupkan sekali basuhan saja. Setelah itu hendaknya ia berdoa:

“Asyhadu allaa ilaaha illallah wahdahu laa syarikalahu wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu, Allahummaj ‘alni minat tawwabiin waj’alni minal mutathahhiriin.”

“Saya bersaksi bahwa tiada ilaah yang berhak disembah dengan benar selain Allah semata tiada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Yaa Allah jadikanlah hamba termasuk orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang mensucikan diri.”

 

Baca Juga: Jika Wudhu Imam Batal

 

Fatawa Lajnah Daimah V/231.

Adapun sebelumnya hendaklah ia mengucapkan ‘bismillah’ berdasarkan hadits yang berbunyi:

“Tidak ada wudhu’ bagi yang tidak memulainya dengan membaca asma Allah (bismillah).” (HR. Tirmidzi)

Syaikh Muhammad shaleh al Munajid, Islam Tanya & Jawab

Allah Di Atas Surga?

Apakah Allah ada di atas surga ataukah di dalamnya ? Juga apakah keyakinan bahwa Allah lebih besar daripada alam merupakan bagian dari aqidah ?

Kami telah ajukan peryanyaan ini kepada Fadhilatusy Syaikh Abdurrahman Al-Baraak, lalu beliau menjawab sebagai berikut :

Segala puji bagi Allah Yang Tinggi dan Agung dan Maha Suci Allah Yang Agung, dan tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah dan Allah Maha Besar. Shalawat dan salam tetap tercurah kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam kepada keluarga dan para sahabatnya.

BACA JUGA: Karena Allah Yang Memilih Kita

Termasuk hal yang wajib diimani adalah, bahwa Allah Ta’ala Maha Tinggi Yang Paling Tinggi, dan sesungguhnya Dia ber-istiwa’ di atas Arsy sebagaimana Dia sendiri telah mengabarkan hal itu di dalam kitab-Nya, maka Dia di atas segala sesuatu. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam di dalam salah satu doanya berkata:

“Engkau adalah Adh Dhahir tidak ada sesuatupun di atas-Mu.”

Demikian pula wajib beriman bahwa Dia Maha Tinggi dan Maha Besar, dan Dia lebih besar dari segala sesuatu, Diapun Maha Agung yang tidak ada yang lebih agung daripada-Nya. Dan di antara kesempurnaan keagungan dan kekuasaan-Nya, bahwa Dia mengambil langit dan bumi dengan kedua tangan-Nya pada hari kiamat, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

“Dan tidaklah mereka mengagungkan Allah dengan sebenarnya, padahal bumi semuanya dipegang pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa-apa yang mereka sekutukan.” 

Maka wajib diketahui bahwa sesungguhnya Dia Yang Maha Tinggi dengan kesempurnaan ketinggian-Nya dan kesempurnaan keagungan-Nya tidak memungkinkan untuk menetap di sesuatupun dari makhluk-Nya. Maka tidak boleh dikatakan bahwa Allah Ta’ala berada di surga, tetapi Dia di atas Arsy yang merupakan atap Firdaus, sedangkan Firdaus adalah surga yang paling tinggi. Rasul Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

“Kalau kalian meminta surga kepada Allah, maka mintalah Firdaus, karena sesungguhnya dia adalah surga yang paling tinggi dan paling tengah, dan atapnya adalah Arsy Allah Yang Rahman.”

Tidak boleh bagi seorang muslim berfikir tentang dzat Allah atau membayangkan keagungan-Nya karena akal manusia itu lemah untuk mengetahui hakikat dzat dan sifat Allah serta keadaan-Nya, sebagaimana perkataan Imam Malik ketika ditanya tentang keadaan istiwa’-nya Allah di atas Arsy: “Istiwa itu maklum (diketahui), adapun caranya majhul (Tidak diketahui), sedangkan beriman tentang hal itu (bahwa Allah istiwa-pent). Wajib, dan bertanya tentang hal itu adalah bid’ah.”

Islam Tanya & Jawab
Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid

Apakah Seorang Muslim Itu Memiliki Keyakinan Jabbariyyah?

Kaum Jabbariyyah atau yang berkeyakinan Jabbariyyah adalah yang berkeyakinan bahwa seorang hamba itu dipaksa untuk melakukan perbuatannya; bahwasanya segala perbuatannya itu tak ubahnya pohon yang digerakkan oleh angin. Yang menjadi seteru dari kelompok Jabbariyyah ini adalah Al-Qadariyyah yang menolak takdir. Mereka berpandangan bahwa hamba itu sendirilah yang menciptakan amal perbuatan mereka. Sementara Ahlussunnah wal Jama’ah berpandangan bahwa kaum muslimin itu harus berada di antara kedua kubu Al-Jabbariyyah dan Al-Qadariyyah. Mereka berpendapat bahwa seorang hamba itu memiliki keinginan dan kehendak, akan tetapi semua itu tetap mengikut kehendak dan keinginan Allah. Seorang hamba tidak menciptakan perbuatannya sendiri, tetapi ia juga tidak dipaksa sehingga tidak mampu lagi berkutik melakukan perbuatannya sendiri. Wallahu a’lam. Ia memiliki kebebasan untuk berbuat namun kebebasan yang mengikuti kehendak dan keinginan Allah.

Syaikh Abdul Karim Al-Khadir

Apakah Wajib Hijrah (Pindah) Bagi Orang Yang Tidak Terjamin Keamanan Agamanya.

Bila seseorang tidak mampu menjamin keamanan dirinya dan agamanya dari fitnah di negerinya maka apakah dalam keadaan ini hijrah menjadi wajib bagi seorang muslim? Dan kemana dia harus hijrah (pindah) ?

BACA JUGA: Mencari Penghubung Keyakinan

Alhamdulillah. Bila kenyataannya memang seperti yang disebutkan bahwa seorang muslim tidak mampu menjamin keamanan diri dan agamanya dari fitnah di negerinya maka disyariatkan hijrah baginya dari tempat itu- bila dia mampu- ke negeri yang bisa menjamin keamanan diri dan agamanya. Billahittaufiq dan shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad juga keluarga dan para sahabatnya.

Fatawa Lajnah Daimah 12/51.

Hukum Mencukur Jenggot Orang Lain (Hukum Tukang Cukur Jenggot)

Saya adalah seorang muslim yang taat, muslim yang memelihara jenggotnya. Saya memiliki salon khusus pria, dan itulah sumber mata pencaharian saya. Saya biasa mencukur jenggot para pelanggan. Saya juga biasa menggunakan sejenis sisir untuk merapikan rambut pelanggan. Bagaimanakah hukum perkerjaan tersebut dilihat dari kacamata syariat?

Alhamdulillah,
Pertama: Seorang muslim diharamkan mencukur jenggotnya, berdasarkan dalil-dalil shahih yang menegaskan haramnya mencukur jenggot. Begitu juga muslim lainnya, diharamkan mencukur jenggot saudaranya sesama muslim. Karena hal itu termasuk bentuk saling menolong dalam berbuat dosa. Allah Subhaanahu Wa Ta’aala telah melarang seperti itu dalam firman-Nya:
“Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”(QS. al Maidah:2)

Kedua: Anda boleh saja menyisir rambut pria, merapikan dan meminyakinya dan memberinya wewangian, namun Anda tidak boleh melakukan hal itu terhadap kaum wanita yang bukan mahram Anda.

Fatawa Lajnah Daimah V/145

Hukum Barang-Barang Yang Terbuat Dari Kulit Binatang

Mohon dijelaskan tentang batasan-batasan penggunaan kulit binatang, baik yang halal dimakan maupun yang haram, baik yang telah disamak maupun belum?

Alhamdulillah, kulit binatang yang halal setelah disembelih hukumnya suci. Ia boleh digunakan karena telah disembelih secara halal, seperti kulit unta, sapi, kamnbing, rusa, kelinci dan lain sebagainya, baik yang telah disamak maupun belum. Adapun kulit binatang yang tidak halal dimakan, seperti kulit anjing, srigala, singa, gajah dan sejenisnya hukumnya najis, baik mati dengan disembelih, dibunuh maupun mati dengan cara lainnya. Karena meskipun telah disembelih ia tetap tidak halal dan tidak boleh digunakan, hukumnya tetap najis. Baik telah disamak maupun belum, menurut pendapat yang terpilih. Menurut pendapat tersebut kulit yang najis tidak akan menjadi suci karena di samak, jika kulit itu berasal dari binatang yang tidak halal dimakan meskipun telah disembleih.

Adapun kulit bangkai binatang yang halal, hukumnya suci jika telah disamak. Sebelum disamak hukumnya tetap najis.

Berdasarkan keterangan di atas, kulit binatang dapat kita bagi menjadi tiga bagian:

Kulit binatang yang tetap suci, baik disamak ataupun tidak. Yaitu kulit binatang yang halal dimakan setelah disembelih secara syar’i. Kulit binatang yang tidak suci karena disamak ataupun tidak, hukumnya tetap najis. Yaitu kulit binatang yang tidak halal dimakan, contohnya babi. Kulit binatang yang menjadi suci setelah disamak, yaitu kulit binatang yang halal dimakan yang mati tanpa melalui penyembelihan syar’i (bangkai).

Dinukil dari kitab Liqa’ Al-Baab Al-Maftuh karya Syaikh Ibnu Utsaimin 52/39.

Orang Masuk Islam Sementara Masih Memiliki Teman-teman Kafir

Kalau saya punya teman-teman kafir sebelum saya masuk Islam, apakah saya tetap boleh berteman dengan mereka? Atau saya hanya boleh berteman dengan orang-orang Islam saja?

Al-Hamdulillah. Kami pernah melontarkan pertanyaan yang sama kepada Syaikh Al-Utsaimin, dan beliau menjawab sebagai berikut:
“Tidak wajib bagi orang itu untuk memutus hubungan dengan teman-teman kafirnya, selama mereka tidak mengganggu, akan tetapi dianjurkan untuk menjauhi mereka sedikit demi sedikit dan menawarkan mereka untuk masuk Islam. Diharapkan dengan keislamannya itu mereka bisa masuk Islam juga, bila mereka tertarik melihatnya.” Demikian ucapan beliau.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Hukum Meminta Kepada Allah dengan Kedudukan Si Fulan

Apakah hukumnya seseorang yang di dalam doanya mengatakan, “Ya Allah aku meminta kepada-Mu dengan kedudukan si Fulan atau dengan hal si Fulan.” Apakah ada perbedaan antara ucapan itu dengan seseorang yang berkata kepada penghuni kubur, “Wahai Fulan tolonglah aku!

Jawab :
Tidak boleh meminta kepada Allah dengan kedudukan atau hak si Fulan sekalipun dengan kedudukan para nabi dan para rasul atau hak para wali dan orang-orang shalih karena seseorang tidak mempunyai hak Allah. Sehingga tidak boleh meminta kecuali dengan menyebut nama-nama Allah dan sifat-Nya, sebagaimana firman-Nya:

Dan Allah mempunyai nama-nama yang baik (Asmaul Husna) maka berdoalah kalian kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya.” (Q.S. Al A’raf 180).
Adapun bila berkata kepada penghuni kubur, “Wahai Fulan tolonglah aku!” maka ini adalah syirik yang nyata karena hal ini termasuk berdoa kepada selain Allah. Maka meminta kepada Allah melalui kedudukan seseorang merupakan perantara yang bisa menghantarkan kepada syirik, dan berdoa kepada makhluk merupakan syirik dalam hal ibadah, Wallau A’lam.
Syeikh Muhammad Shalih Al-Munajid

Melihat ke atas ketika shalat
Apakah memalingkan pandangan ke atas saat shalat membatalkannya, atau hanya makruh. Dan bagaimana dengan pergerakan di dalam shalat baik yang sedikit maupun yang banyak serta memberi isyarat dalam shalat, bolehkah?

Jawab :
Rasulullah melarang dengan keras bagi orang yang shalat menghadapkan pandangannya ke atas / ke langit. Di dalam shahih bukhari dan selainnya dari sahabat Anas bin Malik radhiallahu’anhu, Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

Kenapa orang-orang mengarahkan pandangan mereka ke langit ketika mereka sedang shalat? Suara beliau semakin tinggi hingga beliau bersabda: “Hendaklah mereka menghentikannya atau Allah benar-benar akan menyambar penglihatan mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini adalah pelarangan yang sangat keras dan menunjukkan keharaman perbuatan tersebut, akan tetapi ini tidak membatalkan shalat seseorang.

Adapun melakukan gerakan di dalam shalat, seperti bermain-main dengan tangannya, jenggot, baju dan yang semisalnya maka ini terlarang untuk dilakukan, Kalau bergeraknya banyak dan terus menerus dan bukan merupakan jenis pergerakan dalam shalat, maka bisa membatalkan shalat.

Adapun isyarat dengan tangan maka ini diperbolehkan bila memang dibutuhkan, terdapat hadits dalam shahihain dari Aisyah radhiallahu’anha :

“Saat sakit Rasulullah pernah shalat di rumahnya sambil duduk. Dan segolongan kaum shalat di belakang beliau dengan berdiri. Maka beliau memberi isyarat kepada mereka agar duduk. Ketika shalat sudah selesai beliau bersabda: “Sesungguhnya imam dijadikan untuk diikuti, apabila dia rukuk maka rukuklah kalian, bila dia mengangkat kepalanya maka angkatlah kepala kalian. Dan bila dia shalat dengan duduk, maka shalatlah kalian dengan duduk.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Fatwa lajnah daimah: VII/20.

Apa Hukum Menjual Kucing dan Memelihara Anjing

 

Apa Hukum Menjual Kucing

Apa hukum menjual dan membeli kucing?

Jawab :
Alhamdulillah, kebanyakan ulama membolehkan jual beli kucing, namun sebagian Ahli ‘ilmu mengharamkannya. Dan yang rajih (kuat) adalah pendapat yang mengharamkan jual beli kucing, karena terdapat hadits yang melarang menjual kucing dan tidak ada nash lain yang menyelisihinya.

عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ قَالَ سَأَلْتُ جَابِرًا عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَالسِّنَّوْرِ قَالَ زَجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ

Dari Abu Zubair dia berkata; saya bertanya kepada Jabir mengenai uang hasil usaha jual beli anjing dan kucing, dia menjawab, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang perbuatan itu.” (HR. Muslim)

Diriwayatkan pula dari Abu daud dan tirmidzi dari Jabir bin Abdillah Radhiallahu’anhuma, beliau berkata :
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang uang dari hasil penjualan anjing serta kucing.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Imam Syaukani dalam Nailul Authar (6/227) menolak pandangan jumhur yang berpendapat bahwa larangan yang dimaksud dalam hadits adalah larangan lit tanzih (tidak sampai haram), dan begitu pula imam Baihaqi dalam sunannya (6/18) tidak sependapat dengan jumhur.

Ibnu Qoyyim menegaskan keharaman jual beli kucing dalam kitabnya Zadul Ma’ad (5/773), beliau berkata : “ini adalah fatwa dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, dan ini juga madzhabnya Thawus, Mujahid dan Jabir bin Zaid, seluruh ulama dhohiriyah, dan salah satu dari dua riwayat imam Ahmad, dan inilah yang benar karena keshahihan hadits yang melarang harga kucing, serta tidak ada nash yang bertolak belakang dengannya. maka wajib berpendapat dengan pendapat ini. wallahua’lam

Memelihara Anjing di Rumah

Bolehkah jika seorang muslim memelihara anjing sekedar untuk keamanan rumah dan dia ditempatkan di luar di ujung komplek?

Jawab :

Imam Nawawi berkata, “Diperselisihkan memelihara anjing selain untuk tujuan berburu, menjaga ternak dan menjaga pertanian, seperti untuk menjaga rumah atau jalanan. Pendapat yang lebih kuat adalah dibolehkan, sebagai qiyas dari ketiga hal tersebut, karena adanya ‘illah (alasan) yang dapat disimpulkan dalam hadits, yaitu: “Kebutuhan.” (Syarh Muslim, 10/236)

Syaikh Ibn Utsaimin berkata, “Rumah yang terletak di tengah kota, tidak ada alasan untuk memelihara anjing untuk keamanan, maka memelihara anjing untuk tujuan tersebut dalam kondisi seperti itu diharamkan, tidak boleh, dan akan mengurangi pahala pemiliknya satu qirath atau dua qirath setiap harinya. Mereka harus mengusir anjing tersebut dan tidak boleh memeliharanya.

Adapun kalau rumahnya terletak di pedalaman, sekitarnya sepi tidak ada orang bersamanya, maka dibolehkan memelihara anjing untuk keamanan rumah dan orang yang ada di dalamnya. Menjaga penghuni rumah jelas lebih utama dibanding menjaga hewan ternak atau tanaman.” ‘Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 4/246.
Diringkas dari fatwa dalam islamqa, musyrif Syaikh Muhammad Shaleh Munajjid.